
Sunyi, itulah yang dirasakan Bunga saat ini. Yang terdengar di telinganya hanya detak jantung dan detik jam yang saling bersahutan.
Tidak tau kenapa Davien menyeretnya masuk ke dalam ruang kerja.
karena saat ini laki laki itu hanya diam dan sibuk dengan kerjaannya.
"Apa maksudnya coba??, , membawaku kemari tapi hanya diam dan tak ada penjelasan sedikit pun kenapa membawaku kemari!"
Bunga mulai gelisah, sesekali matanya melirik Davien yang diam seolah menganggap bahwa tak ada perempuan itu di sana.
"Pres Dir?" Bunga berucap dengan lirih, karena takut akan menganggunya.
"Ini sudah jam makan siang, bolehkah aku kembali ke pantri untuk"
"Tidak perlu!" Davien menekan tombol intercom yang menghubungkan langsung ke seluruh bagian di perusahaannya, salah satunya di bagian patri.
"Loria, , bawa makanan untuk dua orang ke ruanganku segera!"
Bunga terbelalak kaget. Bukannya manyuruh Bunga yang sedang duduk santai di sofa, tetapi malah menyuruh Loria untuk membawa maknanannya.
"Pres Dir bukankah itu tugasku?" Bunga menatap kebingungan ke arahnya.
Davien menghela nafas panjang, mengalihkan pandangannya ke arah Bunga kemudian.
"Kamu duduk saja di situ" Davien kembali melanjutkan pekerjaannya.
Bunga benar benar di buat frustasi dengan sikap Davien, baru juga beberapa menit yang lalu laki laki itu bersikap dingin. Tetapi beberapa menit kemudian sikapnya berubah drastis. Tatapannya tak setajam semula, nada bicaranya pun terdengar lembut.
"Apa dia hari ini salah minum obat? ya ampuuunnn kalau aku hanya duduk di sini saja, apa dia tidak akan memotong gajiku??"
Bunga menghela nafas panjang, pandangannya tertuju ke pintu yang sengaja di buka dari arah luar. Loria melangkah masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman di atasnya.
Loria terkejut ketika melihat Bunga duduk di sofa.
"Kak Loria?" Bunga beranjak dari sofa, bermaksud menghampiri Loria dan ingin mmebantunya.
Tetapi Davien menghentikannya.
"Siapa yang menyuruhmu berdiri??" ucapnya kepada Bunga.
" Duduk!" perintahnya.
Bunga terpaku. Belum sempat dia melangkah Bunga kemudian duduk kembali.
"Loria! berikan makanan itu untuknya" ucap Davien merujuk kepada Bunga.
"Baik Pres Dir" dengan patuh Loria membawa makanan serta minuman itu ke meja.
Loria membungkuk saat meletakkan makanannya. Saling memberi isyarat dengan melempar pandang satu sama lain.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" bisiknya dengan sangat perlahan agar Davien tak mendengar.
"Aku juga tidak tahu, " Bunga menggerakkan sedikit kepalanya untuk memastikan, Davien masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Apa kamu berbuat kesalahan?"
Bunga menggelengkan kepalanya.
"Apa perlu waktu berjam jam hanya untuk menaruh makanan itu!" Davien berucap, namun pandangannya masih tertuju ke berkas yang ada di atas meja.
Loria ketakutan dengan segera dia berdiri tegak dan pamit undur diri kembali ke pantri.
"Permisi Pres Dir" Loria membungkuk kemudian melangkah keluar.
♡♡♡
Davien beranjak berdiri melangkahkan kakinya menuju ke sofa. Laki laki itu duduk di seberang meja berhadap hadapan dengan Bunga.
"Kamu tidak lapar?" ucapnya sembari menyiapkan makanan untuk Bunga.
"Pres Dir?"
"Aku tidak memintamu untuk melontarkan pertanyaan!" Davien menatapnya, seolah tahu bahwa Bunga pasti akan menanyakan hal apa yang membuatnya harus tetap bertahan di sana. Davien kemudian memberikan makanan itu kepada Bunga.
"Makanlah, , " Davien masih menunggu Bunga untuk meraih piring dari tangannya.
"E, ,terima kasih" keberanian Bunga seketika menghilang, biasanya dia melawan Davien tetapi kali ini dia hanya bisa diam mematuhi semua perintah atasannya. Entah kenapa tatapan matanya membuat Bunga luluh. Tapi tersirat akan sebuah rahasia di dalamnya matanya.
Bunga tak tahu apa itu, tetapi sikap Davien yang tiba tiba berubah membuatnya merasa tidak nyaman.
Davien menatapnya semakin lekat, membuat Bunga menjadi salah tingkah.
"Apa aku harus menyuapimu?" Davien berucap untuk membuat Bunga yang tengah terdiam agar segera menghabiskan makanannya.
__ADS_1
Bunga kemudian menundukkan kepala, tangannya sibuk mengacak acak makanan tanpa mencicipinya pesikit pun.
Di seberang meja Davien masih terus menatapnya. Mengawasi wajah Bunga yang muram.
"Apa yang kamu pikirkan?" ucap Davien kemudian.
"Kenapa harus bertanya!!, , jelas saja karena sikapmu!!"
Bunga menghela nafas panjang, menetralkan perasaan gugup bercampur jengkel karena sikap Davien yang berubah drastis.
"Bolehkah aku kembali bekerja?" ucapnya dengan nada memohon.
Davien mengerutkan dahinya.
"Bukankah sekarang kamu sedang bekerja?, , pekerjaanmu adalah melayaniku!, , jadi diam dan tetap duduk di tempatmu!"
"Apa apaan ini!!, , apa aku harus keluar dari perusahan ini??, , laki laki aneh! jangan Bunga. Bertahanlah sampai akhir bulan, setidaknya sampai kamu mendapatkan gaji. Rugi kalau kamu harus keluar saat ini!!"
"Aku punya tawaran untukmu!" Davien berucap dengan bersungguh sungguh. Membuat Bunga yang mendengarnya semakin gugup dan kebingungan.
"Keluarlah dari perusahaanku!! aku akan memberikan kompensasi yang sangat besar untukmu!"
"Apa??, , dia menarikku dan membawaku kemari lalu menyuruhku menunggu hampir satu jam hanya untuk mengatakan hal ini??, , bodoh Bunga!!, , kamu bahkan sempat berharap hal yang tidak akan mungkin terjadi!!, , apa yang sedang kamu pikirkan Bunga!, , sadarlah"
Ya!, entah untuk beberapa saat tadi ketika melihat Bunga bersama dengan Roland, Davien merasa tidak ingin perempuan itu berada dekat dengan orang lain.
Tetap ketika bayangan Essie muncul kembali rasa benci kepada Bunga kembali mencuat dari dalam hatinya.
"Maaf, , aku tidak ingin keluar dari perusahaan ini" Bunga sempat berfikir untuk mengundurkan diri setelah satu bulan bekerja nantinya, tetapi mengingat sikap Davien yang menjengkelkan Bunga semakin ingin bertahan untuk membuat Davien tahu bahwa Bunga bukanlah perempuan yang mudah menyerah begitu saja. Bunga hanya merasa aneh dia merasa hanya dirinya yang diperlakukan tak adil oleh Davien.
"Jika tidak ada hal lain, , saya akan kembali bekerja. Permisi Pres Dir" Bunga beranjak berdiri, menganggukkan kepala sebelum melangkah keluar dari ruangan.
"Sial!!, , bagaimana bisa perempuan seperti dia mengacau pikiranku!!"
Davien mengusap wajahnya gusar, kemudian menunduk, memijat pelan keningnya.
"Pres Dir?, , Tuan Marvel sudah tiba di ruang rapat" James yang baru saja masuk, menyelidik ke raut wajah Davien yang terlihat memucat.
Setelah semalam bermimpi tentang Essie, Davien tak bisa kembali tidur dengan nyenyak. Terlebih lagi ketika bayangan wajah Bunga mengganggu pikirannya. Entah karena ada beberapa bagian dari Essie yang di miliki oleh Bunga atau karena hal lain. Tetapi semenjak bertemu dengan Bunga hampir setiap malam tidurnya tak bisa nyenyak.
"Anda baik baik saja?" James berucap lagi untuk memastikan.
"Aku baik baik saja!" Suaranya terdengar lemah. Davien hanya merasa sedikit lelah dan kurang tidur.
♡♡♡
Setelah selesai rapat, Davien mengantar Marvel sampai kedepan halaman lobi. Mereka berjabat tangan satu sama lain utuk saling mengucapkan rasa terima kasih.
Marvel kini pandangannya terarah kepada Bunga yang tengah berjalan menuju ke arah dalam.
"Bunga??"
Davien menoleh, menatap Bunga yang sedang tersenyum ke arah Marvel.
"Kak marvel?" Bunga berlari dan menyambut Marvel dengan sangat gembira. Senyum lebar pun menghiasi wajahnya.
Bunga bahkan melewati Davien begitu saja ketika menghampiri marvel.
Davien merasa tidak suka melihat hal itu, dia kemudian membuang pandangannya ke arah lain.
"Jadi kamu bekerja di sini?" Marvel mengusap ujung kepalanya.
"Iya kak, , kak marvel"
"Ini masih jam kerja, , kenapa kamu berkeliaran di luar??" Davien memotong pembicaraan. Membuat senyum yang menghiasi bibir Bunga menghilang perlahan.
Bunga melirik sengit ke arah Davien, setelahnya dia lebih memilih pergi ketimbang beradu mulut dengan laki laki itu.
"Jangan terlalu keras dengannya" Marvel tersenyum, tangannya bergerak menepuk pundak Davien.
"Hidupnya sudah terlalu berat, ,Bunga sudah tak memiliki siapa pun yang bisa menjaganya di dunia ini".
Davien sempat terpaku mendengar ucapan Marvel tentang Bunga. Tetapi egonya tetap bisa menguasai hatinya dengan baik.
"Itu bukan urusanku!"
"Ayolah Davien, , dia perempuan yang sangat baik. Aku mohon jaga dia, jangan kamu tambahi dengan menyiksanya di sini" Marvel tersenyum tipis ke arah Davien.
"Kamu menyukainya??" ucap Davien seketika.
Senyumnya semakin melebar hingga hampir memenuhi wajahnya.
"Apa kamu masih perlu jawaban?" Marvel megangkat kedua alisnya secara bersaman.
__ADS_1
Davien terkekeh kemudian berucap dengan nada mengejek.
"Apa tidak ada perempuan lain?"
"Ayolah Davien, ,aku bukan dirimu! tak ada perempuan yang sama di dunia ini, jika kamu masih belum bisa melupakannya, kamu akan kesulitan sendiri nantinya. Bukalah hatimu untuk perempuan lain" Marvel memukul pelan bagian dadanya seolah memberi semangat kepada Davien untuk terus melanjutkan hidup dan melupakan Essie.
♡♡♡
"Hari ini Pres Dir tidak masuk, , aku dengar dia sakit, jadi aku bisa bersantai hari ini" Bunga merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Dari pada tidur, lebih baik membantuku membagikan minuman ini ke bagian ruang personalia" ucap Loria yang tengah bersiap melakukan aktifitas pagi harinya.
Bunga beranjak kemudian duduk di sofa.
"Ka Loria, , baru juga aku ingin bersantai, , tidak bisa apa melihat orang senang?"
"Bunga??" James muncul secara tiba tiba dari arah luar. Membuat Bunga yang masih terduduk kemudian langsung berdiri menyambut kedatangan James.
"Iya??"
"Antarkan berkas ini ke rumah Pres Dir" James mengulurkan tangannya memberikan beberapa map kepada Bunga
"Supir akan mengantarmu. Dan tolong jaga Pres Dir untuk hari ini. Karena kemarin aku sempat melihat dia sedikit kurang sehat. Aku takut dia tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Maaf aku harus segera pergi memimpin rapat untuk mewakili Pres Dir" James segera pergi meninggalkan pantri.
Sementara Bunga masih terlihat kebingungan sembari menatap map di tangannya.
"Apa yang sedang kamu tunggu??, , pergilah!!, , jangan sampai membuat Pres Dir menunggu lama" Loria berucap untuk membuat Bunga tersadar dari lamunanya.
♡♡♡
Ting tong!!
Bunga menyelidik ke setiap sudut rumah besar itu, hampir setiap sisi dikelilingi oleh kaca tembus pandang. Bunga tak bisa memastikan keadaan di dalam dari arah luar karena semua gorden masih tertutup rapat.
"Rumah sebesar ini apa tidak ada pelayan??" dia merasa jengkel karena tak mendapat sahutan dari arah dalam.
Sekali lagi Bunga menekan tombol belnya, dan tak lama kemudian Davien dengan wajah yang memerah pucat membukakan pintunya.
Bunga menatap heran wajah Davien yang berantakan, rambut acak acakkan serta kaos yang berantakan.
"Pres Dir??, , kamu baik baik saja?"
Davien tak bergeming, laki laki itu kemudian melangkah masuk dan duduk di sofa. Menyandarkan tubuh ke belakang kemudian menyalakan Tv.
Bunga berjalan mendekat, pandangannya menyelidik ke sekitar dia nampak keheranan saat tak melihat seorang pun berada di sana. Sekali pun itu seorang pelayan.
"Pres Dir apa kamu sendirian di rumah?, , Orang tuamu?" Bunga kemudian duduk di sofa tungga di sebelah sofa di mana Davien berada.
"Ini rumahku!, , aku tinggal sendirian!" Davien berucap, namun matanya tak pernah teralihkan dari Tv.
"Lalu, , pelayan?"
"Aku tidak suka ada orang lain di dalam rumahku!!" Davien melirik ke arah Bunga. Perempuan itu kemudian salah tingkah karena merasa tidak nyaman dengan ucapan Davien.
"Maaf Pres Dir, , aku kemari hanya ingin mengantar berkas ini" Bunga meletakkan berkas itu ke atas meja
"Kalau begitu aku akan pergi" Bunga menundukkan kepala sebelum beranjak dari sofa.
"Apa aku bilang kalau orang itu adalah kamu!!"
"Ha??" Bunga terpaku, dia tidak mengerti dengan ucapan Davien.
"Aku memang tidak suka kalau ada orang lain di rumahku!!" Davien sedikit menoleh dan melihat ke arah Bunga.
"Tetapi itu bukan kamu"
"Oh, , " mendengar ucapan Davien, dada Bunga serasa mau melayang. Dia merasa senang seolah merasa seperti dibutuhkan oleh Atasannya. Senyum tipis pun terlihat menghiasi bibirnya.
"Uhuk!!!" Davien terbatuk batuk hingga beberapa kali.
"Sebentar Pres Dir aku akan membuatkanmu minuman" Bunga beranjak berdiri lalu segera pergi ke dapur. Mencari segala macam apa pun yang bisa dia gunakan untuk membuat ramuan pereda batuk. Minuman tradisional yang dulu sering diajarkn oleh Neneknya.
Bunga tak menemukan apa pun di sana, karena Davien jarang masak bahkan makan di rumahnya. Hanya ada jeruk lemon yang biasa Davien gunakan untuk membuat minuman kesehatan.
Setelah mencucinya, Bunga menekan nekan jeruknya, agar ketika di peras akan ada banyak air yang keluar dari dalamnya. Setelahnya dia meraih pisau kemudian mengirisnya menjadi dua tepat di tengah tengah.
"Apa yang sedang kamu lakukan??" suara Davien yang tiba tiba datang dari arah belakang membuat Bunga terperanjat kaget hingga tak sengaja jarinya terkena ujung pisau.
"Au!!" keluhnya. Bunga melempar pisau begitu saja. Kemudian bergerak mendekati wastafel. Belum sempat membersihkan darah yang mengalir keluar dari jarinya, Davien meraih lengan memaksa Bunga menghadap ke arahnya. Kemudian laki laki itu melirik ke jarinya yang berdarah.
"Pres Dir, aku harus membersihkan darahnya" Bunga berusaha menarik tangannya, tetapi Davien menahan dan mengarahkan jari Bunga yang terluka ke arah mulutnya.
♡♡♡
__ADS_1
DITUNGGU BINTANG LIMA dari kamu kesayangaaaan😍😍😘