
Setelah mengecup kening Istrinya Barack pergi berangkat kerja. Luna berdiri di depan pintu sambil tersenyum manis saat menunggu suaminya masuk ke dalam lift.
Setelah Barack berhasil masuk ke dalam lift dia melihat ke arah Luna sambil mengerjapkan mata centilnya sebelum pintu lift kembali tertutup.
Luna terkekeh geli. Dia kembali masuk ke dalam apartement untuk berberes beres sebelum Cici datang mengahampirinya.
Luna berjalan menuju kamar mandi, namun langkahnya terhenti saat melihat bayangan koper di ujung matanya.
Dia menengok untuk memastikan koper itu.
Luna memilih untuk membuka koper yang menarik perhatiannya.
Setelah di buka dia menemukan beberapa potong baju kotor sisa kemarin saat berada di laut.
Dia mengela nafas panjang. Setelahnya merapihkan baju kotor itu dan memasukkannya ke dalam kantong plastik loundry yang tidak jauh dari jangkauannya.
Sebelum menutup kembali koper itu Luna melihat botol obat bening yang menyelip di samping koper. Tangannya meraih botol obat itu dan matanya menyelidik ke arah botol itu.
Flash back on.
Aryo menyempatkan untuk menyelinap ke dalam kamar penginapan Barack sebelum mereka meninggalkan tempat itu.
Dia mengawasi setiap sudut ruangan sambil mengendap endap ke arah koper yang sudah tertata rapih di atas ranjang.
Tatapannya mengarah ke tangannya yang sedang memegang obat sambil mengangguk anguk dan menyeringai penuh kepuasan.
Setelahnya dia memasukkan botol obat itu ke bagian terdalam dari koper milik Barack.
Flash back off
"Barack membawa obat radangnya kemarin?, , tapi kenapa berbeda dengan yang ada di laci almarinya ya?" sejenak Luna mengalihkan pandangan matanya ke arah laci bawah almari Barack.
Ke dua alis luna terangkat.
"Mungkin ini penurun panas?" gumamnya sambil meletakkan obat itu ke dalam laci bersamasn dengan obat radang milik Barack yang lainnya.
♡♡♡
Siang itu Luna dan Cici nampak sedang berada di cafe menunggu rekan kerja Aryo yang kemarin sempat di ceritakan Cici kepada Luna.
Luna berjalan dari arah kasir menuju ke meja dengan membawa dua buah cangkir berisi coklat panas.
"Untuk hari ini tidak ada kopi, coklat panas lebih ampuh untuk membuat hatimu menjadi lebih baik" ucapnya sambil menyodorkan secangkir coklat panas ke arah Cici.
"Mm, terima kasih" ucapnya dengan nada datar.
Luna hari itu melihat Cici lebih pasif, dia terlihat menjadi pendiam seperti bukan dirinya yang selalu ramai dan penuh gairah saat menjalani hari harinya.
Luna sadar itu semua karena kejadian kamarin malam dia pun memilih untuk tidak membahasnya lagi.
Mata luna menyapu wajah Cici yang diam termangu sambil memainkan jarinya memutari bibir cangkir secara berulang.
__ADS_1
Tatapannya memaku saat melihat ke arah lehar Cici yang masih nampak terlihat bekas ciuman Aryo di sana.
Masih sedikit memerah namun bagian pinggirnya sudah mulai agak menguning sebelum menghilang dengan sendirinya.
Cici sadar dari lamunannya hingga ujung matanya melihat ke arah luna yang masih melihat ke arah lehernya.
Dia menunduk untuk mempermudah tangannya maraih tengkuknya sendiri sambil berusaha manutupi bekas merah itu dari pandangan Luna.
Luna berdehem untuk menetralkan rasa canggungnya.
"Mm , , kalau kamu tidak enak badan bisa tinggalkan aku sendiri di sini untuk menemui Pak???" sejenak Luna berhenti berucap untuk mengingat kembali namanya.
" Pak siapa namanya?" tambahnya dengan nada bertanya ke arah Cici.
"Pak Andrian" Cici menambahkan untuk memperjelas.
"Oh ya Pak Adrian, , kamu bisa pulang ci kalau kamu mau?"
"Mm, , tidak apa apa!" ucapnya sambil meraih ponsel dari dalam tasnya.
"Pak Ardian chat aku, katanya nggak bisa datang nih hari ini" ucapnya setelah membaca chat dari Ardian.
"Yah, , terus percuma dong kita udah sampai di sini?" ucap Luna, semangatnya mulai meluntur seketika.
"Jangan lemes gitu dong, besok dia mau ngasih kabar lagi kalau udah selesai urusannya. Perusahan dia kan ada di paris, dia datang ke sini mau urus bisnis lain sama Aryo. Nah kalau nggak salah dengar waktu itu dia bilang mau cari orang yang punya bakat mendesain gaun. Otakku langsung tertuju padamu deh! kemarin aku belum sempat cerita sama kamu kan?"
Luna hanya mengangguk pelan berusaha menjadi pendengar setia. Dia tersenyum karena melihat sahabatnya itu kembali bersemangat lagi.
"Mungkin Barack mengenalnya, kan perusahan Suamimu yang ada di paris juga bergerak di bidang fashion kan?"
"Oke!"
♡♡♡
Barack menemui rekan kerjanya yang berasal dari inggris. Aslinya dia orang indonesia namun sudah pindah lama dan menetap di inggris mengikuti ke dua orang tuannya.
Dia menunggu kedatangan seorang perempaun berambut pendek berwarna hitam pekat dengan memakai gaun yang terlihat sangat berkelas. Menunjukkan sekali kalau dia anak dari seorang pengusaha yang sangat berpengaruh di dunia bisnis.
"Nona Helena??" ucap seorang supir ke pada perempuan dengan ciri ciri yang sudah di beritahukan oleh Barack sebelumnya.
"Iya, itu saya" ucapnya dengan nada centil.
"Apa kamu suruhan Tuan Barack?" tambahnya sambil melepas kacamatanya.
"Iya mari silahkan ikut saya, Tuan Barack sudah menunggu Nona di mobil" ucap supir itu sambil menunjukkan jalan kepada Helena menuju ke arah mobil.
Setelah sampai, supir membukakan pintu dan mempersilakan Helena untuk masuk ke dalam.
"Hai," mata Helena menatap wajah Barack dengan lekat.
"Bener loh kata papahku kalau kamu itu benar benar sangat tampan"
__ADS_1
Barack menatap aneh sambil tersenyum getir ke arahnya.
"Ayahmu berlebihan" cuapnya dengan nada datar.
"Kalau menurut aku sih lumayan lah ya" tatapannya kini beralih menyelidik ke arah Barack.
"Aku dengar kamu sudah menikah?, serius?" tambahnya.
Barack tidak menjawab dia hanya mengangkat tangannya dan memerkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Owh, ? oke aku percaya. Tenang saja aku bukan tipe orang yang suka merebut suami orang" ucapnya seolah meyakinkan Barack kalau keberadaannya tidak akan mengganggu hubungan keluarganya.
Barack hanya diam tak bergeming sedikit pun.
"Berhubung aku di sini mewakili papahku jadi aku tidak ingin membicarakan masalah bisnis dulu. Kita mulai nanti saja masalah itu. Sekarang aku ingin makan rawon, makanan yang aku kangenin selama berada di inggris. Kamu bisa mengantarku ke tempat langgananku yang menjual rawon terenak di sini?" ucapnya dengan nada memohon.
Barack merasa pusing mendengar suara Helena yang terus nerocos dari tadi.
Dia lebih memilih berbicara ke pada supir untuk meminta mengantar kemanapun yang di inginkan oleh Helena.
"Antarkan kita ke tempat yang ingin di tuju oleh Nona Helena ya pak"
Dia menghela nafas panjang entah untuk yang keberapa kalinya saat itu.
Helena pun membuang senyum ke arah Barack setelah dia memenuhi keinginannya.
♡♡♡
Sorenya Luna pulang setelah pergi menghabiskan waktu bersama dengan Cici.
Dia masuk ke dalam apartement melangkahkan kakinya dengan pelan masuk ke dalam ruang Tv.
Namun wajahnya seketika menjadi cemas saat melihat suaminya tengah tertidur di atas sofa.
Dia meletakkan tasnya di kursi tunggal dan berjalan menghampiri Barack.
Luna menekuk ke dua lututnya di atas lantai kemudian tangannya bergerak menyentuh kening Barack.
Dia tahu ada yang tidak beres dengan tubuh suaminya setelah melihat wajah Barack memerah seperti udang rebus apa lagi bibirnya yang sangay memerah padam.
Barack terbangun tangannya bergerak meraih tangan Luna yang maaih menempel di keningnya kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Suhu badanmu panas sekali?" ucap Luna tersirat akan sebuah kehawatiran di dalamnya.
"Aku baik baik saja" Tepisnya lalu mengecup tangan Luna yang sudah di genggamnya.
"Bibirmu sangat merah!, , tenggorokanmu pasti sakit, radangmu kumat ya?, tadi siang makan sama apa?" Luna terus menghujani Barack dengan pertanyaannya.
Barack masih rebahan di atas sofa dia merasa malas harus bangun dan meladeni pertanyaan Istrinya.
Rasa sakit dan panas seperti terbakar kini sedang di rasakan di bagian tenggorokannya.
__ADS_1
*** JANGAN LUPA BACA JUGA NOVEL AUTHOR YANG BARU JUDULNYA "MY SOUL"
TERIMA KASIH SEBELUMNYA 😘😘😘