Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
80 CEO: Lobe's Romance Semakin parah


__ADS_3

Klatak!!


Pisau yang semula berada di genggaman tangan Aileen itu kini tergeletak di lantai. Jika saja David memakai jasnya mungkin pisau itu tidak akan menembus kemejanya hingga dalam. Kini kemeja putih itu ternoda, berwarna merah segar kemudian semakin berubah menjadi merah padam. Darah segar itu mengalir perlahan mengubah warna putih kemeja di sebagian lengannya, seharusnya kalau dilihat dari lukanya tidak terlalu dalam. Tetetapi melihat darah di depan matanya membuat tubuh Aileen bergetar ketakutan.


Aileen berusaha untuk tetap tenang, walau pun jika dilihat dari raut wajahnya perempuan itu terlihat sangat tegang.


Aileen menelan ludahnya perlahan.


"Mm, , ma,, maaf" ucapnya terbata. Jantungnya nyaris meloncat keluar ketika pisau yang ada di tangannya melukai David.


"Aku, , tidak bermaksud meluakaimu" Aileen menempelkan tangannya ke mulut, berusaha menyenbunyikan rasa ketakutannya.


Laki laki itu hanya diam, menikmati rasa perih di lengannya yang tak seberapa. Tapi rasa sakit yang menjalar di dalam dadanya seakan tak bisa dia kendalikan. Sebegitu bencinyakah Aileen dengan David sampai perempuan itu sanggup melukainya.


"Kamu ingin membalas perbuatanku yang tak termaafkan??, , maka, kamu akan mendapatkannya. Aku akan membiarkan kamu terus menyakitiku. Jika itu bisa membuatmu merasa puas Ai. Aku akan ikuti semua permainananmu"


Tangan Aileen perlahan meraih lengan David, tetapi laki laki itu sedikit menggerakkan lengannya sebelum Aileen berhasil menyentuhnya.


Aileen terpaku ketika David menolaknya. Ada rasa sakit di dalam dada yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata.


"Tidak apa!, , aku bisa merawatnya sendiri" David melangkah ke sisi lain untuk mengambil kotak P3K.


Aileen masih terdiam, dia merasa bersalah tetapi ketika David menolaknya. Aileen tak bisa berbuat apa apa. Dia hanya melihat David sedang kesusahan melepas kancing kemejanya satu persatu.


David membuka kemeja menggunakan satu tangannya, sementara satunya lagi sengaja tak di gerakkan terlalu kuat karena Aileen melukainya tepat di otot lengannya, David tidak ingin membuat luka itu semakin parah. Dan itu terasa sangat sakit ketika David memaksanya untuk bergerak.


Aileen menggerakkan kakinya mendekati David, kedua tangannya telah terangkat untuk meraih kancing kemeja laki laki itu.


"Biarkan aku, , membantumu" Aileen merasa ketakutan kalau David akan marah, tetapi laki laki itu hanya diam. Dia memutar tubuhnya sedikit menghadap ke Aileen, mempersilakan perempuan itu membantu membuka kancing kemejanya.


Aileen melepas dasinya terlebih dulu, kemudian melepas kancing satu persatu.


Setelah terbuka semuanya Aileen membantu David melepas kemeja. Aileen melakukannya dengan sangat perlahan, berusaha untuk tidak mengenai di bagian yang teluka.


Aileen sengaja hanya membuka sebagian kemejanya di sisi yang terluka dan membiarkan sisi lain kemejanya menggantung di pundak. Perempuan itu berusaha tetap bersikap tenang, walau pun tahu hatinya bergemuruh karena melihat sebagian dada serta abs milik David terpampang nyata di depan matanya.


Aileen melakukannya dengan sangat perlahan, berusaha untuk tidak mengenai di bagian yang teluka.


Dia membuka kotak P3K, mengeluarkan alkohol, menuangkannya ke kapas setelahnya di gunakan untuk membersihkan luka itu.


David menunduk memperhatikan Aileen ketika sedang membersihkan darah di sekitar lukanya.


Dan ketika perempuan itu mengangkat wajahnya melihat kearah David, laki laki itu langsung memalingkan wajahnya kearah lain.


Aileen mengerutkan dahi setelah membersihkan darahnya, dia melihat luka itu menganga dengan darah yang masih terus mengalir. Membuat Aileen tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


"Ini, , lukamu, , terbuka. Apa perlu memanggil Dokter untuk menjahit lukanya?"


"Tidak perlu!" David meraih salep antiseptik untuk lukanya. Tetapi Aileen langsung merebut salep itu.


"Tanganmu kotor, biar aku yang melakukannya" Aileen mengeluarkan sedikit isi salep ke ujung jarinya, kemudian mengoleskannya ke luka di lengan David. Aileen sempat meniup sembari mengolesi luka itu.


"Jangan lakulan itu!" David menggertakkan giginya, saat Aileen meniup lengannya. Menahan rasa yang tiba tiba mencuat di dalam dadanya.


Aileen mendongak lagi melihat wajah David.


"Apa?, , memang aku melakukan apa!" Ailen kembali menatap luka itu, mengolesi lukanya dari sisi satu ke sisi lain dengan antiseptik.


"Jangan meniup lukanya!, , "


"Aku hanya membantumu sedikit menghilangkan rasa perih!"


"Aku bilang jangan meniupnya!, , aku tidak tahu apa aku bisa menahannya atau tidak jika kamu terus memaksa untuk meniupnya!"


Aileen menelan ludahnya setelah mendengar ucapan David.


"Astaga!!" seorang kepala pelayan di rumah tiba tiba muncul, ddia kaget melihat Tuan mudanya terluka.


"Tuan Muda apa kamu baik baik saja?, , bagaimana ini bisa terjadi" Pelayan itu mendekat, dia nampak sangat khawatir dengan keadaan david.


Aileen terlihat gugup karena dia semakin merasa bersalah.


"Aku tidak apa apa bik!, , aku yang kurang waspada dan tidak hati hati, , kamu kembalilah, selesaikan pekerjaanmu" David memotong pembicaraan setelah melihat raut wajah Aileen yang ketakutan karena telah melukainya.


Pelayan kemudian menunduk memenuhi perintah David.


Kini Aileen sedang menutup luka itu, berharap bisa menghentikan darah yang masih terus keluar walau pun tak terlalu banyak. seharusnya luka itu mendapat jahitan 3 sampai 4 jahitan jika di tangani oleh tim medis. Detapi David tak mau membesar besarkan kan hal sepele itu.


Selesai menutup lukanya, Aileen membantu David memakai kemejanya lagi. Laki laki itu terlihat meringis ketika harus menggerakkan lengannya di bagain sisi yang terluka.


"Pelan pelan" ucap Aileen. Setelahnya dia membenarkan kancing kemeja, dan dasinya seperti semula.


"Kemejamu, , "


"Aku membawa baju ganti!" David kembali terdiam, dia tidak cerewet atau berusaha menggoda Aileen seperti biasanya.


Laki laki itu memutar tubuhnya setelah Aileen menyelesaikan tugasnya dan entah kenapa itu menggnggu pikiran Aileen.


"Kamu yakin kamu tidak apa apa?"


"Mmm, , jangan pikirkan aku" David melangkah lagi menuju pintu.

__ADS_1


"Tapi" Aileen mencoba menghentikan laki laki itu.


David kemudian memaku langkahnya. Menoleh sedikit kearah sampaing.


"Jika melukaiku membuatmu senanh, maka lakukanlah setiap hari sampai kamu merasa puas. Aku akan mempersiapkan mental dan tubuhku untuk itu"


Dada Aileen langsung terasa nyeri, jantungnya berdetak cepat tak terkendali mendengar David megucapkan kalimat itu.


David melanjutkan langkah kakinya keluar dari ruangan.


Aileen meremas kemerja di bagian dadanya, dia masih diam menikmati rasa perih di sana.


"Apa aku sangat keterlaluan??"


Aileen merasa sangat bersalah karena luka itu. Tapi di sisi lain dia merasa goresan luka itu tak sedalam luka di hatinya.


"Tidak Aileen!, , dia pantas mendapatkan luka itu!"


Aileen memutar tubuhnya, menggunakan kedua tangan untuk menyangga tubuh yang bertumpu di bibir meja.


"Kenapa aku merasa menjadi seorang penjahat seperti ini!"


Aileen menghela nafas panjang, berusaha untuk melegakan perasaannya.


♡♡♡


David duduk di kursi ujung paling depan ketika mengikuti rapat siang itu. Dia terlihat sangat fokus dengan materi yang sedang di jabarkan oleh salah satu staf.


Namun tak lama konsentrasinya buyar karena rasa perih di lengannya semakin terasa.


Dia berharap luka itu akan semakim membaik, tetapi jika di dinilai dari rasa perih dan nyeri di sana yang semakin menjalar di hampir sebagian lengan kanannya, David yakin luka itu semakin parah.


Keningnya berkerut halus, tak lama kemudian kerutannya terlihat kasar hingga dalam di sekitar area matanya. Keringat dingin membuat anak rambut di bagian pelipisnya melekat ke kulit hingga terlihat basah.


"PresDir?" Ius memastikan kondisi Atasannya yang terlihat sedang tidak sehat kala itu.


"Aku baik baik saja" David mencoba mentralkan peresaan, mengkondisikan dirinya benar benar baik dan bisa mengikuti rapat itu hingga selesai.


Beberapa jam kemudian dia kembali ke ruang kerjanya. Menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, membuat dirinya senyaman mungkin.


David sempat memejamkan mata sesaat sebeluk akhirnya dia mendoorng maju untuk mempermudah dirinya melepaskan jas di sebagian sisi lengan.


Dia hanya ingin memastika bahwa luka itu tidak memburuk.


David melihat bercak merah itu menembus dan membuat kemejanya yang putih bersih itu ternoda.

__ADS_1


Dia membawa baju ganti, tetapi dilihat dari darah yang tidak mau berhenti, sepertinya luka itu memang semakin parah.


David pun menyuruh Ius untuk menemaninya menemui Dokter Brian.


__ADS_2