
Paginya setelah menyiapkan baju untuk Suaminya, Luna pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Di meja makan saat itu suasananya tidak seperti biasa. Luna memilih fokus dengan makanan yang ada di depannya.
Sementara Barack berusaha mencari perhatian Istrinya dengan sesekali meminta Luna untuk mengambilkan ini dan itu. Padahal yang diinginkan oleh Barack semuanya mudah di jangkau oleh tangannya sendiri.
"Aku butuh garpu" ucap laki laki itu.
Luna langsung meraih garpu dan memberikannya kepada Barack.
"Tolong, selai kacangnya"
Lagi, Luna memgambil selai itu tanpa berucap sepatah kata pun.
Sesekali ujung mata Barack melirik ke arah Luna. Dia masih berfikir bagaimana caranya mengembalikan mood Istrinya pagi itu.
Barack meraih tangan Luna dan menggenggnya.
"Nanti malam"
"Iya, aku sudah tahu. kamu akan pulang terlambat bukan!, semalam kamu sudah mengatakannya" Luna berucap seolah tahu apa isi pikiran Suaminya, dia menarik tangannya dan beranjak dari kursi membawa piring kotor ke wastafel.
Dia mulai mencuci piring dan peralatan lainnya yang kotor.
Barack memutar tubuhnya mengikuti Luna.
"Sayang kamu masih marah?, semalam aku sudah minta maaf. Kenapa sekarang kamu masih saja diam?" ucapnya dengan lembut.
Luna memaku tangannya, setelah itu mematikan keran dan mengeringkan ke dua tangannya dengan tisu.
"Aku tidak marah" Luna melangkah kembali ke arah meja makan. Perempuan itu kini mengambil piring kotor milik Barack.
"Aku sedikit jengkel saat itu" ucapnya, sementara ke dua matanya tertuju kepada Barack yang duduk di kursi.
Barack menghela nafas, ke dua tangannya meraih pingganga Luna dan melingkar di sana.
Laki laki itu mendongak untuk melihat wajah Istrinya.
"Bagaimana caranya agar kamu tidak jengkel lagi denganku?" ucapnya kemudian. Barack menarik tubuh Luna, memaksa perempuan itu meletakkan kembali piringnya ke meja makan.
Kini wajah Barack berada tepat di depan perut Luna. Menyandarkan telinganya di sana.
"Prince, atau princess, , bisa tolong Ayahmu ini" ucapnya merujuk pada calon bayi mereka.
"Tolong sampaikan kapada Mamah agar jangan marah lagi dengan Ayahmu ini" Barack mendongak lagi untuk mengawasi ekspresi wajah Luna.
Luna membuang pandangannya ke arah lain, dia berusaha menahan senyumnya saat itu.
Barack tersenyum ketika melihat bibir Luba sedikit mengambang.
Laki laki itu kini mengecup perut Istrinya.
"Ini hadiah unutukmu, karena sudah membantu Ayah mengembalikan senyum mamah" ucapnya sambil menatap ke arah perut Luna.
Luna terkekeh jaim kemudian.
"Kamu harus segera berangkat" Luna mengusap kepala Barack, membiarkan rambut mengisi sela sela jarinya.
"Mm" Laki laki itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak akan sebelum aku mendapatkan ciumanku" ucapan Barack terdengar lebih ke arah sebuah perintah waktu itu.
Luna tersenyum, ke dua tangannya merangkup pipi Suaminya.
Perempuan itu sedikit membungkuk untuk mempermudah mencium bibir Barack.
__ADS_1
♡♡♡
Aryo keluar dari ruang kerjanya, dia berpakaian lengkap dengan jas. Aryo berjalan mekangkah ke arah Lift.
Laki laki itu merenggangkan ototnya lehernya ketika berhasil masuk je dalam lift.
Pandangan matanya tertuju ke arah pintu lift ketika terbuka lagi. Ekspresi wajahnya terlihat datar saat melihat Cici melangkah masuk ke dalam lift itu. Suasana di dalam Lift hening seketika.
Aryo menggeser tubuhnya menjauh satu langkah ketika perempuan itu berhasil berdiri di sampingnya.
Cici menyadarinya, hingga membuat perempuan itu mengalihkan pandangan matanya ke arah Aryo.
Aryo tidak bergeming, dia masih bertahan menatap ke arah pintu lift dengan lekat.
Laki laki itu berusaha betsikap dingin dengan menyimpan kedua tangannya di saku celana.
"Kamu akan pergi keluar kantor?" ucap perempuan itu, dia mencoba memecah keheningan.
"Iya" Aryo berusaha bersikap acuh dengan Cici.
"Kamu tidak mengajak Rosa?"
"Dia sudah menungguku di mobil" Aryo semakin ketus menjawab pertanyaan Cici.
"Kalian akan pergi kemana?"
Aryo memalingkan wajahanya ke arah Cici, laki laki itu sudah tidak bisa menahan perasaannya. Dia mendorong tubuh Cici hingga terpentok dinding lift.
Matanya menajam ke arah mata perempuan itu.
Nafasnya terdenga kasar di telinga Cici.
"Kenapa kamu selalu menyiksaku seperti ini!!" geramnya seketika.
Dia berusaha menelan ludahnya dengan susah payah.
"Aku, , aku"
"Apa???, , kali ini apa lagi yang ingin kamu ucapkan padaku!!. Kalau kamu menolakku ya sudah, jangan datang kepadaku lagi. Jangan seperti ini. Menolakku tetapi kamu selalu berusaha menghampiriku dan bertingkah seolah kamu menginginkanku. Aku memang cowok brengsek Ci! tapi seharusnya kamu juga tahu kalau aku juga seorang manusia. Aku punya perasaan. Jadi jangan membuatku berharap lagi dengamu. Aku sudah berusaha semampuku sampai saat ini. Tetapi, kalau kamu memang menolakku, pliss jangan pernah datang lagi padaku" Aryo berucap dengan nada sedikit tinggi saat itu kepada Cici. Membuat perempuan itu memaku tubuhnya seketika.
Entah apa yang merasuki Aryo (untuk para readers tolong jangan bernyanyi😂😂😂) hingga membuat laki laki itu bersikap kasar dengan Cici.
Dia sudah merasa di batas kesabarannya ketika menghadapi sikap Cici yang selalu berubah ubah. Aryo hanya berfikir kalau bukan dia yang mengambil keputusan, maka selamanya akan terus seperti itu.
Aryo melanglah keluar setelah pintu lift terbuka dan meninggalkan perempuan itu berada di dalam lift sendiri.
Kedua lutut Cici bergetar, dia merasa katakutan ketika Aryo bersikap arogan. Perempuan itu nampak masih berdiam diri di dalam lift hingga pintunya kembali menutup.
♡♡♡
Setelah mendapat pesan dari Adrian Luna bergegaa pergi menemui Atasannya itu di sebuah gedung pertemuan.
Taxi yang di tumpanginya berjalan melambat ketika lalu lintas mulai padat.
Luna mengalihkan pandangamnya ke arah luar dari balik kaca.
Keningnya berkerut ketika melihat sosok laki laki yang mirip dengam Suaminya bersama seorang perempuan berada di dalam sebuah toko berlian.
Kepalanya terus bergerak untuk mendapatkan posisi yang tepat agar bisa melihat laki laki itu dengan jelas. Wajahnya terlihat pucat ketika dengan jelas dia melihat wajah Suaminya berada di dalam galeri berlian.
Ingin Luna menghampiri suaminya saat itu juga, namun dia masih berusaha berfikir positif.
Perempuan itu memejamkan matanya rapat, seolah mencari ketenangan di dalam kegelapan.
Namun bayangan Suaminya saat bersama dengan seorang perempuan itu selalu mengganggu pikirannya.
__ADS_1
♡♡♡
Luna berusaha meyakinkan dirinya sebelum turun dari taxi.
Adrian nampak berjalan menghampiri Luna. Dia membukakkan pintu mobil untuk perempuan itu.
Adrian melempar senyum kepada Luna dan menawarkan sebuah bantuan dengan mengulurkan tangannya.
"Mm, terima kasih" Luna berusaha keras memamerkan senyumnya, walau pun dia sendiri tahu saat itu dia merasa sulit untuk melakukan hal itu.
"Kamu baik baik saja?" Adrian nampak khawatir ketika melihat Luna sedikit pucat.
"Kamu sedang tidak enak badan?" tambahnya.
"Tidak, aku baik baik saja"
Adrian menuntun Luna melangkah ke dalam gedung dengan hati hati, laki laki itu kini tengah menarik kursi dari tempatnya untuk Luna.
"Duduklah, kamu terlihat tidak sehat hari ini. Kalau memang iya kamu tadi bisa memberi tahuku. Dengan begitu aku tidak akan memaksamu datang kemari" ucap laki laki itu.
"Tidak apa apa tenang saja" Luna berusaha menenangkan diri.
♡♡♡
Di pertengahan acara tangan Luna bergerak meraih ponsel dari dalam tas, hatinya semakin merasa tidak karuan ketika memikirkan perempaun yang ada di samping Barack waktu itu.
Dia ingin memghubungi Suaminya namun, lagi lagi Luna mengurungkan niatnya.
Adrian menatap lekat ke arah Luna.
"Luna? kamu terlihat tidak sedang baik baik saja, dari tadi kami sangat gelisah. Bagaimana kalau sekarang aku akan mengantarmu pulang?"
Luna memalingkan wajahnya ke arah Adrian, memastikan ekspresi wajah laki laki itu.
"Tapi acaranya belum selesai"
"Tidak apa apa, tenang saja. Gimana? aku antar pulang ya?" Adrian berucap dengan lembut, dia masih berusaha menenangkan Luna.
Luna memang sedang tidak baik baik saja saat itu, pikirannya selalu tertuju ke pada Suminya.
Akhirnya perempuan itu mengiyakan tawaran Adrian.
♡♡♡
"Istirahatlah, beberapa hari ini aku akan membiarkanmu istirahat" Adrian berucap setelah berhasil mengantar Luna sampai ke depan lobi apartementnya.
"Terima kasih, kamu atasan yang terlalu baik dengan bawahan sepertiku"
"Ini sudah menjadi kewajibanku, jadi jangan sungkan. ketika nanti kamu butuh bantuan, aku siap membantumu" ucap Adrian dengan penuhh harap.
Luna hanya mengangguk meniyakan tawaran dari Adrian.
Setelahnya dia keluar dari mobil.
Luna berjalan keluar dari lift, langkahnya terhenti di depan pintu masuk ketika melihat amplop berwarna coklat berada di depan pintu apartementnya.
Perempuan itu membungkuk untuk meraih amplop itu, setelahnya Luna bergegas membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam.
Luna berjalan ke arah sofa di ruang tv, memembuang tasnya begitu saja sebelum duduk di sana.
Keningnya berkerut ujung matanya mengerucut mengawasi amplop yang kini sudah mulai di buka pengaitnya oleh Luna.
Luna membalikkan lembaran putih tebal yang sudah berhasil dia keluarkan dari dalam amplop.
Matanya membulat seketika saat melihat beberapa lembar foto yang ada di tangannya.
__ADS_1