Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#148 Berlibur bersama


__ADS_3

"Tunggu deh, kalau aku perhatiin nih ya, wajah kalian sangat mirip, Kalian lebih terlihat seperti anak dan Bapak" ucap Helana.


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut perempuan dewasa itu seketika membuat David tersedak hingga terbatuk.


"Kamu baik baik saja?" Barack menepuk pelan punggung David. Dia membungkuk, tangannya meraih wajah Anak kecil itu dan mengusap lembut bibir David yang basah.


Mata David memandang lekat wajah Barack yang berada dekat di depannya.


"Lain kali hati hati" tambahnya


Perlakuan Barack membuat David tak bisa mengontrol dirinya. Anak itu menunduk menyembunyikan matanya yang memerah.


Helena melirik ke arah jam tangannya.


"Barack!! sudah waktunya. Rapat sebentar lagi di mulai"


Barack memalingkan wajahnya ke arah David, dia seolah tidak ingin segera berpisah dengannya.


"David maaf, , Om harus kembali karena ada urusan lain" tangannya mengusap lembut rambut anak itu.


"Pergilah Om, aku akan menunggu supir" David masih menunduk. Tangannya terlihat sibuk membuka coklat.


"Baiklah Om akan pergi, oh ya. Besok kamu libur sekolah bukan?? apa kamu mau pergi denganku?" Barack berucap untuk menenangkan perasaan David. Dia seolah tahu kalau Anak kecil itu sedang dalam keadaan tidak baik.


David mengusap matanya dengan cepat sebelum mengangkat kepalanya dan menatap Barack.


"Bisakah kita pergi bersama Om?" ucapnya penuh harap.


"Kalau kamu mau?"


Raut wajah ceria kembali terlihat setelah Barack menawarkan ajakannya untuk menghabiskan hari libur besok bersama.


Bagi Barack, David itu seperti obat pengganti yang dapat menenangkan batinya ketika dia tak bisa melihat Putranya.


"Aku mau Om!!, tapi" matanya bergerak melihat ke arah Helena.


Helena pun menyadarinya.


"Iya iya, aku tahu. Aku juga tidak berminat untuk ikut dengan kalian" ucapnya dengan nada kekanak kanakan. Namun raut wajahnya terlihat seperti kecewa ketika David tak ingin perempuan itu ikut bersama mereka besok.


Barack hanya tersenyum ketika melihat tingkah Helena.


♡♡♡


Luna menghentikan langkahnya di depan kamar David ketika melihat Putranya itu sedang meloncat loncat kesenangan di atas ranjangnya.


Perempuan itu membuka pintu dan melangkah masuk.


"David?, , apa yang sedang kamu lakukan?" Luna semakin mendekati Putranya.

__ADS_1


"Ceritakan kepada Mamah apa yang membuatmu terlihat segembira ini" Luna nampak tersenyum lebar ketika melihat kebahagiaan mewarnai wajah Putranya.


David masih meloncat loncat di atas ranjang, dia hanya melempar senyum ke arah Luna.


"David?? kamu tidak ingin memberi tahu Mamah ya!!" Luna naik ke atas ranjang dan dia ikut meloncat loncat girang. Seolah dia dapat merasakan kegembiraan yang sedang di rasakan Putranya.


"Ayo katakan pada Mamah, apa yang membuatmu senang" ucapnya kembali mengulangi pertanyaan yang belum di jawab oleh David.


"Mamah kepo" David pun tertawa.


Luna merasa gemas dengan sikap David tangannya meraih pinggang Putranya dan menggelitikki Anak itu hingga terjatuh di atas ranjang.


Kini David menggeliat karena merasakan geli di sekujur tubuhnya ketika Luna semakin dengan kuat menggerakkan jarinya di sana.


♡♡♡


Supir menepikan mobilnya di depan mini market.


"Mas David mau pergi kemana?" tanya supir itu.


"Nanti biar aku saja yang memberi kabar kepada Mamah jika dia mencariku, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku" David berucap sambil melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya. Dia kekuar dari mobil dan duduk di kursi.


Tak lama kemudian mobil Barack terlihat, senyum lebar menghiasi bibir Anak kecil itu.


Barack turun mengitari mobil, setelahnya Membukakan pintu untuk David.


David mengulas senyum sebagai tanda ucapan terima kasihnya kepada laki laki itu.


♡♡♡


David sudah menyiapkan jauh jauh hari planing panjang ketika dia bisa bertemu dengan Ayahnya. Dan kesempatan itu dia pergunakan dengan sangat baik.


Berfikir untuk menyatukan kembali ke dua orang tuanya, itu juga sudah menjadi salah satu tujuannya.


Namun dia tahu mempersatukan mereka kembali tak semudah membalikkan telapak tangan.


Walau pun sebenarnya dia sendiri tak tahu apa permasalahan yang menimpa kedua Orang tuanya hingga mereka berpisah.


David dan Barack menghabiskan waktu bersama. Makan, bermain timezone, pergi ke taman hiburan, semua yang di inginkan oleh David telah tercapai semua hari itu.


Senyum manis tak pernah hilang dari wajahnya ketika sedang bersama Barack.


Hingga waktu menunjukkan pukul 5 sore. Mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan bermain di pantai.


Setelah basah basahan bermain air, David duduk di samping Barack. Dia menyandarkan tubuhnya di dada Barack dan laki laki itu menyambutnya dengan hangat. Dia memeluk Tubuh anak kecil itu, mendekapnya dengan erat.


Barack mendaratkan sebuah kecupan di ujung kepala David.


Anak kecil itu tersenyum kemudian.

__ADS_1


♡♡♡


"Pak, ini sudah hampir malam, dan kamu tidak menjemput David?" Luna merasa khawatir ketika dia tak melihat Putranya berada di kamar.


Seharian dia sibuk mempersiapkan bahan untuk acara fashion show.


"Saya sudah tiga kali menjemput Mas David, tapi dia tak ada di tampat itu Mbak. tadi siang dia juga bilang akan memberi kabar kepada Mbak Luna" ucap pak supir, dia juga merasa khawatir dengan kadaan David.


"Tapi mana!! dia tidak memeberiku kabar Seharian ini!" Luna mencoba menghubungi ponsel David, tapi dia tak mengangkatnya.


"Aku juga sudah berusaha menghubungi semua teman dekatnya. Namun dari mereka tak afa satu pun yang bertemu dengan David hari ini" Ucapan yang keluar dari mulut Lilis semakin menambah kekhawatiran Luna.


"Ya ampuun!! Ibu macam apa aku ini. Hingga dia pergi dengan siapa saja aku tidka tahu!!" Luna terlihat frustasi, dia berjalan mondar mandir untuk mencari jalan keluar.


"Aku harus mencarinya" Luna meraih kunci mobil, dia berlari ke arah garasi.


"Mbak Luna, jangan menyetir dengan keadana seperti ini" Lilis berusaha menghentikan perempuan itu.


Akhirnya Luna memutuskan mengajak supir untuk mencari David. Lilis pun ikut dengan mereka.


♡♡♡


Matahari sudah terbenam ketika mereka berdua ingin beranjak pergi dari tempat itu.


Barack mengendarai mobilnya meninggalkan pantai.


"Om, , bolehkah malam ini aku tidur di tempatmu?" David melontarkan permintaan yang membuat Barack terkejut seketika.


"He??, , bukannya Om tidak mau, , , tetapi" Barack melirik ke arah David yang nampak murung ketika dia tahu laki laki itu akan menolaknya.


Barack menghela nafas panjang.


"Baiklah, kamu boleh menginap di tempat Om" Barack sebenarnya juga tidak bisa menolak keinginan David. Entah kenapa dia merasa tidak bisa membuat anak kecil itu kecewa.


"Serius Om??" David terlihat sangat antusias ketika Barack memperbolehkan dirinya menginap rumahnya.


"Tetapi kamu harus meminta ijin dulu dengan orang tuamu"


David mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia melihat panggilan tak terjawab sebanyak 112 kali dari Mamahnya.


David menelan ludahnya dengan susah payah. Anak itu kembali menyimpann ponselnya ke dalam tas.


"Kenapa??, kamu tidak jadi menghubungi orang tuamu?"


"Ee, , itu Om. Ponselku mati" ucapnya berusaha berbohong kepada Barack.


Barack hanya tersenyum, dia mengusap lembut kepala David.


"Baiklah kalau begitu, nanti kamu bisa menghubungi Orang tuamu ketika kita sudah sampai di rumah Om ya"

__ADS_1


David pun menganggukkan kepalanya.


__ADS_2