
Namun James tak bisa mengabulkannya begitu saja, karena semenjak dari awal dia mengetahui kalau Davien memiliki perasaan khusus kepada Bunga, James tak berani hanya memanggil namanya.
"Maaf Nona, tetapi sepertinya aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu kali ini"
"Ah!! sudahlah terserah kamu!" Bunga tak ingin membahasnya lebih panjang lagi.
"Aku ingin bertanya tentang" Bunga terdiam sesaat. Dia merasa ragu ketika ingin menanyakan perihal gajinya kepada James.
Bunga berdehem menetralkan perasaannya.
"Nona?" James mengingatkan kepada Bunga untuk segera berucap, karena perempuan itu masih terlihat bingung. Dia merasa takut kalau kalau Davien tiba tiba keluar dan melihat mereka sedang berbincang berdua. Yang akan menimbulkan kesalah pahaman di antara mereka, dan hal yang paling dia takuti nantinya akan berimbas kepada pemecatan dirinya sebagai seorang sekretaris.
"Apakah kalian telah salah mengirin uang ke akun rekeningku? sebagai gajiku bulan ini??."
"Apa maksudmu, Nona?, , apa gajimu bulan ini kurang?" keningnya berkerut halus, James berusaha mencerna ucapannya.
"Bukan! bukan begitu, hanya saja nilai nominal yang kalian kirim ke akun rekeningku itu jumlahnya terlalu banyak. Aku pasti yakin James bisa membantuku mengeceknya sekali lagi. Apakah ada kesalahan dari pihak kalian dalam mentransfer gajiku?" Bunga mengerutkan dahinya, melihat James tersenyum tipis menanggapi ucapannya. Laki laki itu sepertinya sudah bisa mengerti maksud dari ucapannya.
"Kenapa kamu malah rersenyum??, apa ada sesuatu yang lucu dengan pertanyaanku?"
"Iya Nona, sebenarnya semuanya sudah diatur oleh komputer" James berhenti berucap, sejenak memberi jeda agar Bunga mencerna ucapannya.
"Aku masih tidak mengerti!" Bunga menggelengkan kepalanya perlahan.
"Semua data dan besarnya uang yang akan masuk ke rekening setiap pegawai, semua sudah diatur oleh komputer Nona, Tak akan ada kesalahan dalam hal itu. Nona tidak perlu khawatir. Saya pastikan bahwa nominal uang yang saat ini masuk ke dalam rekeningmu itu semua sudah sesuai dengan kesepakatan" James berucap menjelaskan.
"Kesepakatan?, dulu saat pertama kali aku menandatanganinya aku tidak membaca bahwa gajiku sebesar itu James" Bunga masih bersikuku ingin mendengar penjelasan yang masuk akal baginya.
James menghela nafas panjang.
"Maaf Nona aku tak bisa mnejelaskan lebih mendetail. Jika ingin tahu lebih lanjut silahkan menemui Pres Dir untuk meminta penjelasan. Karena semua itu sudah bukan menjadi kewenanganku!"
__ADS_1
"Begitukah?" Bunga menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan menayakan alasannya kepada Pres Dir" Setelahnya dia mengambil kembali nampan lalu melangkah menuju ke pintu.
Tok tok tok!!!
Bunga mengetuk pintunya, membuka kemudian berjalan masuk sembari menutupnya kembali. Matanya langsung rertuju kepada Davien yang tengah sibuk membaca berkas sekaligus menandatanganinya.
Perempuan itu meletakkan secangkir kopi ke atas meja perlahan, setelahnya tak langsung pergi karena sengaja menunggu Davien menyelesaikan tugasnya yang kemudian akan memberikan dia dia waktu untuk berucap.
Davien menutup map hitam yang ada di depannya setelah ujung matanya melihat bayangan Bunga masih berdiri bertahan di seberang meja tanpa permintaannya. Dia menghela nafas kasar.
"Kenapa kamu masih ada di sini?."
"Mm, , Pres Dir apa kamu yang sengaja menaikkan gajiku 10 kali lipat bulan ini?" tanyanya tanpa rasa canggung.
"Tunggu!!, kamu sengaja berdiri di sana menungguku hanya untuk menanyakan hal ini?" keningnya berkerut kasar, Davien padahal menginginkan lebih dari hal itu.
"Iya Pres Dir, akau hanya"
Perempuan itu sadar tak ada gunanya memaksa Davien untuk menjelaskan. kini dia lebih memilih diam dan mengeluarkan sebuah coklat dari dalam saku.
"Maaf Pres Dir" Bunga melangkah mendekat, meletakakan coklat itu di atas meja.
"Untuk Pres dir, , sebagai permintaan maaf karena ucapanku semalam!" Bunga menunduk menyembunyikan wajahnya.
Ekspresi wajahnya tak terbaca ketika melihat ke arah coklat yang ada di atas meja.
"Apa kamu sedang menyuapku?" ucapnya seketika.
"Tidak!, , aku ingat kalau Pres Dir menyukai coklat" senyum manis mewarnai bibirnya. Ucapnya merujuk kepada ingatan di mana mereka bertemu di sebuah mini market saat Davien membeli coklat dan lupa membawa uang tunai untuk membayarnya
"Ini mengingatkanku kepada sahabat kecilku, dia juga sangat menyukai coklat"
__ADS_1
"Dia siapa??" ucapnya memotong pembicaraanan. Davien ingin sekali mendengar Bunga menceritakan dirinya di waktu kecil. Tangannya pun sudah bergerak membuka laci, meraih boneka kecil berbentuk matahari yang selalu menemani kemana pun dia pergi.
Davien berniat ingin memperlihatkan boneka yang Bunga berikan kepadanya waktu itu, ingin mengingatkan kepada Bunga bahwa dia sahabat kecilnya.
Tetapi Bunga malah memilih untuk tak membahasnya lagi.
"Bukan siapa siapa? tidak penting, itu juga sudah menjadi masa lalu"
Ekspresi wajahnya tiba tiba berubah, aura gelap melingkupi tubuhnya seketika. Davien memaku tangannya ketika berhasil memegangi boneka matahari itu di tangannya. Mendengar bahwa dirinya bukan orang yang termasuk penting dalam hidupnya, dadanya bergemuruh merasa sakit seakan di cabik cabik hingga hancur di bagian sana. Davien menggenggam erat boneka kecil itu dalam kepalan tangannya yang semakin menguat. Tak lama, dia merenggangkan jari jemarinya dan memilih untuk menyimpannya kembali.
Dadanya terasa nyeri ketika mengetahui bahwa dirinya tak penting dalam hidup Bunga. Berbeda halnya dengan Davien, sejak pertemuan pertama kalinya dengan Bunga, Davien selalu menjadikan Bunga dan boneka itu sebagai pedoman hidupnya, selain Essie, Bungalah ternyata selama ini yang selalu membuatnya kuat mengahapi berbagai masalah di hidupnya. Termasuk saat kepergian Essie, boneka itu bahkan tak pernah lepas dari ganggaman tangannya.
"Jika kamu sedang merasa kesusahan, genggamlah ini. Aku pinjamkan ini untukmu. Aku selalu memakainya untuk menemaniku kemana pun aku pergi. Jika kamu sudah cukup merasa bahagia, kamu bisa mengembalikannya kepadaku"
Davien rak pernah bisa melupakan kata kata itu sejak dulu, tetapi dia merasa kecewa dengan Bunga yang seolah menganggapnya sebagai angin lalu.
"Pres Dir?, " Bunga berusaha menyadarkan Davien dari lamunanya.
"Kamu baik baik saja?" Bunga memastikan, ketika melihat Davien terdiam menunduk.
Davien memilih menyimpan boneka itu kembali dan menutup lacinya. Dengan sekuat hati dia mengangkat kembali wajahnya menghadap ke Bunga, salah satu ujung bibirnya terangkat. Mulai saat ini dia akan lebih mengikuti semua permainan Bunga. Dan menjalaninya dengan senang hati.
"Seperti yang kamu lihat. Aku baik baik saja"
"Sebagai permintaan maafku untuk yang lain. Maukah Pres Dir besok makan siang denganku?" Bunga berucap dengan bersunghuh sungguh. Dia tak menghiraukan bahwa Davien sebelumnya telah mengatakan kalau dia terlebih dulu memiliki janji dengan perempuan lain.
"Kita mulai dari awal?" Bunga mengulurkan tangannya.
"Apa ini?" ucapnya lirih, dengan nada berat. Davien mengerutkan keningnya menatap tangan Bunga.
"Kita berteman!" ucapnya seketika.
__ADS_1