
"Davien!!"
Prempuan itu terus mencoba berulah melepaskankan diri dari Davien, tetapi laki laki itu sungguh merangkup tubuh Bunga dengan kekuatannya.
Tak main main Davien seakan lupa bahwa perempuan itu sangat lemah dia hampir membuat Bunga tak bisa bernafas karena Davien terlalu erat memeluknya.
"Dav!" suaranya tersekat ketika Davien masih terus mencumbunya.
"A, ,aku tidak bisa bernafas!"
Seketika Davien langsung membuka matanya, ciumannya terhenti. Dia menarik kepalanya kebelakang menjauhi Bunga.
Senyum tipis menghiasi bibirnya saat melihat Bunga terengah engah ketika mencoba meraup udara sebanyak banyaknya untuk kembali mengisi penuh dadanya. Sesaat dia hampir tak bisa bernafas karena Davien hampir saja membuatnya kehabisan oksigen.
"Kamu ingin membunuhku!!" ucap Bunga seketika.
Tawanya pecah mememenuhi setiap sisi kamar mandi. Davien di buat geli dengan ucapan Bunga karena ucapannya.
Perlahan Davien menetralkan perasaannya membuat tawanya kini berubah menjadi senyum manis seketika.
"Mana mungkin aku membunuhmu!!" Davien menarik kedua tangannya yang sempat menahan tubuh Bunga agar tak terlepas. Kini dia merangkup wajah Bunga dan menghujani perempuan itu dengan kecupan tanpa henti.
Berawal dari kening, kemudian kedua mata lalu menuruh kehidung dengan perlahan dan penuh kasih sayang, setelahnya bibirnya bergerak lagi mengecup kedua pipi Bunga secara bergantian.
Dan kecupan itu berakhir di bibir Bunga, tak terjadi dengan singkat layaknya kecupan yang sudah sudah, Davien sengaja menahan beberapa detik ketika mengecup bibirnya. Kecupan itu berakhir dengan suara khas hingga menggema di telinganya.
"Mulai malam ini ikut pulang denganku!!" Davien meraih ujung kepala dan mengusap lembut rambutnya.
"Tunggu aku menyelesaikan pekerjaanku!" dia meraih tangan Bunga, kemudian membawa perempuan itu melangkah keluar.
"Kenapa harus ikut pulang denganmu" Bunga seperti terhipnotis, dia berjalan mengikuti langkah kaki Davien.
"Karena mulai besok km selain bekerja di sini, kamu sudah harus menjadi asisten pribadiku!!" sahutnya dengan cepat, menghentikan langkahnya kemudian menoleh sedikit kepalanya ke Bunga.
"Kamu harus menjalani hukumanmu! mulai malam ini!!"
Dadanya seketika berdesir lalu berdenyut hingga kemudian berdebar dengan sangat kencang ketika mendengar ucapan Davien.
Pikirannya telah melayang jauh entah kamana hingga membuat Bunga merasa ketakutan ketika membayangkan hanya akan ada mereka berdua di rumah itu.
__ADS_1
Entah apa yang akan di lakukan oleh Davien tapi pikiran Bunga sudah meracau melayang entah kemana.
Bunga berdehem mentralkan perasaannya. Menegakkan badannya seolah sedang bersiap siap ketika ingin berucap kepada atasannya.
"Tapi Pres Dir"
"Panggil saja Davien, kamu tidak perlu memanggilku Pres Dir lagi" ucapnya memotong pembicaraan.
"Baik di tempat kerja atau di luar, panggil saja namaku!" tambahnya.
"Tapi"
"Kamu keberatan!!" Davien berucap pelan namun dengan nada mengancam, seolah memaksa Bunga harus memenuhi semua perintahnya tanpa ada bantahan.
Dengan suaranya yang tertahan Bunga memenuhi permintannya.
"Iya"
"Baiklah kamu kembali kerja, aku akan menyelesaikan pekerjaanku terlebih dulu. Nanti malam tunggu aku" Davien mengusap lembut pipinya sebelum membawa perempuan itu melangkah keluar dari kamar mandi.
♡♡♡
Terlihat Loria menatapnya lekat setelah berhasil masuk ke dalam pantry. Pandangannya tak pernah lepas dari Bunga yang sedang duduk termangu. Perempuan itu kemudian menghampirinya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kemeja siapa yang kamu pakai?" matanya bergerak menyapu tubuh Bunga dari bagian kerah hingga ujung kemeja yang terlihat menjuntai kebawah, hampir setengah badannya lebih tertutub kemeja.
Bunga langsung beranjak berdiri dari kursi dan berbenah diri, pipinya bersemu merah padam. Bunga terlihat sangat gelisah hingga menelan ludahnya sendiri pun dia merasa kesusahan.
"Hei!!, , aku sedang bertanya kepadamu!" Loria menyipitkan matanya ketika menunggu jawaban dari Bunga, sementara tak lama Liora bergerak mendekati wastafel untuk mencuci tangan kemudian meraih sebuah cangkir dan menuangkan air putih ke dalamnya.
"Ini, , kemeja Pres Dir!" ucap Bunga seketika.
Seketika Loria menyemburkan air dari dalam mulutnya setelah mendengar ucapan Bunga. Perempuan itu kemudian terbatuk batuk karena sempat tersedak.
"Kak, , kamu tidak apa apa!" ucap Bunga sembari menepuk perlahan bagian tengkuk dan punggung Loria untuk membuat perempuan itu nyaman. Sementara satu tangannya meraih tisu yang letaknya tak jauh dari jangkauan.
Loria masih terbatuk batuk, dia berusaha mengatur nafas dan melegakan dadanya. Sementara pandangannya mengarah ke Bunga dengan tatapan tak percaya.
"Kamu dan Pres Dir!! sebenarnya hubungan apa yang kalian miliki??" Loria meraih tisu dari tangan Bunga dan mengusap bibirnya yang basah.
__ADS_1
"Mm, , aku, aku" Bunga terbata, tak berani memberi kepastian jawaban ada hubungan apa di antara dirinya dan Davien.
Melihat Bunga yang sedikit kebingungan dan ketakutan, akhirnya liora memilih untuk menyudahi percakapan mereka.
"Lupakan!!, , kalau kamu tidak mau menjawab juga tidak apa apa" ujung matanya melirik mengawasi ekspresi wajah Bunga, seolah dia tau bahwa perempuan itu sedang merasa dilema.
"Dengarkan aku Bunga, , , aku tidak ingin menghakimimu atau mengguruimu! yang pasti aku tahu kamu menyukainya. Dan itu hakmu"
Liora meraih kembali gelasnya dan meneguk perlahan sisa air di dalamnya.
Tatapan matanya menajam ketika mendengar ucapan Loria. Kemudian berucap dengan suara yang terdengar lirih dan ragu.
"Apa, , itu terlihat dari wajahku?"
"Bodoh!" Loria menggunakan telunjuk untuk mendorong kepala Bunga dengan perlahan.
"Kamu bukan anak kecil lagi!!, , kamu pasti bisa merasakannya kan!, , hanya saja kamu takut tentang perbedaan sisoal di antara kalian. Iya kan!" ucap Loria menegaskan.
"Bagaimana mungkin aku tidak mempermasalahkan hal itu, , Davien bagaikan langit yang tak dapat ku jangkau, aku hanya bisa memandangnya namun tak dapat menyentuh bahkan memilikinya"
"Dengarkan aku Bunga!!" suara Loria seketika memecah lamunan Bunga.
"Kamu pernah mendengar sebuah kalimat, bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, termasuk kelian" Loria berhenti berucap memberi waktu kepada Bunga untuk mencerna ucapannya.
Pandangannya menajam seakan memberi isyarat bahwa dia harus tetap berjuang.
"Kecuali kamu ragu, , maka berhentilah sekarang. Atau kamu akan menyakiti dirimu sendiri"
"Tapi Kak, , aku tidak yakin karena aku merasa masih ada"
"Essie???" ucap Liora memotong pembicaraan.
Bunga terdiam karena Loria menebaknya dengan benar.
"Ayolah Bunga, oke aku tahu Essie masa lalu Pres Dir yang sulit untuk di lupakan. Tetapi, sampai sejauh ini, dari penglihatanku Pres Dir benar benar banyak berubah. Sikapnya kepadamu sangat jauh berbeda dibandingan dengan sikap Pres Dir ke Nona Keiko" Loria melangkah mendekati Bunga, menggunakan tangannya untuk meraih dagu perempuan itu dan memaksanya mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk.
"Angkat wajahmu Bunga!! setiap perempuan berhak dicintai!! tak perduli statusmu. Kamu pun berhak mendapatkan cinta dan kasih sayang dari seseorang"
Bunga terdiam, berusaha memantapkan hati untuk melangkah lebih jauh setelah mendengar ucapan Loria.
__ADS_1