Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#73 Tokyo


__ADS_3

 


Barack dan satya terus berusaha untuk menemui para investor.


 


Namun kebanyakan dari mereka sudah menghindar terlebih dulu sebelum menemui barack dan satya.


 


"Waktu kita semakin mepet, apa yang harus kita lakukan barack?" satya terus saja mengeluh ketika gagal sekali.


Berbeda dengan barack dia selalu memutar otaknya untuk mencari cara lain.


 


Malamnya di ruang kerjanya, barack masih terlihat sibuk dengan berkas berkas yang menumpuk di atas mejanya.


 


 


Nampak sekali kalau dia benar benar sangat kelelahan.


klang klang klang, , satya mencoba mengetok pintu kaca ruang kerjanya.


"Masuklah" perintah barack.


"Aku membawakan mu makanan, , aku tahu dari tadi pagi kamu belum makan, , jangan sampai kamu memikirkan perusahaan ini sampai sampai lupa akan kesehatanmu sendiri" kata satya sambil meletakkan sebuah nampan berisi makanan di meja kerja barack.


"Kenapa memangnya, kalau aku jatuh sakit, kamu takut kan tidak ada yang mengurus semuanya?" barack berucap seperti tahu isi pikiran satya.


Satya pun terkekeh mendengar jawaban dari mulut barack.


"Kenapa malah tertawa?, , jawabanku benar kan!"barack menegaskan.


"Mm, , itu salah satunya" satya kembali tertawa lagi.


Barack pun menyuapi dirinya sendiri dengan makanan yang sudah di siapkan oleh satya.


Sesekali dia melirik ke arah ponselnya, karena seharian luna tidak menelpon atau mengirim sms kepadanya lagi, biasanya dia pasti mengirim pesan singkat kepadanya.


Barack berfikir, kemungkinan luna pasti marah karena mengabaikannga


Satya menyadari akan hal itu.


"Kalau kangen telpon saja, jangan di tahan, nanti jadi sakit hati lo" kata satya mencoba menggoda barack.


Barack hanya nyengir ke arah satya sambil meletakkan ponselnya kembali.


klang klang klang, , , seorang sekretaris mengetuk pintu kaca ruang kerja barack.


", , masuk saja" kata barack sambil menggeser sedikit nampan makanannya dan memberi ruang untuk sekretaris meletakkan sebuah map di mejanya.


"Maaf saya harus menggnggu makan malamnya pak" kata sekretaris itu.


"Tidak apa apa" kata barack sambil mengangguk pelan.


"Saya membawa kabar baik, ada investor yang dengan senang hati mencoba untuk menamakan sahamnya di perusahaan kita" kata sekretaris itu sambil memberikan map hitam ke depan meja barack.


Leo membukanya dan melihat isi barkas itu, terlihat senyumnya mengembang di kedua pipinya.


"250 triliyun???" barack terlihat kaget melihat investor baru itu tiba tiba menanamkan modalnya ke perusahaan mereka sebesar itu.


Satya yang mendengar barack menyebutkan nominalnya itu pun di paksa untuk menelan ludah.

__ADS_1


"Apa mereka tidak tahu kalau perusahaan kita sedang collapse?" tanya satya sambil membuang pandangannya ke arah sekretaris itu.


Pasalnya selama ini mereka tidak pernah berhasil mendapatkan investor bahkan semua yang mereka temui sudah langsung menolaknya.


Dan kini dengan suka rela ada yang mau menanamkan modalnya ke perusahaan mereka.


"Kapan kita bisa menemui mereka?" kata barack.


Kini di matanya terlihat sedikit rasa ketenangn.


"Mereka akan menghubungi kita lagi, untuk memastikan jadwal mereka".


"Oke kalau mereka menghubungimu lagi, langsung kabari aku" kata barack dia pun mempersilakan sekretarisnya keluar dari ruang kerjanya.


Terlihat satya sangat gembira sekali mendengar kabar yang di bawa oleh sekretarisnya itu.


"Bagaimana, apa kamu akan masih berdiam diri di situ atau" kata barack.


"Aku akan kembali bekerja" kata satya dengan penuh semangat.


♡♡♡


 


Setelah berhasil mendarat klara dan leo akhirnya sampai di paris.


 


Mereka segera naik mobil yang sudah tersedia di depan lobi bandara.


Mereka menuju ke rumah klara, saat di dalam mobil leo terlihat sedang menghubungi seseorang dari ponselnya.


Terdengar dia seperti sedang memberi perintah kepada orang kepercayaannya. "Segera siapkan semuanya, nanti tinggal tunggu perintah dariku".


Klara melihat ke arah leo yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Kamu sudah mempersiapkan semuanya?" kata klara kepada leo.


"Mmm, aku sudah menyuruh orang untuk menyiapkan semua data datanya, kamu tenang saja" leo membuang senyum ke arah klara.


♡♡♡


 


Siang itu udara terasa panas sekali, ketika luna melangkahkan kakinya ke luar dari pesawat, dia dipaksa harus menikmati panas teriknya matahari di bandara haneda tokyo.


 


Tokyo merupakan wilayah metropolitan terpadat nomor satu di dunia.


Aryo berharap dengan membawa luna kemari semoga membuatnya sedikit terhibur.


Mereka berdua pergi menuju ke rumah aryo yang berada di kawasan perumahan elite tokyo.


"Sementara kita tinggal di rumah orang tuaku ya, sampai aku bisa membelikan rumah untukmu, baru kita pindah" aryo mencoba menggoda luna, karena selama perjalanan dia selalu murung terus.


Luna pun melirik ke arah aryo yang sedang menahan senyum ke arahnya.


"Ngarep banget kamu ya" celetuk luna sambil nyengir ke arah aryo.


"Cieee, , udah bisa senyum? begitu donk, jangan murung terus, , aku yang melihat jadi ikut ikutan merasa susah" kata aryo sambil membukakan pintu untuk luna.


Mata luna seperti sedang di cuci melihat kemewahan rumah orang tuanya aryo yang terlihat sangat besar dan megah itu.


Bahkan rumah orang tuanya di jakarta yang dirasanya sudah besar terlihat tidak ada sejumput jumputnya dari rumah yang sekarang ada di depan matanya.

__ADS_1


Seorang pelayan perempuan mendatangi luna dan memintanya untuk ikut dengannya.


Dengan senang hati luna mengikutinya.


Di tuntunnya luna menuju ke luar dari rumah itu melewat pintu belakang dan menuju ke buah gazebo yang hampir keseluruhannya terbuat dari kayu.


Sengaja di buat bergaya jepang dengan sedikit sentuhan ukiran di setiap pilar yang berdiri kokoh di setiap sudutnya, ukirannya seperti dari daerah pekalongan.


Sepertinya memang sengaja di beri untuk selalu mengingatkan atas tempat asalnya yaitu indonesia.


"Kamu menyukainya?" kata aryo mencoba menggnggu luna yang sedang menikmati setiap ukiran di kayu itu.


"Mm, , bagus loh" kata luna sambil mengalihkan pandangannya ke arah aryo.


Pelayan akan segera membawa makanan yang sudah di siapkan kemari, kamu bisa menunggunya sebentar" kata aryo sambil duduk di gazebo itu.


 


Paginya luna terlihat sedang sibuk mencari tas ransel miliknya yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi.


 


Namun pagi itu dia tidak melihat tas itu berada di kamarnya.


 


Luna terlihat sibuk ke sana kemari, sehingga menarik perhatian aryo yang sedang melintas di depan kamarnya.


"Kamu sedang mencari apa lun?" tanyanya.


"Mmm, , itu tas ranselku, kemarin aku taruh di dalam bagasi sebelah koperku, kenapa sekarang tidak ada ya. Apa aku lupa menurunkannya" kata luna.


"Aku juga tidak melihatnya kemarin, , aku akan berangkat ke kantor dulu, nanti pulangnya aku akan mempir ke kantor taxi yang kemarin kita naiki, semoga tas mu masih ada di sana" kata aryo mencoba menenangkan luna.


Luna hanya mengangguk pelan sambil terus membuang pandangannya ke arah lain untuk mencari tasnya siapa tahu dia lupa menaruhnya di suatu tempat.


"Atau kamu mau ikut dengan ku?, , sekalian kita jalan jalan sambil melihat tokyo" aryo menawarkan ajakannya kepada luna.


"Bolehkah?" tanyanya untuk memastikan.


"Tentu saja" kata aryo sambil membuang senyum ke arah luna.


 


Siangnya mereka berusaha menemui supir taxi yang kemarin mengantar mereka.


 


Dan akhirnya tas luna pun masih utuh di dalam mobil bagasi taxi yang kemarin mereka tumpangi.


Supir taxi itu juga meminta maaf karena dia belum sempat mengecek bagasinya dari kemarin.


Namun luna tidak mempermasalahkan itu, yang terpenting baginya adalah isi dari tas ranselnya.


"Ini tasmu, masih ada di bagasi mobil" kata aryo.


Dengan cepat luna langsung meraih tas yang ada di tangan aryo.


Wajahnya nampak di penuhi rasa kekhawatiran yang mendalam.


Pasalnya semua rancangan gaun miliknya ada di dalam tas itu semua.


"Kenapa?, , apa ada yang hilang?" tanya aryo dengan wajah keheranan.


***

__ADS_1


__ADS_2