Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#17 PESTA


__ADS_3

 


Sorenya Luna dan Cici pergi ke salon, Luna sedang melakukan perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sementara Cici hanya melakukan perawatan rambut.


 


"Ternyata senikmat ini ya berada di salon, tahu gitu dari dulu dulu deh aku bolak balik ke salon" Luna sangat menikmati pijatan di kepalanya.


"Halah, dari dulu juga sudah aku kasih tahu, tapi kamunya tidak mau" Cici berucal sambil memainkan ponselnya.


"Mbak Luna badannya di pijat dulu ya, sambil nunggu obat rambutnya meresap ke kulit kepala" ucap pegawai salon sambil memapah Luna masuk kedalam sebuah ruangan.


Sementara Cici masih menikmati kepalanya yang sedang di pijat.


drreeet drreeet


Ponsel milik Luna tertinggal di atas meja, dengan segera Cici pun meraihnya.


"Dari barack???" Cici mulai jahil, dia mengangkat panggilan dari Barack.


"Halo, , Ini aku Cici, , Luna lagi perawatan tubuh di salon, iya, Di salon xxx, oke" Cici pun tertawa jahat.


Setelah selesai melakukan perawatan rambut Cici menunggu Luna di ruang tunggu salon itu.


 Tidak lama setelah itu Barack sampai di depan salon xxx.


Barack menunggu di dalam mobil, karena aneh baginya kalau dia harus masuk ke dalam salon.


 


Luna keluar dari ruang pijat, dia mengganti bajunya dengan gaun yang sudah dia ambil sebelumnya di butiq Mamahnya.


Dan yang pasti gaun iti tidak akan membuatnya malu seperti kemarin malam.


Keluar dari ruang ganti Luna segera duduk kembali dengan segera rambutnya di tata oleh pegawai salon.


"Mbak!! tidak usah di bikin aneh aneh ya, di curly bawahnya saja" ucap luna kepada pegawai salon.


"Iya mbak" pegawai itu menjawab sambil tersenyu manis.


"Lun pakai soflents ya, biar cuantik maksimal" Cici menenteng soflents di tangannya itu kearah Luna.


"Aku belum pernah pakai kaya gituan Ci, nanti kalau copot sebelah gimana?"


"Ya di coba donk, masak mau pakai kaca mata ke pesta, sudah dandan cantik cantik juga, rugi donk! aku sudah sengaja pilihin sesuai mines kamu nih"


"Serius?? duuuh kamu tu sahabat terbaik muah muah" Luna membuang kiss bay lewat pantulan kaca kepada sahabatanya.


"Ya iyalah terbaik secara sahabat kamu kan cuma aku doank! hahahah" Cici mulai mengejek.


"Mulai deh"


Setelah rambutnya di tata rapih, Luna segera mencoba memakai soflents. Setelah beberpa kali gagal akhirnya dia berhasil juga.


Awalnya dia merasa aneh dan mengganjal pada matanya. Tapi setelah terbiasa dia merasa nyaman juga.


♡♡♡


Didalam mobil, Barack mulai jenuh menunggu mereka berdua yang dari tadi tidak keluar keluar dari salon, Barack sesekali melihat ke arah jamnya.


 


Beberapa menit kemudian mereka berdua keluar dari salon, Barack pun mengalihkan pandangannya kearah Luna sambil membuka kaca pintu mobil, terlihat Luna memakai gaun hitam elegan dengan rambut yang tergerai serta sedikit polesan di wajahnya, mata itu terlihat begitu indah saat tidak tertutup oleh kaca mata.


Barack tertegun melihat kecantikan Luna malam itu. Pandangannya tidak berubah selalu tertuju ke arah Luna.


 


Luna melihay kearah Barack yang saat itu sedang melihat ke arahnya dari arah dalam mobil.


"Dari mana dia tahu kita ada disini?" bisik luna sambil mengikuti langkah Cici.


"Dia tadi menghubungimu, karena kamu sedang di dalam, ya aku angkat saja" Cici berusaha menjelaskannya.


"Bilangnya tidak mau mengantar, nyatanya sudah standbay di situ" luna bergumam.


"Itu artinya dia perduli sama kamu?" sahut Cici.


"Perduli sama aku??? yang ada dia perduli sama dirinya sendiri!" Luna terlihat jengkel saat itu.


Mereka berdua pun langsung masuk ke mobil.


Pandangan mata Barack masih tertuju ke arah Luna yang sudah duduk di sampingnya.


"Gm, gm" Cici berdehem mencoba membuyarkan lamunan Barack sambil sibuk memainkan ponselnya.

__ADS_1


Dengan cepat laki lakinitu mengalihkan pandangannya ke setir mobil.


Saat barack menyalakan mobilnya alaram sabuk pengaman mulai berbunyi.


"tit.tit.tit.tit.tit"


Barack hanya melihat ke arah Luna, berharap perempuan itu segera memakai sabuk pengaman, tetapi luna hanya diam saja.


Maklum orang kaya tapi tidak pernah mau naik mobilnya sendiri jadi tidak terbiasa dengan kebiasaan saat naik mobil lalu memakai sabuk pengamannya.


"Kenapa?" Luna bertanya kepada Barack yang terus menatapnya.


"Kamu tuli ya! alarm nya berbunyi tuh" Barack mencoba memberi isyarat.


"Alarm apa?" Luna kebingungan.


"Astaga!!!" Barack lansung menari sabuk pengaman dari arah samping tubuh perempuan itu.


Jantung luna berdetak cepat saat dada Barack tepat berada di depan matanya.


Dia mencium bau aroma tubuh Barack yang begitu menggoda. Seketika wajahnya memerah.


Barack langsung memasang sabuk pengaman itu.


"Beres kan???" ucap Barack dengan galak.


"Ooh,. heh, ya maaf" Luna merasa tak berdosa.


Barack pun langsung menginjak gas dan mobilnya melaju dengan cepat.


 


♡♡♡


Terlihat rerumunan orang yang begitu ramai di pinggir pantai, kerlap kerlip lampu di sepanjang tepi pantai menambah keindahan suasana malam itu, sementara alunan musik yang sangat lembut semakin membuat suasana di pantai semakin romantis.


 


Untung pestanya di pantai jadi Luna tidak perlu memakai sepatu hak tinggi.


Jadi dia merasa sedikit aman.


Tiba tiba alunan musik berubah agak sedikit lebih ngebit.


"Mana nih yang lagi ulang tahun, turun ke lantai dansa doonk" teriak seseorang dari arah kerumunan.


Dia membuang pandangan ke sekitar untuk mencari seseorang.


"Kamu lagi nyari siapa?" tanya seorang teman kepada Aryo yang sedang menikmati minumannya.


"Temen bro, ntar aku kenalin sama dia" aryo pun melihat Luna yang baru saja datang, dia beranjak dari kursi dan langsung menghampirinya.


"Luna???" sapa Aryo, dia melihat sosok Lina yang sangat berbeda dari biasanya, mata Aryo berbinar binar melihat Luna yang begitu cantik dan menggoda malam itu.


Aryo mengulurkan tangannya bermaksut untuk menggandeng tangan Luna.


Sementara Barack menatap Aryo dengan malas.


Dengan senyum yang mengembang di wajah Luna, dia langsung menggenggam tangan Aryo dengan kencang.


Barack mulai membuang pandangannya ke arah sekitar.


"Mau duduk di sana?" ucap Cici kpada Barack.


Barack hanya diam mengikuti cici mencari kursi yang kosong.


Sampainya di meja, pelayan langsung memberikan cemilan dan minuman ke meja mereka.


"Kamu minum?" tanya Cici.


"Tidak" Barack sama sekali tidak pernah menyentuh barang itu sedikit pun setelah kejadian beberapa tahun yang lalu.


Pandangan barack selalu kearah Luna, dia khawatir perempuan itu melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.


Sementara Luna tengah sibuk bersama dengan Aryo dan teman temannya.


"Aku tidak menyangka kamu akan berubah menjadi secantik ini Lun?" ucap Stella salah satu temen Aryo.


"Hm" Luna hanya tersenyum manis karena dia tidak terbiasa berkumpul dengan teman teman Aryo, apa lagi dia juga merasa sedikit tidak nyaman berada di keramaian.


"Dia sengaja berdandan hari ini untuk menyenangkan aku loh" Aryo merangkul pundak Luna.


Perempuan itu merasa risih, karena tangan Aryo langsung menyentuh pundaknya tanpa perantara.


Barack hanya menatap kelakuan Aryo dari kejauhan.

__ADS_1


"Mau minum apa? aku ambilin?" Aryo berucal menawarkan sebuah minuman kepada Luna.


"Eee, nanti saja gampang" Luna merasa canggung, dia sesekali melihat kearah Barack yang terus melihat ke arahnya.


Terlihat Mereka hanya saling lempar pandang dari kejauhan.


Barack terus memandangi Luna dengan penuh harap agar perempuan iti segera pergi dari samping Aryo.


"Ayolah lun, ini hari ulang tahunku, masa kamu mau menolak tawaranku?" Aryo semakin memaksa.


"Ee, nanti saja, aku pergi menemui temanku dulu ya" Luna mulai merasa tidak nyaman dengan suasana di sekitarnya.


Lerempuan itu menghampiri Baarack dan Cici kemejanya.


"Kenapa kemari? bukanya kamu senang berada di sisi playboy itu?" tanya barack.


"Aku hanya merasa tidak nyaman saja" Luna memegangi leher bagian belakangnya. Dia merasa udara malam itu semakin dingin.


"Oke oke semuanya tolong perhatiannya ya, hari ini adalah hari spesial buat teman kita yaitu Aryo, hari ini adalah hari jadinya yang ke 40, eh salah salah hahahaha umurnya baru masuk 25 tahun, bro sini bro, masak yang ulang tahun ngedekem mulu di situ, di mari donk, kita panggil bareng bareng namanya, Aryo Aryo Aryo!!!" ucap pembawa acara malam itu.


"Aryo Aryo Aryo" teriak orang orang yang betada di pesta itu.


Aryo pun naik ke atas panggung.


"Thanks semuanya yang sudah nyempetin datang kesini, kususnya buat wanita yang sangat terlihat cantik malam ini, dan dia duduk disana" Aryo menunjuk ke arah Luna.


Dan pembawa acara itu memanggil Luna untuk naik ke atas panggung.


"Teruntuk wanita cantik yang di maksut Aryo, dimohon dengan sangat untuk naik kemari, ayo dong, siapa namanya?" tanya pembawa acara ke pada Aryo.


"Luna"


"Oke buat kamu yang bernama Luna silahkan naik ke atas panggung"


Di meja, Barack hanya memandang mata Luna, sementara perempuan itu hanya tersipu malu ketika namanya di panggil untuk naik ke atas panggung.


"Lun, malah senyam senyum kaya orang gila, udah sana naik buru ih" ucap Cici, membuyarkan lamunan sahabatnya itu.


Luna melangkah dengan pasti menuju panggung.


Dia berdiri di sebelah Aryo kemudian.


"Uuuuuuuu,. uuuuu yyyyeeeee Luna Luna luna" sorak soray orang orang yang ada di pesta itu.


"Berhubung yang ulang tahun umurnya sudah bukan anak anak lagi jadi sekarang nggak ada acara potong kue hahahaha" kata pembawa acara.


Di sisi lain Barack telah mendapatkan panggilan dari seseorang.


drret dreet!!


Barack melihat panggilan di layar ponselnya, klara memanggil.


Laki laki itu meninggalkan meja dan menjauh dari rerumunan, dia mencari tempat yang agak sepi untuk mengangkat panggilan itu.


Sementara di atas panggung Luna mencoba membuang pandangannya kearah meja, dia mencari Barack tetapi laki laki itu tak ada di sana, Luna juga membuang pandangan ke sekitar tetapi tetap tidak menemukannya.


"Untuk mengganti suapan kuenya maka Luna harus menyuapi aryo dengan ini" pembawa acara mengangkat sebotol minuman kadar alkohol tinggi dan memberikannya kepada Luna.


"Ini buat apa?" teriak Luna ke arah Aryo, karena alunan musiknya terdengar kencang sekali.


"Kasih aku minuman itu dengan tanganmu!" Aryo berteriak kearah telinga Luna.


"Ha?" Luna tidak mengerti dengan maksud laki laki itu.


Aryo pun langsung menarik tangan Luna agar menyodorkan botol itu ke mulutnya.


"Yeeeeeeeeeee" suara orang orang bersorak hingga suasana kembali ramai.


Semakin malam semakin ramai, alunan musik menjadi semakin kencang, terlebih lagi ketika di ambil alih oleh DJ.


Dari ke jauhan Barack masih terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Aku sedang ada acara, , , oh acara nggak penting kok, , , yaudah aku tutup dulu nanti aku hubungi lagi" Barack menutup panggilannya kemudian kembali ke kerumunan orang.


Aryo mencoba memberi minuman lemon tea ke pada Luna.


"Ayo minum donk Lun, dari tadi kamu belum minum sama sekali, jangan menolak tawaranku kali ini" Aryo menyerahkan satu gelas lemon tea itu.


"Ee, iya" Luna mencoba meminum lemontea itu.


"Ko agak sedikit aneh rasanya ya? ada pahit pahitnya gitu" gumamnya.


"namanya juga minuman rasa teh kalo nggak ada pahit pahitnya ya aneh kan hahahah" Aryo dan temen temnnya pun tertawa.


Aryo masih memaksa Luna untuk terus meneguk lemon teanya sampai habis.

__ADS_1


***


__ADS_2