Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
104 CEO: Love's Romance Cemburu


__ADS_3

"PresDir, , managernya mengatakan bahwa mereka sedang bertemu dengan pemilik desain yang sempat saya perlihatkan kepada Anda"


"Lalu??" David yang tengah sibuk dengan ponselnya pun menggerakkan ujung matanya untuk menatap Ius.


"Jika PresDir berminat, mereka sekalian ingin mengundang Anda untuk makan siang bersama"


"Sekarang??" David berucap untuk memastikan. Kedua alisnya lun terangkat.


"Iya PresDir" Ius menundukkan kepala.


"Baiklah!" David menyimpan ponselnya, kemudian beranjak berdiri melangkah menuju pintun diikuti oleh Ius dari arah belakang.


♡♡♡


"Felix???"


Perempuan itu beranjak berdiri memaku tubuhnya ketika Felix telah berdiri telat di depan matanya.


Dia terlihat melamun karena tidak nyaman dengan keberadaan laki laki itu.


"Aileen??" suara Felix seketika membuat Aileen tersadar setelah beberapa saat berdiam diri.


Aileen kemudian kembali duduk dengan wajah kebingungan.


"Kamu baik baik saja?, , aku tidak menyangka kita akan bertemu sebagai rekan kerja" Felix mencoba memulai pembicaraan, tetapi Aileen masih belum bisa fokus karena pikirannya melayang jauh memikirkan ucapan David untuk tidak berdekatan dengan laki laki lain. Bagaimana jika dia meliaht atau mengetahui bahwa Felix akan menjadi rekan kerjanya.


Aileen berdehem untuk mencoba menetralkan perasaannya. Belum sempat duduk Aileen memutuskan untuk pergi.


"Maaf, ,tapi sepertinya aku tidak bisa melanjutkan kerja sama ini"


"Kenapa?" Felix dan Managernya tengah saling melempar pandang. Dia tidak menyangka kalau Aileen akan membatalkan kontrak kerjanya secara sepihak.


Aileen tidak ingin David tahu dia bekerja dengan Felix, yang ada nanti akan mnimbulkan masalah. Maka dari itu Aileen memilih untuk tidak menandatangani kontrak kerjanya.


Perempuan itu beranjak dari kursi dan meninggalkan meja, kemudian diikuti oleh Felix dari arah belakang.


"Aileen tunggu, kamu yakin akan membatalkan krontak kerja kita??, , kamu bisa kena penalti" Falix berucap untuk menghentikan Aileen.


Dan benar perempuan itu memaku langkahnya, Aileen memutar tubuhnya. kemudian tanpa keraguan dia berucap.


"Tidak apa apa Tuan Felix, aku akan membayar penalti itu, , maaf tapi aku tidak bisa melanjutkan kerja sama ini" Aileen melanjutkan langkahnya dengan tergesa gesa, yang kemudian karena tubuhnya lemas saat berjalan menuju mobil, Aileen tehuyung dan terjatuh.


Dia sejenek memejamkan mata karena merasa pusing, berusaha mengumpulkan semua tenaga sebelum kembali branjak bangun.


Felix yang melihatnya pun langsung berlari menghampiri Aileen.

__ADS_1


"Aileen!" Dia mencoba membantunya, tetapi perempuan itu mencoba menolak dengan mengngakat tangan ke arah Felix. Meminta laki laki itu untuk tidak mendekat.


Felix memaku tubuhnya, dia berusaha untuk tidak mendekat seperti keinginan Aileen namun saat melihat perempuan itu tak bisa berdiri dan menopang tuhnya dengan baik, Felix tetap keras kepala menolongnya. Laki laki itu membungkuk kemudian meraih kaki Aileen, menggendongnya dan membawa perempuan itu menuju mobil yang sudah menunggu di depan pelataran restoran.


Aileen tak bisa menolaknya, dia memang merasa tak sanggub untuk berjalan sendi, tetapi Aileen tidak berharap kalau Felix akan menggendongnya.


Di sisi lain saat itu juga mobil David tepat berhenti di dapan sana. Ketika tangannya ingin bergerak membuka pintu dari arah dalam, David terpaku dengan pemandangan yang dilihatnya tepat di deoan matanya.


Laki laki itu terdiam, gertakan gigi membuat rahangnya menguat tangan yang semula ingin membuka pintu seketika mengepal hingga terlihat putih di setiap ruas jarinya.


Ius yang mulai penasaran denhan David kenapa tak kunjung turun pun mulai penasaran, laki laki itu kemudian menoleh dan melihat apa yang sedang dilihat oleh David.


Felix membantu Aileen masuk ke dalam mobil, setelahnya meminta supir untuk membawa Aileen pulang sampai ke rumahnya dengan hati hati.


Di dalam mobil mobil David masih terdiam membisu menahan rasa amarah yang membuat darahnya memanas.


"E, , PresDir?" Ius sengaja berucap untuk membuat David sadar dari lamunanya.


David tak bergeming dia malah menekan tombol untuk membuka kaca, yang kemudian membuat matanya langsung bertemu dengan mata Felix, laki laki berambut coklat itu masih berdiri di sana sembari menatap mobil Aileen menjauh.


Tatapan mata yang di gunakan David untuk menatap Felix semakin menajam dan di penuhi hasrat keinginan untuk menghajarnya habis habisan. Tetapi dia bisa mengendalikan diri dengan baik untuk tidak melangkah turun dari mobil dan menghampirinya.


David kemudian mengalihkan pandangannya ke Ius.


"hubungi mereka, untuk membatalkan pertemuan hari ini!" ucapnya dengan nada berat dengan penuh amarah tertahan.


Felix masih bertahan berdiri di sana sambil menatap David yang lama kelamaan menghilang di balik kaca. Matanya bergerak mengikuti gerakan mobil yang perlahan semakin menjauh.


♡♡♡


Kepala pelayan keluar dengan membawa selimut untuk menutupi tubuh Aileen yang masih bertahan berdiri di luar sana.


Perempuan itu berdiam diri di luar karena menunggu david yang tak kunjung pulang. Waktu menunjukkan pukul 11 malam dan David masih belum menampakkan dirinya.


Aileen semakin cemas saat nomornya juga tak bisa di hubungi.


"Nyonya?, , ini sudah malam apa tidak sebaiknya Anda menunggu Tuan di dalam. Di luar sangat dingin, kondisi tubuh anda juga sedang tidak baik. Nanti Nyonya bisa sakit" Kepala pelayan mencoba membujuk Aileen agar mau masuk ke dalam rumah, karena hampir satu jam lebih dia bertahan di luar sana.


"Aku belum tenang Bi, sebelum aku bisa mendengar suaranya"


"Tapi Nyonya"


"Bi, , masuklah ke dalam. Aku yakin sebentar lagi David pasti akan pulang" Aileen tersenyum kepada Kepala pelayan yang masih terus mengkhawatirkan dirinya.


Kepala pelayan pun akhirnya masuk ke dalam meninghalkan Aileen sendiri di luar.

__ADS_1


Karena nomornya masih tidak bisa di hubungi, Aileen memutuskan untuk menghubungi Ius.


"Maaf Nyonya PreaDir sudah meninggalkan kantor sejak sore tadi, apa beliau belum pulanng?"


Aileen terdiam mendengar Ius berucap, dadanya semakin tidak karuan.


"Apa yang terjadi dengan David hingga sampai selarut ini dia juga belum pulang? terlebih lagi tak ada kabar sama sekali. Biasanya hampir satu jam sekali dia pasti memberi kabar"


Di seberang sana Ius yang tak mendapat jawaban dari Aileen pun mengerti kenapa perempuan itu diam membisu.


"Nyonya, maaf sebenarnya tadi siang PresDir sempat melihat Anda bersama dengan Tuan Felix di restoran.


Matanya membelalak lebar ketika mendengar Ius berucap.


"Apa dia melihat waktu Felix menggendongku saat itu??"


Jantungnya berdebar dengan sangat kencang dan terasa nyeri karena tahu sepertinya David marah akan hal itu.


"Terima kasih Ius, maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu" Aileen menutup panggilannya.


Aileen mencoba menghela nafas berusaha untuk melegakan dadanya.


♡♡♡


"Kamu yakin masih ingin tetap di sini!!, , Aileen pasti sedang sangat mengkhawatirkanmu!!" Abell sejak tadi membujuk lelaki yang setengah mabuk itu untuk kembali ke rumahnya.


David telah menghabiskan beberapa gelas alkohol, dia sama sekali tidak memikirkan kondisi perutnya. Bahkan seolah seperti tidak peduli dengan Gastristisnya yang nanti akan kambuh dan semakin parah.


David sengaja menjauh dari Aileen untuk meredakan rasa amarah karena cemburu. Bukannya mereda namun semakin menguat amarahnya ketika mengingat kejadian di mana Felix tengah menggendong Aileen.


David takut jika dalam keadaan yang seperti ini dia bisa menyakiti Aileen seperti yang dulu pernah dia lakukakn ketika sedang cemburu ketika mendapati Aileen masuk ke dalam hotel bersama dengan Kenzi.


Dia sudah berjanji tidak akan bersikap arogan lagi. Maka dari itu dia memilih untuk menjauh, menenangkan diri terlebih dulu.


Otaknya selaku berfikir bahwa laki laki itu pasti sangat menikmatinya saat sedang berdekatan dengan Aileen. Terlebih lagi saat membayangkan tubuh mereka yang saling menempel dengan erat, dadanya terasa sangat nyeri dan memanas. David sudah tak bisa menahannya lagi. Dia menghabiskan minuman terakhirnya kemudian membanting gelas hingga pecah berkeping keping di lantai.


"David!!" Abell meraih pundaknya untuk mencoba menenangkan laki laki itu.


"Pergi!" geramnya sembari menghempaskan tangan Abell, dia meminta sahabatnya untuk pergi.


"Bagaimana aku bisa pergi jika kamu dalam keadaan seperti ini!!, , ayolah David aku akan mengantarmu pulang. Aku yakin Aileen saat ini sedang menunggumu" Abell meraih lengannya, memaksa David beranjak dari kursi kemudian membantunya berjalan keluar dari club.


♡♡♡


Aileen sudah tidak sanggub menahan rasa ngantuk yang teramat berat. Dia beranjak dari kursi, melangkah menuju pintu untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


Tetapi langakahnya terhenti ketika mendengar suara mobil mendekat dan berhenti di depan rumahnya.


Aileen memutar tubuh, padangannya langsung tertuju kepada pintu mobil yang masih tertutub.


__ADS_2