
Bunga mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruang kerja, setelah berhasil membukanya Bunga menggunakan pundak untuk mendorong pintu.
Pandangannya menyelidik ke sekitar ketika tak mendapati Davien ada di ruangannya.
Bunga melangkah masuk perlahan mendekati meja, meletakkan secangkir kopi kemudian mengalihkan pandangannya ke kesebuah hiasan kaca milik Davien. Hiasan yang di berikan oleh Essie selalu tertata di tempat yang spesial di sana.
Bunga menunduk tersenyum kecut. Memutar tubuhnya untuk kembali ke pantry tetapi saat itu juga ternyata Davien telah berdiri tepatdi belakangnya.
Bunga terhentak kaget, melangkah mundur menghindar ketika menyadari bahwa jarak di antara mereka begitu sangat dekat.
Perempuan itu terlihat gugup ketika Davien terus menatapnya, tak lama dia menganggukkan kepalanya sebelum meminta ijin untuk keluar.
Davien meraih lengannya mencengkeram kuat menahan Bunga agar tak keluar dari ruang kerjanya.
"Pres Dir?" Bunga berucap untuk memohon agar Davien melepaskan tangannya.
"Aku minta maaf karena kemarin meninggalkanmu bersama Mervel!" perlahan Davien melemahkan cengkeraman jarinya, menarik kembali tangannya melepaskan Bunga.
"Kenapa, , ?"
Davien terdiam menatap lekat ke arahnya. Bibirnya masih terpaku belum sempat berucap menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Bunga.
"Kelian terlihat begitu sangat dekat!, , ,apa kamu menyukainya?"
"Tidak!" jawabnya cepat seolah Bunga tak ingin Davien salah sangka.
"Mm, , maksudku. Aku dan Kak marvel hanya berteman."
"Sedekat itu?" Davien mencoba memastikan. Dia merasa cemburu melihat kedekatan Bunga dengan Marvel tetapi tak banyak yang bisa dia lakukan karena takut Bunga akan menolak jika kemarin dia memaksa Bunga untuk ikut pergi bersama.
"Sama halnya antara dirimu dengan Keiko, , begitu juga kedekatanku dengan Ka Marvel" Bunga menatapnya, berucap dengan nada menantang.
"Tapi aku tidak menyukainya" Davien berhenti berucap, membiarkan Bunga untuk mencerna ucapannya.
"Aku menyukai orang lain!" tatapannya semakin lekat. Kakinya bergerak melangkah perlahan mendekat.
Bunga menelan ludahnya dengan susah payah ketika jarak di antara mereka semakin dekat.
"Apa selama ini kurang terlihat jelas?, , kepada siapa sebenarnya aku menaruh hatiku?" Davien semakin mendekat hingga tabuh mereka saling menempel.
Bunga tak bisa bergerak mundur lagi karena sofa di belakangnya.
__ADS_1
"Pres Dir!!" Bunga mencoba menahan tubuh Davien dengan kedua tangan yang terletak di dadanya. Bunga mengangkat kepala membalas tatapan matanya. Dia tahu Davien menyukainya, tetapi dia hanya ingin mendengar ungkapan perasaan Davien yang sesungguhnya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku!, , kenapa kamu meninggalkanku kemarin dengan Ka marvel"
"Bukankah itu yang kamu inginkan?" Davien menyelidik kedua matanya.
"Bukankah kamu ingin berdua dengannya?. Di saat aku memberikan kesempatan kepadamu untuk bersama dengannya kenapa kamu malah kebingungan?"
"Kapan aku pernah mengatakan hal itu!, , Pres Dir aku"
"Aku menyukaimu Bunga!!" Davien memotong pembicaraan. Kedua tangannya meraih, merangkup rahangnya, kemudian menarik kepala Bunga mencium bibirnya. Dengan lembut Davien memainkan bibirnya.
Perempuan itu terpaku, tubuhnya memanas ketika merasakan kelembutan bibirnya. Tubuhnya seakan di aliri arus listrik hingga memanas.
Dadanya berdegub kencang, matanya masih terbuka menyapu wajah Davien, menyelidik menelisik setiap detik perubahan ekspresi wajahnya.
Ketika Davien semakin menciumnya dengan kasar, mencoba memaksanya untuk membuka mulut, Bunga langsung mendorong kuat tubuhnya.
Nafasnya memburu hingga terdengar kasar.
"Kenapa kamu selalu menciumku tanpa permisi!, , kenapa kamu selalu melakukannya!" Bunga berusaha mengatur nafasnya ketika hampir kehabisan oksigen saat Davien menciumnya.
"Apa ucapanku kurang jelas Bunga?" Davien kembali berucap ketika Bunga mulai terdiam membisu.
"Aku menyukaimu!" tambahnya untuk memperjelas. Davien membiarkan Bunga untuk berfikir sesaat. Ibu jarinya bergerak mengusap lembut bibir Bunga masih yang basah karena ulahnya.
"Bunga!" Davien mencoba menyadarkan perempuan itu dari lamunannya.
Bunga tersentak ketika Davien menyebut namanya.
"Pres Dir aku" seketika pandangannya teralihkan ke hiasan kaca milik Davien yang berada jauh di sana. Saat itu juga perasaannya kembali berubah, kebingungan mulai melingkupi dadanya. Ketakutan akan bayang bayang Essie kembali menghantuinya.
"Maaf Pres Dir, , , aku."
"Kamu ingin menolakku lagi?"
"Bukan begitu!, , hanya saja aku. Aku tidak yakin kamu benar benar menyukaiku! aku merasa masih ada Essie di hatimu! aku takut ketika aku membuka hatiku untukmu, suatu saat nanti aku akan terluka karena Essie."
Perempuan itu memang sudah tiada, tetapi Essie masih singgah di hatinya, di lubuk hati yg gelap dan Davien sudah menutupnya rapat. Davien tak mau memungkiri hal itu, dia sudah mengubur dalam dalam kenangannya bersama Essie. Walau pun masih membekas, Davien tetap berusaha melupakannya.
"Beri aku waktu Pres Dir! aku harus memikirkannya!" Bunga mendorong tubuhnya menjauh, setelahnya dia melangkah pergi menuju pintu kemudian keluar.
__ADS_1
Davien terdiam, tangannya bergerak meraba bibirnya. Menikmati rasa sisa ciuman sesaat yang terjadi di antara mereka.
♡♡♡
Tak ada hal lain yang bisa di lakukan oleh Davien kecuali meyakinkan Bunga bahwa dia bersungguh sungguh, dia tahu benar bahwa Bunga juga menyukainya. Hanya saja perempuan itu masih ketakutan kalau Davien akan menjadikan Bunga sebagai tempat pelampiasan.
Hari di mana Davien harus pergi ke Indonesia pun tiba, sebelum ke bandara dia pergi ke apartement untuk menemui Bunga. Dengan membawa paperbag kecil dan seikat rangkaian Bunga di tangannya, Davien melangkah keluar dari lift.
Senyum tipis mewarnai bibirnya ketika melangkah. Tubuhnya terpaku saat melihat pintu apartementnya sedikit terbuka. Bunga telah lupa menutup kembali pintu setelah tadi membukakan pintunya untuk Marvel.
Davien menghela nafas panjang, sudah merasa tak enak hati sebelum melangkah masuk ke dalam. Perlahan Davien membuka pintunya, kembali melangkahkan kakinya masuk.
Tubuhnya kembali terpaku ketika melihat sepasang sepatu laki laki tertata rapih di sana. Dadanya berdebar kencang menahan amarah. Dia memejamkan mata berusaha menetralkan perasaan. Davien tak ingin merusak hari bahagia untuk Bunga, kini dia berusaha untuk lebih memilih menahan semuanya.
Davien melanjutkan langkahnya perlahan sembari mencuri dengan apa yang sedang terjadi di dalam.
Benar saja, dadanya semakin panas ketika mendengar Bunga tertawa riang. Tawa yang tak pernah dia dengar sebelumnya, tawa yang tak pernah Bunga tujukan kepadanya.
Dadanya semakin tak karuan, ketika langkahnya semakin mendekat.
Suara mereka berasal dari arah dapur, Davien menoleh ke arah sana. Terdiam sesaat sebelum kembali berjalan ke dapur menemui mereka.
Suara Bunga ketika sedang berucap terdengar dengan semakin jelas.
"Kak Marvel curang!!" teriaknya.
Kedua matanya melihat Bunga sedang bergurau dengan wajah penuh dengan krim kue berwarna putih.
Davien mengalihkan pandangannya ke sebuah kue ulang tahun yang terletak di atas meja. Sepertinya Davien terlambat untuk menemui Bunga di hari ulang tahunnya. Davien terdiam memaku tubuhnya saat melihat Marvel kini merangkup wajah Bunga dengan kedua tangannya.
"Bunga aku menyukaimu!" ucapnya dengan lembut,
Bunga terkejut, ini bukan kali pertamanya Marvel mengungkapkan perasaannya. Tetapi pertama kali baginya dua orang laki laki dalam waktu yang tak bersamaan mengungkapkan perasaannya.
Marvel mendorong kepalanya mendekat, berusaha untuk mencium bibirnya.
Brug!!
krasak!!
Paperbag beserta seikat bunga yang tertata rapih berbalut plastik berhias love itu terjatuh secara bersamaan di lantai.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Bunga menepis tangan Marvel perlahan. Belum sempat laki laki itu menciumnya, Bunga terlebih dulu menolak. Mendengar seseorang menjatuhkan sesuatu dari arah pintu Bunga langsung menoleh. Matanya membulat penuh, tubuhnya terpaku ketika melihat Davien berdiri di sana.