Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
55. Rindu 2


__ADS_3

"Bunga?"


Mendengar suara Davien, Bunga kembali menutup pintunya, dia terkejut lelaki itu sudah berdiri di belakangnya. "Davien" akhirnya Bunga bisa tersenyum lepas.


Lelaki itu tampak tegang ketika melihat Bunga berada di depan kamar, tetapi dia merasa lega karena sepertinya Bunga belum sempat masuk. Davien membalas senyumnya. Kini perhatiannya tertuju pada Bunga saat melihat perempuan itu menyambut kedatangan nya dengan gembira.


"Akhirnya kau pulang!" Bunga berlari kecil kemudian menelusupkan kedua tangannya di sela lengan, perempuan itu tengah memeluk tubuhnya dengan erat.


Davien terkejut sebelumnya dia tidak membayangkan kalau Bunga akan bersikap seperti itu, perlahan Davien mengangkat kedua tangan kemudian membalas pelukannya.


Bunga menghirup aroma tubuh Davien dengan sepuasnya, sangat lega beban di dadanya seakan telah menghilang tepat saat Davien berada dalam dekapan tak ingin rasanya melepaskan lelaki itu.


Namun ketika dia mendengar detak jantungnya yang sangat kencang hingga menggema di rongga telinga, Bunga pun tersadar bahwa sikapnya berlebihan. Perempuan itu melangkah mundur menjauh dari Davien dengan wajah merona.


Davien terkejut melihat perubahan sikap Bunga begitu cepat, lalu mengangkat kedua alisnya. "Kenapa? Kalau kau belum puas... kau boleh memelukku lagi" perintahnya diselingi senyuman manis.


Bunga tersipu menggaruk tengkuk menutupi rasa malu.


"Apa aku membuatmu menunggu lama?" Davien melangkah ke sisi lain melepas jas.


"Tidak, aku sempat menghabiskan waktuku untuk membersihkan tempat ini sambil menunggumu pulang" Bunga mencoba berbohong, padahal dia hampir menangis karena jengkel Davien tak kunjung pulang.


"Ikutlah denganku" Davien meraih tangannya mengajak perempuan itu berjalan ke arah taman belakang.


***


Taman yang sangat luas dihiasi dengan bunga-bunga cantik dan berwarna warni. Di sana mereka tak terlihat jelas ketika malam hari, namun banyak penerang yang membantu penglihatan malam menjadi sedikit terang.


Davien duduk di kursi kemudian meminta Bunga duduk di atas pangkuan. "Kemarilah" ucapnya sambil menepuk pelan pahanya.


Seketika apa yang dilakukan oleh Davien membuat Bunga berdebar. "Davien, aku bisa duduk di sini" ucap Bunga sambil mendekati kursi yang ada di seberang meja.

__ADS_1


"Ini perintah!" sahut Davien dengan nada dingin. Bunga tak berani menolak, tapi berpikir untuk duduk di pangkuan Davien membuat perempuan itu Berkeringat dingin. "Ya Tuhan... aku memang berharap lelaki ini segera pulang. Tapi kenapa aku dihadapkan dengan situasi seperti ini!" batinnya.


"Apa perlu aku menghitung sampai 3 agar kau cepat duduk di pangkuanku!?" Davien menepuk pahanya lagi.


Perlahan perempuan itu melangkah mendekat dan semakin dekat dadanya semakin berdebar berdesir tak karuan. Merasa Bunga terlalu lambat Davien yang tak sabar pun meraih tangannya menarik perempuan itu hingga jatuh duduk di pangkuan.


Bunga terlihat kebingungan, gugul malu dan salah tingkah bercampur menjadi satu. Davien meraih tangannya satu persatu menuntun perempuan itu untuk merangkul dirinya.


Kini posisi Bunga duduk di pangkuan Davien dengan kedua tangan yang melingkar di bahunya. Jelas, jarak di antara mereka begitu sangat dekat. Sementara Davien melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Bunga karena merasa tak puas dia bahkan menarik perempuan itu untuk lebih mendekat ke arahnya.


Davien sedikit mendongak ketika menatap Bunga yang posisinya lebih tinggi. "Kau... merindukan aku?" ucapnya membuat Bunga merona, terlihat di kedua pipinya seketika memerah hangat.


Perempuan itu berdehem menetralkan perasaan. "Tidak!" sahutnya dengan cepat sembari melempar pandangan ke arah lain.


Dan tanpa sadar dia melepaskan kedua tangannya yang sempat merangkul Davien.


"Kenapa? Kenapa kau melepaskan tanganmu?".


"Tidak, aku... aku" Bunga terbata.


"Bukan begitu Devien, aku–,"


"Lupakan! kau tahu hari ini aku tidak bisa berkonsentrasi" pandangannya terlihat sayu saat menatap Bunga.


"Kenapa?" Bunga merasa bahwa wajah mereka begitu sangat berdekatan, dia pun dengan sengaja lagi-lagi membuang pandangannya ke arah lain karena merasa malu ketika lelaki itu menatapnya dengan lekat.


"Karena hanya ada wajahmu di otakku!" Davien masih menatapnya, sembari menahan senyum ketika dia sadar kalau perempuan itu tersipu karena tatapan matanya.


"Bunga? Hei... lihat ke arahku" pintanya dengan lembut.


Bunga menoleh perlahan, kemudian memberanikan diri menatap mata Davien. Dadanya semakin berdebar ketika dia bisa merasakan hawa panas yang keluar dari wajah lelaki itu.

__ADS_1


"Kau sakit? Sepertinya kau demam" Bunga menggunakan tangan untuk memastikan kondisi tubuhnya. Dia menggunakan punggung tangan yang ditempelkan di leher serta dahi secara bergantian untuk memastikan suhu panasnya. "Ya, Sepertinya kau demam Davien! Kau pasti kelelahan karena hari ini harus bekerja di luar kota" perempuan itu nampak terlihat sangat khawatir ketika mengetahui Davien sedang tidak sehat.


"Lupakan tentang kesehatanku! Yang terpenting bagiku saat ini adalah pulang ke rumah dan aku melihatmu ada disini" suaranya semakin terdengar Parau. "Bunga?"


"Ya?"


Tatapan matanya semakin terlihat sayu seolah mengisyaratkan sesuatu. "Kau tidak merindukan aku?" tentu saja pertanyaan itu tak langsung mendapatkan jawaban yang dia inginkan dari mulut Bunga. "Sepertinya hanya aku yang merindukanmu saat ini, tapi–," lelaki itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya meneruskan ucapannya. "Bagaimana caranya mengobati rindu ini jika orang yang aku rindukan saja sepertinya tak menghiraukan diriku" lagi, Davien berucap sengaja membuat Bunga merasa bersalah.


"Bukan begitu, aku hanya–," ucapnya terputus.


"Kenapa? baiklah kalau kau tidak ingin menjawab tapi setidaknya bantu aku mengobati rasa rinduku" Davien semakin menatapnya dengan lekat dan serius, dia meminta Bunga untuk membantunya mengobati rasa Rindu yang menggebu.


"Apa yang harus aku lakukan untuk membantu mengobati rindumu?" ucap Bunga berlagak bodoh.


"Aku sudah dengan jelas mengatakan kepadamu Bunga, kalau aku benar-benar sangat merindukanmu" suaranya semakin parau dan melemah bahkan sempat terdengar sedikit ada desaahan di telinga Bunga.


"Apa iya aku harus mengajarimu bagaimana cara mengobati rinduku??" ucapnya dengan perlahan dan suara yang sedikit pecah.


Namun Bunga masih bisa mendengarnya dengan jelas. "Davien! kenapa kau tidak langsung mengatakan apa yang harus aku lakukan untuk membantumu, kenapa kau harus berucap dengan bahasa yang tidak aku mengerti?" Bunga benar-benar sangat menjengkelkan, dia sengaja bersikap polos padahal dia tahu apa yang diinginkan oleh Davien saat ini.


Davien sangat lelah karena harus menempuh perjalanan panjang tetapi ketika dia pulang hanya rasa kekecewaan yang dia dapat, dia ingin sekali Bunga lebih agresif terhadap dirinya namun sepertinya tak di respon oleh Bunga.


Laki-laki itu dengan malas menarik kedua tangannya yang sempat melingkar di pinggang Bunga. "Lupakan! Davien yang sudah mulai putus asa, meminta Bunga beranjak berdiri dari pangkuan. "Aku akan kembali ke kamar membersihkan tubuhku! Kau siapkan makan malam" ucapnya dengan malas tanpa menoleh ke arah Bunga.


Setelah perempuan itu berdiri Davien beranjak dari kursi melangkah meninggalkan perempuan itu dengan wajah kecewa.


Entah kenapa Bunga merasa sakit, padahal dia yang dari tadi mencoba untuk menolak Davien tetapi ketika lelaki itu mengikuti permainannya, justru dia yang tersakiti.


Dengan cepat perempuan itu meraih lengannya. "Tunggu!"


Davien terdiam namun tak lantas menoleh.

__ADS_1


"Davien?" Bunga memanggil namanya dengan nada sedikit manja.


Karena lelaki itu tidak merespon, hanya berdiam diri tak mau menoleh, Bunga pun mendekat kemudian menggunakan satu tangannya meraih pipinya memaksa Davien menoleh kearahnya. Dan tanpa aba-aba Bunga mencium bibirnya.


__ADS_2