
Bunga menegakkan tubuhnya menatap ke arah mobil. Memastikan siapa orang yang berada di dalamnya.
Wajahnya terpaku ketika melihat Davien melangkah keluar dari sisi lain.
"Kenapa kamu ada di sini?" ucapnya ketika Davien berdiri tepat di depannya.
Flash back on
Keiko masih mengamati ekspresi wajahnya ketika Davien hanya berdiam diri. Seakan sedang memikirkan sesuatu setelah kepergian Bunga. Dia seakan tahu apa yang sedang di rasakan oleh Davien.
"Ada apa denganmu?" Keiko mendekat, meraih lengannya.
Davien memejamkan matanya sesaat sembari menghela nafas panjang. Ucapan Bunga ketika mebyebut nama Marvel masih menggema di telinganya dengan sangat jelas.
"Maaf Keiko, sepertinya siang ini aku tidak bisa menemui Mamahmu"
Keiko menarik tangannya kembali, sedikit menjauh dari Davien. Sementara pandangannya menyelidik ke wajah Davien yang terlihat kebingungan.
"Kenapa?" sejenak Keiko berhenti berucap. Pandangannya masih tertuju kepada Davien.
"Apa ini karena perempuan itu?" setelah mempelajari ekspresi wajahnya, Keiko bisa mengerti, menebak apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua.
Dia sangat yakin bahwa hubungan di antara mereka melebihi betas dari seorang pegawai dan atasan.
"Davien??" Keiko kembali berucap ketika laki laki itu hanya diam tak menjawab pertanyaannya.
Davien mengalihkan pandangannya kepada Keiko. Bibirnya terasa beku ketika ingin berucap.
"Maaf!" hanya kata itu yang bisa dia ucapkan, Davien melangkah pergi menjauh meninggalkan Keiko sendiri di sana.
Keiko menghela nafas panjang, dadanya terasa sesak seakan apa yang ada di pikirannya seakan benar. Perempuan itu membiarkan tubuhnya jatuh duduk di atas sofa.
"Kenapa?, , kenapa dia tak pernah melihatku yang selama ini selalu di sampingnya!"
Flash back off
Laki laki itu terdiam, menatap Bunga dengan lekat.
"Apa aku mengijinkanmu pergi?"
Bunga beranjak beranjak berdiri dari bangku.
"Aku"
"Siapa yang mengijinkanmu menemui Marvel?" bersamaan dengan itu Davien nengerutkan keningnya. Menajamkan tatapan maatanya ke arah Bunga.
Bibirnya terpaku ketika Bunga melihat sorot matanya yang mengerikan, Davien seolah tak main main dengan ucapnnya kali ini.
"Kenapa?, , bukankah ada Keiko di sana?? kenapa kamu malah pergi meninggalkannya sendirian" ucapnya mencoba mengalihkan perhatian. Bunga tahu kalau Davien sedang marah. Tetapi dia tak ingin membuatnya semakin emosi dengan menyebut nama Marvel.
"Kamu tahu dengan benar bagaimana perasaanku padamu!" Davien berhenti berucap, memberi waktu kepada Bunga untuk mencerna ucapannya.
"Lalu kenapa kamu masih memancing emosiku, pergi dari rumahku dengan beralasan ingin menemui Marvel!!"
"Aku tidak ingin mengganggu kalian berdua" Bunga menudukkan kepala, menghindari tatapannya.
Davien mengalihkan pandangannya ke arah lain, mencoba membuat dirinya tenang.
"Aku dan Keiko hanya berteman!" ucapnya sembari kembali melihat Bunga.
"Itu bukan urusanku!" gumamnya, Bunga menoleh memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Benarkah??" Davien tersenyum tipis ketika melihat rona kecemburuan di wajahnya.
__ADS_1
"Aku pikir kamu sedang cemburu?" ucapnya sembari menahan senyum, sesaat dia lupa dengan nama Marvel di antara mereka.
"Apa?? cemburu?? aku??" Bunga terkekeh mengejek menanggapi tuduhan Davien kepadanya.
"Tidak mungkin!!" kenapa aku harus cemburu!" Bunga menatapnya malas.
"Ikut denganku!" Davien meraih tangannya memaksa perempuan itu masuk ke dalam mobil.
"Davien, aku"
"Aku tidak mau mendengar bantahan darimu!" Davien mendorong Bunga agar duduk, kemudian menutup pintunya.
Bunga menggerakkan bola matanya mengikuti Davien yang berjalan ke sisi lain untuk masuk ke dalam.
Setelah berhasil masuk dan duduk, Davien tak langsung menyalakan mesinnya. Dia mengalihkan pandangannya melihat ke arah Bunga yang masih keras kepala tak mau memakai sabuk pengamannya.
Davien mendorong tubuhnya mendekati Bunga, wajah mereka berdekatan ketika Davien meraih sabuk pengaman dari sisi lain.
Bunga yang terkejut langsung menoleh mengalihkan pandangannya ke Davien. Karena saking dekatnya hingga tak sengaja bibir dan hidungnya menyentuh pipi Davien. Tubuhnya terpaku ketika menikmati aroma wangi maskulin pipinya. Dadanya berdebar kencang, hingga nafasnya memburu hingga sulit untuk di kendalikan.
Laki laki itu terpaku, merasakan hangat nafas Bunga yang menyapu pipinya. Davien seketika menolehkan kepalanya menghadap Bunga hingga akhirnya bibir mereka bertemu. Davien mengawasi wajahnya sesaat, sebelum akhirnya mengecup bibir Bunga.
"Duduk manis di kursimu!" Davien kemudian menarik kepalanya menjauh, sementara tangannya sibuk memasang pengait sabuk pengamannya.
Bunga masih terpaku, memang itu bukan kali pertama Davien mengecupnya. Karena sebelumnya laki laki itu bahkan pernah menciumnya dengan panas. Akan tetapi kali ini Bunga terlihat malu hingga permukaan wajahnya memerah padam. Dadanya seakan ingin meledak seketika, tetapi dia dengan sekuat hati mengendalikan perasaannya dengan baik.
♡♡♡
Bunga masih terdiam melihat banyak hidangan di atas meja. Sebelumnya tak mengira kalau Davien akan mengajaknya pergi makan siang. Tetapi nemilih restoran elite seperti ini membuat Bunga kebingungan. Bagaimana nanti jika semua tagihan Davien berikan kepada Bunga, karena pada dasarnya Bungalah yang mengajak Davien untuk makan siang hati itu.
"Makanlah!" perintahnya dengan lembut. Davien mengawasi Bunga yang masih terlihat melamun.
"Aku yang akan membayar semua tagihannya, oke! jadi kamu tenanag saja!" Davien berucap seolah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Bunga.
Bunga mulai menggerakkan tangannya, meraih sendok kemudian memakan hidangannya.
"Sedekat apa hubunganmu dengan Marvel?" Davien memulai perbincangan. Mencoba mencairkan suasana.
"Teman?" jawabnya pendek.
Davien memaku tangannya, semula dia menatap makanannya di atas meja tetapi kini mulai menggerakkan bola matanya ke atas menatap Bunga.
"Hanya itu??"
"Memang jawaban apa yang kamu inginkan??, , apa aku harus menjawabnya lebih dari teman?" ucapnya dengan nada menantang.
"Kenapa kamu keras kepala sekali??, , jadila wanita yang sedikit lemah lembut, kamu bisa melakukannya kan?" ucapnya seolah meminta Bunga untuk bersikap lebih dewasa, tanpa harus selalu berucap ketus dan dingin.
"Lembah lembut?, , kamu menginginkan aku bersikap seperti siapa??" Bunga sengaja berucap, sengaja mengingatkan Davien kepada Essie.
"Kamu ingin aku bersikap lemah lembut seperti dia?" tambahnya untuk memperjelas.
Davien menghela nafas panjang, setelahnya kembali berucap dengan tenang.
"Habiskan makannamu!" Davien mencoba mengalihkan pembicaraan.
Suasana seketika hening, Bunga lebih memilih mempercepat menghabiskan makanannya. Agar bisa segera pergi. Marah, jengkel itu yang sedang di rasakan oleh Bunga karena Davien masih selalu mengingatnya.
"Bunga??" dari kejauhan Marvel berucap memanggil namanya.
Bunga mengalihkan pandangannya ke arah suara itu berasal.
"Kak Marvel??" gumamnya.
__ADS_1
Davien yang mendengar Bunga mnyebut nama itu pun langsung sedikit menolehkan kepalanya. Ketika menyadari laki laki itu berjalan mendekat, Davien segera menyudahi makan siangnya.
Dia mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang.
Setelahnya meletakkan uang itu di ata meja.
"Kamu sengaja menghubunginya??" ucapnya dengan nada menuduh, keningnya pun berkerut halus.
"Tidak!, , aku tidak menghubunginya!" Ucap Bunga membela diri.
"Ini terlalu aneh untuk dikatakan sebagai kebetulan bukan!!" Davien semakin memojokkannya.
"Davien??" ucap Marvel setelah laki laki itu berhenti tepat di samping mejanya.
Marvel menyelidik ke arah mereka berdua yang tertangkap basah sedang makan bersama.
"Kalian??" dia menatap Bunga dan Davien secara bergantian untuk memastikan.
Mengingat bahwa Marvel pernah mengatakan kalau dia menyukai Bunga, Davien tak lantas memperlihatkan dengan jelas ketertarikannya dengan perempuan itu.
"Aku sengaja mengajaknya makan siang karena ada hal pekerjaan yang hsrus aku bicarakan dengannya!, " laki laki itu tersenyum tipis.
"Pekerjaan??, , apa yang di bahas oleh atasannya kapada seorang OG hingga sampai harus mengajaknya makan siang di luar,?"
Marvel tak mau ambil pusing dengan apa yang mereka bahas, baginya saat ini yang terpenting adalah bertemu dengan Bunga.
"Oh ya, beberapa hari ini aku menghubungimu! tetapi nomormu tidak aktif? kamu baik baik saja Bunga?" Marvel mengalihkan pandangannya, melihat ke arah Bunga dengan tatapan penuh kekhawatiran. Tangannya bergerak mengusap lembut ujung kepalanya.
Bunga mengalihkan pandangannya ke Davien, laki laki itu nampak gelisah. Tatapan matanya menajam ke Bunga tak suka melihat perlakuan Marvel kepadanya.
Bunga menyadari Bahwa Davien sedang berbicara melalui isyarat matanya, meminta agar dia menghentikan laki laki itu untuk mengusap kepalanya.
"Ka!, , sudah aku bilang beberapa kali kalau aku bukan anak kecil!" Bunga menepis lembut tangannya.
Marvel menggerakkan yangannya merangkup kedua pipinya Bunga di sisi kanan dan kiri. Memaksa Bunga menghadap kearahnya. Dengan gemas, Marvel kemudian berucap.
"Iya iya, , maaf" Marvel mendekatkan kepala, menyandarkan keningnya di kening Bunga.
"Aku benar benar merindukanmu!"
"Kak!!" Bunga dengan segera meraih tangannya, menarik kepala menjauh dari Marvel. Pandangannya seketika langsung tertuju kepada Davien yang duduk di seberang meja. Auranya terlihat menggelap.
Dadanya terasa sesak ketika melihat pemandangan yang sangat menjengkelkan di depan matanya. Davien masih menghormati Marvel sebagai sahabatnya, maka dia lebih memilih untuk diam menikmati rasa nyeri yang sedang menjalar ke seluruh tubuhnya. Davien mengepalkan tangannya kuat, menahan amarah.
"Maaf, waktuku tidak banyak. Aku harus segera pergi" Davien beranjak berdiri dari kursi.
"Marvel, , ,aku serahkan Bunga kepadamu! jaga dia!" Davien segera melangkah pergi meninggalkan Bunga dan Marvel di sana. Dengan menahan rasa sakit, Davien berjalan menuju pintu.
Di sisi lain, Bunga diam terpaku. Bibirnya terasa membeku ketika ingin berteriak memanggil namanya.
"Apa ini??, apa dia sedang mempermainkanku??bagaimana dengan mudahnya dia menyerahkanku kepada Kak Marvel??"
Bunga terdiam menikmati rasa jengkel, sedih sekaligus perih yang bercampur aduk di dalam hatinya.
"Davien" gumamnya.
"Ada apa dengannya?" Marvel kembali menatap Bunga, dia terdiam ketika melihat Bunga masih bertahan melihat ke arah Davien yang mulai menghilang. Seakan tak rela jika Davien pargi neninggalkannya.
Melihat rona kesedihan di wajahnya, Marvel seakan tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua.
Tetapi unyuk saat ini Marvel lebih memilih diam
"Tenanglah, akau pasti akan menganjagamu"
__ADS_1