Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
66 CEO: Love's Romance Memendam rindu


__ADS_3

"1 kali??, , 10kali??, , 100??, , katakan" tangan David bergerak menyimpan anak rambut yang menghalangi kening Aileen ke belakang telinga.


"Berapa kali kamu ingin mendengarnya?"


Perempuan itu masih tersipu malu, dia bahkan belum bisa nyaman dengan posisinya duduknya sekarang.


"E, , terserah"


David berdecak, dia seperti tak suka mendengar jawaban Aileen.


"Aku paling tidang suka mendengar jawaban terserah" Laki laki itu tak pernah mengalihkan pandangannya kearah lain. Dia selalu menatap wajah Aileen dengan lembut.


Sementara perempuan itu tidak berani menatap kedua mata David. Dia merasa sangat melu ketika menatap laki laki itu.


"Kalau begitu biarkan aku mendengarnya sekali"


David mengulas senyum manis di bibirnya. Mendorong kepala Aileen yang lebih tinggi darinya itu agar bersandar di keningnya.


David sempat memainkan hidung Aileen dengan hidungnya sebelum kemudian laki laki itu berucap.


"Aku menyukaimu" dia mendaratkan sebuah kecupan di bibir Aileen.


Perempuan itu tersenyum, hanya kalimat itu yang bisa membuat hatinya berbunga bunga.


David menarik kepalanya sedikit menjauh dari Aileen kemudian dia menoleh kearah kursi di sebelahnya. David mengambil kotak kecil itu, mengeluarkan cincinnya dari sana.


"Kamu harus tetap memakai cincin ini, suka atau tidak suka. Cincin ini harus tetap melingkar di jarimu"


"Aku tidak terbiasa memakai barang barang mewah seperti ini" Aileen mengepalkan tangannya ketika David ingin memesang cincin itu di jarinya.


"Harus terbiasa, jika sudah menjadi milikku kamu harus terbiasa memakai barang barang mewah" setelah David berhasil memaksa Aileen untuk membuka kepalan tangannya, dia kemudian memasangkan cincin itu di jari Aileen


"Aku pasti akan berusaha untuk menyesuaikan diriku memakai barang barang mewah. Nanti, jika aku menjadi Nyonya David" Aileen mengalihkan pandangan matanya kearah David, laki laki itu terdiam, memaku tangannya ketika cincin itu belum sepenuhnya masuk ke jari Aileen.


Tak lama David kembali menggerakkan tangannya, memasang cincin itu melingkar sempurna di jari Aileen.


David mengangkat kepalanya menatap mata Aileen dengan lekat. Kemudian menarik tubuhnya ke belakang, membenamkan punggungnya di sandaran kursi yang kini sedang di dorong kebelakang oleh David agar sedikit bisa memberikan kenyamanan untuk tubuhnya. Sengaja memberi jarak antara tubuhnya dengan tubuh Aileen.

__ADS_1


"Jadi, , kamu ingin menikah denganku sekarang??" ucapan yang keluar dari mulutnya seketika membuat Aileen terkejut, hingga membuat mulut perempuan itu sedikit terbuka.


"E, ,bukan. Maksudku bukan begitu" Aileen langsung kalang kabut, dia ingin melihat reaksi David ketika dirinya menyinggung soal pernikahan, tetapi dia tak menyangka jika David malah membalikkan situasinya.


"Aku hanya, , hanya"


"Kenapa kamu tidak fokus untuk memuaskan dirimu saja, mumpung aku masih ada di sini?" David mengusap lembut pipi Aileen, tak lupa dia juga memainkan jarinya di bibir perempuan itu.


"Kamu ingin pergi lagi?" Aileen berucap seolah dia tidak rela jika David pergi meninggalkannya, lagi.


"Kamu tahu, sebenarnya aku ingin menyelesaikan pekerjaan besok pagi. Karena Iris mengirim video itu. Aku jadi tidak bisa berfikir dengan tenang. Aku kemudian memutuskan untuk menyelesaikan perkerjaanku hari ini juga. Agar bisa segera menemuimu! tetapi besok siang aku harus pergi ke luar negeri selama satu minggu untuk mewakili Ayahku menghadiri acara penting. Aku sebenarnya tidak tertarik dengan bisnis itu. Tetapi kali ini aku tidak bisa menolaknya, , kamu tidak apa apa kan aku tinggal selama satu minggu??"


Perempuan itu menganggukkan kepala.


"Aku juga ada acara kampus keluar kota selama beberapa hari itu. Aku bisa mencari kegiatan lain, , agar seminggu iti bisa terlewati dengan cepat!"


Bukan Aileen, tetapi Davidlah yang tidak bisa melewati seminggu itu dengan baik. Dia sudah tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya jika dia tak bisa menahan rasa rindunya ketika berada di luar negeri. Berharap mendengar suara Aileen nantinya bisa mengobati rindu di hatinya.


"Video??" Aileen teringat, David sempat mengucapkan kata itu.


Lalu memberikan ponsel itu kepada Aileen.


Setelah meraih ponsel itu dari tangan David, Aileen terlihat kebingungan ketika harus membuka layarnya menggunakan kode.


"Masukkan tanggal lahirmu di sana" David berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Aileen. Seolah dia tahu Aileen sedang kebingungan untuk membuka layar ponselnya.


Video ketika Abell memberikan kue serta boneka itu kini sedang diputar oleh Aileen. Setelahnya dia langsung menghapus video itu.


"Aku sudah menghapusnya" ucapnya kemudian mengembalikan ponsel itu kepada David.


"Kenapa kamu menghapusnya?" David berucap sambil meraih ponsel dari tangan Aileen, kemudian melemparnya ke kursi sebelah.


"Jika kamu tidak ingin melihatnya, maka hapus saja!" Aileen menekuk wajahnya.


David bersedekap sambil menatap Aileen yang tertunduk.


"Tapi sepertinya kamu sangat senang mendapat hadiah dari Abell?"

__ADS_1


"Apa kamu melihat aku tersenyum ketika mendapat kado darinya??,bahkan aku tidak menerimanya. Koyokolah yang menerima kado itu dari tangan Abell"


David mendorong punggungnya maju agar kembali dekat lagi dengan Aileen.


"Lalu apa yang membuatmu tersenyum?" David menggerakkan kepalanya untuk mempermudah dirinya melihat ekspresi wajah Aileen yang sedang tertunduk.


Perempuan itu terus berusaha menghindarinya, membuat David harus merangkup kedua pipi Aileen agar perempuan itu menghadap kearah wajahnya.


"Melihatmu" ucap Aileen kemudian, kata itu mampu menyentuh hati David. Laki laki itu sejenak tertegun mendengar jawaban yang keluar dari mulut Aileen.


"Hanya dengan melihatku kamu sudah bisa tersenyum??" David merasa sangat bahagia, bisa menemukan perempuan seperti Aileen dalam hidupnya. Dia kemudian menarik tubuh Aileen kedalam dekapannya. Bersamaan dengan itu David mendorong tubuhnya kebelakang untuk bersandar di kursi.


"Kenapa kamu mampu membuatku sangat tergila gia denganmu??" David berhenti berucap untuk menghela nafas. Dia sejenak memejamkan matanya untuk menikmati moment itu.


"Hangat, , tubuh laki laki ini sangat hangat, aku juga tergila gila dengan tubuh ini. Aroma tubuhnya membuat pikiranku melayang layang jauh ke atas sana"


"Ai??" bisikan David terdengar sangat lirih, dia hampir tak mengeluarkan suaranya sedikit pun saat memanggil perempuan itu.


"Mmm?" guman Aileen.


"Apa kamu sudah merasa puas??" David kembali berucap.


Aileen hanya mengangkat kepalanya, sementara tubuhnya dibiarkan bersandar di dada laki laki itu.


"Apa maksudmu?"


"Apa rasa rindumu kepadaku, sudah terobati?" tanyanya sekali lagi.


"Iya, , terima kasih, maaf sudah membuatmu harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk menemuiku" Aileen menekuk wajahnya, dia merasa tidak enak hati kepada David.


"Apa yang sedang kamu pikirkan??, , aku melakukannya karena aku mau!, , jika kamu sudah merasa puas. Bolehkah sekarang, , aku mengobati rasa rinduku kepadamu?" pandangan mata laki laki itu memendam beribu ribu rasa rindunya. Sejak melihat Aileen di depan rumahnya hingga sampai detik ini, David telah berusaha dengan keras menahan rindu di hatinya.


Jika Aileen hanya dengan melihat David sudah mampu mengobati rasa rindunya. Maka ini sangat berbeda bagi David. Laki laki itu tak puas jika hanya melihatnya. Dia harus melakukan lebih atau mungkin sedikit menyentuh tubuh Aileen agar rasa dahaga di dalam tubuhnya terobati. Tapi sepertinya rasa lelah yang teramat yang hinggap di tubuh laki laki itu sedikit membuatnya tak bergairah. Maka dari itu David mungkin hanya akan sedikit mencicipi bibir Aileen untuk memuaskan diri.


"Apa yang bisa aku bantu untuk mengobati rasa rindumu itu??, , apa aku harus memelukmu seperti yang kamu lakukan terhadapku??"Aileen berusaha untuk menyenangkan laki laki itu.


"Tidak perlu, , aku bisa melakukannya sendiri" jari David bergerak menekan tombol di samping tombol yang sebelumnya dia tekan untuk membuka kabin, kemudian kabin mobil itu kini tertutup kembali. Menutup rapat bagian atas mobil seperti semula.

__ADS_1


__ADS_2