
"Devien!"
Bunga mencoba untuk menghentikannya, sementara lelaki itu masih berfikir keras apakah akan melanjutkan rencananya atau tidak.
Perlahan Bunga mendekatkan wajahnya lalu berucap. "Daven, kau yakin akan melakukannya di sini?" ucapnya dengan lirih.
"Melakukannnya di sini??" keningnya berkerut halus, menatap Bunga dengan penuh tanda tanya. "Melakukan apa memangnya?" tambahnya, Davien berucap seolah dia berlaga polos.
Bunga yang merasa malu dengan segala macam pikiran anehnya pun merona. "Astgaa, apa yang sedang aku pikirkan!, bodoh" gumamnya dalam hati. Bunga menggunakan kedua tangannya yang di letakkan di dada Davien untuk mendorong lelaki itu menjauh kemudian perlahan memalingkan wajah.
Tetapi tidak dengan Davien, dia terlihat senang berhasil menggoda kekasihnya. Tangannya kembali meraih pinggang Bunga sementara satu tangannya lagi berhasil meraih tengkuknya. Davien mencium bibirnya saat perempuan itu kehilangan kewaspadaannya.
Matanya membulat penuh, kedua tangannya telah berada di pundak Davien mencoba menahan bahkan sedikit mendorong tubuhnya agar lelaki Itumenjauh. Namun kekuatan yang dimiliki tak sebanding dengan kekutan Davien.
Semua orang di dalam kantin tak terkecuali pelayan bahkan juru masak pun kini terlihat menganga. Davien merasakan kalau Bunga mencoba menolak ciuman itu, kemudian dia membuka matanya perlahan setelahnya berucap dalam keadaan bibir mereka yang masih saling bertautan.
"Nikmati saja, biar semua orang tahu kalau kau sudah menjadi milikku!" Davien semakin mendorong tubuh Bunga kearahnya, sementara kini dia memaksa perempuan itu untuk membuka mulut. Davien kemudian memperdalam ciumannya.
Semua orang masih menganga tak percaya bahkan mata mereka hampir tak berkedip ketika menyaksikan pemandangan yang sangat langka karena hampir bertahun-tahun mereka bekerja di sana tak pernah melihat atasannya berbuat seperti itu.
Bahkan lelaki itu selalu menghindar dari perempuan yang mencoba mendekatinya. Tetpi mereka tak habis pikir kenapa Devien bisa jatuh hati kepada seorang OB. Jauh setelah kepergian Essie dia tak pernah memperlihatkan kedekatannya dengan perempuan manapun kecuali Keiko.
Dengan Keiko pun dia tidak pernah memperlihatkan kemesraan atau kelembutan seperti yang dia lakukan kepada Bunga.
Tentu saja apa yang dilakukan oleh Davien membuat para perempuan yang ada di kantin itu iri hati, tak semua orang benci dengan pemandangan di depan mata mereka, tapi ada juga segelintir orang yang tersenyum dan girang ketika melihat Davien mencium Bunga.
Tak lama setelahnya Davien menghentikan ciuman itu kemudian mengecup bibirnya sekali lagi sebagai tanda akhir dari berpagutan bibir mereka.
Kini lelaki itu menggandeng tangannya menuntun mengajak Bunga duduk di kursi setelahnya meminta pelayan menyiapkan makan siang.
Bunga merona benar-benar sangat merasa malu, dia mencoba untuk menjaga jarak dari Davien namun lelaki itu malah dengan sengaja memperlihatkan kedekatan di antara mereka.
Dan itu sudah cukup jelas membuat Bunga semakin bingung bagaimana harus menyikapi dan menghadapi orang-orang yang tidak suka dengannya nanti. Tapi dia juga merasa lega karena Davien setidaknya selalu ada disampingnya.
__ADS_1
Perempuan itu tertunduk malu menggigit bibir bawahnya yang sedikit membengkak akibat ulah Davien. Sementara lelaki itu kini sedang menyangga dagu di atas meja dengan tenang memamerkan senyum manis ke arah bunga. "Angkat kepalamu Bunga" ucap Davien.
"Davien kenapa kau melakukan itu" Bunga berucap dengan lirih, sementara matanya masih bergerak kesana-kemari mengawasi orang-orang yang masih memandang kearah mereka.
Melihat Bunga mulai tidak nyaman, Davien seketika membuang pandangannya ke sekitar. Sontak membuat orang yang masih melihat kearah mereka pun langsung kembali ke aktivitas mereka masing-masing seolah mereka bersikap tak melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Davin.
"Tenang saja, tak akan ada yang berani mengganggumu lagi" Davien mengulurkan tangannya meraih dagu Bunga setelahnya menggunakan ibu jari untuk mengusap bibirnya yang masih basah.
Dia tersenyum melihat bibir Bunga sedikit memerah. "Apa ini sakit?" tanyanya dengan lembut.
Mendengar pertanyaan Davien, Bunga semakin merona. Dia benar-benar sangat malu, jantungnya pun terus berdegup dengan sangat kencang.
Bunga meraih tengkuk sambil menundukkan kepalanya kemuduan berucap. "Tidak," suaranya terdengar sangat lirih.
Beberapa waktu kemudian sajian makan siang pun datang, pelayan menatanya di atas meja dengan rapi. Bunga sangat terkejut dia bisa duduk di tempat yang seharusnya diduduki oleh pegawai yang yang jabatannya lebih tinggi darinya, namun dia juga merasa tersanjung karena saat ini dia bisa duduk di tempat itu.
Bahkan dia juga tak menyangka kalau akan duduk bersama pemilik dari D Entertainment.
Melihat Bunga masih terdiam menatap makanannya, Davin pun kemudian berucap. "Kau ingin aku menyuapimu?"
Ini seperti mimpi baginya, lelaki yang semula sangat membenci bahkan memperlakukannya dengan sangat buruk kini malah bersikap lembut, bahkan Davien saat ini sedang membersihkan sisa makanan yang ada di bibirnya dengan tisu.
"Aku baru tersadar kalau lelaki ini ternyata bisa bersikap manis, Sejak kapan dia selalu tersenyum padaku?" gumamnya dalam hati.
Setelah kepulangannya dari luar negeri kapan hari, Davien memang terlihat berbeda dia semakin lembut dan selalu memamerkan senyum manis di bibirnya. Senyum yang dulu tak pernah dilihatnya ketika Bunga awal kerja di tempat itu. Karena hanya cemooh dan tatapan sinis serta hinaan yang dia terima ketika pertama kali dia bekerja di D Entertanitment.
Namun saat ini semuanya berbanding terbaik lelaki itu benar-benar memperlakukannya dengan sangat lembut. Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam Bunga masih merasa masih ada yang mengganjal dan pasti itu tak lain dan tak jauh tentang Essie.
Bunga masih merasa kalau Davien memandang dirinya sebagai Essie, bukan sebagai Bunga. Tak bisa dipungkiri perempuan itu memang sangat senang dan bahagia tetapi ada sisi lain dimana dia merasa ketakutan jika suatu saat nanti memang yang dia pikirkan akan benar-benar terjadi.
Namun Bunga tidak ingin berpikir terlalu jauh dia hanya ingin menikmati apa yang sekarang sedang terjadi dalam hidupnya.
"Setelah ini aku ada rapat di luar kota, mungkin aku akan pulang telat. Nanti aku akan menyuruh supir untuk mengantarmu pulang!" Davien meletakkan sendok kemudian meraih gelas yang berisi minuman, meneguknya dengan perlahan.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri" Bunga berusaha menolaknya dengan sopan.
"Kau menolak kebaikanku?" Davien menatapnya lekat sembari meletakkan gelas ke atas meja.
"Tidak, bukan seperti itu maksudku. Davien Aku hargai semua kebaikanmu tetapi setidaknya bisakah aku melakukan sesuatu yang aku inginkan?" Bunga berhenti berucap ketika melihat ekspresi wajah Davien berubah seketika. "Maksudku" ucapannya terputus karena Davien menyela pembicaraan.
"Aku paham! lakukan apapun yang kau mau, lakukan apapun yang kau suka, aku tidak akan melarang, aku tidak akan membatasi gerak gerikmu. Aku tidak akan mengawasimu, aku akan membebaskanmu. Tetapi" Davien menghentikan ucapannya memberi waktu kepada Bunga untuk berpikir, sebelum akhirnya dia meneruskan kembali ucapannya. "Ketika aku bilang A kau juga harus A dan ketika aku bilang B kau juga harus B tidak boleh ada penolakan, tidak boleh ada kata membangkang dan kau harus menuruti semua apa yang aku katakan!" Davien berucap dengan lambat agar Bunga mendengarnya dengan baik. Ujung bibirnya terangkat seolah dia sedang dengan sengaja menunggu rekspresi Bunga.
"Apa-apaan! itu artinya sama saja... setelah kau membuatku terbang tinggi dengan seketika kau mematahkan sayapku hingga aku jatuh ke bumi. Itu tidak ada bedanya Davien!" Bunga mulai kesal.
Mendengar pembelaan dari Bunga, Davin pun terkekeh geli. Tak lama ponselnya berdering Davien mendapatkan panggilan dari James. Tanpa mengangkatnya dia tahu bahwa sudah saatnya dia pergi, karena James sang sekretaris sudah menyiapkan mobil di depan lobi dan meminta Davien untuk bersiap berangkat ke luar kota. "Baiklah James sudah menungguku di depan, kau habiskan makananmu jangan sampai ada yang tersisa paham?".
"Makanan sebanyak ini bagaimana aku bisa menghabiskannya sendiri Davien?!" Bunga membulatkan matanya ketika dia tak bisa membayangkan bagaimana caranya menghabiskan semua makanan yang ada di depan mata.
"Kenapa? aku tidak mau tahu pokoknya nanti aku akan menghubungi salah satu pelayan di sini, jika kau tidak mau habiskan makananmu maka aku akan menghukummu nanti!" Davien kemudian beranjak dari kursi melangkah ke sisi meja mendekati Bunga.
Lelaki itu membungkuk menghadiahkan sebuah kecupan di keningnya. "Ketika aku pulang nanti kau sudah harus ada di rumah!" ucapnya dengan nada mengancam.
Tak lama Davien melangkah menjauh namun seketika dia menghentikan langkah kakinya menoleh ke arah Bunga seakan ada sesuatu yang masih tertinggal.
Davien pun kembali melangkah mendekati Bunga, lelaki itu kembali membungkuk meraih dagunya. "Ada yang tertinggal!" bisiknya.
Bunga yang dipaksa mendongakkan kepalanya pun terlihat bingung. "Apa?"
Davien mengecup bibirnya. "Ini!"
***
Bunga tersipu, tatapan matanya masih tertuju kepada Davien yang mulai melangkah pergi menghilang di balik pintu.
Bunga meraih ponsel yang ada di saku celana, tersenyum lebar ketika mengetahui bahwa dia mendapatkan pesan dari Davien.
Bunga menoleh ternyata lelaki itu masih berada di balik tembok kaca di luar kantin.
__ADS_1
Davien tersenyum mengedipkan salah satu matanya kemudian pergi.
Senyumnya semakin melebar ketika membaca pesan singkat dari Davien. "Jangan pulang terlalu larut, jangan tidur sebelum aku sampai di rumah! ini perintah!" Bunga terkekeh setelah membaca pesannya.