
Koyoko membawa Aileen ke tempat tinggalnya, tak jauh dari jalan utama namun jalan menuju kesana hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki.
"Tempat ini memang sangat kecil, tetapi nyaman untuk ditinggali. Kamu bisa tinggal di sini semaumu. Aku tidak akan meminta bayaran!" ucap Kayoko sambil melangkah menunjukkan arah kepada Aileen.
Sementara Aileen terdiam memaku langkah kakinya, dia sedikit terkejut dengan Sikap Koyoko yang selalu mengatakan bahwa dia tak membutuhkan uang darinya.
Aileen kembali melanjutkan langkahnya.
"Kamu juga menyewa tempat ini kan?" ucapnya untuk memastikan.
"Kamu pikir aku punya banyak uang untuk membeli tempat tinggal ini!!" Koyoko memalingkan wajahnya kearah Aileen.
"Aku pikir kamu tidak meminta uang sewa permalam dariku karena aku kura ini rumahmu"
"Kalau aku punya uang! aku akan membeli tempat tinggal yang sangat mewah. Dan saat itu aku pasti akan menhajakmu tinggal bersamaku!" ucapan Koyoko seketika membuat hati Aileen berdebar dengan kencang. Dia sebelumnya tak pernah diperlakukan sesepesial ini dengan orang yang baru dikenalnya.
Ailen harus melewati tangga untuk menuju ke tempat tinggal milik Koyoko.
"Kita sudah sampai!!, , " Koyoko meletakkan koper milik Aileen dan membuka pintunya.
Sementara Ailen duduk di kursi yang menghadap kearah perkotaan, posisinya yang ada di atas atap membuat dirinya bisa melihat lampu yang sedang berkelap kelip dengan sangat indah.
"Kamu menyukainya?" Koyoko kini tengah terduduk di samping Aileen.
"Iya, , aku sangat menyukainya" Aileen masih terpana dengan keindahan lampu yang jauh di sana. Tak berapa lama kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah Koyoko.
"Kita baru saja bertemu beberapa menit yang lalu. Tetapi kenapa kamu bisa bersikap sangat baik denganku??" ucap Aileen kemudian.
"Aku hidup di Paris sendirian, selama beberapa tahun ini. Aku bekerja keras untuk menuhi kebutuhan Adik dan nenekku yang ada di desa. Selama ini aku tidak pernah mamiliki seorang teman. Aku tidak nyaman hidup dengan orang lain di sampingku!, ,tapi aku tidak tahu kenapa setelah melihatmu tadi aku merasa kamu seperti membawa kenyamanan untukku!"
Ucapan Koyoko seketika membuat Aileen merinding, hingga perempuan itu menarik tubuhnya menjauh dari Koyoko.
"Aku bukan lesbi bodoh!!" Koyoko seolah bisa menebak pikiran Aileen.
Mereka berdua pun tertawa.
"Saat aku melihatmu, aku sperti sedang melihat adikku!, , jadi mulai saat ini, tinggalah bersamaku" Koyoko mengarahkan jari kelingkingnya kearah Aileen.
Namun perempuan itu terlihat ragu, hingga akhirnya Koyoko menarik dengan paksa jari milik Aileen dan akhirnya kelingking mereka saling bertautan.
♡♡♡
Aileen yang baru saja keluar dari kamar mandi pun terkejut ketika melihat Koyoko telah berpakaian rapih.
"Kamu, , ingin pergi?" Pandangan matanya nampak menyelidik kearah Koyoko.
"Aku harus bekerja" ucapnya sambil menatap bayangan dirinya di cermin.
"Ini sudah jam 10 malam, dimana kamu akan bekerja semalam ini?" dahi Aileen nampak berkerut.
"Sehari aku bekerja didua tempat, satu di mini market tadi saat kita pertama bertemu. Dua, di tempat karaoke" ucapnya dengan bangga.
__ADS_1
"Karaoke??" ujung mata Aileen mengerucut ke arah Koyoko.
"Aku bekerja menghasilkan uang halal, jangan berfikir yang aneh aneh. Aku di sana sebagai waiters, habya mengantar pesanan keruangan, tetapi tipsnya lumayan besar. Karaoke di mana tempat aku bekerja juga di isi oleh orang orang kaya. Gaji permalam juga sangat lumayan. Aku jadi lebih bisa mengirim uang banyak kepada Adik dan Nenekku"
Aileen kembali dibuat takjub dengan kepribadian Koyoko. Dia merasa hahwa dirinya sudah menjadi perempuan paling baik dan benar tetapi setelah bertemu dengan Koyoko, dirinya seperti debu yang tak berguna sama sekali.
"Terlalu banyak berbicara denganmu, aku jadi terlambat kan!, , aku berangkat dulu ya" sebelum melangkah keluar, Koyoko mengecup pipi Aileen. Hingga membuat perempuan itu memaku tubuhnya.
♡♡♡
Pagi itu David mengejutkan Iris dengan kedatangannya. Dia melangkah masuk ke dalam rumah dan berjalan perlahan menuju meja makan. Di mana kedua Orang tua beserta Adiknya sedang sarapan bersama.
David menutup mata Iris dari arah belakang.
Sementara Iris sudah bisa menebaknya dengan sangat mudah.
"Kak David!!"
David pun menarik tangannya kembali dan berjalan ke arah kursi kosong di sebelah Adiknya. Dia pun berdecak jengkel.
"Nggak seru ah!!, , masak bisa nebak segampang itu"
"Nggak ada orang lain yang akan melakukan hal itu kepada Iris kecuali Kakak"
David menghela nafas panjang.
"Iya juga sih, , " Tangan David bergerak meraih lembaran roti dari atas meja. Setelahnya meraih selai kacang untuk melapisi rotinya.
"Semalam pergi kencan kan!!, , sama siapa hayo??, , pasti beda lagi ceweknya!" Iris mengerucutkan matanya ke arah David.
"David, , nanti siang bisa datang ke kantor Ayah?" Barack terlihat menyesap kopinya perlahan.
"Aku sudah bilang, aku tidak bis mengambil alih kedudukan Ayah di BS. Aku tidak menyukai perusahaan yang bergerak di bidang fashion" David berusaha menolak permintaan Ayahnya.
"Memang siapa yang meminta kamu untuk mengurus BS??, , Ayah tahu, dari awal kamu juga sudah mengatakan hal itu, makanya Ayah tidak akan memaksamu. Ayah ingin membahas hal lain"
"Bagaimana kalau kita bahas di sini?, , sekarang?, , "
"Banyak orang yang akan terlibat dalam hal ini, jadi ayah tidak bisa mendiskusikan hanya berdua denganmu!!, , nanti siang setelah jam istirahat" perintah Barack kepada Putranya.
"Oke!" David kembali menikmati rotinya, yang sempat terabaikan.
"Kak!" Iris menggunakan sikunya untuk meraih lengan David.
Laki laki itu memalingkan wajahnya ke arah Iris.
"Apa?" ucapnya dengan nada rendah.
"Wooow!!, , kenapa kamu hari ini terlihat sangat tampan??"
"Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu!, , ambilah kalau kamu ada waktu di kantor Kakak!!" David berucap seolah dia tahu maksut Adiknya bersikap sangat manis hingga menyinggung ketampanan wajahnya.
__ADS_1
"Yes yes yes!!!" Iris naik ke atas kursi dan berjoged di sana.
Luna yang melihat pun dibuat tertawa dengan tingkah laku Anaknya.
♡♡♡
Aileen mengurungkan niatnya untuk pergi mencari tempat tinggal lain, Sepertinya dia sudah mendapatkan teman untuk tinggal bersama saat itu.
Setelah selesai berberes beres, Aileen pergi menuju kampus. Dia melakukan pendaftaran ulang setelah berhasil di terima melalui jalur online.
Brugh!!!
Tak sengaja Aileen menabrak seseorang karena dia terlalu fokus dengan lembar kertas di tangannya.
"Maaf maaf aku tidak sengaja" Aileen berucap sembari membantu menata buku milik seseorang yang dia tabrak.
"Tidak apa apa!" suara perempuan yang kini sedang berdiri di depan Aileen seketika menarik perhatainnya.
Aileen menatap kearah perempuan itu. Melihat wajahnya yang seperti bukan asli orang Paris. Namun wajah itu nampak tak asing baginya.
"Indonesia? kamu mahasiswi baru?, " perempuan itu mengulurkan tangannya.
"Iris"
"Aileen" dia membalas uluran tangan Iris.
"Iya aku pindahan"
"Ooh, ," Mata iris nampak terlihat menyelidik ke arah perempuan di depannya.
"Aku bisa membantumu kalau kamu kebingungan"
Ya Aileen memang sangat bingung, kampus itu lebih luas dari perkiraannya.
"Boleh"
Iris mulai memperlihatkan setiap gedung di kampus itu.
Mereka terlihat mengitari hampir seluruh setiap ruangan di sana.
"Aku sangat berterima kasih" Ucap Aileen. Dia merasa sangat beruntung, baru pertama kali datang ke Paris dan langsung bertemu dengan orang orang baik di sana.
Mereka langsung terlihat sangat akrab, kini keduanya sedang menghabiskan waktu dii kantin.
♡♡♡
Mobil berwarna hitam pekat terlihat berhenti di lampu merah.
Di dalam sana, David sedang bersama dengan seorang perempuan.
"Kamu bersikap dengan sangat baik saat menemaniku pergi ke pesta semalam. Apa yang kamu inginkan sebagai gift dariku? Aku akan membayar kebaikanmu!" David berucap dengan nada lembut, nada yang biasa dia gunakan untuk menarik hati para wanita.
__ADS_1
Sementara wanita yang duduk di sampingnya mulai meraba dada David, dan menghujani pipi laki laki itu dengan kecupan. Dan berbisik.
"Aku menginginkan hal lain!"