Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
63 CEO: Love's Romance Hampa


__ADS_3

Tok tok tok!!!


Aileen berjalan dengan sedikit pincang menuju pintu setelah mendengar suara ketukan di sana.


"Iris??" ucapnya setelah melihat perempuan itu berdiri di depan pintu dengan membawa beberapa makanan di tangannya.


"Hai!!, , aku kemari untuk membawakanmu makanan, Kak David tadi pagi menghubungi Mamah. Dia bilang kakimu terkilir. Dia khawatir kamu tidak bisa memasak sendiri. Kemudian dia meminta Mamah untuk menyiapkan makanan buatmu" Iris berucap sambil memapah membantu Aileen berjalan menuju dapur, lalu menyiapkan makanan itu untuk Aileen.


Aileen merasa sangat senang ketika mendengar bahwa Mamahnya David yang memasak makanan itu.


"Serius itu Mamah kamu yang memasak??"


"Iya!, , Kak David sendiri yang meminta, dia bahkan memintaku untuk mengambil video Mamah ketika sedang memasak. dia tidak ingin orang lain yang memasak untukmu"


"Benarkah??" pipi Aileen bersemu.


"Apa aku terlihat sedang bercanda?" ujung mata Iris melihat Aileen yang sedang tersipu malu.


"Cieeee, , senang kaaaan dapat perhatian dari Kak David" Iris berdecak kemudian, dia memberikan makanan itu kepada Aileen.


"Aku melihat kalau Kak David sangat serius denganmu, dia tidak pernah memperlakukan seorang perempuan sespesial ini. Bahkan dari puluhan wanita yang pernah dekat dengannya sama sekali tak pernah mendapatkan perhatian sampai seperti ini. Tapi kenapa Kak David bilang dia tidak ingin menikah denganmu ya?"


Aileen terbatuk batuk mendengar ucapan Iris. Dia kemudian meraih gelas dan menegug perlahan isinya.


"Apa yang sedang kamu bicarakan!!, , ini masih terlalu pagi untuk membicarakan pernikahan. Aku juga belum berfikir sampai kearah sana!"


"Benarkah??, , iya juga sih. Kamu juga masih muda! nikmati dulu masa mudamu sebelum terlambat jangan sampai nantinya menyesal di kemudian hari"


Aileen menghela nafas, berusah melegakan tenggorokannya. Dia memang belum berfikir untuk menikah, tetapi mendengar ucapan Iris yang seolah kalau David tidak ingin menikahinya, membuat hatinya terasa sedikit kecewa. Bagaimana pun juga suatu saat perempuan pasti ingin menikah.


"Tapi tenang, selama ini hanya kamu yang bisa merubah kepribadian Kak David. Suatu saat dia pasti merubah pikirannya dan mau menikah denganmu"


"Apaan sih anak kecil, , kenapa jadi kamu yang repot memikirkan hal itu" Aileen mendorong kepla Iris, berusaha mencari pengalihan untuk perasaannya.


"Yeeee, , kecil kecil begini aku malah sudah siap untuk menikah lo!" Iris membuang senyum manisnya kearah Aileen.


"Idiiih, , iya bentar lagi juga di lamar sama Kak Kenzi!"


"Kok kamu tahu??"


"Ya kali aku lupa sama apa yang dia ucapkan kepadamu waktu di bandara!" Aileen terkekeh, kemudian menghabiskan sisa makanannya.


Iris tersenyum tersipu malu, pipinya terlihat begitu merona.


"Oh ya, , ngomong ngmong kamu tinggal sendiri??" Iris menyelidik setiap sudut rumah itu.


"Tidak!, ,aku ada teman. Namanya Koyoko"


"Dimana dia?" Iris berjalan menuju sofa, langkahnya terpaku ketika melihat sebuah kartu identitas yang ada di bawah meja.


"Sedang bekerja di minimarket! masuk pagi dia" Aileen telah menghabiskan makanannya. Kemudian dia berjalan menuju sofa menghampiri Iris.


Sementara perempuan itu sedang menyelidiki kartu identitas milik Aileen yang ada di tangannya.


"Besok hari ulang tahunmu???"ucapnya sembari memberikan kartu itu kepada Aileen.


"Benarkah??, , kenapa aku lupa!" Aileen meraih kartu itu dari tangan Iris.


"Bodoh!!, , ulang tahun sendiri bisa lupa" ucap Iris dengan malas, kemudian dia melirik kearah Aileen.


"Tapi jangan harap besok Kak David akan membawakanmu kue ulang tahun!"


"Kenapa?"


"Bukankah aku pernah bercerita kapadamu?, , kalau Kakakku takut dengan tempat gelap dan sempit, ini juga salah satu hal yang dia benci" Iris pun menceritakan tentang masa kecil Kakaknya yang kelam.

__ADS_1


"Dia tidak bisa melihat kue dengan lilin di hari ulang tahun seseorang. Bahkan sekali pun itu ulang tahunnya sendiri"


Aileen tertegun mendengar cerita dari Iris, ada sedikit rasa kecewa di dalam dadanya ketika mengetahui tak bisa merayakan hari ulang tahunnya bersama seseorang yang spesiap baginya.


"Jadi selama ini dia tidak pernah merayakan ulang tahunnya sendiri??"


"Tidak apa apa, aku bisa merayakannya denganmu"


"Benar!, , aku akan menyiapkan kue untukmu. Jadi jangan bersedih ya. Atau sekarnag kita akan belanja untuk pestamu nanti malam!" Iris terlihat bersemangat.


"Boleh, , aku akan bersiap siap!"


♡♡♡


"Kamu yakin mau ikut turun untuk berbelanja??" Iris merasa khawatir dengan Aileen yang terus memaksa untuk ikut masuk ke dalam minimarket.


"Lagi pula aku juga masih bisa berjalan kok"


"Oke, jangan jauh jauh dariku ya. Aku akan memapahmu" Iris keluar terlebih dulu dari mobil. Kemudian dia berjalan ke sisi lain untuk membantu Aileen turun dari mobil.


Di dalam minimarket Iris dan Aileen terlihat memasukkan semua barang belanjaan yang mereka butuhkan. Aileen hanya ingin memasak untuk makan bersama sama. Dia tidak bermaksud untuk membuat pesta seperti yang biasa di lakukan oleh orang orang besar.


"Apa kita membutuhkan ini?" Iris memeluk sebotol bir dalam dekapannya.


"Aku tidak minum!, ,singkirkan itu" Aileen mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Ayolah aku mohon. Umurku sudah cukup untuk minum bir. Ya!!, , boleh ya?" Iris terus memohon seperti anak kecil yang sedang meminta di belikan mainann, dia ingin agar Aileen memperbolehkan dirinya membeli bir itu.


Aileen mengeluh kesal.


"Baiklah satu saja!"


"Ah!, , kamu memang calon Kaka Ipar yang sangat baik hati!" Iris menghadiahi Aileen sebuah kecupan di pipinya.


"Dasar!!"


Sementara Aileen mendorong perlahan keranjang sambil mencari beberapa kebutuhan yang ada di sekitarnya.


Kraaang!!!


Sibuk menyelidik untuk mencari barang, Aileen tak sengaja menabrakkan keranjangnya ke keranjang orang lain yang ada di depannya.


"Maaf" Aileen terpaku ketika melihat orang itu adalah laki laki yang sempat hampir menabraknya semalam. Abel trlihat sangat berbeda dengan tadi malam. Semalam dia hanya mengenakan kaos dan celana santai. Sementara sekarang dia memakai setelan jas berwarna abu abu yang membungkus tubuhnya dengan sangat indah. Bahkan menyisir rambutnya kearah belakang dengan sangat rapih.


"Kamu!" Abell menoleh kearah Aileen. Laki laki itu terlihat sangat senang bertemu dengan Aileen di sana.


"Iya, , "


Abell berjalan mendekati Aileen, pandangan matanya menyelidik kearah bawah sana untuk memastikan kondisi kaki Aileen.


"Kakimu sudah baikkan?, , kenapa tidak menghubungiku untuk memberitahuku berapa jumlah uang yang kamu habiskan untuk mengobati lukamu?, , aku akan menggantinya"


"Tidak perlu, , , terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku. Tapi aku benar benar tidak apa apa!" Aileen merasa tersanjung ketika Abell beriskap baik dengannya. Kini dia sedikit terkejut ketika Abell mengulurkan tangannya.


"Abell" ucap laki laki itu mengenlakan diri.


Aileen terlihat ragu ketika ingin mengulurkan tangannya, tetapi dengan cepat Abell langsung menyahut Tangan Aileen.


"A, Aileen"


"Aileen??" Abell mengulangi ucapan Aileen.


"Nama yang manis, , semanis orangnya" dia tersenyum lagi, bahkan lebih lebar hingga memenuhi wajahnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini Kak? oh iya aku lupa. Super market ini kan milikmu" ucap Iris ketika melihat Abell ada di sana. Dia kemudian meletakkan barang belanjaan yang memenuhi tangannya ke dalam ranjang.

__ADS_1


"Iris??, , " Abell melihat kearahnya dengan tatapan penuh tanda tanya apa lagi ketika melihat Iris meletakkan belanjaannya satu keranjang dengan Aileen.


"Kalian saling mengenal?"


"Ya!, , dia temanku. Kapan kamu pulang dari London Kak?"


"Kemarin pagi, , kalian hanya berdua?, , belanja sebanyak ini?" Abell menyelidik ke barang belanjaan yang memenuhi keranjang itu.


"Kalian mau mengadakan pesta ya!!?"


"Iya besok Aileen ulang tahun. Kalian saling mengenalkan??, , ikut makan makan ya Kak. Biar rame!" Iris terus berucap seolah dialah yang punya acara nanti malam, sampai berani mengundang orang asing bagi Aileen.


"Iris!!" Bisik Aileen sambil menyenggol perempuan itu mnggunakan sikunya.


"Apa??, , tenang saja, Kak Abell orang baik kok" Iris kembali berbisik.


"Bolehkah??, , waaah aku sangat tersanjung. Kalau begitu aku yang akan membayar semua tagihan ini" Abell menarik keranjanh milik Aileen kemudian membawanya kearah kasir.


"Tidak perlu, aku bisa membayarnya"


"Anggap saja ini sebagai penebus rasa bersalahku karena membuat kakimu terluka" Abell tetap membawa keranjang itu ke kasir.


"Waahh, , kamu benar benar sangat baik Kak. Kalau begitu sekalian aku tambah ini ya!" Iris seperti tak mau melewatkan aji mumpung. Dia dengan senang hati kemudian mengambil beberapa makanan ringan lainnya.


Sementara Aileen terlihat tak nyaman, dia merasa khawatir jika David mengetahui kalau akan ada laki laki lain yang ikut merayakan ulang tahunnya.


"Tunggu!!, , tapi bukannya dia tidak bisa melihat kue ulang tahun??, ,dia pasti juga tidak akan datang"


Iris terlihat sibuk dengan ponselnya dia seperti sedang mengetik pesan untuk seseorang. Dan benar saja dia mengirim pesan singkat kepada David. Memberi tahu laki laki itu bahwa besok adalah hari ulang tahun Aileen.


♡♡♡


Di sisi lain David sedang melakukan perjalanan menuju keluar kota, ada pekerjaan yang harus diurus di sana selama beberapa hari. Dan selama dia di luar kota, David sudah tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya akan melewati beberapa hari tanpa melihat senyum Aileen, bagimana beratnya memendam rasa rindu kepada Aileen.


Beberapa jam tidak bertemu dengan Aileen saja sudah seperti sehari baginya.


Laki laki itu mendengus kesal, sangat kesal karena saat ini juga dia sudah merindukan perempuan itu.


David yang duduk dikursi belakang terlihat hanya diam dan melamun. Menikmati perasaan rindunya yang sudah semakin membesar setiap detiknya.


Dreeet Dreett!!!


David melirik kearah ponselnya, dia bahkan memakai wajah Aileen sebagai wallpaper di sana.


"Besok ulang tahun Aileen, apa Kakak juga tidak akan datang menemuinya??, , nanti malam akan ada pesta untuknya, makan makan bersama"


David terdiam, dia sudah tidak bisa membayangkan dirinya saat melihat kue ulan tahun nanti. Tetapi dengan kesibukannya ini dia bisa menjadikannya sebagai alasan. Dia pun membalas pesan Iris.


"Lakukan apa pun yang kalian inginkan, buat Aileen bahagia malam ini. Maaf aku tidak bisa ikut. Aku sedang dalam perjalanan keluar kota. Mungkin lusa baru pulang"


David terdiam lagi, dia menyimpan ponselnya ke dalam saku jas. Laki laki itu terlihat membenamkan tubuhnya kesandaran kursi kemudian memejamkan matanya.


♡♡♡


"Kalian hati hati!, , nanti malam aku pasti datang" Abell membantu Aileen untuk memasukkan semua barang belanjaan ke dalam bagasi.


Iris terlihat menyelidik kearah ponselnya ketika mendapat balasan pesan singkat dari Kakaknya.


Dia mengeluh kemudian.


"Kak David sedang dalam perjalanan keluar kota!, , aku tambah yakin dia tidak akan datang malam ini"


"Kenapa jadi kamu yang sedih??, , aku juga biasa kok, masih ada kamu dan Koyoko ini!" Aileen menutup pontu mobilnya.


"Benar juga, untung aku mengajak Kak Abell. Biar tambah ramai nanti malam!" Iris menyalakan mesin. Kemudian mengendarai mobilnya perlahan.

__ADS_1


Sementara Aileen terdiam, ada sedikit rasa kekecewaan di dalam hatinya. Tetapi dia menyadari bahwa David memang tak bisa ikut merayakannya.


__ADS_2