
Setelah membantu mengeringkan rambutnya, Davien sengaja membiarkan handuk putih kecil itu menutupi jepalanya.
"Karena aku tidak ingin kamu memperlihatkan bagian itu kepada semua orang" Davien mengalihkan pandangannya menyapu tubuh Bunga.
Perempuan itu merona, menunduk menyembunyikan wajahnya. Dadanya berdebar gelisah serta gugup melingkupi tubuhnya ketika sadar Davien sedang mengawasi tubuhnya yang hanya mengenakan handuk berukuran sedang. Dan handuk itu hanya menutupi sebagian tubuhnya.
Permukaan kulit bagian pundak hingga pahanya masih terekspos. Membuat tatapan liarnya menelusuri bagian sana.
"Davien bukankah aku sudah memintamu untuk pergi?"
"Aku tidak akan pergi, , sebelum kamu merasa lebih baik!" sahutnya dengan cepat. Davien masih berdiri di depannya menunggu Bunga Bereaksi.
"Aku baik baik saja Davien. Aku mohon pergilah"
Davien tak menghiraukan permintaannya. Kini satu tangannya meraih dagu Bunga memaksa perempuan itu menghadapkan wajah ke arahnya. Bunga merusaha menepis pelan tangannya tetapi Davien berusaha keras mempertahankan agar Bunga tetap melihat ke arahnya.
"Kamu habis menangis lagi?"
"Tidak" Bunga menarik kepalanya untuk melepaskan tangan Davien yang masih memegangi dagunya.
"Davien aku mohon pergilah dari sini!" Bunga berucap dengan nada rendah, dia sudah tidak memiliki cukup tenaga untuk mendorong paksa laki laki itu keluar dari apartementnya.
Bukannya mengindahkan permintaannya, Davien malah merangkup rahang Bunga di sisi kanan dan sisi kiri menggunakan kedua tangannya. Memaksa kembali perempuan itu untuk melihat ke arahnya.
"Davien?"
"Aku tidak akan pergi, , sebelum kamu berjanji tidak akan menangis lagi" Davien menghela nafas panjang. Pandangannya menyelidik ke matanya yang masih memerah dengan sedikit air dari sisa tangisnya.
"Lupakan tentang kejadian tadi"
"Tidak semudah itu Davien!" matanya kembali memerah serta berkaca kaca.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melupannya begitu"
"Aku akan membantumu!" sahutnya memotong pembicaraan.
Bunga terdiam, bibirnya terpaku tak dapat berucap ketika berusaha keras mencerna ucapan Davien yang baru saja terlontar dari bibirnya.
Seketika Davien membungkuk mendekatkan wajahnya mendekati Bunga. Tanpa aba aba dia mengecup bibirnya, Davien membiarkan kecupan itu bertahan lama. Tak langsung melepaskannya, Davien membuka sedikit matanya . Wajahnya terpaku ketika melihat Bunga masih membuka mata menatap ke dirinya.
Davien menarik kepalanya sedikit ke belakang menjauh, namun hidung mereka masih saling menempel. Nafas yang terasa panas saling beradu menyapu wajah.
"Lupakan kejadian tadi" Davien kembali berucap, menempelkan lagi bibirnya ke bibir Bunga. Kemudian sengaja berucap dalam keadaan bibir mereka saling bergesekan.
"Biarkan aku membantumu melupakannya!"
Ketika tak ada perlawanan dari Bunga, Davien mencium bibirnya dengan lembut. Menyesap, memainkan bibirnya dengan perlahan dan penuh kehati hatian. Davien sengaja melakukannya agar tak menyakiti Bunga seperti yang di lakukan oleh Roland. Itu hanya alasan Davien, karena sebenarnya dia hanya ingin menghapus jejak bibir Roland di sana.
Bunga masih terdiam, tak membalas ciumannya. perlahan matanya terpejam ketika Davien mampu membawanya terhanyut ke dalam ciumannya.
"Di mana lagi Roland melakukannya?" ucapnya merujuk kepada kejadian di mana Roland mencoba menghujin dirinya dengan ciuman paksa.
Bunga membuka matanya, dadanya berdebar kencang ketika merasakan nafas panas menyapu permukaan wajahnya. Bibir mereka masih berpagutan, sementara mata mereka terbuka dan saling menatap satu sama lain.
Davien melepaskan ciumannya, menarik kepalanya menjauh. Menyadari bahwa Bunga tak menjawab pertanyaan, Davien menelisik ke setiap jengkal tubuhnya. Pandangannya terpaku ke sebuah tanda merah kecil dan nyaris tak terlihat. Tetapi kejelian matanya bisa menemukan tanda itu dengan jelas ada di sana. Entah karena perasaan cemburu yang masih menyiksanya membuat Davien tak bisa dengan tenang meninggalkan Bunga sebelum memastikan sendiri bahwa keadaan tubuh perempuan itu memang benar benar bersih.
Bunga meraba bibir dengan tanganya. Masih mencoba menikmati bekas sisa kelembutan bibir Davien. laki laki itu benar benar membuat Bunga lupa dengan Roland yang sempat mencium paksa dirinya.
Dia terpaku sementara jarinya masih meraba perlahan.
Davien mengalihkan pandangannya ke mata Bunga yang terlihat kosong. Melamun entah memikirkan apa.
"Bunga?" ucapnya dengan lembut.
__ADS_1
Bunga tak menyahutnya. Dia masih menikmati sisa ciuman Davien yang membuat bibirnya basah.
"Aku akan menghapus sisanya" ucapnya kemudian. Seakan tak perlu menunggu izin dari Bunga, Davien memiringkan sedikit kepalanya, mendekati leher Bunga kemudian mencium di bagian sana yang sedikit terlihat sisa bekas merah yang di tinggalkan oleh Roland.
Bunga masih terdiam, seolah merasa terhipnotis dengan apa yang sedang di lakukan oleh Davien. Matanya terpejam perlahan saat tubuhnya terdorong ke belakang karena kini Davien telah memaksanya berbaring di atas ranjang. Kedua tangannya kini perlahan bergerak meraih lengan Davien kemudian mencengkeramnya dengan kuat.
Davien beberapa kali mengecup bagian lehernya, namun kini laki laki itu nampak menghentikan ciumannya di bekas yang memerah. Davien terdiam sesaat, matanya masih mengamati bekas itu dengan lekat. Dadanya terasa sesak ketika mengingat bahwa Rolandlah yang telah melakukannya, kini Davien memilih untuk mencium kembali dan menyesapnya kuat. sengaja membuat bekas itu semakin memerah padam. Bekas yang ditinggalkan Roland kini sudah tak terlihat. Davien sengaja agar Bunga selalu mengingatnya bahwa Davienlah yang telah membuat tanda merah itu di lehernya.
Kerutan halus terlihat di dahinya ketika merasakan sedikit rasa perih saat Davien menggigit kecil serta menyesapnya dengan kuat. Bunga membuka matanya seketika. Sadar dengan apa yang sedang terjadi, Bunga terdiam sesaat, kini dia merasakan kecupan Davien tengah menurun menuju ke dadanya.
"Davien hentikan!" ucapanya seakan tak di gubris oleh Davien. Laki laki itu masih menghujani bagian leher serta dadanya dengan kecupan lembut.
"Jika kamu masih melakukannya. Itu artinya sama saja! kamu dan laki laki itu tak ada bedanya" suaranya terdengar parau. Bunga masih bisa merasakan jejak basah bekas ciumannya di sekitar sana.
Davien memaku tubuhnya menghentikan kecupannya. Menyandarkan kepala tepat di pertengahan dada Bunga. Dia menghirup kuat aroma wangi tubuh Bunga yang mencuat dari balik handuk.
"Bagai mana bisa kamu menyamakanku dengan laki laki itu!" Davien terdiam sesaat menikmati rasa kecewa di dalam hatinya.
"Dia melakukannya karena hanya ingin menikmati tubuhmu saja. Tetapi aku"
"Kamu sama saja dengannya!" sahutnya dengan cepat. Bunga mencoba mendorong Davien agar menjauh darinya.
"Kamu membutuhkanku hanya sebagai tempat pelampiasan!" Bunga menatap tajam matanya.
"Bukankah begitu Davien?".
Laki laki itu kini menggunakan kedua tangannya di sisi kanan dan sisi kiri Bunga untuk menyangga tubuhnya di atas ranjang.
"Apa maksudmu?" ucapnya seketika dengan nada tenang.
"Kamu juga membutuhkan tubuhku sebagai tempat pelampiasan. Kamu selalu melihatku sebagai perempuan itu. Bukan sebagai diriku saat ini!" Bunga mengatakan hal yang selalu mengganggu pikirannya. Dia memang benar benar tak nyaman ketika sedang berdekatan dengan Davien. Karena merasa bahwa laki laki itu hanya akan selalu melihat Essie di dalam dirinya.
__ADS_1