Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#172 Pengalihan


__ADS_3

"Sepertinya usahaku untuk menghentikanmu melewati Luna percuma saja!!, , kamu tidak takut dengan apa yang akan terjadi dengan kalian selanjutnya??" Adrian tengah menyeringai ke arah Barack tatapan mata laki laki itu terlihat sangat licik.


"Aku tidak takut denganmu. Apa pun yang akan kamu lakukan, jangan pernah melibatkan Luna dan David!!, , mereka tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini!" Barack berucap dengan nada tenang, namun kedua ujung matanya menajam ke arah Adrian.


Salah satu ujung bibir Adrian terangkat, dia sedang tersenyum sinis ke arah Barack. Tatapan matanya melihat kepada dua orang yang berdiri didepannya secara bergantian.


"Berikan laki laki itu padaku!!, , maka aku tidak akan mengganggu kalian lagi" ucapnya merujuk kepada Ernest yang ada di dalam mobil.


Barack terkekeh mendengar permintaan Adrian, laki laki itu sangat licik. Tidak mungkin bagi Barack menyerahkan Ernest kepada Adrian, karena jika memang hal itu terjadi Adrian tidak akan pergi begitu saja dari kehidupan Barack. Yang ada dia akan selalu membayangi hidup mereka sampai Adrian mendapatkan keinginannya.


"Apa kamu pikir aku ini bodoh?? Aku tidak akan menyerahkan Ernest padamu begitu saja!, ,"


Adrian melirik ke arah Anak buahnya yang sedang melangkah keluar dan berdiri di belakang mobil Barack. Dia menggerakkan kepalanya seolah memberi perintah kepada Anak buahnya untuk bergerak menangkap Ernest.


Anak buahnya pun mengangguk, dia langsung membuka pintu mobil belakang Barack dan menarik paksa laki laki yang memakai hoodei itu keluar dari mobil.


Ketika Barack mengetahui hal itu, dia langsung berlari ke arah belakang. Namun Anak buah Adrian telah menodongkan pistol ke arah kepala laki laki yang sedang di sandranya. Hingga Barack terpaksa memaku langkahnya. Dia melangkah mundur dan kembali mendekat ke arah Nathan.


"Lepaskan dia!!, , " Barack berucap dengan nada tinggi.


Adrian mendekat ke arah Barack, menatap laki laki itu seolah Barack adalah tikus mainannya.


Sementara Nathan dia selalu waspada dengan keadaan sekitar, kedua tangannya nampak sudah siap untuk mangambil pistol jika tiba tiba Adrian dan anak buahnya melakukan hal di luar kendali.


"Buka tudungnya!!" perintah Adrian kepada Anak buahnya.


Laki laki itu tengah menbuka tudung hoodie yang menutupi kepala dan wajah laki laki yang di sanderanya.


Batapa terkejutnya Adrian ketika laki laki itu bukanlah Ernest, melainkan Anak buah Barack.


Seketika Adrian langsung meraih senjata api dari balik jas dan mengarahkannya ke arah Kepala Barack. Dan saat itu Nathan juga telah mengarahkan pistolnya ke arah Adrian.


"Di mana Ernest!!" Adrian berucap dengan nada penuh penekanan kepada Barack. Mengancam laki laki itu agar segera memberitahu keberadaan Ernest.


Barack sengaja melakukannya, dia tahu kalau Adrian telah mengikutunya sejak pertama dia keluar dari gerbang itu.


Akhirnya Barack memutuskan untuk mengelabui Adrian dengan menukar hoodie milik Ernest dengan jas milik Anak buahnya.


Barack tersenyum sinis ke arah Adrian, hingga membuat laki laki itu naik pitam dan semakin mendekatkan ujung pistolnya ke arah kepala Barack.


"Tetap di tempatmu Adrian!!" Nathan berucap dengan nada rendah, ujung matanya tertuju ke arah jari Adrian, jika laki laki itu menggerakkan sedikit saja jarinya untuk menarik pelatuk. Maka Nathan akan terlebih dulu menembaknya tepat di kepala Adrian.


Rahang Adrian menguat, dia merasa sedang di permainkan oleh Barack. Emosinya kini semakin membakar habis tubuhnya hingga kedua matanya memerah.


Barack tidak bergeming. Ini sudah menjadi tujuan hidupnya. Dia harus bisa membuat Luna dan David hidup dengan nyaman. Dia tidak merasa katakutan ketika saat itu juga Adrian menarik pelatuknya, hingga timah panas yang akan keluar dari pistolnya menghancurkan isi kepalanya.


"Ketika kamu saat ini sibuk denganku, mungkin Ernest sedang dalam perjalanan menuju ke kantor polisi!!" ucapnya mencoba memprovokasi Adrian.


"Menyerahlah Adrian!!" tambahnya.


Dan saat itu juga Anak buah Nathan telang mengepung Adrian dengan menodongkan pistol ke arah laki laki itu.

__ADS_1


Kerutan di kening Barack semakin terlihat dalam ketika melihat ekspresi wajah Adrian yang seolah tak pernah memiliki rasa takut dalam hidupnya. Hampir 10 senjata api lebih kini sedang mengarah ke Adrian, namun laki laki itu tak bergeming sedikit pun. Dia malah tertawa terbahak bahak saat itu.


"Adrian!!" Barack berucap dengan nada keras.


Kini wajah Adrian kembali terlihat serius, dia melirik ke arah mobilnya. Menunduk memberikan perintah kepada seseorang di dalam sana untuk membuka kaca pintu mobil.


Mata Barack membulat penuh, dadanya serasa ingin meledak ketika melihat David tengah di bekap dengan mulutnya oleh Anak buah Adrian.


Rahang Barack menguat, nafasnya pun semakin memburu semntara kedua tangannya telah mengepal dengan kuat hingga terlihat memutih di bagian ruas jarinya.


"David??" ucapnya denga lirih. Dia bergerak melangkah ke arah mobil itu.


Namun ketika Anak buah Adrian mengarahkan ujung pistolnya ke arah kepala David. Langkah kaki Barack terpaku seketika.


Laki laki itu terlihat sangat tidak berdaya ketika melihat David tengah menangis dengan mulut yang di bekap dengan sangat kuat. Saat itu juga air mata Barack jatuh dari ujung matanya.


Kini Barack mengalihkan pandangan matanya ke arah Nathan. Laki laki itu berusaha untuk tetap tenang. Namun jiwanya seakan telah hancur berkeping keping.


Nathan dan Barack hanya saling melempar pandang seolah tak percaya bahwa David kini berada di tangan Adrian.


Sebelumnya Nathan yang selalu mengawasi David di depan sekolah dari kejauhan, dia sudah memastikan bahwa David telah di jemput oleh supirnya, Namun saat itu yang dilihat oleh Nathan dari arah belakang bukanlah supir yang di kirim oleh Barack. Melainkan itu adalah Anak buah Adrian.


Adrian menyeringai penuh kepuasan. Seola dia telah menang dari Barack saat itu.


"Kamu tidak ingin bertanya di mana aku sudah membuang supirmu??"


"Kamu!!" Barack membulatkan matanya ke arah Adrian. Dia tidak mengira laki laki itu bisa berbuat lebih gila dari perkiraannya.


"Apa pun yang kamu inginkan!!, , asal kamu mau melepaskan David. Aku akan mengabulkannya!" Barack berusaha keras menahan emosi yang membakar habis tubuhnya.


Ujung bibir Adrian terangkat, dia sangat menikmati ekspresi wajah Barack yang sangat ketakutan jika sesuati terjadi pada David.


"Pertanyaan itu yang aku tunggu darimu!!" Adrian menyimpan kembali pistolnya ke dalam jas. Dia sangat yakin Bahwa Nathan dan Anak buahnya tidak akan berani menembak mati dirinya saat itu.


"Hubungi Ernest saat ini juga, hentikan dia untuk tidak membuka mulutnya di depan polisi!!"


Barack dan nathan saling melempar pandang, setelahnya dia mengangguk ke arah Nathan. Dia memberi perintah kepada Laki laki di sampingnya untuk menghubungi Ernest.


Salah satu tangan Nathan yang tidak memegang senapan, berusaha meraih ponsel yang ada di dalam saku jas. Dia pun segera menghubungi Ernest.


"Hallo??, , Ernest!! tetaplah berada di posisimu sekarang!!, rencana telah berubah!"


Jauh di seberang sana Ernest seketika telah menginjak rem mobil.


"Baiklah!!" suaranya terdengar seperti sedang menelan pil kekecewaan.


Sementara itu Nathan kembali menyimpan ponselnya di balik saku jas.


Barack dan Adrian kembali saling melempar pandang dengan sengit.


"Sekarang, suruh mereka pergi dari tempat ini" ucap Adrian merujuk pada Anak buah Nathan yang yang sedari tadi mengarahkan senapan ke arah Adrian.

__ADS_1


Barack melirik ke arah Nathan dan meganggukkan kepala, sebelum akhirnya Nathan memerintahkan anak buahnya untuk pergi.


Anak buah Nathan akhirnya meninggalkan tempat itu. Nathan pun sama, dia menyimpan senapannya kembali.


Kini Barack mencoba untuk meminta apa yang sudah di sepakati antara dirinya dan Adrian.


"Sekarang, , lepaskan David!!"


Seketika tawa Adrian pecah, Bukannya memenuhi keinginan Barack dia malah menambah emosi Barack semakin menggunung.


"Tidak semudah itu Barack!!" mendengar ucapan Adrian yang seolah bertele tele, Barack mempercepat langkahnya mendekati Adrian. Dia meraih, mencengkeram kerah jas Adrian dengan kuat.


Kedua ujung matanya nampak menajam ke arah Adrian.


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan!!!, , kamu sedang mempermainkanku!" Barack berucap dengan nada berat. Dia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi untuk tidak berbuat kasar dengan Adrian.


Laki laki itu melayangkan sebuah pukulan keras di wajah Adrian, hingga membuat laki laki itu jatuh terduduk ke atas aspal.


"Pukul aku sepuasmu Barack!!, , tapi kamu harus ingat. David masih ada di tanganku" Laki laki itu kembali tertawa, dan entah untuk yang keberapa kalinya.


"Apa lagi yang kamu inginkan dariku!!, , kamu benar benar bajing**, , otakmu sudah tidak waras!!" Barack menendang dengan kuat ke arah tubuh Adrian yang masih terduduk di sana.


Sementara Nathan mencoba untuk menahan tubuh Barack dengan memeluknya dari arah belakang.


"Barack!!, , tenangkan dirimu!!"


"Ayaaahh!!!" Anak buah Adrian telah menarik tangannya dan membuka mulut David hingga anak itu bisa berteriak memanggil Ayahnya.


Seketika Barack langsung memalingkan Wajahnya ke arah David. Mempercepat langkahnya untuk mendekati Putranya. namun Anak buah Adrian terlebih dulu menutup kaca pintu mobilnya.


Barack berusaha keras memukul kaca dengan kepalan tanganya. dia berlaku sperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya. Terus memukul kaca mobil tanpa jeda hingga ruas jarinya memerah dan akhirnya pembuluh darah kecil di bagian itu pecah dan darah mencuat keluar dari balik kulit.


Dia mendekatkan Wajahnya ke arah kaca untuk mempermudah dirinya melihat wajah David yang berada di balik kaca itu.


Dia melihat tangis David semakin menjadi ketika melihat bercak darah dari tangan Adrian menempel di kaca mobil.


"Barack!!" Nathan berusaha menenangkan Barack yang mulai kehilangan kendali.


Kini Adrian beranjak dari aspal.


"Percuma Barack!!, ,kamu tidak akan bisa memecah kaca itu dengan pukulan lemahmu. Yang harus kamu lakukan adalah membawa Luna kepadaku!!, , maka aku akan mengembalikan David, , bagaimana? tawaranku bukankah sangat mudah? kamu akan mendapatkan David kembali. sementara aku akan mendapatkan Luna" laki laki itu terkekeh kemudian.


Emosi Barack sudah tak tertahankan lagi, dia membalikkan tubuhnya dan menghampiri Adrian dengan sebuah kelalan kuat yang sudah dia persiapkan untuk memekul kembali wajah Adrian.


Namun laki laki itu telah terlebih dulu mengarahkan pistol ke arah wajah Barack. Dan membuat tubuh Barack terpaku seketika.


Aura dingin mulai menyelingkupi tubuh Adrian ekspresi wajahnya pun terlihat lebih mengerikan.


"Mundur!!, , atau aku akan menghancurkan kepalamu!! saat ini juga" Adrian bergerak mendekat ke arah mobil.


"Aku akan mengirim alamat untuk kita bertemu lagi. Pikirkan secara matang Barack. Bawa Luna, maka kamu akan mendapatkan Putramu kembali!!" Adrian langsung menutup pintu. Mobilnya pun bergerak menjauh dari Barack yang masih berdiam diri seperti orang yang sudah kehilangan arah dan tujuan untuk bertahan hidup.

__ADS_1


__ADS_2