Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#122 Perangkap


__ADS_3

"ci, si bos minta kopi tuh, , tolong ya. Aku mau ikut rapat dulu" ucap skreraris lain ke pada Cici.


"Iya," Cici beranjak dari kursi dan melangkah keluar dari ruang kerjanya menuju ke pantri.


Selesai membuat kopi dia kembali berjalan menuju ke ruang kerja Aryo.


Cici memaku langkahnya di depan pintu masuk, dia menghela nafas seakan sedang mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan Aryo.


Tok Tok Tok, ,


Cici membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam. Aryo yang tengah sibuk dengan pekerjaannya hanya melirik sekilas ke arah perempuan itu.


Cici berjalan mendekat ke meja, setelahnya dia menaruh kopi di atasnya.


Saat itu dia merasa gugub, tidak seperti biasanya. Bola matanya memutar menghindar untuk tidak melihat ke arah Aryo.


Aryo beranjak dari kursi dan berjalan ke arah belakang tubuh perempuan itu.


"Tumben kamu yang nganter?" suara laki laki itu terdengar sangat berat tidak seperti biasanya.


Cici membalikkan tubuhnya, dan dia sedikit tersentak saat mendapati tubuh Aryo tepat di belakangnya. Perempunan itu mundur agar sedikit menjauh dari Aryo namun terpentok meja di belakangnya.


Nafasnya memburu karena merasa gugub.


"Kenapa kamu seperti melihat hantu! takut denganku?" Aryo mengawasi ekspresi wajah Cici.


Perempuan itu salah tingkah, pipinya juga memerah. Dia berusaha mengalihkan pandangan dari Aryo yang terus menatap ke arahnya.


"Rosa sedang ikut rapat jadi dia tidak bisa mengantar kopimu" ucapnya merujuk pada sekretaris lain.


Aryo melangkah maju lagi, sementara cici menarik punggungnya ke arah belakang karena pinggangnya terpentok meja.


"Biasanya juga nyuruh Ob yang nganter. Kenapa sekarang kamu mau mengantar kopiku?" Aryo menyangga tubuhnya dengan salah satu tangan yang bertumpu di bibir meja dan satunya lagi masih tersimpan di saku celana, dan itu membuat Cici semakin tidak nyaman.


"Aku, aku tidak tahu kemana mereka pergi, yang pasti tidak ada orang saat aku ke pantri" Cici masih berusaha menghindari tatapan mata Aryo.


Aryo tersenyum, dia semakin mendekati Cici. Dan laki laki itu berhasil mengunci tubuh dengan satu tangannya lagi saat Cici berusaha menggeser tubuhnya.


Cici menunduk berusaha menybunyikan wajahnya. Aroma wangi dari parfum Aryo menyeruak ke dalam hidung Cici membuat dada perempuan itu semakin tidak karuan.


"Aku sudah mengantar kopimu, sekarang aku harus kembali bekerja" Ucapnya sambil berusaha menerobos tubuh Aryo. Namun kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan laki laki itu.


Saat Cici mendorong tubuh Aryo dengan ke dua tangannya, laki laki itu hanya diam, tubuhnya tak bergeser sedikit pun.


"Aku harus segera kembali ke ruang kerjaku!" Ucap Cici dengan nada setengah berteriak.

__ADS_1


"Menemaniku juga termasuk pekerjaanmu kan?" Mata Aryo menyapu wajah Cici, dan memaku pandangan matanya tepat di bibir perempuan itu.


"Menemanimu?" ucapnya penuh dengan penasaran. Dia terkejut dengan ucapan Aryo, namun perempuan itu berusaha menetralkan perasaan dan pikirannya melayang jauh ke arah lain.


"Menemaniku menyelesaikan proposal tentunya" ucap laki laki itu untuk memperjelas.


"Oh" ucap Cici, ada rasa kelegaan di dalam hatinya saat itu.


"Oh??" Aryo mengulangi kata itu dengan dahi yang berkerut.


"Apa baru saja kamu berfikir untuk menemaniku ke hal yang lain?" ucapan Aryo membuat hati Cici semakin memanas, darahnya juga berdesir tidak karuan.


"E, " Cici tidak bisa menyangkal, bibirnya bergetar sementara pipinya merona seketika.


Cici menyadari kalau Aryo terus menatap ke arah bibirnya, dia pun menangkupkan ke dua bibirnya dalam dalam.


Ujung bibir Aryo terangkat, dia tersenyum manis melihat sikap Cici.


"Kenapa kamu melakukan itu?" ucapnya seketika.


"Mm??" Cici bergumam tidak paham dengan ucapan Aryo.


"Iya, kenapa kamu menyimpan bibirmu seperti itu?"


"Tidak apa apa, Maaf Aryo tapi aku harus kembali bekerja!" ucapnya lagi, meminta agar laki laki itu menyingkir dari hadapannya.


"Kalau aku tidak mau?" Aryo membungkuk, wajahnya semakin dekat dengan Cici. Hingga nafasnya menyapu wajah perempuan itu.


Pipi Cici semakin memanas, dia tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya yang teramat.


Kini Aryo telah berhasil mendaratkan kepalanya di kening Cici. Dan membuat perempuan itu membulatkan matanya, dadanya juga berdetak dengan cepat.


"Apa yang"


"Diam!" Aryo menutup matanya, menempelkan hidungnya di hidung Cici. Perlahan menggerser posisi hidungnya agar berada di sebelah hidung Cici hingga mulut mereka saling berdekatan, belum menempel namun tak ada satu senti jarak di bibir mereka.


Cici menutup matanya rapat, hingga terlihat kerutan kasar di sekitar matanya. Dia tidak bisa berfikir dengan jernih, angannya melayang jauh karena sikap Aryo. Darahnya kembali berdesir saat laki laki itu menggerakkan kepalanya, memainkan hidung Cici di sana dengan hidungnya.


Aryo tersenyum saat tidak ada penolakkan dari Cici.


Laki laki itu membuka matanya untuk mengawasi ekspresi Cici.


Kini dia sedikit mengubah posisi kepalanya sedikit miring untuk mempermudah mencium perempuan itu.


Tubuh Cici itu terasentak kaget ketika Aryo mencium bibirnya, hingga dia reflek menarik punggungnya lagi ke arah belakang.

__ADS_1


Aryo mersponnya dengan meraih pinggang Cici, menarik tubuh perempuan itu ke dalam dekapannya dan salah satu tangannya lagi meraih tengkuk Cici. Menahan kepala peremuan itu agar tidak menjauh saat Aryo melumat bibirnya.


Ke dua tangan Cici meraih bibir meja dan mencengkeram kuat di sana saat Aryo semakin memperdalam ciumannya.


Dia tidak bisa menolak Aryo saat menciumnya, Cici menikmati permainan bibir Aryo, bibirnya terasa sangat lembut dan manis.


Tangan Cici bergerak dengan sendirinya meraih jas Aryo dan mencengkeram erat pinggang laki laki itu.


Aryo membuka mata saat Cici merespon ciumannya, ada guratan kebahagiaan di matanya saat mengetahui perempuan itu menikmati bibirnya. Kini dia membiarkan Cici yang mengambil alih ciumannya.


Mata Aryo masih membuka mengawasi wajah Cici, dia menarik kepalanya melepaskan ciuamannya.


Namun Cici masih menginginkannya tubuhnya bergerak maju seakan tidak mau melepaskan bibir Aryo, hingga perempuan itu tidak sadar kalau Aryo sedang menggodanya.


Akhirnya Cici menyadari dan menarik kepalanya menjauh dari Aryo saat laki laki itu terasa sedikit menjauh.


Bibir Aryo tersenyum lebar saat melihat Cici menginginkan dirinya.


Sementara Cici pipinya semakin memerah padam karena malu.


"Ya ampun!! apa yang sudah aku lakukan?"


"Kamu menyukainya?" bisik Aryo.


Cici menarik kembali tangannya yang masih mencengkeram erat jas Aryo.


Dia menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya lagi, kali ini dia benar benar sangat malu.


Aryo sudah berhasil membuat perempuan itu tergila gila dengan ciumannya.


"Apa yang harus aku lakukan?, ,aku benar benar malu"


Aryo berusaha membuka ke dua tangan Cici yang sudah menutupi wajahnya beberapa detik sebelumnya.


"Kenapa kamu memyembunyikan wajahmu"


"Jangan melihat ke arahku!" teriak Cici.


Aryo merasa sangat senang ketika mengetahui Cici sudah bisa menerimanya.


Laki laki itu berhasil menahan ke dua tangan Cici. Kini dia mendekati telinga Cici dan berbisik di sana.


"Pulang kerja tunggu aku ya" Aryo mengecup leher Cici setelahnya. Membuat tubuh perempuan itu menegang seketika.


Sementara Aryo terkekeh melihat tingkah Cici.

__ADS_1


__ADS_2