Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#68 Kebohongan


__ADS_3

 


Paginya leo kembali menemui klara untuk menemaninya kontrol dan mengikuti terapi lagi.


 


tingtong, tingtong, , leo memencet bel apartement milik barack.


Tidak lama setelah itu, pelayan membukakan pintu untuknya dan mempersilakan leo untuk masuk ke dalam.


Dia melihat klara tengah duduk di sofa, pagi itu dia terlihat cantik, sepertinya dia sedang menunggu seseorang untuk menjemputnya.


Klara membuang pandangannya ke arah leo yang baru saja datang, nampak sekali kalau dia merasa kecewa, jelas yang sedang ditunggu adalah barack.


"Kamu?".


"Barack tidak bisa mengantarmu, jadi dia meminta tolong kepadaku untuk menemanimu ke rumah sakit" leo berbohong, sudah tahu dengan pasti kalau barack menolak mengantar klara karena sudah dua hari dia menelantarkan kerjaannya demi menemui klara.


"Mm, , " klara mengangguk dengan pelan.


Dia pun segera bangkit dari tempat duduknya.


Leo melihat klara sedikit merasa kesusahan saat akan berdiri, makanya dia segera membantu klara dengan memeluk pinggangnya dari arah samping sambil membantunya berdiri.


"Kamu tidak apa apa?" tanya leo.


Klara mengarahkan pandangan matanya ke arah leo yang berdiri tepat di sampingnya.


Entah mengapa, dia merasa ada yang aneh di dalam hatinya saat itu.


Wajah leo begitu dekat dengannya kali ini.


"Tanganmu" klara berusaha memaksa leo melepas tangannya yang dengat erat memeluk pinggangnya.


"Maaf, , aku akan membantumu berjalan sampai ke mobil" kata leo sambil menggenggam erat tangan klara.


Klara hanya diam, sambil terus memandang ke arah tangannya.


 


Sampai di rumah sakit, klara menemui dokter di ruangannya.


 


"Dua hari ini, perkembangan syarafmu di luar dugaan, semuanya membaik bahkan hasilnya lebih dari apa yang kita bayangkan" kata dokter sambil membaca selembar kertas berisi grafik hasil kesehatan klara.


Klara hanya diam sambil memperlihatkan senyum tipis di wajahnya.


Dokter melihat ke arah ke luar dari dalam ruangannya, terlihat dari balik pintu kaca, leo sedang menunggu sambil duduk di ruang tunggu.


"Pasti kamu sangat senang, ketika mempunyai teman laki laki yang begitu perhatian denganmu seperti dia" dokter sedikit menengadahkan kepalanya seperti sedang menunjuk ke arah leo.


Klara membuang pandangnnya ke arah leo.


"Dia?" nada suaranya seperti sedang memastikan kepada dokter.


"Iya, , dia laki laki yang selalu berada di sampingmu semenjak kamu tidak sadarkan diri, dia tidak pernah melewati semalampun tanpa menunggumu, , apa dia tidak memberitahumu??" dokter bertanya kepada klara.


Terlihat dari wajah klara kalau dia tidak tahu akan hal itu, di pikirannya selama ini yang menjaganya saat koma adalah barack.


Wajahnya nampak kecewa, namun melihat raut wajah leo dari balik pintu kaca yang sangat terlihat khawatir tentangnya, membuat dia sadar, kalau leo memang benar benar sedang menebus kesalahannya.


Klara keluar dari ruang dokter, pandangannya selalu tertuju ke arah leo yang dengan sigap membantunya saat melihat klara keluar dari ruang dokter.


"Bagaimana kata dokter?" tanya leo.


Terlihat sekali raut wajahnya begitu khawatir.


"Mm, , bagus, kata dokter perkembangan kesehatanku sangat memuaskan" kata klara sambil terus menatap mata leo dengan lekat.


Leo kembali menatap mata klara dengan lembut.

__ADS_1


"Kenapa?" leo bertanya karena merasa ada yang aneh dengan klara, tidak biasanya dia menatapnya seperti sekarang ini.


"Mmm, , tidak apa apa, bisa kita langsung pulang?" tanya klara.


"Iya" jawab leo.


Dia pun mengantarkan klara pulang.


 


Sampainya di apartemen leo meminta kepada pelayan untuk menyiapkan minuman.


 


Klara yang sedang duduk di sofa mencoba membuka tasnya dan mengeluarkan semua obat tambahan yang tadi di berikan oleh dokter.


"Minumlah, aku akan menyiapkan obatnya" leo meletakkan segelas air putih di atas meja.


Kemudian dia meraih tas yang masih di pegang oleh klara dan mengambil semua obat yang ada di dalamnya.


Tanpa sengaja dia menjatuhkan flash disck yang di temukan oleh klara waktu itu.


"Ini flash disck apa?" tanya leo memastikan isi dari flash disck itu kepada klara.


Klara terdiam sambil melihat ke arah flash disck yang di pegang oleh leo.


"Aku juga tidak tahu, , bisakah kamu memutarkannya untukku?" kata klara sambil membuka satu persatu obat yang masih terbungkus rapi.


Leo beranjak dari sofa dan berjalan mendekat ke arah tv, dia menyolokkan flash disck itu ke lubang yang ada di sebelah samping tv itu.


Dia kembali ke tempat duduknya, meraih remot tv yang ada di atas meja. Leo menyalakan tv dan keluar sebuah pilihan menu, terlihat hanya ada satu pilihan di menu itu yaitu video.


Video itu merupakan isi dari flash disck yang baru saja leo pasang ke tv.


"Hanya ada video?" leo meyakinkan kepada klara, apakah dia akan memutarnya atau tidak.


"Putar saja aku ingin melihatnya" kata klara.


Terdengar suara luna dan barack dari arah tv, klara pun yang tengah sibuk menyiapkan obatnya segera memalingkan pandangan matanya ke layar besar yang ada di depannya.


Wajahnya memaku, melihat setiap adegan luna dan barack di dalam video itu.


Leo pun begitu, wajahnya tampak pucat setelah melihat isi video yang baru saja dia putar.


"Klara, kamu baik baik saja?" tanya leo memastikan keadaan klara.


"Aku akan mematikannya" kata leo.


"Jangan!!!" sahutnya


Klara masih terus diam, mengamati wajah luna dan barack, melihat mereka sedang memakaikan cincin ke jari mereka masing masing. klara pun teringat dengan cincin yang pernah dia minta kepada barack waktu itu.


Seketika air mata klara pun keluar dengan sendirinya.


"Kamu tahu tentang semua ini?" klara bertanya kepada leo namun pandangan matanya masih terus tertuju ke video itu.


Leo tidak bisa menjawab, wajahnya bertambah pucat takut sesuatu akan terjadi padanya.


"Kamu tahu tentang ini semua kan?" klara bertanya lagi untuk memastikan kalau leo memang benar benar tahu tentang hubungan mereka.


Tapi dari nada bicaranya, masih terdengar datar, belum terlihat kalau dia sedang menahan emosinya.


"Kenapa kamu diam saja, , kenapa tidak memberitahuku tentang hubungan mereka yang sebenarnya?, , sejak pertama kali aku bertemu dengannya di galeriku, aku memang sudah merasa aneh dengan tatapan mereka berdua, tapi dia bilang dia adalah sepupunya, , , bagaimana bisa dia mengabaikan perasannya sendiri. Kenapa kalian semua membohongiku?" klara menghentikan pembicaraanya, sengaja memberi waktu untuk leo menjawab pertanyaan darinya.


Namun leo hanya diam, bahkan dia tidak berani melihat ke arah mata klara.


"Terlebih kamu, leo!!!, , bisa bisanya kamu membohongiku seperti ini, aku sengaja bertahan karena berharap barack akan kembali ke sisiku, namun kalau aku tahu yang sebenarnya, aku tidak mungkin merusak hubungan mereka, kalian semua membuatku menjadi seperti orang jahat!! kenapa leo??" kata klara.


"Mereka memang berencana mengatakan soal pertunangan mereka, namun waktu itu kamu koma, melihat kondisi kamu yang memburuk, luna melarang barack untuk mengatakan semuanya kepadamu" leo mencoba menjelaskan.


"Apa kalian senang membuatku terlihat bodoh seperti ini?" klara menggelengkan kepalanya, seperti dia sedang tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


Dia mengusap air mata yang mengalir ke pipinya dengan kasar.


"Klara aku minta maaf" kata leo dengan wajah penuh penyesalan.


"Kenapa kamu selalu meminta maaf denganku!!" klara mulai sedikit menaikkan nada bicaranya.


Ting ting, , ting tong, , suara bel apartement membuat klara harus meredakan emosinya.


"Aku akan membukanya" kata leo.


"Tidak usah, biar aku saja!!!" kata klara sambil beranjak dari sofa, dan berjalan menuju ke arah pintu.


Klara membuka pintu, tubuhnya memaku ketika melihat orang yang berdiri depannya ternyata adalah mamahnya barack.


Raut wajah bu bowo begitu terkejut melihat klara berdiri membukakan pintu apartement milik anaknya.


Kantong kresek yang di genggamnya berisi buah buahan dan bahan bahan makanan pun berjatuhan ke lantai.


Bu bowo menutupi mulutnya dengan salah satu tangannya karena merasa kaget, melihat wanita yang telah meninggalkan luka di dalam hatinya itu kini berdiri tepat di depannya.


"Sedang apa kamu di sini?" kata bu bowo dengan nada rendah namun terdengar penekanan di setiap kata katanya.


Bibirnya bergetar menahan amarah di dalam hatinya.


"Tante, aku bisa jelaskan" klara mencoba meraih tangan bu bowo.


Dengan kasar dia menepis tangan klara yang berusaha menyentuhnya itu.


"Aku tanya sedang apa kamu di sisni!" bu bowo menaikkan nada bicaranya.


Dari arah dalam leo mendengar teriakan itu, dia pun segera berlari ke arah pintu masuk.


Melihat klara sedang di bentak bentak oleh mamahnya barack, dia berusaha untuk menenangkan ke duanya.


"Tante?, ,tenang dulu, kita bisa bicarakan semua ini dengan baik" kata leo mencoba menenangkan bu bowo.


Mata bu bowo memerah, dia tidak bisa menahan emosi ketika mendapati klara ada di dalam apartement barack.


"Siapa yang memberimu ijin untuk masuk ke apartement anakku!!!, , keluar kamu, keluar!!!, , keluar sekarang juga atau aku akan memanggil satpam kemari" bu bowo terus berteriak ke arah klara sambil menarik tangan klara dengan paksa.


Sedangkan klara hanya berdiam diri menerima perlakuan bu bowo kepadanya.


" Mamah!!!, " barack yang baru saja datang langsung mencoba menenangkan mamahnya yang masih terbakar emosi.


Barack mendekap tubuh mamahnya untuk menahannya agar tidak menyakiti klara.


"Mah, tolong tenanglah, jangan seperti ini" kata barack mencoba menenangkan mamahnya kembali.


Terlihat bu bowo melepaskan tangan klara, tubuhnya pun goyah karena kepalanya merasakan sakit yang teramat.


Segera leo langsung membawanya ke dalam apartement.


 


Suasana di ruang tv apartement barack terasa begitu dingin, aura di sekitar bowo terasa masih kental dengan emosinya yang membara.


 


Barack mencoba menjelaskan kenapa klara bisa ada di apartementnya itu.


Dilihat dari wajah mamahnya, sepertinya dia belum bisa menerima kenyataan yang sebenarnya, baik mengenai adanya klara di sana ataupun alasan kenapa dulu klara meninggalkannya, barack sudah menceritakan kepada mamahnya.


"Bagaimana pun juga mamah tidak bisa menerima semua ini" kata mamahnya kepada barack yang duduk di sampingnya.


Klara mulai tersadar dari pingsannya, dia mencoba membuka matanya perlahan dan langsung mengarahkan pandangnnya kepada bu bowo.


"Aku tidak ingin melihatmu lagi di sini, setelah kamu baikan, lebih baik kamu segera meninggalkan tempat ini!" kata bu bowo kepada klara.


"Mah, ," barack berucap dengan nada lembut, seperti sedang memohon kepada mamahnya.


Namun mamahnya tidak mau mendengar alasan apapun dari barack.

__ADS_1


***


__ADS_2