
Lampu ruang tv barack tidak sepenuhnya dinyalakan, hanya beberapa lampu di setiap pojok atap ruang yang terlihat menyala.
Membuat kesan cahayanya meremang remang di ruangan itu.
Barack duduk di kursi sofa ruang tv, membenamkan tubuhnya di sudut sofa, sambil melipat salah satu kakinya di atas kaki lainnya sebagai tumpuan laptop.
Dia terus melihat ke arah layar laptop yang ada di pangkuannya.
Layar laptopnya menyala dengan sangat terang, saking terangnya sehingga cahayanya menyinari wajah barack.
Hingga membuat wajahnya terlihat paling terang di banding bagian tubuh lainnya.
Terlihat dia sedang melakukan video Call dengan rekan kerjanya yang ada di paris.
Namun kali ini wajahnya terlihat santai seperti sedang tidak membahas masalah pekerjaan.
ting tong, ,
Suara bel apartementnya berbunyi. Barack memaku wajahnya, rasa heran tiba tiba melekat dengan kental di wajahnya kali ini, dia melirik jam dinding yang ada di atas tv.
Ketika waktu memujukkan pukul 10 malam dia hanya berfikir, siapa yang mau bertamu di jam malam seperti ini.
Tiba tiba senyuman tipis menghiasi wajahnya, di benaknya penuh dengan berharap bahwa yang membunyikan bel itu adalah wanita yang di cintainya.
Namun hari yang sudah mulai gelap memaksa dirinya untuk tidak mengharap bahwa tamu itu adalah luna.
Semisal iya, pasti luna sudah langsung masuk karena dia tahu sandi apartementnya itu.
Dengan segera dia mengakhiri video callnya, sambil melirik ke arah pintu dia meletakkan laptop tersebut di atas meja.
Berjalan dengan malas menuju ke arah pintu, dan membukanya.
Wajahnya mamaku kembali, aura kekecewaan dengan langsung menyelimuti wajah barack. Setelah melihat leo tengah berdiri di depannya saat ini.
Entah apa kali ini, yang akan di bicarakan leo dengannya.
Barack hanya diam sambil membalikkan tubuhnya, berjalan masuk ke ruang tv tanpa mempersilakan leo masuk ke dalam apartementnya.
Seperti sudah menjadi ke ahliannya, hanya dengan melihat raut wajah saja, leo tahu kalau barack kecewa setelah melihat dirinya menemui barack lagi.
Barack duduk sambil menyenderkan punggungnya ke didinding sofa dan memangku salah satu tangannya dan satu tangannya lagi di gunakan untuk menopang kepalanya yang bertumpu di bagian dinding atas sofa.
Memberikan kesan seperti sedang mempersiapkan dirinya untuk mendengar cerita leo kali ini.
Dilihatnya leo yang sudah berhasil duduk di atas sofa, barack menatap mata leo dengan tajam saat itu.
Wajah leo makin terlihat muram, sesekali dia menundukkan kepalanya seperti sedang merasa di titik paling terpuruk dalam hidupnya.
Tatapan mata barack terlihat seperti sedang menyuruh leo untuk segera memberitahu apa maksut ke datangannya kali ini.
"Dia masih membutuhkan mu??" leo merasa tidak berdaya ketika harus meminta tolong ke pada barack kali ini, pasalnya dia sudah membantu banyak untuk mengembalikan kondisi klara.
"Hanya namamu yang selalu ada di pikiran klara" tambahnya.
Wajah barack nampak tidak senang, tidak tahu bagaimana cara dia mengatakan kepada leo kalau sebenarnya dia tidak ingin berurusan lagi dengan klara, karena dia tahu sekarang sudah ada leo di samping klara, jadi dia berharap agar leo bisa menjaganya dengan baik.
Namun apa yang terjadi, semua di luar kendalinya.
"Katakan padaku, , bagaimana caraku membantunya tanpa menyakiti perasaan luna!" selalu itu terus yang keluar dari mukut barack.
Dia sedang mencoba mengintimidasi leo, pasalnya dia sudah kehilangan kata kata ketika harus menolak untuk menemui klara.
Leo terdiam, dia tahu dengan adanya barack di sisi klara akan membuat luna semakin tersiksa batinnya, namun untuk saat ini kondisi klara jauh lebih penting, bukannya leo mau bersikap egois, namun lebih ke mengutamakan kesehatan klara.
Barack menatap tajam ke arah mata leo, seakan akan dia menunggu jawaban dari pertanyaannya itu.
"Ketika kesehatan klara membaik, aku yakin, luna juga akan merasa lebih baik lagi, dia juga tidak akan kembali menyalahkan dirinya sendiri!" kata leo mencoba meyakinkan barack.
Barack tidak yakin, bagaimana pun juga luna pasti akan terus merasa tersakiti ketika dia terus berada di sisi klara.
Namun dia tahu semakin dia menolak untuk membantu pemulihan klara, maka tidak hanya perasaannya yang akan tersakiti, namun wanita yang di cintainya pun akan ikut menderita karena sampai kapan pun jika keadaan klara belum membaik luna akan terus terusan menyalahkan dirinya sendiri.
Nampak barack menghela nafas dengan pelan, dia memberi sedikit ruang di otaknya untuk berfikir sejenak.
Dia kembali menatap leo, namun kali ini tatapan matanya tak setajam tadi.
"Aku akan di sampingnya sampai dia sembuh!" barack berbicara seperti memberi isyarat pada leo, bahwa dia akan membantunya namun untuk kesembuhan klara, bukan untuk kembali ke sisinya.
Leo sedikit merasa lega, urat di wajahnya yang tadi terlihat tegang kini nampak sedikit lebih lemas.
Namun beban di dadanya bertambah berat, karena telah dengan sengaja membuat hati dan perasaan luna akan tersakiti lagi pastinya.
"Aku akan memohon kepada luna untuk".
Kata kata leo terputus karena barack sudah tahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Tidak perlu!, , aku yang akan mengatakannya kepada luna!".
Barack membuang pandangnnya ke arah lain, sepertinya dia enggan melihat ke arah leo yang terus menatapnya dengan rasa bersalah.
Ke esokkan harinya luna berangkat kuliah seperti biasa, dia tahu perasaannya memang sedang tidak bersahabat, walau bagaimana pun juga, dia harus menjalani kehidupannya dengan baik.
Sebentar lagi dia akan menyelesaikan tugas akhirnya, dan berharap dia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan IPK yang memuaskan.
Maka dari itu untuk sementara dia akan berusaha dengan keras dan tetap fokus ke tugas akhirnya.
"Lun, kamu baik baik saja kan?" nada bicara cici seperti sedang meragukan ke adaan luna karena kemarin dia sempat menemani luna saat di rumah sakit, dan dia juga tahu bagaimana luna menangis sampai terisak isak.
"Tenang saja, , aku ingin fokus dengan kuliahku dulu, masalah cinta kita pikir belakangan" luna tetap berusaha menutupi rasa kekhawatiran di dalam hatinya sambil terus menyemangati dirinya sendiri.
"Laaaahh, , serius??? nanti tidak memble lagi?" cici mencoba menggoda luna, padahal dia tahu dnegan benar seperti apa perasaan sahabatnya itu saat ini.
Luna hanya membalasnya dengan senyum yang mengambang di wajahnya.
Barack sedang memantapkan hatinya ketika dia ingin memasuki ruang pemulihan yang di singgahi klara.
Keraguan selalu menyelimuti wajahnya yang terlihat enggan sekali untuk membuka pintu ruang itu.
Namun kembali dia memantapkan ke dalam hatinya, bahwa dia melakukan ini untuk luna, kekasihnya.
Barack membuka pintu ruang pemulihan itu dengan pelan, mencoba untuk tidak menarik perhatian klara yang masih terlihat sedang beristirahat sambil tidur dengan membelakanginya.
Perlahan dia berjalan mendekati tubuh klara.
Dia bingung bagaimana cara menyapanya terlebih dulu.
Barack mencoba meraih pundak klara, namun belum sempat menyentuhnya dia mengunrungkan niatnya itu.
Klara menyadari akan kedatangan seseorang dari arah belakangnya, dia seperti mencium aroma minyak wangi yang sangat tidak asing di hidungnya.
Dengan perlahan dia memaksa membuka matanya dan bergerak bangun dari tidurnya.
Tubuhnya masih sedikit sempoyongan namun dia terus berusaha untuk duduk sambil mengarahakan pandangannya ke arah belakang.
Klara masih terus mencoba memaksa dirinya sendiri membuka matanya untuk melihat orang yang sekarang ada di depannya itu, semakin lama pandangan matanya semakin terlihat jelas.
Barack membantu klara membenarkan bantal untuk di tatanya di belakang punggung klara. Agar tubuhnya merasa nyaman ketika sedang bersandar.
"Kamu sudah baikkan?".
Suara barack terdengar nyaring di rongga telinga klara.
__ADS_1
Terlihat senyumnya mengembang di ke dua pipinya yang masih terasa sedikit kaku karena beberapa hari ini dia tidak merasakan gerakan sedikit pun di setiap bagian tububnya.
Diarahkannya tangan klara meraih wajah barack, namun dia merasa kesusahan ketika mencoba mengangkat tangannya, seperti seorang yang terkena struk ringan.
Klara terus berusaha sekuat tenaga untuk menjangkau wajah barack.
Jarak barack yang terlalu jauh membuatnya harus menundukkan kepalanya mendekat ke arah klara.
Barack nampak ragu, tapi dia berusaha membantu klara dengan meraih tangan klara, mengarahkannya ke arah wajahnya.
Kehangatan pipi barack membuat klara semakin bersemangat menjalani terapi yang sudah de persiapkan oleh doktet.
Pasalnya, ketika dia koma semua syarafnya hampir seperti tidak bisa menerima rangsangan dengan baik.
Itu lah kenapa leo dengan getol meminta barack membantu kesembuhan klara, karena hanya barack yang bisa mengembalikan semangat klara untuk kembali menjalani hidupnya dengan baik.
Leo mengawasi keadaan klara dari arah luar. Dia terus melihat dari balik pintu kaca ruang pemulihan itu.
Terlihat kebahagiaan di wajah klara yang membuat perasaan leo sedikit merasa tenang.
Namun tidak bisa di pungkiri kalau jauh di dalam lubuk hatinya, perasaanya terasa sedang di cabik cabik ketika harus melihat senyum yang ada di wajah klara bukan untuknya.
"Kamu tidak masuk?"suara dokter yang tiba tiba datang itu membuyarkan lamuna leo.
Dia pun berusaha menetralkan pikirannya.
"Tidak dok" jawabnya singkat.
Terlihat sekali dari wajahnya kalau dia merasa kaget ketika dokter menegurnya.
"Kalau begitu saya akan masuk dulu, untuk memeriksa kondisinya, karena sebentar lagi jadwal pemulihan syarafnya akan di mulai" dokter pun masuk ke dalam ruangan itu.
Namun leo masih terus mengawasinya dari balik pintu.
Di dalam, dokter memberi arahan kepada klara step step mengikuti terapi syaraf.
Tidak lama kemudian barack membawanya keluar dari ruangan itu dengan menggunakan bantuan kursi roda.
Terlihat leo bersembunyi di balik pintu, sengaja agar klara tidak menyadari kehadirannya.
Bagaimana pun juga, dia juga merasa bersalah dengan klara, takutnya ketika melihat dia lagi, maka emosi klara tidak akan bisa terkontrol seperti malam itu sebelum dia koma.
Barack terus mendorong klara yang duduk di kursi roda itu dengan pelan menuju ke sebuah ruangan khusus yang memang di persiapkan untuk setiap pasien yang membutuhkan terapi pada syarafnya.
Hanya dengan melihatnya tersenyum saja membuat perasaan leo merasa bahagia, tanpa harus memberi tahunya bahwa dia lah laki laki yang setia menemaninya ketika sedang tidak sadarkan diri.
Leo mengikuti klara sampai dia masuk ke dalam ruangan untuk mengikuti terapi.
Dia terus mengawasi klara dari balik pintu.
Melihat betapa terpontang pantingnya tubuh klara yang berusaha untuk berdiri menopang tubuhnya sendiri.
Namun untung barack ada di sampinya, dia lah yang membantu klara, adanya dia di smaping klara, membuat semangatnya untuk kembali sembuh pasti lebih besar.
Selesai jam kuliah luna tidak langsung pulang, kali ini dia menghabiskan sedikit waktunya untuk membaca buku di perpustakaan.
Cici menyadari kalau luna memang seperti sedang mencoba mengahabiskan waktu dengan melakukan kegiatan yang tidak biasa di lakukannya.
Cici berjalan mendekat ke arah luna yang tengah sibuk membaca di salah satu lorong rak buku.
Dia melangkah dengan pelan agar luna tidak menyadari kehadirannya.
Namun sebaliknya luna tahu dengan pasti kalau cici sedang mendekat ke arahnya.
"Kenapa mengendap endap seperti itu" luna berbicara sambil terus melihat ke arah buku yang ada di tangannya, sepertinya dia tahu kalau cici akan mencoba menggnggunya.
Wajah cici merasa kecewa, ketika luna menyadari kedatangannya.
"Kamu sedang baca atau sedang melamun? atau malah bukan ke dua duanya, bagai mana mungkin kamu bisa menyadari ke datanganku kalau kamu memang sedang fokus membaca buku?, , kamu sedang menghindari barack ya?" cici terus mendesak luna agar menceritakan lebih detail lagi apa yang sebenarnya terjadi, karena kemarin dia tidak sempat menanyakan keadaan klara ketika di rumah sakit.
waktu itu dia hanya fokus menenangkan luna yang terus menangis.
"Kamu kebalik tuh membaca bukunya"cici mencoba menggoda luna.
Luna pun dengan segera membalikkan bukunya, setelah mendengar perkataan cici.
Dia berusaha pura pura membaca setiap kata di buku itu, namun yang ada dia malah melebarkan matanya karena sekarang buku yang di depannya itu justru terbalik.
Dia pun membuang pandangannya ke arah cici yang sedang tersnyum sambil terkekeh melihat ekspresi wajah luna ketika sadar dia sedang di goda oleh cici.
Luna pun memukul pelan kepala cici dengan buku yang ada di tangannya sambil tersenyum.
"Nah begitu dong!!!, , senyum, jangan cemberut terus" cici masih terus mencoba menggoda luna.
Luna pun melempar senyum ke arahnya.
Luna dan cici menghabiskan waktunya di perpustakaan bersama, sampai tidak terasa kalau matahari sudah mulai kembali tertidur lagi.
Masih ada sisa seberkas cahayanya yang terus menemani luna ke luar dari kampusnya.
Di perjalanan ingin sekali dia mencoba menghubungi barack, hanya sekedar untuk mendengar suaranya.
Rasa rindu yang menggebu gebu di hati luna tidak bisa menghentikannya untuk tidak menghubungi barack.
Dia segera memasang earphone di telinga sebelah kirinya dan segera menghubungi nomor barack melalui layar monitor mobilnya yang memang sudah tersambung ke ponselnya.
tuuuuut, , tuuuutt, ,
Dada luna merasa berdebar debar, bahkan barack saja belum manjawab teleponnya.
"Halo?" terdengar barack langsung mengangkat telepon darinya, dengan segera luna menepikan mobil yang sedang di kendarainya.
Entah mengapa, hanya mendengar barack menjawab teleponnya dadanya bergetar seperti di setrum aliran listrik.
Aliran darahnya memanas bagaikan bertemu mantan kekasih yang masih di cintainya namun lama tidak berjumpa.
Terasa seperti ada angin sejuk yang menyejukkan hatinya saat itu.
Terlihat senyum bahagia di wajah luna, namun belum sempat dia menjawab sapaan barack, luna mendengar suara klara yang sedang memanggil nama barack dari arah ponselnya.
Dengan segera dia langsung menutup ponselnya.
Senyum di wajahnya tiba tiba menghilang.
flash back on, ,
Terlihat barack sedang menelpon seseorang saat akan mengendarai mobilnya menuju ke arah kantornya.
"Maaf, tapi aku harus memberi tahumu tentang masalah ini pagi pagi, mungkin akan sedikit menyakiti telingamu, tapi" barack tidak melanjutkan perkataannya.
Dari balik teleponnya luna mengetahui apa yang sebenarnya yang akan di beri tahukan barack kepadanya, tidak lain pasti tentang klara.
"Tidak apa apa, lakukan yang terbaik demi kesembuhannya" luna berucap seperti sudah tahu apa yang dipikirkan oleh barack.
"Kamu baik baik saja?" barack menanyakan keadaan luna untuk memastikan bahwa dirinya baik baik saja.
"Bagaimana mungkin aku bisa baik baik saja" luna mengatakannya dengan nada yang lembut ke pada barack.
"Tapi jika demi kebaikan kita semua, kenapa tidak?? jadi aku akan mengenyampingkan perasaanku terlebih dulu untuk terus berada di belakangmu dan mendukungmu" terusnya.
flash back off.
Malam itu luna tidak bermaksut untuk kembali ke rumahnya sebelum bertemu dengan barack.
Dia membanting setirnya menuju ke apartemnet barack.
Bagaimanapun juga tidak bisa di pungkiri, kalu luna selalu khawatir saat memikirkan barack sampai jam segini masih berada di samping klara.
__ADS_1
Nmun luna mencoba mereda rasa cemburunya.
Dia keluar sari lift dan berjalan menuju ke pintu masuk apartement barack.
Setelah berhasil menekan tombol angka dan memasukkan sandi, luna langsung segera masuk ke dalam, dia mencoba menghirup udara di dalam ruangan apartement barack.
Sia berusaha meredam rasa cemburu yang selalu menggerogoti hati dan perasaannya.
Seperti tidak puas, luna langsung bergerak berjalan masuk menuju kamar barack.
Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang barack sambil memeluk bantal yang setiap malam terus menemani tidurnya.
Luna seperti menemukan sebuah kesejukan ketika menghirup aroma tubuh barack yang melekat di bantal, sprei bahkan di setiap titik dimana luna mendaratkan indra penciumannya.
Aroma tubuh barack membawa kenyamanan di dalam hatinya.
Luna menutup matanya sambil merasakan setiap udara yang masuk ke dalam hidungnya.
Malam itu dia dengan sengaja menunggu barack pulang sambil terus menikmati aroma wangi yang ada di dalam kamar barack.
Barack keluar dari ruang pemulihan, ketika dia mendapati klara sudah tertidur.
Selebihnya dia mengembalikan tanggung jawa untuk menjaganya kepada leo yang masih dengan setia menunggu di depan ruangan di mana klara sedang di rawat.
Dia melihat leo terus terusan duduk sambil menundukkan kepalanya karena dia tidak kuasa melihat ke arah wajah barack yang menghentikan langkahnya tepat di depannya.
Seperti dengan sengaja menunggu leo untuk melihat ke arahnya, namun leo tidak melakukan itu.
"Terima kasih" hanya kata itulah yang selalu terbesit di benak leo.
"Kamu harus ingat!, , aku melakukan ini untuk luna, bukan untuk kembali ke sisinya!" sekali lagi barack mengingatkan leo untuk tidak berharap lebih kepadanya.
Dia pun pergi meninggalkan leo yang masih duduk di kursi tunggu.
Barack mengendarai mobilnya untuk segera ke luar dari rumah sakit, dia meluangkan waktunya seharian penuh untuk menemani klara mengikuti terapi syaraf yang pertama.
Barack sengaja tidak masuk kerja dengan alasan yang lain, bagai mana pun juga dia tetap pegawai yang di gaji oleh ayahnya.
Kalau sampai ayahnya tahu dia pergi menemui klara, entah hukuman apa yang akan di peroleh dari ayahnya.
Sesampainya di apartement, barack segera keluar dari mobil dan berjalan menuju ke arah lift.
Tubuhnya nampak memaku ketika dirasanya dia telah melihat mobil luna sudah terparkir di deretan mobil mewah yang ada di bestment.
Dia memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah mobil luna, wajah barack yang tadinya di penuhi rasa lelah karena seharian raut wajahnya di paksa untuk terus tersenyum ketika berada di samping klara, kini dia tersenyum kembali, namun kali ini senyum yang sangat manis, senyum yang membahagiakan, senyum yang menenangkan jiwanya.
Dia segera berlari masuk ke dalam lift, terlihat sekali kalau dia ingen segera bertemu dengan luna yang sejak entah dari kapan dia menunggunya, karena luna tidak memberinya kabar, hanya sempat menelponnya tadi namun langsung mematikan teleponnya ketika mendengar klara memanggil namanya.
Barack bergegas keluar dari lift, senyumnya tidak pernah lepas dari wajah barack.
Setelah berhasil masuk ke dalam apartement dia mencoba menyisiri setiap sudut ruang apartementnya untuk memastikan keberadaan luna.
Tapi barack tidak menemukan luna.
Terkhir, dia membuka pintu kamarnya, membuang pandangan mata ke arah tempat tidur.
Dilihatnya luna tengah meringkuk sambil memeluk sebuah bantal.
Barack langsung menghampiri luna, naik ke atas tempat tidur, dia meraih tubuh luna melingkarkan penuh ke dua lengannya ke pinggang luna.
Dan mendekap tubuh luna dari arah belakang dengat sangat erat, membuat luna yang sejenak tadi sudah sempat tertidur kini harus bangun dan membuka matanya setelah barack berusaha dengan sengaja mengganggu luna.
Luna meraih tangan barack yang di kaitkan dengan satu tangan lainnya, lengannya terasa sangat kokoh sampai otot di lengan barack terasa menonjol dan menegang ketika luna berusaha maraba lengannya.
Lengannya sangat kuat, pelukan barack kali ini seperti dengan sengaja menahan luna untuk tidak merubah posisinya.
Barack membenamkan wajahnya di bagian leher belakang luna yang masih tertutup rambut itu.
Perlahan dia menarik kembali lengannya dari pinggang luna.
Terasa tubuh luna sedikit lebih mudah untuk di gerakkan ketika barack melepas salah satu tangannya.
Barack menyingkirkan rambut luna yang di rasa sangat mengganggunya ketika akan melayangkan sebuah ciuman di area leher belakang luna.
Nampak luna ingin memalingkan wajahnya ke arah belakang untuk melihat wajah barack, namun barack melarangnya.
"Jangan melihat ke arah ku" katanya.
Suara barack terdengar sangat rendah kali ini.
Nafas yang keluar dari hidung dan mulutnya mencoba menggerayangi leher luna. Sedikit luna bergidik karena menahan rasa geli di lehernya.
Barack tersenyum ketika melihat luna malakukan sedikit gerakan di kepalanya. Memang dengan sengaja dia melakukan itu.
Perlahan barack menyentuh leher luna dengan bibirnya.
Nafas barack yang mulai terdengar kasar terus terasa di leher luna.
Nampak dari arah depan luna, kalau dia sedang menahan kegelian yang sangat teramat dalam sampai sampai dia memejamkan matanya hingga nampak kerutan di setiap sudut wajahnya.
Luna masih menggigit bibirnya sendiri, ketika barack terus menghujani lehernya dengan ciuman lembut.
Barack mengecup leher luna sambil menahan senyum ketika dirasanya tubuh luna sedikit demi sedikit bergeser ke arah depan dan selalu melakukan gerakan yang berubah ubah setiap dia mengecup leher luna di titik yang berbeda.
Sejenak dia menghentikan kecupan di leher luna, untuk memastikan tubuhnya.
Seperti dugan barack kalau luna akan berhenti melakukan gerakan di tubuhnya itu ketika dia berhenti menciumi leharnya.
Barack tersenyum melihat tingkah luna, kembali dia mengecup perlahan lehernya lagi, namun kali ini terasa mulutnya bergeser ke arah pundak.
Sekali lagi barack melepas salah satu lengannya untuk meraih kaos luna yang mencoba menutupi punggungnya itu.
Luna di paksa membuka matanya kembali ketika barack menarik dengan perlahan bibir kaos leher luna ke arah samping pundaknya.
Sehingga barack dengan mudah bisa melihat sebagian pundak luna yang bersih dan mulua itu.
Terlihat sebuah tali berwarna merah padam yang dengan kokoh mencengkeram pundak luna.
Luna menelan ludah di buatnya, tidak tahu apa yang akan di lakukan barack selanjutnya, namun saat ini yang pasti dia merasa jantungan.
Barack menggigit bibirnya sendiri, sambil menahan senyum sebelum kembali menciumi luna.
Nampak barack hanya mendekatkan wajahnya ke arah pundak luna, dengan sengaja dia menghembuskan nafasnya untuk melihat reaksi luna.
Dan seperti dugaannya lagi, luna kembali membuat gerakkan yang dirasanya sangat menggelitiki hatinya.
Kali ini barack tidak hanya menahan senyum, tapi dia berusaha menahan ketawanya sampai membuat dia harus menangkupkan ke dua bibirnya dalam dalam.
Barack kembali mencium pundak luna, namun kini bibirnya bergerak ke arah pundaknya.
Terasa barack mencium bagian belakang pundak luna dengan lama.
Kali ini tubuh luna terlihat diam tidak bergerak seperti sedang manahan geli.
Kecupan barack bertahan lama di belakang punggung luna kali ini.
Luna membuka matanya kembali, dia berusaha merasaan di bagian punggungnya seperti sedang digigit kecil oleh barack.
Benar saja barack tidak hanya sedang mengecupnya, kini dia sengaja menyesap kulit luna yang putih bersih itu dengan kuat.
***
Maaf atas keterlambatan kali ini, biasanya sehari 2 atau3 kali author Up.
Namun bukan karena di sengaja.
Sebagai permintaan maaf maka apisode 65 sengaja author buat lebih panjang.
Biasanya hanya 1500 world atau 2000 world, kini lebih dari 3000 world sudah author siapkan untuk kalian, jika menemukan typo di setiap kata katanya mohon memberi tahu kami, karena itu sangat membantu kami dengan mudah merevisi setiap kalimatnya.
DAN JANGAN LUPA LIKA NYA DAN BINTANG 5 NYA OKE OKE, ,
__ADS_1
Kiss kiss jauh dari author untuk kalian😘😘