Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#127 Calon Ayah


__ADS_3

Wajah Luna bercahaya seketika, ke dua matanya berbinar binar saat membaca hasil diagnosa dari Dokter. Perempuan itu memalingkan wajahnya ke arah Cici.


Sementara sahabatnya masih berusaha mengawasi perubahan ekspreai wajah Luna.


"Kenapa?, , kenapa kamu menangis?" Ucapnya dengan nada menuntut, seakan dia tidak sabar ingin mendengar hasil labnya.


Luna tersenyum lebar, ujung hidungnya memerah karena menahan isak tangisnya.


"Aku hamil" air matanya mengalir seketika.


Cici terkejut mendengar kabar baik tentang sahabatnya itu. Pasalnya setelah kecelakaan dan Luna harus kehilangan ke dua calon bayinya, membuat Cici ikut merasakan kesedihan saat itu.


Cici memeluk Perempuan yang sedang berusaha menguasai perasaannya. Luna menangis dia masih tidak percaya dengan kehamilannya.


"Kali ini kamu harus menjaganya dengan baik Luna" ucap sahabatnya, perempuan itu memeluk erat tubuh Luna.


"Pasti!" Luna mengangguk dengan penuh keyakinan, sesekali tangannya bergerak mengusap pipinya yang basah.


♡♡♡


Cici pulang terlebih dulu beberapa jam sebelum Barack kembali ke apartementnya, tentu saja karena desakkan Luna. Dia tidak ingin menyusahkan sahabatnya itu.


Barack membuka pintu, dan melangkah masuk ke dalam. Pandangannya menyelidik ke setiap sudut ruangan.


Laki laki itu nampak heran saat mendapati apartementnya sepi. Tak terdengar suara apa pun bahkan seperti tak ada tanda tanda Istrinya berada di dalam.


Dia berjalan ke arah kamar dan memaku langkahnya saat melihat pintu kamar terbuka.


"Luna?" tak ada sahutan dari arah dalam kamar. Barack melangkah masuk ke dalam kamar dan memastikan keberadaan Luna di dalam kamar mandi.


"Luna, , , sayang kamu dimana?" nada bicaranya terdengar semakin meninggi.


Barack keluar dari kamar, wajahnya sudah terlihat frustasi ketika tidak menemukan Luna di mana pun.


Sekali lagi Barack memaku tubuhnya saat sayup sayup mendengar suara lirih Istrinya yang sedang bernyanyi dari arah balkon.


Barack segera berlari menghampiri Luna. Dia menghela nafas panjang, merasa lega saat melihat Istrinya berdiri sambil menikmati terpaan angin.


Kakinya bergerak melangkah mendekat ke arah Luna.


Laki laki itu memeluk Istrinya dari arah belakang. Menunduk mendaratkan ciuman berubi tubi di pundak dan leher Luna.


Luna tersenyun dan mengusap rambut Suaminya setelah Barack berhasil membenamkan wajahnya di persimpangan antara leher dan pundak Luna.


"Kamu sudah pulang?" Luna tersenyum.


"Aku pikir kamu pergi"


Luna terkekeh.


"Aku tidak akan pergi kemana mana"


"Aku hanya merasa takut, jika suatu saat kamu pergi meninggalkanku!"


Luna membalikkan tubuhnya, dia menatap lekat ke arah Suaminya yang masih tertunduk.


"Barack?" Luna berusaha memaksa laki laki itu mengangkat wajahnya.

__ADS_1


Tangan Barack bergerak mengusap matanya.


Luna tidak bisa melihat jelas kenapa Barack melakukan hal itu karena terhalangi oleh rambut suaminya. Namun dia tahu dengan jelas bahwa Barack sedang mengusap air matanya.


"Kamu menangis?" Luna berucap seolah dia tidak percaya saat mengetahui Suaminya menangis.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?, katakan padaku kenapa kamu menangis?" Luna telah berhasil membuat laki laki itu menghadap ke arah wajahnya.


Luna tertawa saat melihat wajah memerah karena menahan tangisnya.


"Jangan melihatku seperti itu Luna, saat ini aku terlihat begitu menyedihkan bukan?" Barack menghela nafas berusaha menetralkan perasaannya.


"Aku menyukai laki laki yang berani menangis di depan seorang perempuan. Setidaknya laki laki itu berani memperlihatkan kelemahannya. Dan itu kamu" Luna mendongak mengawasi wajah Suaminya yang tinggi itu. Tangannya bergerak mengusap air mata Barack.


"Aku bahkan belum mengatakan apa pun tetapi kamu sudah menangis"


"Apa?, , kamu ingin mengatakan apa?" ucap Barack dengan nada menuntut.


"Kamu harus menjawabku dulu, kenapa kamu menangis?"


"Aku, bukankah tadi sudah ku bilang. Kalau aku takut kamu meninggalkanku!"


"Tidak Barack!, aku tidak akan meninggalkanmu. Kalau pun itu terjadi harus ada alasan kenapa aku meningglkanmu"


"Dan aku tidak akan membiarkan ada alasan apa pun untuk membuatmu pergi meninggalkanku. Dan ingat jangan menghilang seperti ini lagi"


Barack meraih headset yang ada di telinga Luna, meletakkan alat itu ke telinganya untuk mendengar apa yang sedang di dengar oleh Luna.


"Kenapa kamu mendengarkan musik klasik ini?"


"Aku sedang mengandung anakmu"


Tubuh Barack memaku seketika, ujung hidungnya kembali memerah, butiran air bening kembali mencuat dari dalam matanya.


Laki laki itu mengecup kening Luna dengan Lembut. Sementara tangannya bergerak meraih tubuh perempuan itu dan menarik Luna ke dalam dekapannya.


"Terima kasih" bisiknya dengan lembut, Barack menghujani Istrinya dengan kecupan. Sebagai rasa terima kasihnya yang tak bisa dia balas bahkan dengan kehidupannya sekali pun.


♡♡♡


"Hari ini kita bebas, bisa pulang kapan saja" Rosa merasa senang, dia memainkan kursi putarnya di ruang kerja.


Cici mentap ke arah perempuan di sebelahnya.


"Apa maksudmu?"


Ujung mata Rosa melirik melihat Cici yang


sudah kembali sibuk dengan laporannya.


"Pak Aryo tidak menghubungimu? Bukankah kamu dekat dengannya" tatapan matanya kini menyelidik ke arah Cici yang mulai melihat ke arahnya dengan penuh tanya.


"Pak Aryo ijin tidak berangkat ke kantor, dia bilang dia demam" Rosa menghentikan ucapannya, kini dia sedang mengawasi ekspresi wajah Cici.


"Apa dia tidak menghubungimu?" tambahnya.


Cici hanya diam memaku, tidak lama setelah itu dia beranjak dari kursinya dan melangkah ke luar dari kantor.

__ADS_1


♡♡♡


Cici menghentikan taxi yang di tumpanginya di depan sebuah lobi gedung apartement atasannya.


Wajahnya terlihat meragu saat akan melangkah memasukki lobi utama.


"Apakah aku boleh datang menemuinya?"


Cici mengurungkan niatnya menemui Aryo, perempuan itu membalikkan badannya dan melangkah keluar lagi.


"Kamu harus menemuinya Ci. Dia Bosmu, dan sekarang dia sedang sakit"


Cici menghela nafas panjang memantapkan hatinya sebelum kembali melangkah masuk ke dalam lobi.


"Tenangkan hatimu Ci! anggab saja seorang sekretaris sedang memastikan kesehatan atasannya"


Perempuan itu terus berusaha meyakinkan dirinya.


Kini langkahnya terlihat pasti dan penuh keyakinan saat berjalan memasuki lift menuju lantai di mana apartement Aryo berada.


Ting!!


Pintu Lift terbuka, Cici melangkah keluar dari dalam lift.


Dan baru beberapa langkah dia berjalan menjauh dari lift yang sudah tertutup kembali, langkahnya terpaku saat melihat perempuan keluar dari apartement Aryo dan berdiri di depan pintu dengan memakai rok mini serta baju yang minim, perempuan itu terlihat sangat sexi dan jauh lebih dewasa darinya.


Dadanya semakin terasa sesak saat melihat keadaan perempuan itu berantakan, bajunya terlihat tidak rapih serta rambutnya yang acak acakkan. Dengan tangan yang menenteng ke dua sepatunya sekan memperlihatkan apa yang baru saja mereka lakukan di dalam sana sebelum Cici datang.


"Cepat pergi dari sini!" ucap Aryo yang sedang berdiri di tengah pintu, laki laki itu juga tengah berusaha memakai kembali kaosnya, kini tangannya bersandar di gawang pintu seolah sedang berusaha berjaga jaga agar perempuan itu tidak masuk ke dalam apartementnya lagi.


"Pa yang barusaja mereka lakukan??"


Cici meremas kemeja yang menutupi dadanya dengan erat.


"Ayolah Aryo, aku ingin menginap sehari lagi di sini" pinta perempuan itu dengan suara manjanya. Sementara tangnya berusaha meraih lengan aryo.


"Jadi dia sudah menginap semalam??"


Cici terkekej jengkel, dia merasa seperti wanita bodoh yang sudah berharap lebih kepada laki laki itu.


Aryo memepis tangan perempuan itu dengan kasar.


"Hiiihhh, !!! hentikan. Cukup tadi malam kamu menginap disini. Sekarang kamu lebih baik pulang ke rumahmu!!"


"Aryo, kenapa kamu kasar sekali. Aku rindu dengamu. Aku datang jauh jauh dari tokyo untuk menemuimu!. Kenapa kamu perlakukan aku seperti ini!!" perempuan itu berusaha menerobos masuk ke dalam lagi.


Namun Aryo berhasil menutup pintu apartementnya.


Cici menghela nafas panjang, tidak tahu apa yang akan dia lakukan saat Aryo melihatnya. Yang pasti saat ini dia sedang berusaha bergerak menghilang dari sana, karena tempatnya berdiri sangat mudah dilihat oleh Aryo.


Dan benar saja ketika Aryo berusaha mengangkat tubuh perempuan itu dari arah belakang agar menjauh dari pintu, ujung mata Aryo bergerak ke arah bayangan Cici yang berada jauh di sisinya.


Aryo memaku tubunnya, tangannya melepaskan perempuan itu hingga terjatuh begitu saja ke lantai.


Mata Aryo dan mata Cici bertemu di sana. Kaki perempuan itu perlahan bergerak mundur, kemudian membalikkan tubuhnya dan dengan cepat berlari ke arah lift.


Pandangan matanya terlihat kosong, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

__ADS_1


__ADS_2