
MAAF KALAU SEBELUMNYA NOVEL INI MEMBUAT KALIAN KECEWA πππ
πππ
TETAPI AUTHOR SELALU BERUSAHA MEMBUAT KALIAN SENANGπππ
β‘β‘β‘
Sebuah mobil hitam terlihat berhenti di depan sebuah toko.
Ketika seorang laki laki dengan mengenakan hoodie berwarna gelap keluar dari toko, mobil hitam itu langsung bergerak mengikutinya dari arah belakang.
Laki laki itu terlihat berjalan melewati keramayan, sesekali dia nampak menyelidik ke arah belakang, seolah dia tahu kalau ada seseorang yang sedang mengikutinya.
Hingga akhirnya di persimpangan jalan. Laki laki tersebut memilih untuk melewati gang sempit, di mana hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki.
Dengan terpaksa mobil yang sedari tadi mengikutinya pun berhenti. Dua orang nampak keluar dari mobil itu dengan mengenakan jas lengkap berwarna hitam.
Mereka berlari mengerjar laki laki yang mengenakan hoodie tersebut.
Laki laki itu adalah Ernest, dia sadar ketika mendengar langkah orang yang mengerjarnya semakin cepat dan mendekat.
Hingga di ujung jalan dia tak menemukan tempat untuk bersembunyi, tiba tiba seseorang menarik tangannya dan membekap mulut Ernest dengan kuat.
Ernest berusaha melawan, namun laki laki yang membekapnya tak sendirian. Dia berdua dengan teman lainnya.
Di ruang kecil yang gelep itu, Ernest hanya bisa melihat mata laki laki yang terkena sorot sinar matahari yang mencuat dari celah dinding di sekitar.
Laki laki itu menyuruh Ernest untuk diam dengan dengan jari telunjuknya.
"Sssssttt"
Kini ujung mata mereka tertuju ke arah ke celah pintu, di sana mereka melihat beberapa orang yang sempat mengejarnya tadi berhenti tepat di depan pintu di mana Ernest berada.
__ADS_1
"Kemana dia??" suara yang terdengar tidak asing itu muncul dari arah lain.
Ernest membulatkan penuh matanya, ketika menyadari suara itu adalah milik Adrian.
Nafas mereka di dalam sana memburu. Di dalam kegelapan mereka saling melenpar pandang.
"Dia pasti sudah lari jauh, kalian tetap cari jalan lain. Aku akan menggeledah rumahnya!!" perintah Adrian tak terbantahkan.
Mereka langsung pergi sesuai instruksi yang mereka dengar.
Setelah menunggu beberapa saat, ketika suasana sudah mulai tenang. Laki laki yang membekap mulut Ernest pun menarik tangannya kembali. Dia membuka pintu yang sedari tadi menyelamatkan mereka.
Ernest melompat keluar dari tempat itu dan menyelidik ke arah dua orang laki laki yang berdiri di depannya.
"Siapa kalian??" pandangan mata Ernest mulai terlihat waspada.
Dua orang laki laki di depannya itu adalah Barack dan Anak buahnya.
"Lalu siapa kalian?, ," Ernest terlihat memandang ke arah Barack dan laki laki yang ada di sebelah Barack secara bergantian.
Barack dan Anak buahnya hanya saling melempar pandang.
β‘β‘β‘
Barack memutuskan untuk mengajak Ernest berdiskusi di dalam mobil, karena baginya tidak mungkin mengajak Ernest kembali ke rumahnya. Di mana Adrian dan anak buahnya sedang berada di sana.
"Katakan padaku?, , siapa kalian?, , apa yang kalain inginkan dariku?" Ernest berucap seolah dia mengetahui maksud Barack sebelumnya yang telah menyelamatkannya.
Laki laki itu membuang pandangannya ke arah Barack yang duduk di kursi depan. Sementara dirinya duduk di kursi penumpang.
"Aku membutuhkan bantuanmu" sejenak Barack mengalihkan pandanga ke arah Anak buahnya. Dan ketika Anak buahnya itu menganggukkan kepalanya, Barack kembali melanjutkan pembicaraan. Dia seperti sedang mayakinka diri untuk membicarakan masalah yang sedang dia hadapi.
"Aku tidak bisa membantumu!, , aku bahkan tidak mengenal kalian!!"
__ADS_1
"Hanya kamu yang bisa melakukannya!, ,kamu tahu semua tentang kejadian 10 tahun yang lalu mengenai kematian Felis??" Barack berucap dengan nada penuh keyakinan.
Ernest terlihat sangat terkejut, dia membuka matanya lebar lebar setelah mendangar ucapan Barack. Laki laki itu bersikap seolah tak mengetahui tentang kejadian yang di maksud.
"Aku tidak mengerti dengan ucapanmu!, , maaf tapi aku harus pergi!" Ernest membuja pintu mobil, namun belum sempat melangkahkan kakinya, Barack berucap untuk menahan laki laki itu.
"Sampai kapan kamu akan lari seperti ini darinya??, , ini kesempatan bagimu menjebloskan Adrian ke dalam penjara. Karena hanya dengan begitu hidupmu akan bebas tanpa harus terus bersembunyi darinya. Apa kamu ingin terus melakukan itu. Ingin terus bersembunyi dari Adrian?
Kamu juga akan menolong hidup orang lain jika kamu mau membuka suara kamu di depan polisi"
Mendengar ucapan Barack, Ernest kembali menutup pintu mobil. Dia mengurungkan niatnya untuk pergi.
Dia terlihat duduk dan mencoba keras untuk menenangkan diri.
Apa yang di katakan Barack semuanya benar. Dia tidak bisa hidup seperti ini terus menerus.
Mengetahui Ernest kembali ke tempatnya, Barack memulai pembicaraan lagi.
"Jadi benarkah kamu melihat semua kejadian di mana Adrian membunuh Felis??" Barack berucap dengan nada menuntut. Dia ingin mendengar kebenaran dari mulut Ernest.
Laki laki itu sejenak terdiam sebelum akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku ikut bekerja dengan Adrian sebelum laki laki itu menikah dengan Felis. Beberapa tahun kemudisn saat itu Adrian jatuh cinta dengan Felis di hari pertama mereka bertemu. Di sebuah pesta perusahaan teman Ayahnya. Mereka menikah bukan berdasarkan cinta, tetapi karena Felis anak dari seorang pemilik perusahaan yang besar, kedua orang tua Felis menjodohkannya dengan Adrian demi kerja sama yang menguntungkan. Itu pun karena Adrian telah melobi Ayah dari Felis bahwa dia bermaksud ingin menikahi perempuan itu.
Adrian tahu kalau Felis tidak menyukainya, setelah menika dia selalu berusaha membuat Felis untuk berpaling kepadanya, namun hingga pernikahan berjalan 6 bulan Felis belum bisa membiarkan Adrian menyentuhnya. Bahkan semenjak mereka menikah. Tetapi laki laki itu benar benar sabar untuk menunggu Felis membuka hati untuknya. Di usia pernikahan mereka yang menginjak 1 tahun. Adrian menemukan kenyataan yang membuatnya sakit hati, dia melihat hasil USG milik Felis. Perempuan itu ternyata sedang mengandung. Dan itu membuat Adrian depresi karena selama itu Dia tak pernah menyentuh tubuhnya. Dia sangat mencintai dan menghargai perasaan Felis. Maka dari itu dia tidak pernah lelah untuk menunggu.
Hingga setelah mengetahui Istrinya hamil, sikap Adrian langsung berubah drastis. Dia tidak pernah bisa mengendalikan emosinya. Felis tidak tahu kalau Adrian mengetahui tentang kehamilannya. Saat itu dia selalu menyuruhku untuk mengikuti kemana pun Istrinya pergi. Hingga akhirnya dia tahu dengan siapa Felis hamil"
"Alex??" Barack menyela pembicaraan.
"Ya, ," Ernest mengalihakan pandangannya ke arah Barack.
"Sebelum Felis menikah dengan Adrian. Mereka berdua telah berhubungan, menjalin kasih selama 2 tahun. Adrian berusaha untuk menerima semuanya. Tetapi sepertinya rasa skit hati yang di deritanya semakin hari senakin membuatnya bertingkah aneh. Dia pernah bilang padaku "apa aku sudah gila Ernest!!, , kenapa aku ingin sekali menghabisi Felis saat ini!!"
__ADS_1