Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
57 CEO: Love's Romance Mengkhawatirkan


__ADS_3

David menghentikan mobilnya tepat di depan mension milik kedua orang tuanya, letaknya yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan menjadikan tempat itu salah satu alternatif yang bagus untuk menengkan diri.


David telah keluar terlebih dulu dari mobil, dia berjalan kearah belakang kemudian untuk menjemput Aileen.


David mengulurkan tangannya kearah Aileen setelah berhasil membuka pintu.


Perempuan itu masih terlihat ketakuan, dia merasa ragu ketika ingin meraih tangan David.


"Ai?" David membungkuk kemudian menganggukkan kepalanya kearah Aileen, memberi keyakinan kepada perempuan itu untuk meraih tangannya.


Perlahan Aileen menggerakkan tangannya meraih tangan David. Laki laki itu menuntun Aileen masuk kearah dalam. Di sana mereka di sambut oleh beberapa pelayan yang selalu menjaga mension itu


"Tuan, , ? Nona, , " para pelayan terlihat menundukkan kepala.


Aileen menyelidik kearah tempat itu. Bangunan yang sangat besar dan megah menjulang tinggi hingga keatas sana. Aileen sempat terpaku ketika melihat isi di dalamnya. Dia sedikit lupa akan permasalahan Carol ketika memandangi keindahan langit langit yang sengaja di buat seperti di luar angkasa.


Perempuan itu tersenyum kemudian.


David merasa lega ketika melihat senyum Aileen.


"Kamu menyukainya??"


Perempuan itu menoleh kearah David.


"Lumayan"


"Kita akan ke kamar, , di sana jauh lebih indah"


"Benarkah??"


"Mm" David mengencangkan genggaman tangannya ketika membawa perempuan itu melangkah kearah dalam kamar.


Pelayan sebelumnya telah membersihkan dan menyiapkan kamar itu sebelum mereka datang.


Dan sesuai dugaannya, senyum Aileen semakin melebar.


Aileen bisa melihat awan dari dalam kamarnya dan ketika malam tiba dia akan dimanjakan oleh bintang bintang yang bersinar terang di atas sana.


David menarik tubuh Aileen dan memeluk perempuan itu kedalam dekapannya.


"Jangan berfikir yang macam macam lagi, , aku akan selalu ada di sini, menemanimu!" David mengecup kening Aileen dengan lembut.


"Tapi, , bagaimana dengan Carol??"


"Jangan pikirkan perempuan itu. Aku sudah menyuruh orang untuk mengurusnya"


Tok tok tok !!!


Pandangan mereka berdua teralihkan kearah pintu, mereka melihat Iris berdiri di sana. Aileen langsung melepaskan diri dari pelukan David.


Iris tersenyum kemudian.


"Ka, , aku rasa aku harus segera kembali. Kalian tidak apa apa kan aku tinggal??"


"Aku yang khawatir, kamu berani menyetir sendiri sampai rumah??" David berucap sambil menyerahkan kunci mobilnya.


"Berani dong!, ," setelah menerima kunci mobil dari tangan Kakaknya, Iris melangkah pergi. Tetapi belum jauh dari sana perempuan itu kembali lagi dan memasukkan setengah badannya kearah dalam kamar.


"Kak!!, , jangan ajari Aileen untuk berbuat nakal" Ucapnya kepada David.


"Aileen hubungi aku jika kakku menggigitmu! oke"


"Segera menyingkir dari hadapanku!!" David berucap sambil menutup pintu kamar.


Aileen mulai mengawasi wajah David yang malah berjalan kearah ranjang setelah menutup pintu.


Perempuan itu belum sepenuhnya pulih, kadang ada saatnya dia merasa bersalah dan kembali mengingat komentar komentar buruk yang ditujukan kepadanya.


"Kamu??, , kenapa ada di sini??"


Laki laki itu telah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Kemarilah" David menepuk pelan ranjang, berharap Aileen mau tiduran di sana bersamanya.


"Aku tidak mau!" Aileen mencoba menghindar dengan berjalan ke sisi lain untuk membuka gorden jendela. Dari balik kaca dia melihat pepohonan rindang yang terlihat sangat menyejukkan di sana.


"Kamarilah!" David menggerakkan tubuhnya ke bibir ranjang agar mempermudah dirinya untuk meraih tubuh Aileen.


"David!!" Aileen berseru ketika laki laki itu berhasil merangkup tubuhnya, menariknya hingga keatas ranjang.


David menggunakan salah satu tangannya sebagai bantalan untuk kepala Aileen, dengan satu tangannya lagi untuk memeluk tubuh perempuan itu. Sentara kakinya melingkar di atas kaki Aileen mengunci perempuan itu agar tak pergi menghindarinya.

__ADS_1


"Jangan melawan" David memejamkan matanya. Ketika perempuan itu sudah tak bergerak lagi untuk berontak, David menarik kepalanya kearah belakang untuk memastikan keadaan perempuan itu.


Air mata Aileen mencuat keluar, mengalir melewati pelipisnya.


"Kamu menangis??" David mengusap lembut air mata Aileen.


Aileen memutar tubuhnya kearah David, kemudian membenamakan wajahnya ke dada laki laki itu.


"Aku takut" bisiknya.


David melingkarkan tangannya ke tubuh Aileen untuk mendekap perempuan itu dengan erat.


David tak berfikir bahwa Aileen akan semakin mendorong tubuhnya agar tubuh mereka berdekatan hingga saling menempel.


Aileen tak bermaksud untuk berfikir ke hal lain, baginya berlindung di tubuh David yang kekar itu seolah memberi kenyamanan bagi jiwanya.


"Sial!!"


David mengumpat kepada dirinya sendiri, katika ada sisi lain dari tubuhnya yang tak bisa di ajak kerja sama dengan baik ketika ingin memberi kenyamanan bagi Aileen.


David takut Aileen akan menganggap dirinya mesum ketika mendapati bagian tubuhnya di sana sudah ada yang menegang.


Ketika David menarik tubuhnya mundur untuk menjauh, Aileen malah semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh David. Hingga tak memberi jarak sedikit pun di antara mereka.


Posisi Aileen saat ini sedang meringkuk di atas ranjang. Hingga tak sengaja lututnya menyentuh bagian yang mengeras. Memang belum sepenuhnya menegang, tetapi Aileen bisa merasakannya.


Perempuan itu mendongak melihat kearah wajah David kemudian. Aileen hanya berfikir kalau itu adalah ponsel milik David.


"David?, , kamu tertidu" ucapnya ketika melihat David memejamkan kedua matanya.


"Mmm" David menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya menutup mataku" Pipi David merona ketika sadar Aileen masih melihat kearahnya.


"Aku tak bisa terus seperti ini!!, , aku takut ketika Aileen menyadarinya. Dia akan berfikir aku laki laki mesum!!"


David menarik tangannya yang sempat melingkar di tubuh Aileen. Laki laki itu kemudian beranjak duduk di atas ranjang.


"Kamu mau pergi kemana?" ucap Aileen setelah melihat David beranjak dari ranjang.


"Aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan makannan untuk makan malam nanti" David membelai lembut ujung kepala Aileen sebelum melangkah keluar dari kamar.


Perempuan itu mengangguk, sementara David mempercepat langkahnya.


David terlihat sangat frustasi saat itu. Dia melangkah menuju kearah dapur.


♡♡♡


Aileen terlihat melamun di meja makan, dia bahkan tak menyentuh makanannya sedikit pun.


David menarik kursinya agar lebih berdekatan dengan Aileen. Tangannya bergerak membelai lembut rambut perempuan itu.


"Sayang kamu melamun??"


Perempuan itu masih terdiam.


"Ai??" David menggerakkan tubuhnya mendekati Aileen kemudian mengecup bibir perempuan itu.


Seketika Aileen langsung tersadar dari lamunannya. Dia mengalihkan pandangannya kearah David.


"Kamu bicara apa?, maaf aku tidak memdengarmu"


David memandangi wajah Aileen dengan lekat.


"Kamu masih memikirkan hal itu??, , ada aku di sisimu. Dan kamu sibuk memikirkan hal lain?" David menarik tubuhnya menjauh dari Aileen.


"Maaf David, , aku"


"Tidak perlu minta maaf, , aku mengerti" David meraih tangan Aileen, menautkan jari jemari mereka hingga menyatu. David kemudian mengecup punggung tangan Aileen.


David membantu Aileen menyuapi perempuan itu, perlahan hingga habis tak tersisa sedikit pun di piringnya.


Kemudian laki laki itu membantu Aileen mengambil minumnya.


"Aku akan mengantarmu ke kamar" David beranjak dari kursi, tangan mereka masih saling bertautan.


Sepanjang perjalanan menuju ke kamar, David selalu menggandeng tangan Aileen dan tak pernah melepaskannya sedetik pun.


Setelah sampai di kamar, David meraih obat penenang yang ada di atas nakas.


"Aku tidak membutuhkan itu" ucapan Aileen merujuk kepada obat penenang itu.

__ADS_1


"Kamu yakin??" David memasukkan kembali pil yang sempat dia keluarkan ke dalam botol.


Aileen bergerak mendekati David. Perempuan itu tertunduk sementara tangannya menarik ujung bawah kaos yang di kenakan oleh David.


"Aku merasa baikkan selama ada di sampingmu!"


Aileen berucap dengan manja. Membuat David menelan ludahnya dengan susah payah.


"Kalau begitu, ,tidurlah. Aku, ,aku akan menemanimu sampai kamu tertidur"


Aileen naik keatas ranjang, kemudian dia melirik kearah David yang masih berdiri di sana.


"David??"


Laki laki itu terkejut, karena beberapa saat yang lalu dia sempat melamun.


"Iya!!"


"Kemarilah" Aileen menepuk pelan ranjangnya, berharap David akan duduk di sana.


David berdehem, dia mencoba menetralkan perasaannya. Perlahan laki laki itu naik keatas ranjang menuhi keinginan Aileen.


Baru juga duduk di sana, Aileen dengan polosnya langsung menyandarkan tubuhnya di dada David. Dia tidak tahu bahwa sekuat tenaga, laki laki itu menahan diri ketika berada di dekatnya.


Tak lama David menyandarkan kepala Aileen ke atas bantal setelah perempuan itu memejamkan matanya. Sejenak David menatap wajah Aileen dengan lekat.


"Maaf sudah menyeretmu dalam masalah ini" Bisiknya, David mengecup kening Aileen sebelum dia beranjak dari ranjang dan pindah tidur di atas sofa.


David memilih untuk menjaga jarak dari Aileen, dia tidur di atas sofa malam itu, dia merasa takut ketika tak bisa mengendalikan diri maka akan menyakiti Aileen nantinya.


Belum sempat mejamkan mata, Dia mendapat panggilan dari sekretarisnya. David pun menjauh dari Aileen untuk mengangkat panggilan itu.


"Apa yang kamu dapatkan??" sahutnya dengan cepat seolah tak sabar ingin segera mendapat kabar. David sengaja berucap dengan lirih agar tak menganggu tidurnya Aileen.


"Maaf PreDir, , CCTV di gedung itu hanya ada dua di dalam ruangan. Dan keduanya tak ada yang menyoroti sisi dimana Carol melakukan pelecehan itu terhadap Aileen"


David mendengus kesal, hampir dia mengumpat dengan keras, tetapi dia bisa menahan emosinya dengan baik.


"Lalu bagaimana dengan orang orang yang datang kepesta, kamu mendapatkan sesuatu?"


"Ada 300 tamu undangan malam itu, dan kami baru menyisirnya empat sampai lima puluh orang"


"Lanjutkan!, ? bergeraklah lebih cepat. Dari 300 orang pasti ada yang mengabadikan momen itu!"


"Baik PresDir"


David langsung mematikan panggilannya ketika melihat gerakan tubuh Aileen. beruntung perempuan itu tak terbangun dari tidurnya.


♡♡♡


Lewat tengah malam Aileen mulai terlihat tak nyenyak, dia seperti sedang bermimpi buruk. Keringat dingin membasahi keningnya, hingga akhirnya Aileen terbangun dan menangis tersedu sedu di atas ranjang.


Aileen memeluk kedua kakinya menyimpan wajahnya dalam dalam di sela sela lutut. Dia kemudian menangis di sana.


Tak lama David terbangun ketika mendengar isakan tangis Aileen. Laki laki membuka matanya perlahan. Dia beranjak dari sofa dan mencari suara itu berasal.


David mendapati Aileen masih duduk di atas ranjang sambil tertunduk.


"Ai??, , kamu terbangun?" David meraih tubuh Aileen. Membuat perempuan itu mengangkat kepalanya.


Dia melihat kedua mata Aileen sudah sembab hingga membesar.


"Sayang, , kamu sudah menangis sejak tadi??" David mengusap Air mata Aileen yang sudah membanjiri pipinya


"Astaga David!!, ,kamu membiarkan Aileen menangis sendirian dari tadi??, ? aku benar benar laki laki buruk!"


David merangkup tubuh Aileen kemudian membawa kedalam dekapannya. Tubuh Aileen yang kacil itu seolah terlihat sangat mudah rapuh sehingga David tak berani memeluknya dengan sangat erat. Takut ada bagian tulangnya yang akan patah akibat pelukannya.


Aileen mendorong tubuh David. Perempuan itu masih terisak.


"Mereka bilang akan mematahkan tanganku!" tubuh Aileen terlihat bergetar ketakutan.


"Tenangkan dirimu, ,aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"


"Tidak David, ,mereka juga bilang bahwa aku pantas mati, , Benarkah hal itu??, ,apa yang mereka katakan semua itu benar??, , kalau aku pantas mati??"


David menghela nafas panjang, dia terlihat sangat khawatir dengan keadaan Aileen.


"Semua itu tidak benar, dengarkan aku Ai" David merangkup pipi Aileen dengan kedua tangannya. Memaksa agar perempuan itu memfokuskan pandangannya kearah David.


"Lihat mataku, ,kamu hanya sedang bermimpi, ,aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi!, , sekarang kamu minum obatnya ya" David berucap dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tetapi Perempuan itu menolak untuk meminumnya.

__ADS_1


Kini Aileen malah memeluk tubuh David dengan erat.


"Jangan pergi, aku ingin terus seperti ini" mungkin aroma tubuh David memberi ketenangan baginya. Laki laki itu akhirnya menemani Aileen tidur di atas ranjang.


__ADS_2