Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
49. Di kamar Yang Sama


__ADS_3

Tiba-tiba dadanya berdetak dengan kencang, Bunga benar-benar merasa kaget dengan pertanyaan Davien, dia terpaku terdiam dengan tatapan kosong. Masih berusaha keras mencoba mencerna pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.


"Aduh sepertinya kepalaku semakin terasa berat" ucap Bunga sambil memejamkan mata. Dia sengaja berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


Davien yang menyadari pun kemudian tersenyum tipis, dia tahu bahwa Bunga sedang menghindar dari pertanyaannya. "Apa aku harus mengulangi pertanyaanku?" ucapnya dengan santai, Davien menaikkan kedua alisnya secara bersamaan.


Perempuan itu bsersikap seolah tak pernah mendengar. "Mmm... memangnya kau bertanya padaku soal apa?" Bunga berucap seolah dia sengaja tak mendengar pertanyaan dari Davien.


lelaki itu terkekeh melihat sifat Bunga. Dia pun kemudian berucap. "Lupakan, sekarang habiskan minumanmu setelah itu kita pergi tidur!" Davien beranjak dari kursi kemudian berjalan kearah lain meraih saklar dan mematikan lampu.


Bunga belum sempat meraih gelas namun seketika tangannya memaku saat mendengar ucapan Davien. "Kita???" gumamnya. "Maksud dia kita pergi tidur? tidur bersama?" tambahnya.


"Ayo habiskan minumanmu" lelaki itu berjalan mendekati Bunga, dia berdiri disampingnya menggunakan tangan untuk menyangga dagu di atas meja. Sementara pandangannya tertuju ke Bunga yang kini terlihat tersipu malu.


Perlahan perempuan iyu meraih gelas lalu dengan ragu dia meminumnya perlahan. Bunga tidak menghabiskan minuman yang sengaja dibuat oleh Davien karena perutnya masih sedikit merasa mual.


"Kau tidak menghabiskannya?" ucap Davin ketika melihat Bunga meletakkan gelas yang masih berisi minuman di atas meja.


"Sepertinya sudah cukup, pusing di kepalaku sudah agak sedikit menghilang, terima kasih" Bunga berucap dengan terbata. Karena kini lelaki itu memandangnya dengan lekat. "Mmm... apa ada yang salah dengan wajahku? Pasti wajahku terlihat jelek ketika sedang mabuk ya?" Bunga kemudian menutupi wajah dengan kedua tangan.


"Hei, kenapa kau melakukan itu? siapa bilang wajahmu jelek ketika sedang mabuk?" Davien mencoba merayu, agar perempuan itu kembali membuka tangannya. "Bunga lepaskan tanganmu" perintah Davien dengan nada lembut.


"Aku tidak mau, wajahku pasti sangat memalukan" suara di balik tangan mungil itu masih terdengar jelas di telinga Davien.


Membuatnya semakin gemas melihat tingkah Bunga. "Dalam hitungan ke 3, kau tidak mau membuka tanganmu maka aku akan menciummu!" Davien mengancam, agar Bunga mau memperlihatkan kembali wajahnya.


Namun perempuan itu masih keras kepala. Davien menggunakan kepalan tangannya untuk menutup bibirnya yang sedang tersenyum. Tak lama dia berdehem menetralkan perasaan sebelum mulai berhitung. "1!"


Baru saja Davien mulai berhitung dengan cepat Bunga memperlihatkan kembali wajahnya, karena dia merasa takut dengan ancaman yang di berikan oleh Davien. "Sudah! Aku sudah membuka waj–," ucapnya terhenti ketika Davien tak memenuhi janjinya, lelaki itu tiba-tiba menyambar bibir mungilnya tanpa peringatan.

__ADS_1


Perempuan itu terkejut hingga membelalakkan mata, tubuhnya hampir terdorong kebelakang karena dorongan Davien yang begitu kuat ketika mencium bibirnya.


Namun baru mundur selangkah, Davien dengan sigap meraih pinggangnya mencoba menahan perempuan itu agar tidak terjatuh.


Bunga perlahan memejamkan matanya, sementara tangannya kini tengah meremas piyama yang di kenakan oleh Davien.


Ditengah perpagutan bibir mereka, Davien menyelipkan sebuah kalimat. "Aku masih bisa merasakan alkohol dr bibirmu" ucap Davien sambil terus mencumbu bibirnya.


Matanya tertutup, tetapi perempuan itu kini sedang tersenyum. Davien yang menyadarinya pun kemudian kembali berucap. "Kau mau melanjutkannya di kamar?".


Seketika Bunga membuka matanya lebar, dengan cepat dia langsung menarik kepalanya ke belakang hingga ciuman yang terjadi di antara mereka pun terhenti.


Davien menaikkan salah satu alisnya, sebagai tanda protes kenapa dengan tiba-tiba Bunga menghentikan ciumannya.


"Aku–," Bunga terbata.


"Aku hanya bercanda" Davien pun tersenyum lebar.


"Baiklah kalau begitu ayo" sambil berucap Davien meraih tangannya, mereka berdua berjalan beriringan menuju ke dalam kamar.


Bunga menghentikan langkahnya ketika sampai di depan pintu. Davien pun ikut berhenti ketika merasakan tak ada gerakan dari Bunga.


Laki-laki itu kemudian menolehkan kepala menatapnya. "Kenapa berhenti?" ucap Davien.


Dadanya semakin berdetak kencang entah apa yang sedang dipikirkan oleh Bunga tapi kini otaknya meracau kemana-mana, suhu tubuhnya bahkan meningkat.


Bunga terus berfikir mencoba bagaimana mencari cara agar mereka tidur di kamar yang berbeda. "Davien apa kau punya kamar lain? Misal kamar tamu, apa tidak lebih baik aku tidur di sana? Atau kamar" ucapnya terputus.


"Tidak! sekalipun ada kamar tamu, sekalipun ada kamar lain dan sekalipun ada banyak kamar di rumahku, aku tidak akan mengizinkanmu tidur di sana! Kau hanya boleh tidur di kamarku" Davien berucap memotong pembicaraan.

__ADS_1


Lelaki itu kemudian meraih gagang pintu dan membukanya. Bunga melangkah masuk ke dalam kamar sambil menelan ludahnya susah payah, langkah kakinya terasa sangat berat malam itu ditambah lagi efek alkohol yang belum sepenuhnya hilang.


Davien melepaskan genggaman tangannya, berjalan mendekati ranjang, menata bantal kemudian meminta Bunga tidur di sana. "Naiklah kau bisa tidur di sini" Davin memukul pelan ranjang di sampingnya.


Bunga semakin kebingungan, dia terlihat sangat gugup bahkan sekarang detak jantungnya bekerja cepat dua kali lipat dari biasanya, detaknya pun sampai terdengar ke rongga telinga.


Bunga sudah tidak tahu bagaimana cara menghadapi Davien. "Bagaimana kalau kau saja yang tidur di atas ranjang, sementara aku tidur di sofa?" Bunga berucap sambil melirik ke arah sofa.


Davien sadar bahwa perempuan itu sudah berpikir kemana-mana, lelaki itu hanya tersenyum dia tak lantas memenuhi keinginan Bunga, tetapi dia malah mengancam. "Kau ingin aku menaikkan hukumanmu? mau tambah berapa bulan lagi?" ujung bibirnya terangkat, Davien tersenyum tipis sambil menatap Bunga yang kini sedang terlihat salah tingkah.


"Bukan, bukan seperti itu. Maksudku... aku di sini bekerja sebagai asisten pribadi, jadi alangkah baiknya kalau aku tidur di tempat lain lagi pula kalau dilihat-lihat juga sepertinya tidak pantas aku tidur di kamar Tuan rumah" Bunga terus berusaha mencoba untuk mencari cara agar dia bisa keluar dari kamar itu.


"Yang menilai pantas atau tidak Itu bukan kau, tapi aku!" sejenak Davien menghentikan ucapannya, dia menghela nafas perlahan kemudian kembali berucap. "Jadi, kau ingin tidur di sini atau–," ucapannya terputus ketika Bunga langsung memotong pembicaraan.


"Baiklah! Baiklah! aku akan tidur di sini" Bunga tak ingin mendengar ancaman lagi dari Davien. Perempuan itu kemudian dengan cepat naik ke atas ranjang, menarik selimut menutupi tubuhnya kemudian tidur membelakangi lelaki itu.


Davien terkekeh geli, dia bukan tipe lelaki yang suka mempermainkan wanita. Jika dia memang mencintai seorang perempuan dia pasti akan menjaganya dengan baik terkecuali jika perempuan itu lebih memilih untuk pergi maka dia tidak akan menahannya.


Davien sebenarnya berencana untuk tidur di sofa tapi melihat sikap Bunga yang sangat menggemaskan membuat Davien tak bisa begitu saja melewatkan moment untuk tidak menggangunya.


Lelaki itu kemudian naik ke atas ranjang mendekat. Sontak perempuan itu terkejut dan memejamkan mata rapat hingga terlihat kerutan halus di sekitar mata.


Kini Davien telah berhasil memeluk tubuh nya kemudian melayangkan sebuah kecupan di ujung kepalanya. "Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun terhadapmu jika kau tidak menginginkannya" ucap lelaki itu dengan lembut membuat Bunga bisa merasakan udara panas yang keluar dari mulutnya. Seketika Bunga pun bergidik.


Lagi, kini Davin sengaja berbisik sangat lembut. "Kecuali... kalau kau juga menginginkannya" dia sengaja lebih menggoda, Davien sangat menyukai ketika melihat perempuan itu tersipu malu.


Mendengar ucapan Davien, Bunga seketika merangkup telinga dengan kedua tangannya rapat-rapat seolah dia tidak ingin mendengar suara Davien yang membuat geli telinganya.


Davien pun tersenyum, semakin mengencangkan pelukannya dari arah belakang kemudian mengecup ujung kepalanya sekali lagi sebelum dia memejamkan mata. "Baiklah, ayo tidur! Kika tengah malam nanti kau berubah pikiran... Bunga? Kau bisa membangunkanku!" bisiknya sembari menahan tawa.

__ADS_1


"Hentikan!! aku tidak mau mendenharmu!!"


Hahahah....


__ADS_2