Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
76. Bukan Mimpi


__ADS_3

Matanya masih berusaha keras mencerna apa yang dilihatnya, seseorang tengah berbaring di ranjang dan ada lagi yang di seberangnya, lelaki itu sedang melihat ke arahnya dengan tatapan hangat dan senyum tipis. Melihat wajahnya seketika membuat Bunga merasa tenang setidaknya dia melihat bahwa orang itu tak memiliki maksud jahat kepadanya.


Antonio menundukkan kepala memberi hormat kepada Bunga. Tanpa ragu Bunga pun membalasnya dari kejauhan.


Lelaki itu berjalan menghampirinya meminta Bunga untuk duduk di kursi di samping ranjang yang sudah Antonio persiapkan. "Silakan duduk Nona" suaranya lebih lembut dari tatapan dan senyumnya.


Bau harum yang dihirup oleh Bunga berasal dari tubuh lelaki itu, penampilannya juga terlihat keren, modis jas yang menempel di tubuhnya bahkan terlihat sangat epik seakan dan pas dengan ukuran tubuhnya, seketika penampilan Antonio mengingatkan dirinya kepada Davien. ‘Astaga! Kenapa aku memikirkan lelaki itu!’ Bunga bergidik menyadarkan diri.


Menyingkirkan rasa gugup dan sedikit takut Bunga kemudian duduk, pandangannya perlahan tertuju kepada seorang lelaki yang terbaring di atas ranjang.


Antonio berjalan ke sisi ranjang kembali ke tempat semula. Dia membungkuk seperti sedang berbisik kepada lelaki paruh baya itu.


Bunga semakin terlihat gugup, beruntung boneka matahari itu berada di genggaman tangannya, sehingga setidaknya itu bisa membantu sedikit mengatasi kegugupannya.


"Tuan, Nona muda sudah datang. Beliau duduk di sebelah Anda" bisik Antonio dengan lembut.


Perlahan Rodrigo membuka mata. Tangannya bergerak melepas sebuah alat yang membantu pernafasannya karena sedikit mengganggu saat ketika dia ingin melihat Bunga.


Antonio yang melihatnya pun refleks bergerak cept membantu Rodrigo melepaskan alat itu. Perlahan Rodrigo memalingkan wajah ke arah Bunga.


Dadanya berdebar berusaha tenang Bunga kemudian memasang senyum tipis di bibir.


Rodrigo sesaat terdiam, wajahnya sangat bercahaya seketika melihat Bunga. Lelaki itu menghela nafas lega. "Aku tidak menyangka kau akan tumbuh menjadi wanita dewasa, kau sangat cantik" suaranya sangat lemah memperlihatkan betapa tak berdayanya dia saat ini.


Bunga masih diam dia tak mengerti apa tujuan dari semua orang di dalam rumah itu membawanya kemari.


"Kau pasti bingung!” Rodrigo tersenyum. “Nanti, Antonio akan menjelaskannya kepadamu kenapa aku menyuruh orang untuk mencarimu dan membawamu kemari" Rodrigo menghentikan ucapannya, sejenak menghela nafas panjang untuk melegakan dadanya yang terasa sesak. Dia terlalu bersemangat, benar-benar sangat senang akhirnya bisa bertemu dengan Putri kandungnya. "Bunga?" ucapnya memanggil nama Putri kandungnya.


"Ya, Tu.tuan?" Bunga gelagapan.


Rodrigo tersenyum, Antonio yang melihatnya pun merasa sangat senang. "Jangan memanggilku Tuan, panggil saja Ayah! Aku lebih menyukai panggilan itu"


Wajahnya terpaku bagai disambar petir mendengarnya, Bunga terkejut setengah mati tubuhnya bergetar dadanya berdetak cepat tak terkendali, darahnya berdesir mengalir memanas menjalar melewati pembuluh nadi yang langsung menuju kepala, menyerang tanpa aba-aba seketika rasa nyeri timbil di sana.


Nafasnya memburu karena detak jantungnya yang bergerak lebih cepat. Bunga mengalihkan pandangannya ke Antonio melihat lelaki itu mengangguk seolah sedang menenangkan Bunga dan meyakinkan bahwa apa yang dikatakan lelaki paruh baya itu adalah suatu kebenaran. Sementara Bunga masih terlihat sangat kebingungan tak belum yakin dengan lelaki yang mengaku sebagai Ayahnya.


***


Di sebuah ruangan lebih tepatnya seperti perpustakaan besar yang berada di dalam rumah itu, Bunga duduk di salah satu sofa sementara Antonio sedang membantu membersihkan tangannya yang kotor serta mengganti perban yang sudah terlihat musuh.


Antonio sedikit merasa gugup karena harus menyentuh tangan Bunga. “Maaf, saya harus menyentuh tangan Anda” ucapnya meminta ijin.


“He? O.oh iya tidak apa-apa” Bunga merona, sesopan itu Antonio, tidak! Bahkan semua penghuni rumah itu selalu bersikap sopan kepadanya.

__ADS_1


Sesaat hening tak ada percakapan atau terdengar suara apa pun di sana. Melihat Antonio sibuk dengan tangannya, Bunga pun memulai pembicaraan agar tidak begitu canggung. "Aku pikir... sampai aku mati aku tidak akan pernah melihat sosok Ayahku seperti apa.”


Mendengar ucapan Bunga, tangan Antonio sempat terpaku sebelum akhirnya melanjutkan lagi kegiatannya.


“Tapi takdir berkata lain, takdir seolah memberiku kesempatan untuk bertemu dengan Ayahku. Maaf Tuan Antonio... tapi aku masih sedikit ragu, benarkah orang yang ada di ruangan tadi... benar-benar Ayahku?”


Antonio mengangkat kepalanya. “Nona... tidak perlu memanggil saya Tuan, cukup Antonio!” lelaki itu merona.


“Uhmmm... baiklah kalau itu maumu” Bunga sedikit tidak enak hati, tapi berusaha menuruti keinginannya.


“Terima kasih” Antonio tersenyum kemudian kembali fokus dengan tan Bunga. Parasnya memang tampan bertubuh tegap dan tinggi. Dia bersikap sopan dan lembut bahkan ketika membersihkan sisa-sisa tanah yang melekat di jari jemari Bunga. Melihat tangannya yang merah, Antonio mulai menyentuh permukaan telapak tangannya, dia bisa merasakan tangan itu terlalu kasar untuk seorang perempuan. Dia tahu seperti apa kehidupan keras yang dijalani oleh Bunga di luar sana.


Selama beberapa minggu Antonio ikut turun tangan untuk mencari keberadaannya dan selama itu juga dia memantau kehidupan Bunga tetapi setelah Bunga memilih untuk bekerja di kota, Antonio sempat kehilangan jejak. Tapi akhirnya dia senang anak buahnya telah menemukan Bunga dan membawanya ke rumah ini.


"Apa Nyonya Laura baik-baik saja?" Tiba-tiba saja Antonio membahas perempuan yang tak ingin di dengar namanya oleh Bunga.


Perempuan itu terdiam bersikap seolah tak mendengar pertanyaan Antonio.


Lelaki itu seketika memaku tangan, ujung matanya tertuju ke wajah Bunga. Dia sedang berusaha membaca ekspresi wajahnya. "Baiklah... kalau Nona tidak ingin membahasnya kita bahas yang lain” ucapnya menenangkan Bunga.


Setelah selesai mengganti perban, Antonio berdiri mengembalikan kotak P3K ke tempat semula yang ada di perpustakaan itu.


"Permisi, uhmm... itu sebenarnya, bagaimana aku harus mengatakannya! Maksudku... apa kalian tidak salah orang? Bagaimana kalian yakin kalau aku adalah putri dari tuan Rodrigo?" Bunga masih terus bertanya-tanya.


"Tetapi... untuk apa kalian mencariku? Kalian juga memaksaku datang kemari, kalau memang Tuanmu itu tidak menyukaiku kenapa harus membawaku sampai ke sini kalau memang dia menyayangiku dari dulu seharusnya dia mencariku, kenapa di saat seperti ini dia baru saja mencoba untuk mencariku, membawaku secara paksa untuk datang kemari! Lalu... bukankah dulu dia menolak Ibuku? Itu artinya dia tidak mengakui diriku sebagai anaknya!" rentetan pertanyaan dari Bunga dengan nada setengah jengkel.


Antonio berjalan ke sisi meja meraih kursi kemudian duduk menyandarkan punggung menyilangkan kaki lalu bersedekap. "Karena hanya Nona, satu-satunya harapan Tuan Rodrigo saat ini" Antonio berucap dengan penuh teka-teki membuat Bunga bingung hingga mengerutkan dahi.


"Apa maksudmu? Aku tidak paham kau bisa kan bicara langsung pada intinya tidak usah bertele-tele seperti ini!?”


Antonio terkekeh geli namun seketika tawanya hilang ketika melihat Bunga menatapnya tajam. Antonio berdehem menetralkan perasaan. Ghm! "Maaf Nona, kondisi Tuan Rodrigo semakin memburuk setiap hari dia mencari Anda karena hanya Anda yang memiliki keturunan darah darinya, dan beliau hanya percaya kepada Anda untuk meneruskan semua bisnis keluarga.”


Sepertinya Bunga masih tak mengerti dengan maksud ucapannya. Antonio pun menjabarkan semuanya bahwa Rodrigo memiliki perusahaan yang sangat besar di Amerika bergerak di bidang teknologi, bahkan Rodrigo juga memiliki empat perusahaan besar di Paris. Belum lagi di belahan dunia lainnya.


Jika dilihat dari rumahnya saja, Bunga tak meragukan kalau lelaki itu memiliki banyak usaha. "Lalu apa tujuanmu menceritakan itu semua kepadaku? Aku bahkan sama sekali tidak tertarik" Bunga kesal, tetapi ada rasa senang di ujung hatinya karena dia bisa bertemu dengan sosok Ayah walaupun toh selebihnya adalah kecewa, kenapa tidak dari dulu mencoba mencari, jika memang benar-benar membutuhkannya harusnya mereka bisa mencarinya sejak dulu. Sekarang ketika sudah seperti ini mereka justru baru memacarinya. Hal itulah yang disayangkan oleh Bunga.


"Kenapa saya menceritakan semua itu kepada Anda, seperti yang saya bicarakan tadi beliau ingin Anda mengambil alih semua bisnis keluarga, karena tidak ada orang lain yang Tuan Rodrigo miliki. Besar harapan Tuan meminta Anda menurus semua perusahaannya.”


Bunga dibuat menganga, dia tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Dia bergidik menyadarkan diri. "Maaf, kau tidak sedang mabuk, kan? Bagaimana mungkin dia mau memberikan semua perusahaannya kepadaku? Ah! Ini membuatku gila"


"Semua yang saya katakan itu atas permintaan Tuan Rodrigo, dia sadar bahwa kesehatannya semakin memburuk dia bergerak dengan cepat mencari keberadaan Nona dan dengan adanya Nona di sini itu sangat membantunya. Saya mohon setidaknya di sisa-sisa hidup Tuan Rodrigo saat ini, Nona bisa memberikan harapan yang membuatnya bahagia" Antonio berucap dengan memohon sepenuh hati.


"Gila!" gumamnya, Bunga tak habis pikir hidupnya seakan berubah drastis 180°. Sesaat terdiam masih mencerna semuanya, setelah itu memikirkan langkah selanjutnya apa yang akan dia lakukan.

__ADS_1


Seorang pelayan masuk ke dalam kemudian berucap. "Makan malam sudah siap, Tuan Antonio silakan ajak Nona Bunga untuk makan malam" ucap kepala pelayan.


“Kita bicarakan lagi nanti selesai makan malam, silakan Nona” pinta Antonio.


Bak cerita dongeng Bunga tak pernah membayangkan hal itu sebelumnya. Ataukah jangan-jangan ini semua hanya mimpi. Jika benar apakah seharusnya Bunga bangun dari mimpi ini atau justru harus menikmati semuanya.


Seakan kejutan di rumah itu tak ada habisnya, di ruang makan Bunga dikejutkan dengan makanan yang tersaji di meja, hampir semua jenis makanan Tertata rapi di sana.


"Makanan sebanyak ini hanya aku dan Antonio yang yang menghabiskannya?" Bunga menggelengkan kepala tak percaya.


"Silakan duduk Nona" Antonio menarik kursi mempersilahkan Bunga dudu di sana.


“Terima kasih.” Belum sempat duduk Bunga terpaku ketika aroma makanan bercampur menjadi satu lalu masuk terhirup olehnya. “Kenapa aku tiba-tiba merasa kenyang?”


“Nona? Anda baik-baik saja?” tanya Antonio saat melihat Bunga terdiam masih dalam keadaan berdiri. “Nona?”


“He? O.oh tidak apa-apa... tiba-tiba saja aku merasa kenyang.”


“Benarkah? Sepertinya saya tadi sempat melihat Anda sangat senang melihat semua hidangan ini?”


“Iya, aku juga tidak tahu... padahal seingatku aku belum makan sejak kemarin malam.” Jelas karena Bunga terlalu stres memikirkan Davien sehingga kehilangan selera makan.


“Kalau begitu setidaknya Nona harus makan, tidak perlu banyak-banyak... sedikit juga tidak apa yang terpenting perut Nona terisi.”


“Baiklah!”


Pelayan kemudian membantu Bunga mengambil beberapa makanan yang dia inginkan. Semua sudah ada di piringnya, Bunga hanya perlu melahap semuanya. Tetapi saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya, raut wajahnya berubah pucat. Belum juga di kunyah Bunga merasa seolah perutnya menolak makanan itu. Tangannya seketika membungkam mulut dengan tangannya rapat.


“Nona?” Antonio merasa heran. "Anda baik-baik saja?" Tambahnya berubah khawatir.


"Di mana toilet! Di mana toilet!" ucap Bunga dalam keadaan mulutnya yang tertutup oleh tangan. Dia terlihat tak sabar dan ingin segera pergi ke toilet.


Kepala pelayan kemudian mengarahkan tangannya dengan sopan. "Silakan ikut saya, Nona" dia mengantar Bunga ke toilet.


Langkahnya cepat, Bunga berlari menuju ke dalam. Seluruh isi di dalam perutnya sudah meronta ingin segera meminta dikeluarkan.


Huuuuuuek! Huuuuek!! Tak ada yang keluar dari perutnya kecuali cairan putih yang kemudian disusul cairan lain berwarna sedikit kuning, saat itu keluar Bunga merasakan pahit di dalam mulutnya. Jelas perutnya kosong karena sejak kemarin malam dia belum makan apa pun.


Hah! Hah! Hah! Nafasnya terengah-engah. Setelah menyalakan keran Bunga membersihkan mulutnya yang terasa pahit. “Pasti telat makan? Ah! Ini menyebalkan... kenapa di saat banyak makanan perutku tidak bisa menerimanya!”


Akhirnya Bunga keluar dari toilet. Entah kenapa tetapi saat ini yang dirasakan dia rasakan adalah mual, ingin muntah lagi, perutnya seakan dibolak-balik seperti bumi yang sedang berputar di porosnya. Tenggorokan juga seolah dia merasa kalau perutnya sudah terisi penuh dan ingin memuntahkan lagi isinya, padahal Perutnya benar-benar sudah kosong tak ada isinya lalu apa yang ingin dia muntahkan? Bahkan sepertinya saat diisi air putih pun perutnya kembali terasa mual.


Setelah beberapa kali memuntahkan isi di dalam perut kini Bunga mulai sedikit lega karena setidaknya untuk saat perutnya kembali tenang.

__ADS_1


“Anda baik-baik Nona?” Antonio yang sejak tadi menunggu di luar merasa khawatir.


__ADS_2