Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
80. Menjemput Juliet


__ADS_3

Mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah, Davien yang sedang sibuk membuat kopi menolehkan sedikit kepalanya ke samping memilih meninggalkan gelas di meja kemudian berjalan mendekati jendela. Untuk memastikan dugaannya kalau yang datang saat itu adalah Bunga. Davien melihat keluar dari sela gorden, bibirnya tersenyum tipis kemudian.


Davien kembali berjalan menuju meja di mana gelas yang sudah berisi kopi panas itu berada, membawanya keluar dari pantry. Mendengar suara bel rumah berbunyi, bukannya cepat-cepat membuka Davien justru terlihat duduk santai di depan tv menikmati kopinya.


Ting! Tong! Ke 3 kalinya bel rumah berbunyi.


Davien tetap berada di sofa. Setelah mencercap kopinya, Davien melirik ponsel yang menyala di atas meja. Melihat nama Bunga di layar, Davien meletakkan cangkir dengan satu tangan sementara satu tangannya lagi mengambil ponsel. Entah apa yang dia rencanakan kepada Bunga, saat ini dia tengah bersandar di sofa bibirnya tersenyum menatap layar ponsel.


Di luar Bunga terlihat kesal, pekerjaan masih banyak belum lagi tubuhnya sangat lelah di tambah dibuat kesal karena Davien. “Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa tidak membuka pintunya! Apa dia tidak mendengar suara bel berbunyi? Astagaa... aku bahkan menekannya berkali-kali!” gumamnya kesal, karena tak kunjung dibukakan pintu Bunga akhirnya terpaksa mencoba masuk dengan menekan pasword yang terpasang di pintu.


Tit tit tit tit


Davien menoleh ketika mendengar bunyi tombol pasword yang sedang di tekan oleh Bunga dari arah luar. Lagi-lagi lelaki itu tersenyum sembari menikmati kopinya.


Cklek!


Mendengar mesin kunci pintu terbuka secara otomatis Bunga tak menyangka kalau lelaki itu masih menggunakan pasword yang sama. Tetapi yang lebih menjengkelkannya lagi adalah dia masih mengingat semua paswordnya, dari mulai ponsel dan sekarang rumah. Sesaat sebelum masuk Bunga memejamkan mata menghela nafas panjang.


Tampak ragu ketika ingin melangkah ke dalam, rumah yang tak pernah berubah sama sekali. Mulai dari ruang tamu warna catnya saja tak ada yang berubah. Dadanya semakin berdebar saat kakinya mulai melangkah semakin dalam menuju ke ruangan lain.


Bunga melihat lelaki itu tengah duduk di sofa dengan santai menyilangkan satu kaki di atas kaki lainnya dan sibuk dengan ponsel di tangannya. ‘Orang ini!! Apa sebenarnya yang dia pikirkan! Sejak tadi duduk di sini asyik bermain ponsel membiarkanku menunggu di luar! Hah!! Benar-banar!!’

__ADS_1


“Kau sudah datang?” sapa Davien tanpa menoleh kearahnya dan masih sibuk dengan ponsel.


Mungkin membalas pesan Keiko, pikir Bunga. “Apa yang sedang kau lakukan? Kau tidak mendengar bunyi bel berkali-kali??” suaranya terdengar menahan kesal.


“Aku sedang membalas pesan Keiko!”


Bunga refleks memutar bola matanya malas.


Davien meletakkan ponselnya ke meja. “Ya, tentu saja aku mendengar suara belnya!” tambahnya tanpa rasa bersalah.


“Lalu kenapa kau tidak membukanya? Sengaja membuatku menunggu di luar?!”


“Kau bahkan masih ingat paswordnya kenapa harus membunyikan bel? Bukankah lebih mudah kau tidak perlu menunggu lama hanya tinggal menekan paswordnya lalu masuk?” jawabnya santai.


“Jangan berpikir terlalu keras Bunga, kau lihat sendiri tadi aku sibuk membalas pesan... dan lagi pelankan suaramu... kau bisa membangunkan Juliet!”


Bunga baru sadar kalau ternyata anak itu tidak ada di sana bersama dengan Davien. ‘Ada apa denganku? Kenapa aku bisa lupa kalau tujuanku ke sini karena ingin menjemput Juliet!’


“Dia sudah tidur” ucap Davien saat menyadari Bunga celingukan mencari putrinya. “Tadi sempat bermain denganku di sini, dia juga meminta aku membantu menyelesaikan tugas sekolah. Saat aku selesai mandi dia sudah terlelap” tambahnya.


“Di mana dia? Aku akan membawanya pulang!”

__ADS_1


“Kau yakin?” sahut Davien.


Seketika langkah Bunga terhenti mendengar ucapan Davien seakan mengingatkan perempuan itu dengan satu hal.


“Juliet mengalami kesulitan saat tidur, sekarang dia sedang terlelap. Kau yakin ingin membangunkannya?” meskipun tak tahu jelas apa yang sebenarnya terjadi dengan Juliet, tapi setelah mendengar rentetan pertanyaan tadi siang yang ditujukan padanya semakin menguatkan dugaan Davien terhadap Juliet.


Seketika hening, mereka tak lagi berdebat. Merasakan situasi canggung di antara mereka, Davien berusaha mencairkan suasana. Ghm! Pandangannya tertuju ke Bunga yang masih berdiri di tempat semula sejak kedatangannya.


“Duduklah!” Davien menepuk sofa tepat di sampingnya seolah memberi kode kepada Bunga untuk duduk di sana.


Di ruangan itu tak ada sofa lain, hanya ada satu sofa yang hanya memiliki kapasitas 3 orang untuk duduk. Davien sudah duduk di bagian paling ujung dan kini hanya tinggal dua bagian yang tersisa. Jika Bunga mengiyakan tawarannya maka jarak di antara mereka akan semakin dekat meskipun Bunga duduk di bagian ujung lainnya.


“Kenapa? Aku hanya memintamu duduk di sini tapi kau memikirkannya terlalu lama.”


“Tidak perlu! Aku bisa menunggu Juliet bangun sambil berdiri di sini.” Bunga bersikeras tak ingin duduk di dekat Davien.


“Kau yakin, Bunga?” suara Davien mulai berubah lembut.


“Hmm!” perempuan itu menganggukkan kepala. “Di mana kau menidurkan Juliet? Aku ingin melihatnya.”


“Dia ada di kamar” jawabnya singkat dan mulai sibuk lagi dengan ponselnya.

__ADS_1


Bunga langsung melangkah mencari Juliet, semula tujuannya adalah kamar Davien tapi tubuhnya terhebnti karena tidak mungkin juga Bunga masuk ke kamar itu. Dia langsung mengubah arah jalannya ke kamar tamu. Membukanya perlahan agar tidak mengganggu Juliet. Setelah berhasil membuka pintu pandangannya langsung menyapu ruangan, tapi Juliet tak ada di sana. Ingin bertanya kepada Davien tapi Bunga merasa enggan. Kini dia menuju kamar milik Davien, terlihat sangat ragu ingin membuka pintunya.


Tangannya mungkin memegang ponsel tapi Davien sejak tadi memperhatikan tingkah Bunga. Saat melihat perempuan itu tampak ragu ingin masuk ke dalam kamarnya, Davien kemudian berucap. “Apakah tidak apa-apa membiarkan seorang perempuan yang sudah bersuami masuk ke dalam kamar lelaki lain?” ujung matanya bergerak mengarah ke Bunga.


__ADS_2