Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#75 Investor baru


__ADS_3

 


Di restoran, barack dan leo sedang menandatangani berkas berkas yang sudah tersedia di depan meja mereka.


 


"Aku mengandalkanmu" kata leo sambil berdiri dan mengulurkan tangannya sekali lagi ke arah barack.


Barack pun bangkit dari duduknya dan menyambut tangan leo.


Namun dia hanya diam membisu.


"Kalau begitu, aku permisi duluan" kata leo sambil beranjak pergi meninggalkan restoran itu.


Satya dari tadi terus melihat ke arah mata barack yang tidak pernah berubah, selalu terlihat tajam saat memandang ke arah leo.


"Kamu sebelumnya pernah mengenal dia kah?" tanya satya kepada barack.


"Jangan bertanya di luar sekitar pekerjaan" kata barack sambil memukul pelan kepala satya dengan map yang ada ditangannya.


 


Di perjalanan menuju ke kantornya, barack kembali melihat ke layar ponselnya.


 


Sedikit dia merasa kecewa karena luna beberapa hari ini tidak menghubunginya lagi.


"Sudahlah, kamu telepon saja dia dulu, , Jangan terlalu jaim, perempuan tidak suka sama laki laki yang sok jaim" kata satya kepada barack sambil mencoba terus fokus ke setirnya.


Mungkin karena barack dulu yang mulai untuk tidak memberinya kabar, namun semua itu semata mata karena dia ingin luna mengetahui kesalahnnya.


Dan tidak mengulanginya lagi.


Tapi mungkin kali ini mungkin dia berlebihan sikapnya terhadap luna.


Barack pun berusaha mencoba menelpon luna.


Namun, nomor luna tidak bisa di hubungi.


Dia hanya diam dan mengembalikan ponselnya ke dalam saku jasnya.


♡♡♡


 


Malam itu klara dan luna memulai membuat semua gaun sesuai dengan rancangan luna.


 


Hampir setiap hari mereka lembur berjam jam untuk menyelesaikan gaun yang akan mereka lelang nanti.


Dalam 4 hari semenjak kedatangan luna, mereka bisa mneyelesaikan puluhan gaun.


Tentunya di bantu oleh para pegawai klara yang ada di butik dan di tempat produksinya.

__ADS_1


Karena tanpa bantuan pegawainya mana mungkin mereka ber dua bisa menyelesaikan secepat itu.


Di samping menjualnya lewat akun sosial media, klara juga membuka pameran di galerinya untuk membantu luna.


Agar pundi pundi uangnya terkumpul dengan cepat.


"Bagai mana hasilnya" leo bertanya kepada klara yang sedang sibuk membantu luna mengatasi para pelanggan yang melonjak semakin banyak setiap harinya.


"Bagus sekali, aku rasa dia dengan mudah bisa mengumpulkan sejumlah uang yang sangat banyak, semua karena bakatnya, , dan juga kegigihanya, hampir semua orang yang masuk ke sini pasti tertarik dengan gaun yang di rancang oleh luna. Aku hanya memberinya wadah untuk membantunya saja" kata klara, wajahnya terlihat sangat bahagia sekali bisa membantu luna.


pasalnya dia merasa tidak enak hati karena kejadian yang sedang di alaminya ini juga karena kesalahan dirinya.


Lao melayangkan ciumannya di kening klara, sebagai rasa terima kasihnya karena sudah membantu sahabat kecilnya itu.


 


Seminggu berlalu setelah luna mulai menjual gaunnya.


 


Dia tidak menyangka kalau gaunnya akan laris seperti menjual kacang goreng di pinggir jalan.


"Aku tidak menyanka kalau gaunmu akan selaris ini lun" kata klara sambil menghitung uang dari hasil penjualan.


"Mm, , semuanya jadi terkumpul berapa?" tanya luna dengan penuh penasaran.


Mata klara terbelalak, bahkan kalkukator saja sampai tidak bisa memuat jumlah nominalnya.


"Woooooowwww, , luunaaa kamu hebat, bahkan aku saja dalam tiga bulan tidak bisa mendapatkan sebanyak ini, namun kamu bisa melakukannya, , lihat mendekati angka 2 miliyar" klara benar benar merasa tidak percaya.


Namun luna malah sebaliknya dia masih terlihat murung kembali.


"Mana bisa uang segitu cukup untuk membantunya!" jawabnya dengan nada yang terdengar sangat berat.


"Tetap semangat lun, , yang terpenting niat dan usaha kamu, kan masih banyak waktu ko" klara mengusap pundak luna dengan lembut seperti tersirat sebuah semangat di setiap usapannya.


"Apa kamu mau menemuinya? aku akan mengantarmu" kata leo yang baru saja datang dan duduk di sebelahnya.


Luna membuang tatapan matanya ke arah leo dengan di penuhi keraguan.


"Aku takut, , kalau aku menemuinya hanya akan manambah masalah untuknya"


"Mana luna yang ku kenal?, , biasanya dia tidak seperti ini.


"Mm, , pergilah, aku akan melayani pembeli di sini"kata klara.


Luna pun memantapkan dirinya untuk mengiyakan tawaran leo.


Dengan segera leo mengantar luna untuk menemui barack.


Di dalam perjalanan nempak sekali kalau wajahnya di penuhi dengan rasa ketakutan.


Entah barack akan bersikap bagaimana jika dia berhasil menemuinya.


Setelah sampai di perusahaan barack, leo meyakinkan luna untuk segera turun dari mobil.

__ADS_1


Aura kecemasan menyelimuti wajahnya.


Tiba tiba saja rasanya dia ingin mengurungkan niatnya itu, namun leo tetap mencoba meyakinkannya.


Dadanya berdebar debar saat luna turun dari mobil.


Tidak bisa di pungkiri bawasannya sudah lebih dari dua minggu dia tidak melihat dan mendengar suara barack.


Hampir setiap malam menjelang tidurnya dia selalu menangis dalam diamnya karena menahan rasa rindu yang bergejolak di hatinya itu.


Perlahan dia berjalan mendekat ke pintu lobi.


Namun dengan segera dia malah bersembunyi di balik tembok saat melihat sebuah mobil berhenti di depan lobi.


Jantung luna semakin kencang detakkannya ketika melihat barack keluar dari arah dalam pintu lobi.


Dia seperti melihat mantan kekasih yang masih sangat dicintainya.


Tangannya basah karena keringan dingin.


Luna tidak kuasa ketika harus melanjutkan langkah kakinya, padahal hanya tinggal beberapa langkah saja dia bisa memeluk tubuh barack.


Matanya berkaca kaca ketika melihat senyum barack dari arah kejauhan.


Sayup sayup terdengar suara barack ketika sedang berbincang dengan rekan kerjanya itu.


"Apa aku perlu mengantarmu ke bandara?" kata satya.


"Bandara???, , mau pergi kemana dia? bahkan aku belum sempat menemuinya" kata luna dalam hati, dia pun mencoba menghela nafas larena dadanya terasa sangat sesak.


Barack pun naik ke dalam mobil yang akan mengantarnya ke bandara.


Luna berjalan kembali ke arah mobil dengan wajah yang sangat kecewa.


Bahkan leo pun tahu kalau luna tidak jadi menemui barack karena melihat ekspresi wajahnya itu.


 


Barack pergi ke hongkong untuk menemui temannya yang lain, berharap pertemuan kali ini bisa membuahkan hasil yang memuaskan.


 


Di dalam mobil dia selalu melihat ke arah ponselnya, mengusap wajah luna yang terlihat di layar ponselnya itu


Wajahnya seperti memendam rasa kerinduan yang teramat sangat kepada wanita yang ada di foto itu.


"Sebentar lagi, , aku akan segera menemuimu. Aku akan menyelesaikan satu ini" kata barack dalam hati.


♡♡♡


Akhirnya setelah bertemu dengan temannya, terlihat barack tersenyum lebar ketika keluar dari ruangan kaca yang berada di salah satu ruang gedung milik temannya.


Dilihat dari aura wajahnya kedatangan barack kali ini sepertinya membuahkan hasil yang memuaskan.


"Terima kasih" kata barack kepada temannya itu.

__ADS_1


Dia pun segera pergi dari kantor temannya dan langsung bertolak ke bandara.


***


__ADS_2