
Setelah berdebat panjang lebar dengan Davien di ruang rapat tadi, akhirnya Bunga mendapat ijin keluar menemui Loria dan bermalam di apartemennya.
"Bagaimana? Katakan bagaimana perasaanmu, Bunga! Kau pasti sangat senang bisa duduk di samping presdir ketika sedang rapat. Bahkan aku saja tak berani membayangkan hal itu" Loria berucap sambil memasukkan makanan ke dalam mulut.
"Kau bayangkan saja sendiri kak, aku yang tadinya seorang OB, tiba-tiba diberi jabatan dan ikut rapat bersama dengan presdir pemilik dari D Enterteintmen. Selama aku duduk di sampingnya, aku bisa merasakan aura kebencian sangat-sangat mengental di otak mereka!" ucapnya mengacu pada pegawai dari divisi lain.
Bunga meraih secangkir coklat panas mencercapnya perlahan. "Mereka bahkan menatapku dengan remeh, hampir semua yang ada di ruangan itu menatapku sinis. Tetapi... Davien, lelaki itu menguatkanku. Dia selalu berkata bahwa aku bisa melakukannya."
Loria sangat bangga, merasa bahagia untuk Bunga, perempuan itu seakan bida membawa nama baik OB di kalangan para pegawai.
***
Laura membuka pintu melangkah masuk ke ruang kerja putranya. Dia berjalan menghampiri Marvel meletakkan tas di atas meja lalu duduk di kursi dengan gayanya yang elegan.
"Tumben?" ucap Marvel ketika melihat Laura datang menemuinya di tempat kerja malam hari. Heran karena Laura jarang pergi menemui dirinya ketika sedang bekerja kecuali benar-benar ada keperluan yang sangat penting.
"Salah, kah? Ibu menemuimu?"
"Tidak Bu, bukan seperti itu maksudku... hanya saja tidak biasanya Ibu datang menemuiku di jam malam seperti sekarang" Marvel menutup map mendorong tubuhnya ke belakang bersandar di kursi. "Apa ada sesuatu yang penting Bu?" Marvel menatap ke arahnya.
"Semalam Ayahmu mengatakan, dia ingin kau segera menikah, Marvel" Laura menaikkan kedua alisnya menatap lekat ke arah Marvel.
Lelaki itu terdiam ekspresi wajahnya terlihat bingung, namun dengan baik Marvel bisa menyembunyikannya dan bersikap tenang. "Ibu... bukankah sudahku katakan aku belum tertarik untuk menikah saat ini" sebelumnya Marvel ingin memperkenalkan Bunga kepada Laura, tetapi suatu hari di mana Marvel menyatakan cintanya dan Bunga menolak, maka Marvel lebih memilih untuk mengurungkan niatnya.
"Kau yakin Marvel? Ibu sempat berpikir kalau Ibu ingin menjodohkanmu dengan Bunga" mendengar ucapan Laura seketika bibir Marvel terpaku, dia tak dapat berucap. Antara senang bingung dan terkejut bercampur menjadi satu. "Kenapa kau terlihat bingung seperti itu? bukankah kau menyukai gadis itu?" Laura menebaknya dengan benar.
Marvel mulai gugup bingung dia tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya di depan Laura. "Maksud Ibu, Ibu ingin aku–," ucapnya terputus, Laura memotong pembicaraan.
"Iya! Ibu ingin kau menikah dengannya!"
Ujung matanya terus menatap ke arah Laura, setelahnya Marvel menghela nafas panjang tak tahu harus berkata apa.
“Kau bisa memikirkannya lagi nanti. Ini sudah malam... kau seharusnya pulang dan istirahat. Kalau seperti ini terus bagaimana bisa para gadis akan mendekatimu!”
***
Davien terlihat berada di pusat kebugaran, tempat itu sangat ramai dikunjungi banyak orang bahkan sampai tengah malam.
Huh! Huh! Huh! Nafasnya kasar saat mengangkat besi dengan berat puluhan kilo guna membentuk otot di bagian tubuhnya.
Rambutnya basah begitu juga dengan kaos yang dikenakannya dipenuhi keringat. Entah sudah berapa lama dia menghabiskan waktu di sana.
Berkali-kali ujung matanya melirik jam dinding. Davien mulai terlihat kesal karena menurutnya jam itu bergerak sangat lambat. Dia yakin kalau sudah menghabiskan waktu berjam-jam di sana, tapi nyatanya jarum panjang baru bergerak 30 menit sejak kedatangan Davien di tempat itu.
“Aaaaarrrggghhh!” geramnya kesal, membanting alat berat itu kemudian. Entah kenapa waktu seakan terasa begitu lama. Tenaganya telah habis untuk berolah raga namun baginya jam seakan berhenti berputar.
Kekesalan Davien berujung pada perhatian semua orang yang tertuju kepadanya terutama perempuan. Ternyata tempat gym itu didominasi oleh kaum hawa.
Mereka tampak berbisik membicarakan Davien. Lelaki yang sedang berdiri meneguk minuman itu teramat indah untuk dilewatkan.
__ADS_1
Setelah meminum sebagian Davien kemudian menggunakan sisanya untuk menyiram kepalanya yang terasa panas. Air mencuat dari rambutnya yang menari saat Davien memutar kepalanya.
“Wwwwoooooohhh!! Semua perempuan dibuat syok melihat Davien tengah mengguyur tubuhnya.
“Astaga! Bagaimana bisa lelaki itu terlihat sangat indah tapi sulit untuk di jangkau!”
“Ya ampun! Wajahnya sangat tampan, belum lagi otot di lengan dan juga perutnya terlihat sangat keras... oooh! Ingin sekali aku menyentuhnya!”
Tak ada satu pun perempuan yang melewatkan pandangan itu. Bahkan ada juga beberapa lelaki yang tak bisa mengalihkan matanya dari Davien, tentu saja mereka pasti kaum pelangi yang mendambakan memiliki kekasih seperti Davien.
Padahal tubuhnya terbungkus kaos, tapi karena basah dan lagi di tambah dengan guyuran sisa air minumnya membuat kaosnya yang semakin basah melekat ke permukaan kulit membentuk sesuai dengan lekukan tubuhnya. Terutama di bagian perut, kaos itu seakan mengerti keinginan kaum hawa yang dengan jelas memperlihatkan sixpack milik Davien begitu jelas.
Davien tak bisa tinggal diam, baginya hal itu sangat menyiksa.
***
"Baiklah Bunga ini sudah larut malam, putriku pasti sudah menungguku pulang di depan pintu!” Loria beranjak berdiri dari kursi. "Terima kasih atas traktiranmu malam ini, kapan-kapan aku akan mentraktirmu balik" ucap Loria sebelum pergi meninggalkan meja.
"Tenang kak, aku senang bisa berbagi makanan denganmu. Kak Loria... sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Semenjak datang ke kota ini... kau telah menjadi teman terbaik.”
Loria mengangguk sambil tersenyum meraih pundak Bunga mengusapnya dengan lembut. "Sama-sama, jaga dirimu oke!" Loria pun pergi meninggalkannya.
Huuuuft!!! Bunga Menghela nafas panjang, sudah malas membayangkan perjalanan kembali ke apartemennya. Setelah membuka dompet mengambil uang Bunga membayar tagihan makanannya.
Perempuan itu beranjak berdiri dari kursi berjalan menuju ke pintu dengan langkah berat. Raut wajahnya kusut sejak pulang dari tempat kerja. “Kenapa denganku? Bukakah aku sendiri yang ingin tidur di apartemen malam ini? Kenapa juga aku yang merasa kesepian!” Bunga terus bergumam kesal, menyesali keputusannya sendiri yang ingin menginap di apartemen malam itu.
Davien berdiri bersedekap sambil bersandar di mobilnya. Kepalanya menunduk melihat kakinya yang sibuk menendang kecil kerikil di bawah sana. Setelah mengangkat kepala pandangannya tertuju kepada Bunga yang berdiri mematung.
Seketika jantungnya berdebar dengan kencang Ini bukan pertama kalinya Bunga bertemu dengan Davien. Tetapi setelah kejadian malam itu, dia selalu dibuat berdebar setiap kali melihat lelaki itu. Bunga tak bisa mengendalikan diri karena bayangan kejadian malam itu selalu melintas di otaknya, membuatnya malu serta tak bisa berpikir dengan jernih.
Terlepas dari semua itu, kini yang membuat Bunga terpaku syok nyaris air liurnya menetes saat melihat Davien adalah, lelaki itu tampak sangat berkarisma, kulitnya lebih bercahaya. Padahal Davien tidak mengenakan setelan jas rapi seperti saat sedang berada di kantor. Hanya mengenakan celana kolor panjang yang dipadu dengan kaos berwarna putih. ‘Bagaimana bisa Tuhan menciptakan makhluk seindah ini? Tapi, Tuhan memang adil... karena aku yang serba kekurangan ini bisa memiliki dirinya!’ Bunga bangga merasa bisa mendapatkan lelaki yang menjadi incaran para wanita.
Lelaki itu beranjak mendekat, membuat Bunga bisa melihat bahwa tubuhnya basah karena keringat.
Glek! Bunga menelan ludahnya. Pikirannya semakin dibuat kacau.
Davien bahkan datang menemui Bunga tanpa mengganti pakaiannya.
Lagi-lagi perutnya yang rata tak terlihat buncit sedikit pun dan juga otot di bagian lengannya yang membesar menyembul dari bawah kulit membuatnya terlihat sangat panas dan seksi.
Pikirannya dipenuhi oleh bayangan semalam saat lelaki itu menguasai tubuhnya. ‘Astaga! Kenapa dengan otakku hari ini?!’ kepalanya bergidik menyadarkan diri. Ghm! Bunga berdehem menetralkan perasaan sebelum menyapa lelaki itu. "Kau? kenapa ada di sini?" ucap Bunga setelah kewarasannya kembali menguasai otaknya yang sempat mesum.
Belum mendapatkan jawaban dari Davien, lagi perempuan itu melontarkan pertanyaan. "Kau tidak kedinginan? Kau tidak memakai pakaian hangat? Di luar udara sangat dingin!" Bunga berucap mencoba mengalihkan pikiran nakalnya.
Setelah diam beberapa saat dengan pandangan semakin lekat, Davien berucap mengeluarkan semua unek-unek di dalam hatinya. "Pertama, kenapa aku datang kemari? Itu karena aku ingin menjemputmu. Kedua, kenapa aku tidak memakai jaket?" Davien memijat kecil keningnya. "Karena aku baru saja menghabiskan waktuku di tempat gym. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghabiskan waktu!" pandangannya semakin dalam. "Ketika kau tidak ada... waktu seakan terasa sangat lama. Ayolah Bunga, kembali bersamaku!”
Bibirnya terpaku membisu kelu melihat betapa frustrasinya seorang Davien karena dirinya.
“Sepulang kerja sampai detik di mana aku menunggumu di sini sebelum melihatmu, waktu terasa sangat lama, berkali-kali aku memastikan melihat jam... sampai aku pikir jam tanganku rusak. Tapi... ternyata semua jam yang aku lihat juga sama, tak bergerak sedikit pun. Bagaimana jika... hari esok tak kunjung datang?” Davien seperti anak ayam kehilangan induk. Caranya protes kepada Bunga, layaknya seorang anak kecil yang ingin mendapat perhatian dan dimanja. “Aku tidak mampu harus menunggu hari esok untuk bertemu denganmu, Bunga! Ini sangat menyiksa!”
__ADS_1
Melihat Davien bergerak mendekat, Bunga refleks menarik kakinya sedikit ke belakang menjauh.
Davien melihat jelas bahwa perempuan itu berusaha menjauh darinya. Wajahnya terpaku seketika melihat reaksi Bunga yang terasa berbeda. “Kenapa? Kau terlihat aneh malam ini?”
“He?! Ummm... tidak! Hah... udaranya semakin dingin di luar. Davien kau harus mengganti pakaianmu yang basah ini!”
“Tapi... kau harus ikut pulang bersama denganku!”
Bunga terdiam sejenak memikirkan sesuatu sebelum memenuhi keinginan Davien. “Biklah kita pulang ke rumahmu!" ucapnya gugup. Bunga menghindar dengan berjalan cepat mendahului Davien menuju ke mobil.
Lelaki itu sempat terdiam menunduk menatap tangannya, dia yakin kalau Bunga dengan sadar menolak untuk digenggam tangannya.
***
Saat di dalam mobil, Bunga yang masih terlihat gugup hanya membuang pandangannya ke arah luar.
Sementara Davien sesekali melirik mengawasi Bunga dari arah samping. Yang di lakukan Davien saat ini adalah mencoba untuk meraih tangannya.
Dia tahu kalau perempuan itu masih canggung dan sangat gugup. Davien memberikan kecupan di punggung tangannya bertubi-tubi.
Muah! Muah! Muah!
Genggaman tangannya semakin menguat kala melihat Bunga menoleh cepat karena terkejut, Davien takut perempuan itu akan melepaskan genggaman tangannya.
Dugaannya sangat tepat, Davien mulai bisa merasakan gerakan tangan Bunga yang seolah sengaja di tarik secara perlahan agar terlepas. Refleks Davien justru semakin menguatkan genggaman tangannya.
"Kenapa?" Davien seolah bertanya kepada Bunga kenapa selalu berusaha menghindar.
"Ti... tidak, tidak apa-apa" jawabnya singkat.
Davien tersenyum seakan mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Bunga,.
***
Pandangannya menyapu ke sekitar. Bunga kebingungan saat Davien membawanya ke suatu tempat yang begitu asing baginya. Tampak seperti bukit yang tak terlalu tinggi, tapi dari atas sana mereka bisa melihat bintang berjatuhan dengan jelas.
Bunga menganga dibuat takjub oleh keindahan tempat itu di malam hari. Bunga bahkan merasa Seakan dia bisa melihat galaksi dari sana. “Ini sangat indah!” gumamnya.
Saat Bunga menikmati keindahan langit yang bersinar, Davien sibuk mengeluarkan teropong dari dalam bagasi. Tak lupa dia memakai jaket terlebih dulu sebelum naik ke atas bukit karena udara terlalu kencang dan dingin.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Bunga melihat Davien tengah membawa perlengkapan teropong dan lain sebagainya.
"Ikut saja denganku, kau akan tahu nanti!”
***
Setelah berjalan beberapa puluh meter akhirnya mereka tiba di astas. Davien mulai merangkai alat teropongnya.
"Kau biasa melakukan hal ini?" pertanyaan yang terlontar dari mulut Bunga membuat Davien terdiam sesaat, dia mengingat bahwa dulu ketika Essie masih hidup mereka sering melakukannya berdua. Namun Davien sengaja tak menceritakan hal itu karena tidak ingin merusak momen indah bersama dengan Bunga.
__ADS_1