
Suasana kantin di rumah sakit itu terasa sepi, padahal terlihat banyak sekali orang orang yang berlalu lalang untuk sekedar makan atau membeli minuman.
Mungkin karena notabennya adalah kantin rumah sakit jadi mereka mencoba untuk tidak terlalu berisik, lebih untuk menjaga suasana agar tidak menggnggu pasien.
Luna duduk di sebelah leo sambil memegangi tisu yang di gunakannya untuk menyeka air mata atau cairan bening yang keluar dari hidungnya.
Dia terus mencoba untuk menahannya agar tidak keluar dari kelopak matanya, namun air matanya terus mengalir dengan sendirinya.
Dia sudah mendengar keadaan klara dari mulut leo sendiri, dia memberi tahunya tentang kondisi klara yang kritis, sehingga kenapa dokter terus menyarankan agar barack segera menemuinya.
"Maaf" luna berucap lagi, seakan akan dia terus menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang meimpa klara.
Kata itu juga yang tidak ingin di dengar oleh leo.
Namun kali ini suaranya lebih terdengar sengau di banding kata maaf pertamanya.
Mungkin karena hidungnya sudah tertutup sebagian oleh daging di dalam hidungnya yang mulai mengembang ketika sedang menangis.
"Bisa tidak, kamu berhenti mengatakan maaf?, , aku tidak ingin mendengarnya!" leo meraih wajah luna dan membantunya menyeka air yang terus terusan keluar dari matanya.
"Ini tidak ada hubungannya dengan mu!!" tambahnya, dia terus menegaskan kepada luna bahwasannya keadaan klara saat ini memang tidak ada hubunganya dengan luna.
"Bagaimana mungkin tidak ada hubungannya denganku? karena ke hadiranku membuat dia menjauh dari sisi klara, apa aku yang harus memohon kepadanya agar dia mau menemui klara?" perkataan luna merujuk kepada barack. Dia terus berbicara sambil melihat ke arah leo.
Sesaat leo terdiam, wajahnya di penuhi dengan keraguan dia sudah yakin bahwa barack tidak akan merubah keputusannya.
"Barack tidak akan menyetujuinya, bahkan ketika kamu sekalipun yang memohon kepadanya".
Luna masih menatap wajah leo dengan penuh keyakinan, dia pasti akan membawa barack untuk menemui klara.
Barack tengah terduduk di kursi kerjanya, pandangan matanya terlihat kosong, sekilas dia mengingat semua ucapan yang keluar dari mulut leo saat memberi tahunya tentang kondisi klara.
Flash back on, , ,
"Dia koma, , kondisinya sempat stabil, waktu kemarin aku menyebut namamu, dia sempat memberi respon" leo terdiam sebelum melanjutkan ucapannya kembali.
Nampak dia menghela nafas dengan berat.
"Kondisinya memburuk dan semakin menurun setiap harinya, , kata dokter, mungkin kamu bisa membantunya, , jika ada jalan lain, maka aku tidak akan kesini dan memohon padamu!".
Flash back off
Barack menyatukan jari jarinya, menyangga dagu di ke dua tangan yang sikunya bertumpu di atas meja kerjanya.
Kebingungan masih terus menyelimuti wajahnya, dia tidak ingin memikirkan klara, namun bagaimana pun juga dia sudah mendengar kondisinya semakin memburuk.
Mau tidak mau dia terus memikirkan hal itu.
Lamunanya terpecah ketika ponselnya yang ada di atas meja bergetar.
Dia melirik kearah layar ponselnya yang masih terus menyala. Melihat lebih dekat lagi untuk memastikan tulisan di layar ponselnya itu.
Terlihat 'luna memanggil'.
__ADS_1
Dia mencoba menghela nafas dengan pelan dan menyiapkan diri sebelum menjawab telepon dari luna.
"Halo" nada bicara barack terdengar memaksakan diri agar terdengar seperti biasanya.
Wajah barack memaku, ketika dia mendengar suara dari ponselnya, suara ketika luna sedang bernafas terdengar seperti sedang menghirup cairan yang ada di dalam hidungnya.
"Kamu menangis?" tanyanya.
Luna masih saja diam, , suara itu kini terdengar lebih keras di telinganya, suara di mana luna masih terus menahan suara tangisnya.
"Kamu ingin, , aku datang ke tampatmu??" tanyanya lagi.
"Mm" luna hanya bergumam, berharap berack mengerti maksut luna.
Barack langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi menemui luna.
Dia sengaja tidak mematikan ponselnya agar bisa mengetahui keberadaan luna saat itu melalui GPS.
Dalam pejalanan, sesekali dia melihat ke arah ponselnya yang terpasang di bagian depan mobilnya agar memudahkan dirinya untuk melihat keberadaan luna.
Terlihat dari layar ponselnya kalau keberadaannya sudah mulai mendekat ke arah luna.
Dia terus mengikuti arah jalan yang terlihat di layar ponselnya, GPS itu memandunya bergerak ke arah rumah sakit dimana klara sedang di rawat.
Barack membuang pendangannya ke arah luar sembari mencari keberadaan luna.
Barack memaku matanya ketika melihat luna sedang duduk di sebuah taman sambil duduk membelakanginya.
Dia segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir.
Terlihat luna sedang duduk di bawah pohon sambil memangku ke dua tangannya.
Perlahan barack mendekati luna yang masih terus melamun.
"Lun?".
Luna mengangakat wajahnya dan berpaling ke arah barack yang sudah berdiri di sampingnya.
Dia beranjak dari tempat duduknya, sesekali menyeka air mata yang tak kunjung habis itu.
Dipandanginya wajah barack dengan penuh rasa ketakun yang menyelimuti hatinya.
Rasa ketakutan akan kehilangan sesuatu.
Entah kenapa melihat barack berdiri di depannya wajah luna kembali terlihat sedih dan pilu seakan dia merasa kalau laki laki di depannya ini telah selangkah menjauh dari jangkauannya.
Luna berlari memeluk tubuh barack, didekapnya tubuh laki laki yang sangat di cintainya itu.
Membenamkan wajahnya ke dada barack yang terus membuatnya merasa nyaman, Sambil terus menangis sesunggukan.
Barack membalas pelukan luna dengan lembut, tanpa bercerita, dia tahu kenapa luna menangis saat itu.
Air mata dan tempat di mana dia berdiri sudah cukup memberi tahu barack atas permasalahn yang membuatnya menagis.
Barack mendorong kepala luna dengan dadanya yang bidang itu, dilihatnya wajah luna yang masih membengkak di area hampir seluruh wajahnya karena terlalu lama menangis.
__ADS_1
Tangan barack yang besar itu memenuhi
wajah luna, memgusap air mata yang mengalir membasahi ke dua pipinya.
Diarahkannya luna kembali duduk di bangku kursi taman rumah sakit itu.
Sambil terus memandangi wajahnya, nampak terlihat dada barack naik turun berusaha mengatur nafasnya.
"Jangan pernah memohon kapadaku, untuk memintaku menemuinya!" barack berucap seperti sudah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh luna.
"Kenapa?" luna langsung melempar pertanyaan kepada barack.
Sekali lagi barack mengusap ke dua kelopak mata luna dengan ibu jarinya.
"Aku tidak mau melihatmu menangis seperti ini lagi" katanya.
"Dia membutuhkan mu!" kata luna sambil meraih wajah barack.
Barack kembali meraih tangan luna yang masih melekat di pipinya, diarahkannya telapak tangan luna menuju ke ujung mulut barack.
Dia mendaratkan sebuah ciuman ke punggung tangan luna.
"Aku tidak ingin melihatmu seperti ini terus, ," nada bicara barack tidak terdengar angkuh lagi, sepertinya barack mulai luluh ketika melihat luna yang tidak berdaya di depannya itu.
"Kamu ingat?, , aku pernah mengatakan ini" barack menghentikan perkatannya sengaja memberi ruang kepada luna untuk berfikir.
"Jangan pernah memintaku untuk melakukan hal yang tidak aku suka, tapi ketika aku mendengar itu keluar dari mulutmu sendiri, , aku akan melakukannya dengan senang hati" barack mencoba mengingatkan kembali pada luna dimana dia kemarin sempat menyuruhnya membuang kado yang sudah di persiapkan untuknya.
Kali ini juga dia memperingatkan luna kembali.
Sejenak Luna masih terdiam.
"Namun kali ini masalahnya berbeda" luna sedikit menaikkan nada bicaranya di akhir kalimat.
Barack menghela nafas dengan pelan.
"Aku akan menemuinya"
Barack berbicara seperti tersirat sesuatu di dalamnya.
Mendengar perkataan barack, terlihat ke dua pipi luna mulai sedikit mengembang.
"Kamu yakin?" entah mengapa luna merasa barack berbicara seperti sedang melakukan negosiasi kepadanya.
"Aku akan menemuinya, , , , tapi kamu harus berjanji, tidak akan menyalahkan dirimu sendiri seperti ini!" ucapnnya.
Luna hanya mengangguk dengan pelan.
Barack tahu dengan benar apa yang sedang di rasakan oleh luna saat itu, makanya dia melakukan sedikit negosiasi dengan luna.
Berharap ketika dia melakukan keinginan luna, maka luna tidak akan berubah pikiran. Karena kalau sampai berlarut larut dia tahu luna akan mencoba menghindarinya.
Barack menarik lengan dan mendekap tubuh luna di pelukannya.
***
__ADS_1