Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#39 Masa Lalu


__ADS_3

 


Angin malam terasa semakin bertambah dingin sampai seperti menusuk nusuk ke dalam tulang luna. Perutnya sudah terlihat mengembang karena terisi berbagai makanan yang klara pesan khusus untuknya.


 


"Terimakasih, atas jamuan makan malamnya, tapi menurutku ini berlebihan, sewaktu waktu kalau ingin mengajakku makan lebih asyik kalau di warung saja" terlihat senyum luna yang sangat menawan di wajahnya.


Terdengah suara tertawa geli dari mulut klara.


"kamu ini ada ada saja, bagaimana mungkin aku mengajakmu makan di pinggir warung" kata klara.


Leo terus memandang ke arah luna, mereka saling melempar pandang saat itu.


"Kalau kamu suka, aku akan sering sering mengajakmu makan di warung" kata leo sambil menggenggam tangan luna dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.


Terlihat wajah barack benar benar bete melihat pemandangan di depannya. Dia selalu membuang pandangannya ke arah lain saat leo bersikap manis kepada luna.


"Sepertinya sudah malam, kita pulang yuk" kata barack dangan nada memaksa kepada klara.


"Sebentar, Aku ke toilet dulu" klara beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ke arah toilet.


Suasana di restoran mulai terlihat sepi, di setiap sudut meja sudah terlihat kosong, hanya tinggal beberapa saja yang masih di singgahi termasuk meja luna.


Leo berbisik lembut ke arah telinga luna.


"Aku ke toilet sebentar ya" kemudian dia beranjak dari kursinya dan meninggalkan luna di meja itu sambil sesekali melirik ke arah barack.


Terlihat luna selalu menghindari tatapan barack yang terus menatap ke arahnya.


Seakan akan dia ingin sekali melontarkan berbagai pertanyaan kepadanya.


"Kamu serius menyuruh dia menjemputmu tadi?" nada suara barack terdengar sangat ketus saat itu dan terlihat kening yang sudah mulai berkerut.


Luna melirik kembali ke arah barack.


"bukannya kamu yang menyuruh, agar aku meminta tolong sama dia untuk menjemputku? kenapa sekarang sekarang malah marah?" jawab luna dengan nada ketus.


"Mh,, siapa yang marah, aku hanya bertanya, lagi pula, harus juga ya bersikap mesra dengan seorang teman?" tanya barack penuh dengan penekanan di setiap kata katanya.


Pertanyaan barack lebih terdengar seperti kalau dia tidak ingin luna melakukan hal itu dengan leo.


"Kenapa? kamu sendiri gimana? , apa, ,atau jangan jangan kamu?" kata luna, terlihat dia menahan senyum saat memandang ke arah barack.


Senyum barack seperti sedang meremahkan luna.


"Kenapa aku harus cemburu" kata barack sambil mengangkat kedua alisnya.


"Siapa yang bilang kalau kamu cemburu?" kata luna sambil menyipitkan ke dua matanya.


Nampak wajah barack mulai memerah mendengar perkataan luna.


"Lagi pula, sudah meninggalkan aku di tengah jalan sendirian, terus, kalau kamu jadi aku, apa aku harus berdiam diri di sana seperti orang bodoh?" kata luna membalas tatapan barack yang tajam itu ke arahnya, seakan akan kalau dia kali ini tidak akan diam begitu saja.


Di sisi lain klara masih berada di dalam toilet, dia berdiri di depan kaca hanya untuk sekedar membenarkan tatanan rambutnya itu.


Di raihnya bibir wastafel untuk menopang kedua tangannya yang sedang menahan berat tubuhnya.


Tatapan klara terus kepada bayangan di rinya di cermin.


Flash back on


Beberapa tahun yang lalu, terlihat keramaian di sebuah ruang gawat darurat.


Terlihat seorang wanita berlumuran darah di keningnya dan kepalanya sedang di tangani oleh perawat dan dokter jaga di rumah sakit itu.


Dokter keluar dari ruangan untuk menemui keluarga pasian. Namun yang dia temui malah seorang laki laki denagn baju berlumuran darah.


"Kamu keluarganya?" tanya seorang dokter pada laki laki itu.


Dari mata laki laki itu terlihat bahwa dia sangat ketakutan saat melihat wanita yang di dalam sedang sekarat.


"Bukan, aku hanya menolongnya saat setalah dia tertabark mobil" kata laki laki yang bajunya penuh dengan darah itu.


"Aku harus mengambil tindakan untuk menolongnya, apakah kamu bisa membantu menghubungi keluarganya?" kata dokter itu.


"Aku tidak tahu siapa dia" pandangan matanya selalu tertuju kepada wanita yang masih tergeletak di dalam ruangan itu.


Dokter hanya menghela nafas, kalau tidak ada persetujuan dari keluarga, maka dia tidak berani mengambil resiko kepada pasiannya.


"Aku akan bertanggung jawab, aku akan menandatangani berkas berkasnya" kata laki laki itu yang masih terus berharap bahwa ada ke ajaiban untuk wanita yang masih tergeletak tidak sadarkan diri.


"Kamu yakin?" dokter memastikan.


"Iya" aku akan bertanggung jawab.


Ditanda tanganinya semua berkas berkas itu.

__ADS_1


Setelah tiga jam di lakukan operasi, akhirnya wanita itu di bawa keluar dan di bawa ke ruang rawat inap.


Belum sempat menemui wanita itu, seorang laki laki paruh baya telah berdiri di samping laki laki yang sudah menolong wanita itu.


"Maaf mas, tapi ayahnya mas, sudah menunggu mas leo di bandara" kata laki laki itu.


Tatapanya beralih ke arah paperbag yang di bawa oleh laki laki paruh baya itu.


"Mas leo ganti baju saja dulu ya" kata laki laki patuh baya itu sambil memberikan paperbagnya.


Sebelum sempat mengetahui namanya, leo sudah harus kembali ke ausi, karena sebenarnya dia datang ke paris untuk menemani ayahnya dalam perjalanan bisnisnya. Namun saat dia sedang berkunjung ke tempat lain dan tidak sengaja kecelakaan itu terjadi.


Wanita itu adalah klara.


Selama klara berada di rumah sakit semua biaya di tanggung oleh leo.


Bahkan perawatan pemulihan sampai benar benar klara kembali pulih semua di tanggung oleh nya.


Beberapa bulan setelah klara pulih, dia akhirnya bertemu dengan leo yang telah menyelamatkannya.


Hubungan mereka menjadi semakin akrab.


Lambat laun apa yang di lakukan klara leo selalu mendukung dan selalu mendampinginya.


Hingga pada suatu ketika dia menyatakan perasannya kepada klara.


Namun klara belum bisa menerima perasaanya.


Di luar dia telah menyelamatkan dirinya, sebenarnya di hati klara masih menyimpan bayan bayang seorang barack.


lambat laun leo telah mengisi hati klara yang ksong.


Klara pun berusaha mencoba menerima leo saat itu.


Beberapa tahun kemudian klara sudah sukses membangun butiqnya sendiri di paris.


Saat peresmian butiqnya dia bertemu dengan sesosok laki laki yang selama ini dia rindukan.


Barack berdiri tepat di depannya, menatap kearahnya dengan berbagai, bahkan beribu ribu pertanyaan.


Hingga akhirnya ketika klara menjelaskan kenapa dia tidak pernah ada kabar lagi setalah bartahun tahun itu karena dia mengalami kecelakaan, barack pun berusaha menerima permintaan maafnya.


Disisi lain leo telah mempersiapkan cincin untuk melamar klara.


"Maaf leo, tapi, aku belum bisa menerima ini" kata klara menolak pemberian cincin itu kepadanya.


"aku benar benar belum siap, maaf" jawab klara.


Tapi yang leo dengar, kabarnya bahwa klara telah bertemu kembali dengan kekasih lamanya.


Mulai saat itu leo terus berusaha untuk mendekati klara.


Pasalnya setiap kali leo datang kepada klara, dia tidak pernah menolaknya.


Flash back off


klara menghela nafas dengan panjang sebelum dia meninggalkan toilet itu.


Setelah membenahi anak rambut yang melambai lambai di keningnya, dia berjalan keluar meninggalkan toilet.


Baru beberapa langkah keluar dari pintu toilet, leo sudah menunggunya dengan perasaan penuh harap pada klara.


"Leo" klara melihat ke arah leo yang sudah berdiri sambil bersandar di tembok.


Leo berjalan kearahnya. Di raihnya tangan kanan klara kemudian di tarik ke arah belakang pinggangnya dan didorong tubuhnya ke arah badan leo.


Dan di dorongnya lagi tubuh klara ke arah tembok sehingga dia tidak bisa bergerak kebelakang.


Tangan satunya lagi mencoba memegangi tangan kiri klara diangkatnya dan menekannya ke arah tembok.


Mata klara terbelalak melihat leo berada di depannya dengan tatapan yang seakan akan ingin melahapnya saat itu.


"Leo" terdengar nafas klara dengan kasar karena menahan rasa kagetnya.


Angin yang berhembus keluar dari hidung leo beradu dengan nafas klara karena saking dekatnya.


"Lepas" kata klara lirih kepada leo.


Perlahan tangan leo meraba jari jemari klara dan memegang menyentuh cincin yang melingkar di jari telunjuk klara.


"apa harus dengan seperti ini baru kamu akan mengajakku berbicara?"kata leo sambil melepas cincin dengan pelan yang melingkar di jari klara.


Klara tidak menyadari hal itu, pikiran dia terus fokus pada wajah leo yang sangat dekat dengannya.


"Leo cukup, hentikan" klara memohon dengan nada lirih


Di dekatkannya kening dia kepada kening klara.

__ADS_1


"kenapa kamu melakukukan ini? apa perhatian yang aku berikan padamu itu kurang?" kata leo, dengan nafasnya yang terengah engah dan terasa panas di wajah klara.


Hidung mereka sampai menempel karena saking dekatnya.


"Leo aku mohon jangan seperti ini" kata klara masih dengan nada lirih dan lembut kepada leo.


Tangan kanan leo beralih meraih rahang klara dengan lembut.


"Leo aku, , mmm, mmm" kata kata klara terhenti karena leo sudah membungkam mulutnya dengan mencium bibir klara.


Tangan satunya mencoba memukul mukul tubuh leo, namun itu tidak berhasil membuat leo menghentikan ciumannya.


Dengan sekuat tenaga klara mencoba mendorong tubuh leo.


Dan akhirnya klara berhasil melepaskan ciuman leo.


"Apa kamu sudah tidak waras?, , untuk apa kamu datang kemari?" tanya klara sambil membenahi dirinya yang terlihat berantakan.


"Menjemputmu pulang" kata leo.


Dia memegang cincin yang tadinya berada di jari klara, namun kini sudah berpindah tangan.


Klara berusaha meraba jarinya karena dia merasa kalau ada sesuatu yang hilang dari jari telunjuknya.


"Kamu mencari ini?"tanya leo sambil memperlihatkan cincin itu didepan klara.


"kembalikan!" kata klara sambil mencoba meraih cincin itu, namun leo sudah lebih dulu menyimpannya.


"kamu lebih memilih memakai cincin orang lain dari lada cincin yang aku berikan?" kata leo sambil tersenyum meremehkan.


"Ayolah, leo cangan bercanda" kata klara dengan nada penuh penekanan.


"Akan aku kambalikan, tapi ada syaratnya" kata leo menawarkan pilihan kepada klara.


Klara menghela nafas dengan kasar.


"Apa?" jawab klara.


"Cium aku" kata leo sambil mendekatkan pipinya ke arah klara.


Wajah klara tiba tiba memerah.


"kamu sudah tidak waras? barusan kamu juga sudah menciumku dengan paksa! apa iti kurang?" kata klara.


"Barusan aku yang menciummu, tapi sekarang aku maj kamu yang menciumku," kata leo kepada klara yang masih terus saja diam melihat ke arahnya.


"mau atau tidak?" tambahnya.


Klara terus menghelas nafas dengan panjang.


Dengan sedikit merasa malu dia menciun pipi leo yang sudah disodorkannya sedari tadi.


Namun ketika klara mendekatkan mulutnya ke pipi leo, yang ada leo malah kembali menyodorkan mulutnya, sehingga klara mencium bibirnya.


Di tariknya kembali kepala klara karena kaget.


"huufft, , sekarang kembalikan cincin itu" kata klara sambil menengadahkan tangannya.


"ini" leo membiarkan klara mengambil sendiri di telapak tangan leo.


Namun saat klara mengabilnya yang ada, malah dia mengenggam tangan klara.


"leo!" kata klara dengan nada penuh penekanan agar leo melepaskan genggaman tangnnya itu.


Leopun tersenyum melihat luna.


Dengan cepat, klara langsung menyaut cincin yang ada di tangan leo. Dan diapun segera pergi dari toilet itu.


Terlihat senyum geli di wajah leo saat itu, dan kemudian berjalan keluar mengikuti klara.


Sedangkan di meja makan, luna masih terus beradu pandang sengit dengan barack.


"ikut pulang bersamaku, , , aku akan mengantarmu pulang" kata barack kepada luna.


"Tidak perlu, aku yang akan mengantarnya pulang, karena aku orang yang cukup bertanggung jawab, sudah membawa dia pergi maka aku harus membawanya pulang dengan selamat" kata leo yang tiba tiba saja datang dan mencoba berbicara menyinggung barack.


Terlihat wajah barack memerah, bukan karena malu, tapi lebih ke menahan emosinya.


"Ayo kita lulang" kata leo sambil meraih tangan luna.


Barack hanya melempar pandang kearah leo yang terus menggenggam tangan luna.


"Barack, ayo kita pulang" kata klara yang dari tadi terus mendengarkan percakapan leo dengan barack.


klara meraih lengan barack dan menggandengnya dengan intim.


Sedangkan luna hanya melirik ke arah lengan barack yang di gandeng oleh klara.

__ADS_1


***


__ADS_2