Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
83 CEO: Love's Romance Tidak bisa berpisah


__ADS_3

Aileen masih terdiam membisu, mulutnya belum berucap sepatah kata pun.


David merasa waktu yang dia berikan untuk Aileen sudah cukup. Laki laki itu membalikkan tubuhnya ke belakang memunggungi Aileen. Dan ketika itu Aileen menarik bagian lengan kaos untuk menahan laki laki itu.


"Kamu tidak bersunguh sungguh dengan ucapanmu kan?" suara Aileen terdengar sangat parau, hampir tenggelam tak terdengar di keramaian, terlebih lagi ketika sesekali suara petir yang mulai menggelegar seakan tengah bersiap siap mengirim air untuk mengguyur membasahi tubuh mereka.


Sesaat David terdiam, kemudian berucap.


"Bukankah itu yang kamu inginkan?? aku pernah kehilanganmu sekali, mungkin jika ini untuk yang kedua kalinya, , aku pikir, ,itu bukan masalah. Aku bisa mengatasi perasaanku dengan baik" David memejamkan matanya dalam dalam, menikmati rasa sakit akibat ucapannya sendiri.


"Itu, ,tapi" Aileen mengangkat kepalanya, menggerakkan sedikit tubuhnya kesamping untuk dapat melihat wajah David.


"Kita bisa memulainya dari awal, "


David menoleh, memudahkan Aileen mendengar ucapannya.


"Untuk apa?, , untuk apa kita memulainya dari awal? semuanya akan percuma saja! niatku juga untuk memperbaikkinya dari awal, tapi kamu sudah menolakku terlebih dulu!, , yang jelas aku tidak ingin memaksamu Aileen!"


Hujan pun turun, berebut untuk membasahi mereka. Mengiringi rasa sedih yang menghujam hati mereka.


"E, , tapi , aku" Aileen mengeraskan suaranya ketika hujam semakin deras. Hatinya dilanda rasa bimbang, antara ragu dan malu untuk mengakuinya.


"Kalau kamu sendiri tidak tahu kenapa!, lalu untuk apa kita lanjutkan! itu hanya akan membuang buang waktumu. Lebih baik carilah laki laki yang kamu cintai hiduplah bahagia dengannya" David tak mau kalah, dia juga menaikkan nada bicaranya menembus suara hujan, menyelinap ke rongga telinga Aileen, agar perempuan itu bisa mendengarnya dengan baik. Ketika David melangkahkan kakinya, detik itu juga Aileen menelusupkan kedua tangannya ke pinggang dan memeluk tubuh David dari arah belakang.


David tertegun, tubuhnya terpaku. Perempuan itu semakin mengeratkan pelukannya.


"Jangan pergi!" teriaknya.


"Kenapa? David masih mempertahankan posisi untuk tidak membalikkan tubuhnya ke belalang.


"Aku, tidak ingin kita pisah!" Aileen terdiam sejenak, kemudian dia kembali berucap.


"Aku menyukaimu, , aku ingin kita seperti dulu!"


Raut wajah laki laki itu langsung berubah, dia memutar tubuhnya memaksa Aileen melepaskan pelukannya.


David menatap mata Aileen dengan lekat dan semakin dalam.


"Apa?, , aku tidak bisa mendengar dengan jelas suaramu" David berbohong, dia sangat dengan jelas mendengar ucapan Aileen. Tetapi dia hanya ingin mendengar kata itu sekali lagi keluar dari mulut Aileen.


Perempuan itu terdiam sejenak, menatap wajah david yang sudah basah, laki laki itu terlihat sesekali menyeka air hujan yang mengganggu pengelihatannya.


Aileen merangkup rahang David menggunakan kedua tangannya, memaksa laki laki itu membungkuk. Aileen berjinjit kemudian mengecup bibirnya.


"Aku menyukaimu"


David masih terdiam tak percaya. Ada senyum tipis yang mewarnai bibirnya malam itu.

__ADS_1


"Kenapa untuk membuatmu mengatakan kalimat itu begitu sulit?, , jika aku harus terluka seperti ini untuk membuatmu mengakuinya. Seharusnya aku melakukannya dari dulu. Membiarkan kamu menyakitiku. Agar kamu" David sudah tak bisa berucap lagi, kini Aileen tengah membungkam mulutnya.


David perlahan menutup mata, membiarkan Aileen terus menciuminya. Dia menggerakkan salah satu tangan meraih tengkuk Aileen, David hanya mendorong membantu agar ciuman itu semakin dalam, tetapi dia tetap tidak membalas ciuman itu. Mencoba memberi kesempatan kepada Aileen untuk meluapkan semua perasaannya.


Manis, sangat manis bibir perempuan itu. Ini kali kedua mereka berciuman setelah berbulan bulan lamanya.


Dengan Air hujan yang mengalir di tengah tengah perpagutan bibir mereka, membuat ciuman itu memiliki sensasi tersendiri. Yang sebelumnya tak pernah mereka rasakan. Aileen berebut dengan air hujan untuk membasahi bibir laki laki itu.


Tidak keumudian Aileen melepaskan ciumannya, menapakkan kembali kakinya seperti semula. Perempuan itu masih mendongak menatap wajah David di atas sana. Pandangan matanya bergerak turun seiringan dengan gerakan tangannya yang membelai lembut dari leher kemudian ke dada.


Aileen terpaku ketika melihat noda darah memcuat dari bali kaos. Tak terlalu merah karena sebagian sudah terguyur hujan.


"Lukamu??"


"Tidak apa apa, , mungkin aku terlalu kuat tadi menggandeng tanganmu saat menyebrang jalan" David tak terlalu menghiraukan luka itu. Dia terus fokus dengan perempuan di depannya. Laki laki itu tersenyum, menyandarkan kepalanya di keninh Aileen. Mengusap wajahnya dengan lembut.


"Kita pulang, aku akan membantumu mengganti perbannya" ucap Aileen.


David mengangguk yang kemudian menghadiahi sebuah kecupan di bibir Aileen.


♡♡♡


Selesai mengganti bajunya yang basah, Aileen keluar dari kamar mandi. Dia terkejut melihat David berdiri di depan pintu. Seperti sengaja menunggu Aileen di sana.


"Kenapa kamu berdiri di sini?"


Aileen terkekeh, dia menggandeng tangannya, menuntun laki laki itu berjalan menuju sofa.


"Duduk lah, aku akan menyiapkan perban untuk lukamu" Aileen melangkah menuju nakas.


Sementar David tak pernah mengalihkan pandangannya kearah lain, terus fokus tertuju pada Aileen.


Perempuan itu mengambil peralatan untuk mengganti perbannya.


Sebelumnya Aileen sudah membantu laki laki itu untuk berganti baju. Kini dia mulai membuka perlahan perbannya.


"Apa ini sakit?, , aku akan melakukannya dengan perlahan"


David menggelengkan kepalanya, dia masih menatap wajah Aileen. Dia sebelumnya tak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Setelah dulu Aileen memilih untuk pergi, David sudah merasa kehilangan harapan untuk bertemu lagi dengannya. Tetapi sepertinya takdir sangat bersahabat dengan David. Mempertemukan lagi dengan perempuan yang sangat di cintainya dalam sebuah perjodohan. Dan kini perempuan itu kembali ada di depan mata.


"Kamu menemui Dokter??" ucap Aileen setelah melihat jahitan di lukanya.


"Mm, , aku meminta Ius membawaku ke Dokter"


"Lalu apa Dokter bilang?" Aileen menatap David, berharap laki laki itu tidak akan mengucapkan hal buruk.


"Tidak apa apa, hanya perlu istirahat" Davis mengusap lembut pipi Aileen.

__ADS_1


"Maaf, , aku tidak bermaksud untuk melukaimu"


"Tidak perlu meminta maaf" David menggeser tangannya untuk meraih dagu Aileen. Kemudian membawa perempuan itu ke dalam dekapan, mendaratkan kecupan di ujung rambutnya.


Tok tok tok!!!


Karena pintu sedikit terbuka, membuat pelayan mendorong pintunya untuk masuk ke dalam setelah mengetuk pintu.


Kepala pelayan terkejut hingga langsung seketika mengubah arah tubuhnya untuk menghindari pemandangan dibdepan matanya.


"Maaf Tuan muda, , saya sudah menyiapkan makan malam anda" kepala pelayan itu membawa sebuah nampan dengan makanan milik David.


Aileen menarik tubuhnya, ketika pelayan itu masuk, tetapi David malah menahannya. Walau pun hanya dengan satu tangan dia mampu membuat perempuan itu tak bisa bergerak.


"David??" Aileen mendongak menatap David, berharap laki laki itu akan melepaskan pelukannya.


David menunduk. Menatap bibir Aileen kemudian berucap.


"Tidak usah malu. Sebentar lagi mereka akan sering melihat kita melakukan hal ini. Atau bahkan lebih, , jadi kamu harus membiasakan dirimu dengan ini" David kemudian mengecup bibir Aileen, dia tak menghiraukan perasaan kepala pelayan yang masih berdiri di sana.


"Terima kasih Bi, , letakkan itu di atas meja" David berucap seolah ingin segera kepala pelayan itu pergi.


"Baik Tuan" pelayan itu bergegas pergi setelah selesai melakukan tugasnya.


Di seberang pintu pelayan terlihat sangat gugub, dia merasa jantungan setelah keluar dari kmar Tuan Mudanya.


"Ya tuhaaann, , semoga saja Tuan tidak memecatku karena aku tidak sengaja menganggu mereka" dia mengusap dadanya, mencoba memberi ketenangan pada diri sensiri.


"Tetapi aku merasa sangat bahagia untuk Tuan David.


♡♡♡


"Kamu harus menghabiskan makanannya, aku akan menyuapimu" Aileen kemudian menyuapi David perlahan.


"Kenapa mematapku seperti itu?" Aileen tertunduk, tangannya sibuk mengacak acak makanan di atas piring.


David merapihkan anak rambut yang menghalangi kening Aileen, rambut itu masih basah, sebagian air masih ada yang menetes dari ujung rambut menembus kemeja yang di kenakan Aileen. Membuat kemeja itu sedikit basah dan melekat di kulitnya. David menyimpan rambutnya ke belakang telinga kemudian.


"Untuk beberapa hari kamu harus menginap di sini"


Seketika Aileen langsung menatap David.


"Apa?, , e, , kenapa?"


"Dokter bilang aku tidak boleh menggerakkan tanganku sembarangan, sementara aku tidak boleh menekuk lenganku. Jadi, , aku kesusahan untuk menandatangani file file penting, aku tidak bisa makan dengan tangan kananku, aku tidak bisa berganti baju sendiri, dan, ," David mendorong tubuhnya agar lebih berdekatan dengan Aileen. Mendekatkan bibirnya ke telinga kemudian berbisik.


"Aku juga tidak bisa mandi sendiri"

__ADS_1


__ADS_2