Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
92. Proyek Baru


__ADS_3

Setelah berdebat panjang lebar Marvel segera menemui Keiko. Mengingat foto yang dikirim oleh perempuan itu, Marvel tahu jelas di mana keberadaan Keiko. Mobilnya melesat menuju ke sebuah bar di pusat kota.


Marvel masuk ke dalam pandangan matanya menyapu setiap tempat duduk mencari keberadaan Keiko.


“Keiko hentikan, kau sudah minum banyak hari ini!” seru temannya, mereka berempat duduk di salah satu meja yang terletak paling ujung.


“Aku hanya sedang merayakan malam pertunangan Marvel!! Ayo angkat gelas kalian kita minum sampai pagi!” mereka semua sudah mabuk menghabiskan minuman beberapa botol, tapi Keiko menghabiskan lebih dari setengah jumlah botol yang telah kosong.


“Marvel? Oooh... jadi ceritanya ada yang cemburu? Sejak dulu kalian saling menyukai tapi karena sifat keras kepala membuat kesalahpahaman di antara kalian tidak berujung sampai sekarang. Harusnya aku sudah bisa memiliki ponakan saat ini, dasar!” ucap temannya.


Marvel terkejut mendengar pembicaraan mereka, segera dia mendekati meja dan menyahut pembicaraan. “Apa kau bilang?” matanya tertuju pada seorang perempuan yang duduk bersandar di sofa, dari keempat orang termasuk Keiko dalam pengaruh alkohol namun hanya perempuan itu yang masih lumayan sadar.


Teman Keiko yang sering disapa Olive terkejut melihat Marvel berdiri di seberang meja. Refleks dia membangunkan Keiko yang tengah pingsan dengan kepala di atas meja. “Keiko? Keiko! Bangun kau! Kei!” tetapi Keiko sudah tidak merespons.


“Olive!” Marvel menatap tajam, seakan sedang menunggu penjelasan.


“Uhmm... itu, sebenarnya. Bagaimana aku harus mengatakannya? Ayolah Keeiiii banguuunnn jelaskan sendiri pada Marvel tentang perasaanmu!!”


Brak!! Marvel memukul meja, membuat Olive tersentak. “Ceritakan semuanya padaku apa yang kau ketahui tentang Keiko?!” geramnya dengan suara berat.


Olive menelan ludahnya dengan susah payah, melihat Marvel marah akhirnya dia menceritakan semuanya.


***


Davien terengah-engah setelah berlari menghampiri Bunga yang duduk di bangku taman, sendirian menikmati kesunyian seperti apa yang dia rasakan. Mengingat ucapan Davien membuatnya memikirkan bagaimana lelaki itu menjalani kehidupannya selama ini dalam kesendirian.


Sejenak Davien diam menghela nafas menetralkan dadanya, setelah merasa tenang dia mulai mendekati Bunga. “Apa yang sedang kau lakukan di sini sendirian?”


Bunga menoleh setelah mendengar suaranya. Gugup seketika melihat keberadaan Davien yang ternyata belum pergi dari tempat itu padahal sudah tak ada seorang pun di sana. “Hei... uhmm tidak ada, hanya sedang... memikirkan Juliet dan pekerjaan!”


Lelaki itu mendekat kemudian duduk di sampingnya. “Kau baik-baik saja?”


“Ha? O.oh iya tentu aku baik-baik saja!” jawabnya terbata.


“Maaf... aku turut bersedih” suaranya rendah, meskipun tidak enak hati Davien berusaha mencairkan suasana agar Bunga tidak melamun.


“Kenapa kau meminta maaf? Tidak ada yang salah di sini... Marvel telah mengambil keputusan yang tepat. Dia sedang berjuang mendapatkan cintanya.”


“Apa? Bagaimana bisa?” Davien terkejut mendengarnya.


Bunga kemudian menceritakan semua yang dia ketahui. Davien sempat tidak percaya tapi jika di urutkan dari awal mereka berteman akhirnya dia sadar bahwa selama ini lelaki yang disukai Keiko adalah Marvel.

__ADS_1


“Astaga! Aku tidak percaya dia memanfaatkanku... dasar Keiko!” Itulah sebabnya Keiko tidak keberatan seolah tidak mengapa saat Davien mengatakan kalau dia memilih Bunga ketimbang dirinya. Davien menghela nafas panjang, menengadahkan kepala menatap langit gelap dengan kedua tangan bertumpu di kursi saat menyangga tubuhnya yang sedikit terdorong ke belakang. “Meskipun begitu... hidup akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Ya, aku percaya semua orang pasti akan bahagia!”


“Kau benar, semua orang pasti akan bahagia!” Bunga kemudian menoleh. “Apa yang sedang kau lakukan Davien?” Bunga penasaran karena raut wajah Davien terlihat berbeda dengan sebelumnya. Tadinya sempat muram kini mulai tenang seperti perasaannya.


“Tidak ada, aku hanya sedang menghitung banyaknya bintang di atas sana!”


Bunga lalu menirukan Davien, mendongakkan kepala menatap langit dengan kedua tangan menyangga tubuhnya.


Deg! Ekspresi wajah Davien terpaku, senyum tipis mulai menghilang perlahan saat merasakan tangannya tanpa sengaja bersentuhan dengan tangan Bunga. Hal yang sama juga terjadi dengan perempuan itu, dadanya berdebar gugup ingin segera menarik tangannya menjauh tapi Bunga takut nantinya justru membuat suasana menjadi canggung.


Mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Bunga, Davien pun berusaha membantu Bunga dengan cara mengalihkan perhatiannya. “Kenapa kau diam saja? Sudah berapa bintang yang kau hitung Bunga?” ucapnya tanpa menoleh, Davien terus menatap ke atas.


“Eh! Uhmm... haha” Bunga semakin canggung, tapi karena Davien bersikap tenang seolah tak terjadi apa pun, Bunga berusaha menimpali. “Kau serius memintaku menghitung jumlah bintang di langit? Kau ingin membuatku semakin pusing?”


“Tenang saja, itu tidak akan membuat rambutmu rontok sampai botak!” hahaha.... mereka pun tertawa. Davien mengangkat tangannya, tangan yang sempat bersentuhan dengan tangan Bunga, lalu menggunakannya untuk menunjuk ke langit. Davien sengaja karena tidak ingin Bunga canggung saat berada di sisinya hanya karena jari jemari-jemari mereka bersentuhan. “Aku akan mulai dari sini, oke?”


Bunga sempat merasa lega karena Davien telah menarik tangannya, tapi selanjutnya apa yang dilakukan Davien semakin membuat Bunga berdebar dan merona. Lelaki itu justru sengaja meletakkan kembali tangannya seperti semula tapi kali ini jelas sekali kalau Davien sengaja melakukannya. Tak tanggung-tanggung telapak tangan Davien berada di atas tangannya, yang semula hanya bagian ujung jari yang bersentuhan kini malah hampir seluruh tangannya.


Bunga berusaha mengatur nafas mengendalikan dadanya yang berdebar kencang tak beraturan. Tangannya seketika terasa sangat. Hening, tak ada percakapan lagi di antara mereka. Bunga mulai mengalihkan pandangannya, perlahan menatap wajah Davien dari samping tapi saat tiba-tiba lelaki itu menoleh, dengan cepat Bunga kembali mengalihkan pandangannya ke langit.


Davien tahu kalau Bunga sempat mencuri pandang ke wajahnya. Sejenak membiarkan kesunyian menemani mereka di bawah langit berhias kerlip bintang. Sementara Davien membiarkan matanya menatap Bunga, tak bisa dipungkiri rasa rindu yang begitu besar sedang berusaha dia sembuhkan dengan memuaskan hatinya menatap wajah cantik di depan mata meskipun hanya dari samping. Setelah bertahun-tahun akhirnya dia bisa melihat perempuan itu dari dekat.


Bunga duduk di sampingnya bahkan lumayan dekat, tapi Davien sadar kalau Bunga seakan sulit untuk dijangkau. “Bunga?” ucapnya lirih.


Pandangan Davien sempat bergerak mengarah ke bibir, tapi secara cepat dia memalingkan wajah saat merasa kedua bola matanya mulai nakal “Tidak apa-apa... sudah larut kau harus segera istirahat. Aku akan pergi!” lelaki itu beranjak berdiri dari bangku. Baru berjalan beberapa langkah dia kembali menoleh. Matanya terkejut saat dihadapkan dengan Bunga yang tengah berdiri menatap kearahnya dengan raut wajah sedih penuh harap.


Davien merasa iba, jika bisa dia ingin memeluknya erat. Dia kemudian mendekat berdiri di depan Bunga, paham apa yang diinginkan oleh perempuan itu tapi sadar Davien tak mungkin mencium keningnya. Hal yang dulu selalu Davien lakukan. Lelaki itu pun tersenyum mengusap kepalanya dengan lembut. “Istirahatlah, aku pamit!” Davien masih bertahan di sana seakan enggan pergi, tubuhnya seolah terpaku tak bisa bergerak. Namun tak lama akhirnya lelaki itu pergi meninggalkan Bunga dengan langkah berat.


***


Selama perjalanan pulang, Keiko tidur di mobil. Malam itu dia benar-benar mabuk sampai tak sedetik pun dia terbangun. Marvel tengah fokus menatap ke depan namun pikirannya tak lepas dari ucapan Olive yang selalu terngiang di telinga.


‘Katakan semua apa yang kau ketahui tentang Keiko!’


‘Than, dengarkan baik-baik... aku hanya akan menceritakannya sekali, hanya satu kali padamu! Kau dengar Marvel?’ Olive saat itu dalam keadaan mabuk, tapi untungnya ingatan Olive terbilang cukup bagus.


‘Pertama, kalau kau berpikir selama ini hanya dirimu yang mencintai Keiko itu adalah sebuah kesalahan. Kedua, karena jauh sebelum kau memiliki perasaan kepadanya, Keiko lebih dulu menyukaimu.’


‘Baga‐,’


Ssshhhhtt!!! ‘Aku memintamu untuk mendengar, oke. Jadi jangan pernah bertanya! Kalian berempat, Kau, Davien, Essie dan Keiko selalu bersama. Dulu kau adalah orang yang paling dekat dengan Essie setelah Davien. Davien bahkan sempat cemburu denganmu karena Essie selalu bercerita tentang semuanya padamu, termasuk juga penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Melihat kebaikanmu, perhatian dan entah lain sebagainya yang kau berikan untuk Essie lama-kelamaan membuat Keiko memiliki perasaan spesial terhadap dirimu! Tapi sekali lagi karena kedekatanmu dengan Essie menimbulkan rumor bahwa kalian berkencan, Keiko berencana melupakan perasaannya. Tapi apa kau tahu yang membuat Keiko frustasi? Kebaikanmu! Kebaikanmu yang begitu tulus kepada Essie... kau menggunakannya juga kepada Keiko, kau memperlakukan Keiko sama seperti bagaimana kau memperlakukan Essie. Dia pikir kalian berkencan... maka dari itu dia berusaha melupakanmu tapi kebaikanmu justru membuat hatinya semakin berat melepaskan dirimu. Keiko sering menghabiskan waktu dengan Davien semata agar bisa membuat pikirannya lepas darimu. Jauh setelah Essie meninggal Keiko selalu menemani dan membantu Davien, menghiburnya agar kembali ceria. Saat itu adalah momen terberat bagi Keiko karena kau dan Davien sama-sama kehilangan... dia ingin berada di sisimu menemani agar kau tidak sedih tapi, melihatmu murung setiap hati justru semakin membuat hatinya sakit. Maka dari itu Keiko memutuskan untuk menemani Davien. Selang beberapa minggu kau baru sadar kalau ada yang hilang, bahkan sampai menciptakan ruang kosong dalam sisi hatimu. Tapi kau saat itu tidak sadar apa yang telah hilang... sampai pada akhirnya kau melihat senyum dan tawa Keiko saat sedang menghibur Davien, saat itulah kau baru memahami kenapa kau bisa merasakan hal itu kepada Keiko. Secara diam-diam kau mengambil foto saat dia tersenyum, kan?’

__ADS_1


‘Dari mana–,’


‘Dari mana aku tahu? Yang pasti itu semua aku dengar dari Keiko! Kapan hari dia tanpa sengaja melihat isi foto di galeri ponselmu... dia bilang galerimu penuh dengan fotonya. Dan foto saat Keiko tersenyum merupakan foto pertama yang kau ambil!’


‘Tapi... dia cerita padaku kalau dia menyukai Davien! Setiap detik setip menit di mana pun hanya nama Davien yang terucap di bibirnya!’


‘Dan pada saat itu kau mulai berubah, bukan? Perhatianmu kepada Keiko berkurang!’ Jelas, karena saat itu Marvel bertemu dengan Bunga. ‘Jadi ketika dia mengatakan menyukai Davien... bisa dibilang kalau Keiko sebenarnya sedang memanfaatkan lelaki itu untuk menarik perhatianmu agar kau mengakui perasaanmu! Tapi nyatanya Keiko malah mendengar kabar kau mendekati seorang gadis desa!’


‘Bagaimana dengan foto keluarga di mana mereka berkumpul membicarakan rencana pertunangan?’


‘Itu hanya akal-akalan Keiko, karena dia yakin Davien akan menolak. Sehingga tidak masalah jika dia sampai nekat mengadakan pertemuan keluarga. Itu pasti karena dia cemburu kau sering menghabiskan waktu dengan perempuan lain, dia sengaja melakukan itu agar kau berani mengungkapkan perasaanmu, membuatmu takut kehilangan dirinya! Dan yang paling utama... Keiko ingin kau berubah! Bisa membedakan siapa yang harus menerima perhatian dan perlakuan baik darimu karena kau tidak bisa memperlakukan semua orang dengan sama, itu bisa menimbulkan kesalahpahaman antara orang yang kau cintai dan mereka yang mendapat perhatian darimu. Kau harus bisa membedakannya!’


Marvel terlihat sangat frustasi, matanya menatap wajah Keiko yang terlihat sangat sedih. Dalam keadaan pingsan karena mabuk raut wajahnya dengan jelas memperlihatkan apa yang tengah terjadi dengan hatinya. Matanya sembab pipinya basah wajahnya sangat lusuh.


‘Keiko benar-benar sangat mencintaimu... berkali-kali mencoba melupakan wajahmu tapi dia bilang cinta dan perasaannya justru tumbuh semakin besar. Seperti yang kau lihat saat ini tepat di depan kedua matamu, apa yang terjadi pada Keiko... hanya inilah cara paling ampuh membantu pikirannya tenang sejenak melupakanmu walaupun sadar ketika bangun nanti dia pasti kembali teringat denganmu! Aku tidak mengerti kenapa Keiko begitu mencintaimu... bahkan saat kau menghilang selama bertahun-tahun kemarin, dia sama sekali tidak pernah meninggalkanmu. Hampir setiap hari aku menemani Keiko pergi minum, aku sengaja membiarkan dia mabuk karena saat itu Keiko terlihat seperti manusia pada umumnya tertawa, mengoceh, marah. Berbeda ketika dia dalam keadaan sadar, semua orang melihatnya seperti mayat hidup. Pikirkan Marvel... jika kau terlambat datang hari ini, aku pastikan kau akan menyesal kehilangan perempuan seperti Keiko yang teramat sangat mencintamu!’


‘Ya, ini semua karena kesalahanku. Sebagai seorang lelaki aku tidak berani menyatakan perasaanku pada Keiko. Aku memilih penyimpan perasaanku karena sebuah kesalah pahaman.’


‘Itu karena kalian tidak saling jujur!’


‘Kau pikir mudah mengakui dengan jujur perasaan kita kepada orang yang kita cintai sementara saat itu dia bilang menyukai temanku?! Meskipun itu bohong... kau pikir aku akan tahu itu sebuah kebohongan, kalau Keiko tidak mengatakan yang sejujurnya padaku?? Otomatis aku akan percaya dengan kebohongan yang dia katakan!’


‘Itu masalah di antara kalian, tidak hanya kau saja Marvel, Keiko juga... kalian berdua sama-sama keras kepala! Kalian butuh waktu tenang duduk berdua membicarakan semuanya!’


Setelah mendengar semua ceritanya, Marvel merasa sedih sekaligus bahagia bercampur di dadanya. Marvel telah mengambil keputusan untuk tidak lagi membahas masa lalu dan menyia-nyiakan kesempatan. Sudah saatnya dia harus membahagiakan Keiko.


***


“Presdir? Mengenai permintaan pelanggan yang meminta Presdir secara khusus untuk turun tangan dalam pembuatan iklan, apakah Presdir keberatan? Jika iya, maka saya akan menghubungi pihak mereka untuk menolak keing–,”


“Tidak perlu, James! Kebetulan jadwalku tidak terlalu padat beberapa minggu ini. Katakan pada mereka agar segera mengirim konsep dan juga–“


“Maaf Presdir, mereka sudah mengirim semuanya, silakan” James meletakkan map di atas meja.


Davien mulai membaca konsep yang mereka inginkan, tapi ketika tanpa sengaja melihat nilai nominal uang yang mereka tawarkan untuk proyek iklan itu sangat besar Davien pun terkejut. “Mungkin mereka salah menawarkan harga kepada kita?”


“Tidak presdir, saya sudah memastikannya dua kali kalau mereka tidak salah ketik mengenai dana tersebut dan lagi mereka mengatakan kalau semua ini atas permintaan langsung dari Tuan Volker Valldemar.”


“Volker Vardemar? Bukankah dia... setahuku pemilik perkebunan anggur, dan peternakan terbesar di Paris? Dia juga menguasai semua perdagangan minuman serta memiliki perusahaan, pabrik yang memproduksi wine miliknya sendiri? Lalu... yang tertulis di sini dia menginginkan artis kecil untuk ikut serta dalam shooting iklan, produk apa itu?” Davien membuka satu halaman lagi mencari tahu produk yang akan dibuat iklannya. “Susu???”


“Bagaimana presdir? Artis cilik dari agensi kita sudah mengikuti casting semua, tapi mereka bilang Tuan Valldemar menolak.tidak ada satu pun dari mereka yang masuk ke dalam kriteria.”

__ADS_1


“Sial! Haruskah aku meminta bantuan agensi lain untuk mengirim artis cilik mereka?!” Davien dibuat frustasi dengan permintaan Tuan Valldemar, sembari mendorong tubuhnya ke belakang tangannya mengusap wajah gusar.


__ADS_2