
"Kita akan menginap di sini?" ucap Luna bibirnya sedikit bergetar karena gugub.
"Mm" Barack mengangguk, dia memandang ke arah wajah Luna, meletakkan kunci mobil beserta ponsel di atas nakas dekat ranjang.
Luna berjalan ke arah sofa di depan tv, dia berusaha keras menutupi rasa gelisah di dalam hatinya.
Meraih remot dan menyalakan tv salah satu cara yang di lakukannya untuk mengalihkan perhatiannya dari pikiran pikiran nakal yang meracau otaknya.
Dari ujung matanya Luna melihat bayangan Barack tengah berjalan mendekat ke arahnya.
Luna semakin merapatkan kakinya, meraih tengkuknya sendiri terlihat jelas bahwa dia benar benar gugub mengetahui barack mendekat ke arahnya.
Barack duduk di samping luna. Dia tahu bahwa istrinya itu selalu sport jantung setiap dia mendekatinya.
Makanya kali ini dia memilih ke dua paha luna sebagai sandaran kepalanya.
Tubuh Luna melonjak kaget saat Barack tidur di pangkuannya.
"Biarkan aku tidur sebentar di kakimu" ucapnya sambil memejamkan mata.
Wajahnya terlihat begitu kekanak kanakkan, seperti seorang anak kecil yang sedang tidur di pangkuan ibunya.
Hati luna tergerak, dia membelai lembut kepala barack dengan gerakan beraturan.
Barack tersenyum, dia menikmati setiap belaian tangan istrinya itu.
Kini dia lebih memilih menahan tangan Luna dan mengecupnya lalu menggenggamnya dengan erat.
Beberapa menit berlalu, Barack mengubah posisi tidurnya menghadap ke langit langit.
Dengan sangat jelas Luna bisa melihat wajah barack yang terlihat sangat tampan itu.
Jantungnya berdegub kencang, bahkan ingin memandang wajah suaminya dari dekat saja dia terlihat malu malu seperti anak kemarin sore yang baru mengenal cinta.
Pandangan matanya menyapu wajah Barack, matanya terhenti di bibirnya yang terlihat tipis namun sangat berisi itu.
Luna menelan ludahnya dengan susah payah, pikiran nakal mulai meracau otaknya.
Luna membungkuk mendekati wajah barack, entah apa yang merasukinya tiba tiba rasa ingin mencicipi bibir suaminya itu melintas di benaknya.
Luna tidak sadar kalau hembusan nafasnya menyapu wajah barack ketika wajah mereka berdekatan.
Barack menyadari hal itu, dia langsung membuka matanya dengan cepat.
Luna nampak terkejut dia menarik kembali kepalanya ke arah belakang.
Namun Barack meraih tengkuk Luna dengan tangannya, menahan wajah luna tetap berada di dekatnya.
"Kenapa tidak jadi menciumku?" suara parau dan berat keluar dari mulutnya.
Pipi Luna bersemu seketika. Dia menepis tangan Barack dengan perlahan.
"E, , siapa bilang?, , aku tidak bermaksud untuk menciummu!" ucapnya terbata.
Barack mengubah posisinya menjadi duduk menghadap ke arah istrinya.
Dia mendekat ke arah telingga luna dan berbisik di sana.
__ADS_1
"Kenapa pipimu merona?" sementara tangannya mengusap lembut pipi Luna yang merona itu.
Luna bergidik merinding di sebagian sisi tubuhnya.
"Sepertinya aku harus mandi, udara di sini terasa sangat panas" Luna mengibas kibaskan tangannya ke arah wajahnya sendiri, dia beranjak dari kursi menghindar dari barack.
Dia berlari ke arah kamar mandi dengan cepat, berusaha menutupi wajahnya yang tersipu malu.
Barack tersenyum dia lebih memilih membiarkan luna dan tidak mengejarnya, karena kalau sampai dia mengejar Luna ke kamar mandi, yang ada nanti dia akan kesusahan mengontrol dirinya.
♡♡♡
Aryo tengah sibuk dengan laptopnya di meja ruang cafe yang tak begitu ramai.
Hanya beberapa meja yang terlihat terisi oleh pengunjung di siang hari, namun menjelang sore hari cafe itu akan penuh dengan pengunjung dari berbagai dalam dan luar kota.
Dia memilih menyelesaikan kerjaannya sambil menikmati deru ombak yang berkilau karena memantulkan sinar matahari.
Sesekali nampak pandangan matanya di alihkan ke arah cici yang tengah sibuk mengupas kulit kacang.
"Heeeeh, ngemil mulu kerjaannya!" ucap Aryo seketika memaksa Cici untuk berhenti dari aktivitasnya.
"Resek banget sih!!, , diem napa, udah syukur di temenin bikin laporan juga, , , bawel banget mulutnya, ini salah itu salah" ucap cici dengan nada setengah berteriak.
Cici mulai melepas cardigannya yang menutupi pundaknya.
"Ini juga kenapa jadi gerah banget sih" pipi cici merona dengan sendirinya.
Dia menanggalkan cardigannya begitu saja dan melempar ke arah lain.
"Eh buset" gumam Aryo saat melihat Cici membuang cardigannya sembarangan.
Cici memakai dalaman rajut lengan pendek hingga memperlihatkan bagian lengannya yang bersih dan mulus itu.
Sementara bagain lehernya masih terbungkus rapi, karena dalaman rajut memiliki kerah yang menutup penuh bagian leher Cici dengan lekat.
Aryo nampak gelisah. Dalaman rajut itu nampak membungkus bagian dada Cici hingga terlihat menjadi sangat sekal padat dan indah.
"Mampus beneran ini aku" gumam aryo sambil mengusap wajahnya dengan kasar sesekali dia menjambak rambutnya sendiri untuk mengembalikan kesadarnnya, dia berusaha membuang tatapan nakal yang sedari tadi menyapu dada Cici.
Cici mulai memperlihatkan gelagat sensualnya, tangannya meraba tengkuk dan dadanya sendiri, sedangkan matanya mulai memandang Aryo dengan nakal.
Nampak sekali kalau Cici seperti sedang berada di bawah pengaruh obat, dia juga berusaha menahan tingkah anehnya itu.
Tak terlihat menonjol saat Cici memamerkan gerakan sensualnya namun itu sudah sangat membuat Aryo kalang kabut hingga menutupi matanya dengan tangan, namun dia mengintip Cici dari sela jari tangannya yang memang sengaja di buka lebar untuk mempermudahkan dirinya melihat ke arah Cici.
"Jangan jangan efek obatnya sudah bereaksi"
Wajah aryo nampak pucat, dia menarik tangan yang menutupi matanya dan kembali memandang ke arah Cici yang sepertinya sudah maulai kepanasan.
"Kok gerah bangat ya?, , perasaan juga sudah mulai sore, tapi kenapa panasnya melebihi siang hari" ucapnya sambil menarik dalaman rajutnya yang menutup dada, seperti berusaha memberi ruang agar ada sedikit udara yang masuk dan memberi kesejukan di sana.
Memang dasar penjahat kelamin, baru saja melihat lengan yang mulus dan dada Cici yang masih terbungkus rapih membuat darahnya berdesir tak karuan.
Aryo mengambil ponselnya dan menjauh dari Cici untuk melakukan panggilan kepada leo.
"Hallo" serunya ketika panggilannya di jawab oleh leo.
__ADS_1
"Kenapa berteriak seperti itu?" Leo seperti terkejut mendengar suara aryo dari arah ponselnya.
Aryo nampak kebingungan.
"Apa obat yang kamu berikan, efeknya sangat cepat?, bagaimana cara mengatasinya tanpa harus menyetubuhi orang yang sudah mengkonsumsi obat itu?" Aryo menghujani leo dengan pertanyaannya.
Tak ada jawaban, sepertinya Leo sedang berfikir keras mencerna pertanyaan Aryo.
"Kenapa kamu malah bertanya, seperti anak kemarin sore yang tidak tahu efek dari obat itu" leo nampak jengkel dari seberang sana.
"Masalahnya" ucapan Aryo terputus dia merasa ragu untuk meneruskan ucapannya.
"Sebenarnya"
"Aku menyuruhmu untuk memberikan kepada Barack bukannya kamu pakai sendiri bodoh!!" leo memotong pembicaraan seperti tahu jalan pikiran Aryo.
"A, , aku tidak sengaja dia tiba tiba" ucapan Aryo terbata dia seperti anak kecil bandel yang sedang di marahi oleh orang tuannya.
"Kamu berikan kepada siapa obat itu?" ucap leo memotong pembaicaraan lagi, dia mendesak Aryo untuk menjawab pertanyannya.
"Cici" suara Aryo terdengar sangat frustasi.
"Mampus!! kamu bakal di cekik dan di telan mentah mentah nanti sama sahabatnya" ucapan Leo merujuk pada Luna.
"Aku menelponmu karena butuh saranmu, bukan untuk menceramahiku, sialan" Aryo terlihat sangat gelisah dia menjambak rambutnya sendiri.
Aryo mendengar suara kekkehan leo dari seberang sana.
"Kenapa kamu malah tertawa!" ucapnya dengan galak.
"Tidak ada yang bisa kamu lakukan!, , selain, , me, nye, tu, bu, hi, nya" Leo berucpa dengan sangat pelan agar Aryo bisa mendengarnya dengan jelas
"Tidak bisa!!!, , pasti ada cara lain" Aryo berfikir keras sambil memijat keningnya dengan kasar.
"Bisakah aku menyiramnya dengan air es agar otaknya kembali normal?" ucapnya tanpa rasa bersalah.
"Kenapa bukan otakmu saja yang kamu siram dengan air es??" Leo kembali terawa.
"Silahkan saja kamu lakukan itu, tapi kamu harus tahu konsekuensinya, itu bisa merusak syaraf terpenting di otaknya. Kamu tahu obat yang aku berikan untuk barack sengaja aku memilihnya dengan dosis yang tertinggi!!" Leo terdengar seperti sedang menghela nafas.
"Dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan kepuasannya" terusnya.
Aryo menghela nafas panjang.
"Kenapa?? biasanya kamu dengan mudah meniduri perempuan mana pun yang kamu mau" Leo berucap dengan santai namun terdengar sangat menusuk ke dada Aryo.
"Bajing**" umpatnya tanpa mengelak ucapan Leo.
"Iya itu kamu!!, , baru sadar??" terdengar Leo semakin tertawa puas.
Aryo menutul telponnya, dia menyesal sepertinya dia merasa percuma menelpon Lei.
Memang benar kata Leo dia selalu sesuka hati tidur dengan perempuan mana saja yang dia mau, harta orang tuanya yang melimpah membuatnya sangat mudah membuat perempuan mana saja bertekuk lutut di depannya.
Namun semenjak dia melabuhkan cintanya ke pada Luna, dia sama sekali berhenti dari kebiasaan buruknya itu.
Sedari tadi dia terus sibuk dengan ponselnya tanpa di sadari kalau Cici ternyata sudah meninggalkan kursi dan pergi keluar dari cafe itu.
__ADS_1
Aryo memalingkan wajahnya dan melihat ke arah bangku yang sudah kosong.
"Sial!!! kemana dia pergi"