
David melangkah keluar dari kamar. Baginya rumah itu kembali sepi ketika Aileen telah pergi.
Dia kemudian berjalan menuju kearah dapur.
"Tuan??, , " Kepala pelayan berjalan menarik kursi, lalu mempersilakan David duduk di sana
"Tuan??" Sapanya lagi, ketika melihat laki laki itu hanya terdiam melamun.
"He??" David terhentak, setelah sadar dari lamunannya kemudian dia duduk di kursi.
"Tuan mau makan?, , Nona tadi sudah menyiapkan makanan untuk Anda sebelum dia pergi"
Seketika David langsung menoleh dan melihat kearah Kepala pelayan.
"Dia menyiapkan makanan untukku?" Raut wajah David langsung berubah cerah seketika.
"Ya, ,mau saya ambilkan Tuan?"
David mengangguk dengan cepat. Tak lama Kepala pelayan membawa makanan yang sudah disiapakan oleh Aileen sebelum perempuan itu pulang. Dengan raut wajah yang gembira David menikmati makanannya.
♡♡♡
"Ayo!" Kenzi mengulurkan tangannya kearah Iris, hingga membuat pipi perempuan itu merona.
Dengan senang hati Iris meraih tangan Kenzi dan melangkah turun dari taxi.
Perempuan itu menyelidik kearah rumah yang ada di depan matanya.
"Ini?"
"Ini rumah kedua Orang tuaku, kita masuk?" Kenzi memaku langkahnya ketika tangannya terasa berat. Iris ternyata masih terdiam sambil melihat kearah tangannya yang sedang di genggam oleh Kenzi.
Laki laki itu mengalihakn pandangan kearah tangannya.
"E, , maaf!!" ucapnya sambil melepaskan tangan Iris.
Perempuan itu tersenyum, kemudian berucap.
"Tidak apa apa"
Mereka berdua pun kemudian melangkah masuk melewati pintu gerbang.
♡♡♡
Kenzi mengajak Iris masuk kedalam rumah, mereka berjalan menuju ke taman belakang. Di mana biasanya Kenzi menghabiskan waktu bersama keluarga saat masih kecil.
"Mah??" Kenzi berseru memanggil Orang tuanya yang sedang duduk di bangkuk taman.
"Sayang??" Klara beranjak dari bangku dan mempercepat langkahnya menghampiri Kenzi, kemudian memeluk Putranya dengan erat.
"Mamah berancana ingin mengunjungimu ke Tokyo besok lusa sebelum pergi ke London"
"Tidak perlu, , Kenzi sudah ada di sini. Dimana Ayah?" Kenzi mengalihakn pandagannya untuk mencari keberadaan Ayahnya.
"Dia sedang berganti baju"
Pandangan Klara tertuju kepada seorang perempuan yang berdiri di belakang Kenzi.
"Sayang, , dia siapa?"
"Oh, Iris kemarilah" Kenzi meraih pundak Iris, menarik perempuan itu agar lebih mendekat.
"Dia temanku, namanya Iris"
Dengan ragu Iris mengulurakan tangannya kearah Klara.
"Iris tante"
Klara membalas uluran tangan Iris, pandangan matanya juga nampak menyelidik kearah perempuan itu.
"Tunggu!!, , Iris???" Klara teringat bahwa dia pernah melihat berita tantang perempuan itu di media.
"Papamu Barack bukan??"
Iris terkejut, dia sempat terpaku sesaat sebelum akhirnya tersenyum sambil menganggukkkan kepalanya.
"Mamah kenal dengan Orang tuanya??" Kenzi juga merasa terkejut ketika mengetahui Orang tua mereka ternyata saling mengenal.
"Iya, teman dekat" Klara pun tersenyum.
"Mantan??" ucap Kenzi seketika. Dia mencoba menggoda Mamahnya.
"Kamu ini!!" Klara memukul pelan dada Putranya.
"Tumben mau pulang ke Paris??, , kenapa menginap di hotel?? tidak pulang kerumah?"
"Tidak apa apa. Aku pikir tadinya Mamah tidak di rumah. Jadi aku putuskan untuk menginap di hotel. Lalu semalam Mamah bilang kalau kalian pulang. Yaaaa, , maka dari itu aku kemari" Laki laki itu mempersilakan Iris untuk duduk terlebih dulu.
Di sisi lain seorang pelayan membawakan dua cangkir teh hangat.
Kenzi mengambilnya satu kemudian dia meniupnya, agar mengurangi sedikit rasa panas teh itu. Selanjutnya dia memberikan secangkir teh yang sempat ditiupnya kepada Iris.
"Masih panas, , pelan pelan"
__ADS_1
Jantung Iris berdegub dengan kencang, dia melihat bibir Kenzi saat meniup teh itu.
"Laki laki ini benar benar sangat perhatian!, , tadi dia sempat membukakan minuman kaleng sebelum memberikannya kepadaku, , dan sekarang dia meniup teh panas ini untukku??? Aileeeennn dimana kamu menemukan laki laki sebaik ini!!"
"Terima kasih Kak" Iris meraih cangkir itu dan menyesapnya perlahan.
"Bagaimana kabar kedua Orang tuamu sayang?? hmm??, , kamu sangat manis seperti Mamahmu" Klara membelai lembut pipi Iris.
Iris tertunduk karena malu.
"Mereka baik Tante, , "
"Syukurlah, aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka. Terakhir ketemu waktu dulu kedua Orang tuamu sedang ada masalah" Klara melirik kearah Iris, kemudian berucap lagi.
"Keadaan Kakakmu baik baik saja kan?" Klara sempat mendengar kabar soal David yang menderita trauma hebat akibat insiden penculikan itu.
"Dia semakin membaik, traumanya juga sedikit demi sedikit sudah bisa disembuhkan"
"Baguslah, Tante tinggal sebentar ya!" Klara beranjak dari kursi lalu berjalan menuju kearah dalam.
Kenzi mengalihkan pandangannya kearah Iris yang tertunduk.
"Ada apa dengan Kakakmu?"
Perempuan itu hanya tersenyum, kemudian berucap.
"Tidak ada apa apa"
"Kenzi??"
Suara berat itu seketika mengalihkan perhatian Kenzi dari Iris. Dia langsung mengalihkan pandangannya kearah suara itu berasal.
"Ayah??" Kenzi beranjak dari kursi, kemudian berjalan kearah Leo dan memeluknya.
"Kabarmu baik?"
"Iya"
"Dia??" Leo mengalihkan pandangannya kearah Iris.
"Temanku"
"Teman??" Leo mengangkat kedua alisnya. Dia mencoba untuk menggoda Putranya itu.
Kenzi terkekeh kemudian.
"Iya Ayah, teman!" ucap Kenzi untuk memastikan.
"Sayang ajak Iris untuk makan sekalian ya" seru Klara dari arah meja makan.
"Iya"
♡♡♡
"Serius Om??"
Leo mengangguk.
"Dulu Mamahmu orang yang paling sering di buli. Tapi sekarang dia menjadi orang yang selalu ditiru dalam setiap penampilannya"
"Benarkah dulu dia sering di buli?" Klara nampak tak percaya.
"Iya sayang, kamu mengenal dia disaat Luna sudah berubah" Leo mengalihkan pandangannya kearah Klara.
"Aku malah tidak tahu sama sekali" Klara dan Leo sibuk sendiri dengan membahas masa lalu Luna.
Sementara di sisi lain, Kenzi menoleh kearah Iris. Ujung matanya tertuju kepada bibir perempuan itu.
Iris terkejut ketika Kenzi menyentuh bibir dengan jarinya.
"Bibirmu kotor" bisik Kenzi. Kemudian dia membersihkan sisa makanan yang ada di bibir Iris.
Setelah selesai membersihkan bibir Iris, Kenzi masih menatap Iris yang tertunduk malu. Laki laki itu tersnyum, tangannya kemudian bergerak mengusap pipi Iris dengan punggung jarinya lalu berucap dengan lembut.
"Lanjutkan makanmu, setelah ini kita pulang"
Iris menghela nafas panjang, dadanya serasa mau meledak. Detak jantungnya bahkan sampai terdengar di rongg telinga.
Laki laki itu memperlakukan Iris dengan penuh perhatian.
"Jangan salah sangka Iris. Tahan, , tahan, , dia menyukai Aileen. Apa sebenarnya yang sedang kamu pikirkan!!"
♡♡♡
"Perutmu sudah baikkan sayang??" ucap Luna yang sedang menyipakan sarapan.
"Iya, , " David yang baru saja datang langsung menarik kursi dan duduk di sana.
"Kamu tidak ambil cuti lagi? biar perutmu benar benar sembuh?"
"Aku yakin aku sudah baikkan Mah??, , tidak ada yang menghandel pekerjaanku di kantor kalau aku terlalu lama ambil cuti" David menegug susu yang baru saja di persiapkan oleh Luna.
"Ayah tidak kaget kalau sakitmu sembuh dengan sangat cepat. Ayah dengar ada perawat cantik yang merawatmu selama kamu sakit??" ujung mata Barack melirik kearah David yang kini mulai sibuk melahap roti selainya.
__ADS_1
"Sejak kapan Ayah percaya kabar burung!!"
Luna dan Barack hanya terkekeh karena berhasil menggoda David.
"Iris di mana mah??" David yang sedari tadi tak melihatnya berada di meja makan pun mulai penasaran.
"Dia sedang packing baju" Luna menarik kursi lalu duduk di samping suaminya.
"Packing baju??, , mau pergi kemana dia?" David menyatukan alisnya.
"Korea, , memang Iris tidak memberitahumu??"
"Tidak, , mau apa dia kesana!!" David terlihat sangat penasaran. Setelah selesai menghabiskan sarapannya, laki laki itu beranjak dari kursi dan melangkah pergi menuju ke kamar Iris.
♡♡♡
"Bukankah kamu sudah berjanji kepadaku mau menemaniku ke Korea!!" Iris terlihat kesal, dia melempar semua baju dari dalam almari kearah koper.
"Tapi aku"
"Aku tidak mau dengar apa pun alasanmu!!, , Aileen!! kamu bilang kamu tidak akan mengingkari janjimu sendiri!!, , Apa kamu bermaksud untuk menjilat ludahmu kembali!!"
"Ya, ya!!!, , aku akan menemanimu!!"
"Baiklah nanti malam aku aku jemput kamu ya, kita berangkat ke Bandara bersama"
Iris terkejut ketika tiba tiba David masuk kekamarnya.
"Kamu mau mengajak Aileen pergi ke Korea??" David menyipitkan kedua matanya kearah Iris.
"Astaga ya ampun Kakak!!!, , bisa tidak kamu mengetuk pintu terlebih dulu!!" Iris terlihat jengkel ketika David benar benar membuatnya jantungan.
Iris membulatkan matanya, kemudian berucap dengan nada penuh ancaman.
"Yaa!!, , aku akan mengajak Iris pergi ke Korea!!, , aku ingin mencarikan Oppa Oppa ganteng untuk Aileen"
"Apa maksud ucapanmu??"
"Tidak ada maksud apa apa!!, , sekarang Kak David mendingan keluar ya. Aku mau ganti baju!!" Iris berucap dengan sinis.
Sementara David mulai terlihat kebingungan, dia merasa khawatir jika Aileen benar benar akan ikut pargi ke Korea bersama Iris.
♡♡♡
"Kita hanya berdua??, ,bagaimana kalau kita hilang di Negeri orang" Aileen yang sedang duduk di ruang tunggu itu terlihat khawatir.
Iris memukul kepala Aileen menggunakan paspornya.
"Kita kan bisa komunikasi ini!!, , kenapa takut hilang di sana. Kamu saja baru pertama kali ke Paris tidak kehilangan arah kan??"
"Iya sih, , " Aileen tertunduk kemudian.
"Tenang saja aku mengajak orang untuk menemani kita!" Iris mengangkat kedua alisnya kearah Aileen.
"Siapa??" Aileen mengangkat kepala kemudian menoleh kearah Iris.
Saat itu juga dari sisi lain seorang lali laki bertubuh tegap dengan mengenakan pakaian santai namun terkesan mewah sedang berjalan menuju kearah mereka berdua. Laki laki itu berjalan dengan santai namun penuh dengan wibawa.
"Kalian menungguku??" ucap laki laki itu seketika. Hingga membuat Aileen dan Iris mendongak untuk melihat kearah wajah laki laki yang sedang berdiri di depan mereka.
"Kak David???, , apa yang sedang kamu lakukan di sini??"
"Menemani kalian!!"
Aileen dan Iris hanya saling nelempar pandang.
"Ininorang yang kamu maksud??" bisik Aileen.
"Bukan!!, , Kak David mah suka begitu. suka seenaknya sendiri!" Iris menatap sengit kearah David.
"Kenapa kalian masih duduk di sini??"
"Kami sedang menunggu seseorang!" ucap Iris dengan jengkel.
"Siapa??" David mengerutkan dahinya, sementara ujung matanya mengerucut kearah Iris.
"Itu dia" Iris beranjak dari kursi, dia terlihat sangat gembira ketika melihat Kenzi datang.
Aileen dan david langsung mengalihkan pandangan mereka kearah Kenzi yang sedang berjalan.
"Kamu mengajaknya!!!" David berucap dengan emosi yang tertahan.
"Ya!" Iris melirik kearah david.
"Aku pikir Kakak tidak akan mau menemani kami. Jadi aku mengajak Kak Kenzi saat itu" ujung bibir Iris terangkat, dia merasa senang ketika Kenzi memenuhi keinginnannya.
"Kenapa juga Iris harus mengajak laki laki itu!!"
David terlihat sangat sangat jengkel. Namun dia berusaha keras untuk mengontrol emosinya.
"Maaf menunggu lama" Kenzi tersenyum, lalu dia mengalihkan pandangannya kearah David.
Sementara David tak bergeming dia malah membuang pandangannya kearah lain.
__ADS_1
"Lengkap sudah penderitaanku, , rencana mau ikut Iris untuk pergi berlibur. Malah di suguhi pemandangan tak menyenangkan ini"
Aileen menghela nafas panjang kemudian.