Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
103. Side Story 2 Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Setelah melalui perdebatan panjang akhirnya Bunga mengalah dan menerima permintaan suaminya untuk berbaikan dengan ibunya.


Mereka berempat termasuk Juliet duduk di bangku depan rumah, Laura telah menyiapkan soto untuk mereka. Ternyata dia melanjutkan usaha ibunya yang dulu sempat dibenci, kini justru menjadi usaha yang Laura tekuni.


Laura yang duduk di seberang meja meraih tangan putrinya menggenggamnya erat kemudian. “Terima kasih Bunga, terima kasih karena kau sudah mengizinkan Ibu tinggal di sini! Ibu janji akan menjaga dan merawat rumah ini dengan baik!” ucapnya penuh senyum.


Bunga terlihat masih sangat canggung, apa lagi dia nyaris menarik tangannya secara kasar ketika Laura menggenggamnya tapi lagi-lagi suaminya yang duduk tepat di sebelah merangkul bahunya meyakinkan Bunga agar tidak lagi menolak ibunya. “Mm... kau tidak perlu berterima kasih! Ini juga rumahmu!” perlahan Bunga menarik tangannya. Sedetik pun dia tak menatap mata ibunya.


Sudah menerima dan memaafkan dirinya saja, Laura sangat bersyukur sehingga dia tak perlu berharap lebih meskipun sadar kalau Bunga belum bisa sepenuhnya menerima keberadaannya. “Oh, kalian makan sotonya aku akan membuatkan minuman hangat. Juliet, kau perlu bantuan nenek untuk makan sayang?” Laura tampak begitu berbeda, cara memperlakukan Juliet begitu terlihat tulus membuat anak kecil itu tersenyum dan nyaman berada di sampingnya.


Bunga terdiam melihat pemandangan di depan mata. Setidaknya meskipun dulu Laura selalu kasar dan bersikap buruk padanya tapi Bunga bahagia melihat dia menyayangi Juliet, menambah daftar orang-orang baik yang mengelilingi putrinya.


Setelah beberapa jam berada di tempat itu akhirnya Davien mengajak mereka kembali ke kota.


“Apa tidak apa-apa Ibu tinggal di sini sendiri? Kalau Ibu mau aku akan menyuruh James menyiapkan tempat tinggal untuk Ibu di kota.” Sebagai menantu idaman dan bertanggung jawab, Davien berusaha memberikan yang terbaik.


“Uhm... tidak perlu nak! Ini sudah cukup untuk Ibu. Walaupun kita baru bertemu beberapa kali, tapi kau selalu memperlakukanku dengan baik” Laura kemudian meraih tangan Davien. “Aku sangat berterima kasih karena putriku mendapatkan suami baik sepertimu Davien. Ibu mohon... jaga Bunga dengan baik” Laura mulai tak bisa menahan emosi, matanya seketika berkaca. “Jadilah suami yang selalu bisa diandalkan. Aku berharap Bunga bisa mendapat kasih sayang lebih darimu” tangannya bergerak mengusap air mata sebelum menetes. Sadar bahwa dia belum pernah menjadi sosok ibu yang baik bagi Bunga, Laura berharap putrinya bisa mendapat kasih sayang dan perhatian dari Davien sebagai gantinya.


“Iya, Bu! Aku tidak janji... tapi aku pasti akan berusaha sebisa mungkin membuatnya selalu tersenyum!”


“Terima kasih!” Laura langsung memutar tubuhnya membelakangi mereka bertiga karena tak ingin memperlihatkan tangisnya. Cepat-cepat dia mengusap matanya, tapi ternyata air tak mau berhenti mengalir begitu saja.


Juliet bisa merasakan kesedihan Laura meskipun yang dia ketahui neneknya menangis karena akan ditinggal pergi olehnya. “Nenek?” anak kecil itu menarik baju yang dikenakan Laura. “Jangan bersedih... Ayah bilang selama satu minggu besok Juliet akan menginap di sini. Jadi sekarang Nenek jangan bersedih lagi ya!”


Laura semakin dibuat sedih melihat sikap cucunya. “Oh sayang, cucu Nenek! Terima kasih sayang.” Laura menoleh kemudian memeluk Juliet yang begitu terlihat sangat tulus. “Nenek janji tidak akan bersedih lagi!”


Davien tersenyum melihat interaksi mereka berdua, tak lama kemudian pandangannya teralihkan ke Bunga yang berdiri di samping.


Senyum tipis menghilang seketika saat sadar Davien memperhatikan dirinya. Ghm! Bunga kemudian berdehem.


Melihat sikap istrinya malu-malu mengakui kalau dia sebenarnya merasa senang melihat kedekatan mereka berdua, Davien mendekat lalu berbisik. “Kau tahu? Kau terlihat menggemaskan saat ini, sayang!” Davien sengaja menggoda, membuat Bunga refleks mencubit pinggangnya. Ah!


“Kau menyebalkan sekali hari ini?!!”


Davien memeluknya dari samping membisikkan lagi sebuah kalimat. “Tapi... kau menyukainya, kan?”


“Tidak! Davien! Lepas... tidak enak dilihat ibu dan Juliet!” gumamnya.


“Biarkan saja, mereka juga sedang berpelukan... di sini ada Istriku yang menganggur terlalu sayang untuk lewatkan!” haha....


“Kau?!”


Ghm! Laura berdeham melihat mereka bermesraan. Sementara Juliet terkekeh melihat tingkah kedua orang tuanya.


“Kalau begitu kita pamit dulu, Bu! Juliet ayo sayang!” Davien mengulurkan tangannya, menggandeng Juliet kembali ke mobil.

__ADS_1


“Bunga?” sahut Laura. Perempuan itu menghentikan langkahnya. “Tunggu sebentar!” Laura bergegas masuk ke dalam mengambil sesuatu. Tak lama kemudian keluar dengan membawa syal di tangannya. “E.bolehkah Ibu–,” ucapnya terputus, dia hanya ingin meminta ijin kepada Bunga untuk membantu memakaikan syalnya.


“Um!” Bunga mengangguk pelan terlihat jelas dipenuhi keraguan.


Laura tersenyum lebar dia sangat bersemangat memakaikan syal ke leher putrinya. “Selesai, ini akan membuatmu tetap hangat. Hati-hati di jalan Bunga.”


“Aku pergi dulu... ja.jaga dirimu baik-baik!” ucapnya dingin, Bunga masih sangat canggung kalau harus bersikap manis kepada ibunya.


Tetapi ucapan yang keluar dari mulut putrinya mampu membuat Laura senang, setidaknya ini langkah baik memperbaiki hubungan di antara mereka.


***


Seminggu berlalu Davien tidak sabar ingin segera pergi ke Hawai menikmati liburan untuk berbulan madu dengan Bunga. Setelah menyelesaikan pekerjaannya hari itu Davien bergegas menjemput istrinya.


Tok tok tok!


“Apa aku mengganggumu?” setelah membuka pintu lelaki itu masuk ke dalam menghampiri Bunga yang tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya.


“Sebentar lagi aku selesai, kau bersedia menunggu?” Bunga menggerakkan rotasi kursinya sesuai gerakan Davien yang sedang melangkah melewati sisi meja untuk sampai kepada dirinya.


Lelaki itu mendaratkan kecupan di keningnya. “Aku merindukanmu!” ucapnya gemas sembari mencubit kedua pipi istrinya.


“Aku akan menyelesaikan satu berkas ini terlebih dulu, kau tidak keberatan menunggu sebentar lagi?”


Bunga tersenyum melihat tingkah Davien, entah mengapa dia merasa setelah menikah sikap lelaki itu berubah manja dan selalu mengkhawatirkan segala sesuatu secara berlebihan. Mungkin efek karena takut kehilangan untuk kedua kalinya. “Maaf Davien aku tidak bermaksud seperti itu!” Bunga menandatangani lembar kertas terakhir, kemudian beranjak berdiri memberikan sepenuhnya perhatian kepada suaminya yang tengah merajuk. Mmmmuuh! Bunga menghadiahkan kecupan di pipinya. Tapi itu tak mempengaruhi Davien, dia masih tetap pada pendiriannya diam dan bersikap dingin. “Oh kurang ya?” Mmmuuah! Lagi kini Bunga mencium pipi satunya.


Usahanya tak membuahkan hasil, gunung es itu belum bisa mencair. Bunga tersenyum setelah akhirnya mengingat kelemahan Davien. Bunga bahkan mencoba membuat Davien memeluk dirinya tapi lelaki itu justru memilih mempertahankan kedua tangannya yang bersedekap. “Baiklah, aku yakin kalau kali ini Suamiku tidak akan bisa berpaling lagi!” Bunga menahan tawa geli sebelum berucap sesuatu yang akan membuat Davien tak bisa lagi bersikap dingin.


Bunga tengah bergelayut manja kemudian dengan lembut dia berucap. “Sayang?”


Tak perlu menunggu lama, Davuen seketika menyahut senang. “Apa sayang?”


“Kan? Aku yakin kalau kau tidak akan berpaling kali ini! Hahaha....” Bunga tertawa menikmati kemenangannya.


Davien mengaku kalah kalau istrinya sudah memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’ karena kata itu sangat jarang dan bahkan nyaris tidak digunakan Bunga untuk memanggil suaminya, padahal Davien langsung luluh setiap kali Bunga mau memakai kata itu. Tapi itulah sebabnya Bunga sengaja menyimpan panggilan itu untuk senjata ketika suaminya merajuk. Tak ada lagi yang bisa meluluhkan hatinya Davien yang mudah membeku kecuali panggilan sayang dari istrinya.


“Kau curang! Padahal aku masih ingin lebih lama lagi merajuk sampai kau putus asa! Kenapa malah langsung menggunakan panggilan itu untuk membuatku menyerah!” Davien meraih pinggangnya, memeluk erat tubuh istrinya. “Jujur aku benar-benar merindukanmu! Aku tidak bisa fokus bekerja karena selalu ingin segera bertemu denganmu!”


Bunga merasa memiliki dua balita di rumahnya selain Juliet maka dia juga mengurus Davien yang bahkan sikap manjanya melebihi Juliet putrinya sendiri. “Kita selalu menghabiskan waktu bersama setelah pulang kerja, Davien.”


“Aku tahu... tapi, tetap saja itu terlalu cepat rasanya. Aku belum puas melampiaskan rinduku selama sehari penuh, itu pun hanya ada waktu dua jam sebelum Juliet datang ke kamar!” memang benar, dan dua jam itu terpakai untuk mandi dan berbenah setelah bekerja jadi mungkin sisanya hanya ada beberapa menit untuk mereka berduaan. “Aku tidak sabar ingin segera pergi ke Hawai! Ayoalah kalau kau sudah selesai kita segera bersiap-siap, sayang!” rengeknya seperti anak kecil yang tak sabar ingin segera pergi ke suatu tempat yang dia suka.


“Kalau begitu lepaskan dulu pelukanmu, Davien!” pintanya dengan lembut.


“Tidak mau, sebelum kau menciumku!”

__ADS_1


“Baiklah!” Bunga mendaratkan ciuman di kening.


“Apa-apaan itu! Sayaaaang!! Ayolah! Aku ingin ciuman di bibir!” Davien bersiap mengunci bibirnya, maju menunggu ciuman dari istrinya. Sementara kedua tangannya menahan tubuh Bunga agar tidak menghindar.


“Davien! Kau yakin? Kita sedang berada di kantor!”


“Tidak peduli, ini perusahaanmu... siapa yang akan protes melihat atasannya bermesraan? Sayang ayolah....”


Tanpa aba-aba Bunga pun mengecup bibirnya. Muah!!


“Tunggu! Apa baru saja aku melewatkan sesuatu? Kenapa aku sampai tidak bisa merasakan ciumannya?”


“Davien!?”


“Apa sayang??? Astaga!! Yang benar saja... itu bukan ciuman!” rengeknya lagi.


Hahahaha.... Bunga tertawa puas.


“Tidak ada yang lucu, sayaaang!! Ayolah!”


“Aku senang kalau kau sudah merajuk seperti ini, haha....” tawanya lagi.


“Lupakan! Sepertinya hanya aku yang selalu ingin menciummu! Aku tidak pernah melihatmu berinisiatif lebih dulu untuk menciumku! Kenapa harus selalu diminta baru kau mau menciumku, sayang?” Davien sepertinya lupa bahwa perempuan adalah makhluk paling terlalu menjaga image di depan lelaki terlebih lagi untuk sekedar memperlihatkan betapa dia menginginkan lelakinya. Kebanyakan perempuan tak mudah berbicara terus terang di depan lelaki meskipun dia sudah menyandang sebagai suaminya.


Davien melangkah mendekati kaca yang membentang luas di depannya, berdiri di sana menatap kearah luar. Ya, tentu saja marahnya hanya sekedar akting untuk memancing istrinya. Dan apa yang dia inginkan pun tercapai. Bibirnya tersenyum saat merasakan kehangatan di bagian belakang tubuhnya saat Bunga sedang memeluk dari sana. Kedua tangannya menyelusup masuk melalui jas tang dikenakan Davien kemudian perlahan bergerak naik ke dada lalu berhenti setelah berhasil mencengkeram lembut bahunya yang bidang.


Bunga memeluknya erat menyandarkan kepala mencari kenyamanan. “Aku tidak memerlukan kalimat untuk memperlihatkan betapa aku sangat ingin menjamahmu Davien! Kau akan tahu nanti kalau aku benar-benar menginginkan dirimu!”


Lelaki itu memutar tubuhnya perlahan, menatap wajah istrinya penuh harap. “Benarkah?” kedua tangannya merangkup pipi Bunga.


“Um!” dia mengangguk pelan. “Aku sangat-sangat menginginkanmu sampai hampir gila setiap aku membayangkannya.” Bunga memeluknya menyandarkan kepala di dada suaminya.


“Kapan kau akan memperlihatkannya padaku? Aku tidak sabar ingin melihat bagaimana tingkahmu saat itu?” Davien membalas pelukannya.


“Nanti, kau akan melihatnya saat kita berada di Hawai!”


“Serius, sayang? Jadi kau sengaja menahannya selama ini hanya untuk memberiku kejutan nanti saat bulan madu?” Perempuan itu menganggukkan kepala. “Aaaa! Istriku benar-benar menggemaskan! Aku tidak sabar melihat betapa garangnya dirimu di atas ranjang nanti!” Davien refleks memeluknya erat.


“Astaga! Mulutmu mesum sekali Davien!”


“Tapi kau menyukainya!?” hahaha.... “Empat jam lagi pesawat kita akan berangkat, aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan pakaianmu, jadi kita masih memiliki sedikit waktu untuk berdua.” Kakinya mulai bergerak melangkah duduk di kursi kebanggaan milik istrinya. “Kemarilah!” tangannya menepuk kecil paha, meminta istrinya duduk di pangkuannya.


Dengan senang hati Bunga menuruti permintaan suaminya, duduk di atas pangkuannya kemudian memeluk melingkarkan kedua tangan tepat di lehernya. Memeluknya erat sebagai tanda Bunga sangat-sangat tak sabar ingin segera berduaan dengannya.


“Sayang?” Davien berbisik lembut di telinganya, dia bisa merasakan pelukan istrinya yang begitu kuat.

__ADS_1


__ADS_2