
Retapi laki laki itu malah semakin terlihat liar. Ketika Roland sudah tak lagi merangkup wajahnya, Bunga akhirnya bisa memalingkan wajah menghindari ciumannya. Roland tak berhenti sampai di sana tangannya bergerak bebas menggeryangi tubuhnya dan kini menarik paksa kaosnya hingga robek di bagian pundaknya.
"Hentikan!!" teriaknya. Bunga hanya bisa menangis, tenaganya sudah mulai tak sekuat saat pertaman dia melawan Roland. Isakan tangis kini lolos dari bibirnya. Tetapi Roland seakan tak terpengaruh dengan tangisannya. Laki laki itu kini malah mengcupi leher, menurun hingga ke bagian dada yang nasih terbungkus rapi oleh koas.
Roland mendorong tubuhnya menjauh, sementara tangannya berusaha merobek kos Bunga secara paksa.
Bunga meraih tangannya ketika Roland meraih ujung kaos bagian lehernya. Mencoba menghentikan laki laki itu ketika ingin menarik paksa koas yang masih menutupi bagian leher hingga dadanya dengan rapih.
"Cukup Roland!! aku mohon hentikan semua ini"
"Jangan menangis Bunga!" Roland menyandarkan kepalanya di kening Bunga, tetapi perempuan itu menoleh kesamping untuk menghindarinya. Nafasnya memburu seolah gejolak di dalam tubuhnya sudah semakin meronta untuk segera meminta di penuhi hasratnya.
"Aku sudah mengatakan kepadamu kalau aku akan menlakukannya dengan hati hati, Bersikaplah manis. aku berjanji tidak akan menyakitimu"
"Roland menyingkir dariku!!" geramnya dengan nada tinggi.
"Aku tidak akan melelaskanmu. Berteriaklah Bunga!! tak akan ada yang mendengarmu. Atau lebih baik simpan suaramu dan berteriaklah nanti"
Roland kini kembali melancarkan aksinya dengan mengecupi setiap jengkal tubuhnya.
"Benar!, , sekuat apa pun aku berteriak tak ada seorang yang akan mendengar bahkan menolongku!!"
Bunga hanya bisa pasrah dan diam membiarkan Roland terus menciumi tubuhnya.
"Davien!!, , "
Sekali lagi Bunga hanya bisa menyebut nama itu di dalam hatinya. Matanya terpejem hingga membuat air yang keluar dari matanya mengalir deras membasahi pilipisnya.
Brak!!!
__ADS_1
Suara pintu yang sengaja di dorong kuat dari arah luar membuat Roland menghentikan aksinya. Kedua matanya kini tertuju kepada sesosok laki laki yang berdiri di tengah tengah pintu.
Matanya terbelalak ketika dengan mudah bisa mengenali wajahnya yang minim terkena sorotan lampu secara langsung.
Bunga membuka matanya, dia bisa mencium aroma parfum Davien yang terbawa angin dari arah luar. Ada rasa kelegaan serta kebahagiaan yang teramat ketika melihat laki laki itu berdiri di sana.
"Davien??" ucapnya lirih.
Davien melangkah mendekat, pandangannya tertuju ke arah Bunga yang sedang terbaring tak berdaya. Dengan kedua tangan tangan yang menyilang di dada seakan sedang melindungi diri, sementara matanya memerah basah karena air matanya, dadanya terlihat naik turun dengan cepat sesunggukan karena tangisnya. Davien murka saat melihat koas yang dikenakan Bunga terlihat robek di beberapa bagian. Perempuan itu benar benar terlihat sangat menyedihkan.
Tangisnya pecah seketika, Bunga tak bisa membayangkan bagaimana jika Davien tak datang di saat yang tepat. Perempuan itu meringkuk memeluk tubuhnya sendiri sambil menangis hebat di atas ranjang.
Davien yang mendengar tangisannya pun bisa merasakan bagaimana rasa sakit hatinya yang kini sedang dirasakan oleh Bunga.
"Pres Dir?" Roland beranjak turun dari ranjang. Laki laki itu terlihat tak bisa berkutik seperti tikus yang sudah terperangkap.
Davien mempercepat langkahnya. Tangannya beregerak meraih kerah handuk kimono dan mengecengekeramnya dengan kuat.
"Siapa yang memberimu izin untuk menyentuhnya!!, , bajinga*!!!" Davien melepaskan sebuah pukulan keras tepat di pipinya.
Roland jatuh tersungkur di lantai, tangannya meraba pipi yang kini terasa ngilu bercampur sakit akibat pukulan keras yang diterimanya. Dengan cepat laki laki itu bangkit menatap Davien dengan tatapan menantang.
"Kamu pikir aku takut!, , sepertinya aku sudah tidak perlu lagi bersikap manis di depanmu Pres Dir!!"
"Jangan memanggilku Pres Dir!!, kamu sudah bukan bagian dari prusahaanku lahi!!" Davien berucap dengan lambat agar Roland bisa mendegarnya dengan baik.
"Ya!!, , aku tak butuh bekerja di perusahaanmu lagi. Masih banyak perusahan lain yang akan menampungku nantinya!"
"Kamu pikir itu mudah" Davien menggelenhkan kepalanya.
__ADS_1
"Tak akan semudah seperti yang kamu bayangkan!, hanya ada dua pilihan di hidupmu saat ini. Penjara atau mati di tanganku saat ini juga!!" ucapnya dengan bersungguh sungguh. Davien tak akan melepaskan Roland begitu saja. Dia bahkan beniat menyuap pihak kepolisan untuk membuat Roland mendekam seumur hidup di penjara jika laki laki itu memilih untuk menyerahkan diri. Tetapi jika Roland menolaknya maka saat itu juga Davien tengah bersiap siap ingin menghabisinya.
"Sekali pun aku membiarkanmu hidup tanpa harus tinggal di penjara, aku pastikan kamu akan hidup sengsara dan akan membuatmu cacat. Tak ada satu pun perusahaan yang akan menerimamu karena kamu sudah masuk dalam daftar hitam!!" Sekali lagi Davien menghadiahi laki laki itu sebuah pukulan keras di tempat yang sama.
Roland tertawa seolah pukulan itu tak mempengaruhinya.
"Kamu pikir kamu siapa??, ,aku tidak takut dengan ancamanmu brengsek!" Roland membalas pukulannya.
Davien semakin terbakar emosi, amarnya memuncak hingga tak terkendali. Kedua tangannya kembali meraih kerah kimono mencengkeramnya kuat kemudian mendorong tubuh Roland hingga membentur tembok.
"Kenapa kamu marah sampai seperti ini untuk perempuan itu. Perempuan rendahan yang hanya bekerja sebagai OG di perusahaanmu!! " Roland benar benar sengaja membuat Davien semakin terbakar emosi.
"Tutup mulutmu!! Dia milikku!!" matanya menatap tajam, seakan siap membunuh Roland.
"Kamu benar benar sangat menjijikkan!" Davien tak ingin berlama lama lagi menahannya, sepertinya membuat laki laki itu sadar mengkaui kesalahannya adalah hal yang percuma karena yang ada Roland malah akan semakin membuatnya naik darah.
Davien melepaskan pukulan bertubi tubi tepat di wajahnya hingga darah mencuat kelaur dari mulut serta hidungnya. Seolah tak ada perlawanan, Roland hanya diam membiarkan Davien terus memukulinya. Kerena dia sadar apa yang di ucapkan oleh Davien semuanya benar. Sekali pun dia hidup, dia akan seperti hidup di neraka yang tak akan pernah merasakan kabahagiaan seperti apa yang telah di janjikan oleh Davien.
"DAVIEN!!" Bunga berteriak memanggil namanya.
Laki laki itu memaku tangannya di udara, tangannya pun telah berlumuran darah di sana. Davien menoleh melihat Bunga yang sedang meringkuk dengan kedua tangan yang menutup erat telingannya. Dia tak ingin mendengar percakapan serta suara pukulan keras ketika Davien menghajar laki laki itu. Seakan semua itu terdengar sangat kasar dan sadis di telinganya.
Davien mengalihkan pandangannya kembali ke roland, menatap jijik kemudian memukulnya sekali lagi sebelum melepaskannya. Setelah merasa puas Davien membiarkannya menikmati rasa sakit itu sendirian.
"Masuklah!!" perintahnya kepada satpam hotel yang sedari tadi telah berjaga di luar.
Beberapa orang menerobos masuk ke arah dalam mendekati Roland, setelahnya membawa laki laki itu keluar dari dalam kamar.
Davien terdiam sejenak, pandangannya menyelidik ke tubuh Bunga yang bergetar ketakutan dan meringkuk di atas ranjang.
__ADS_1
Davien menghela nafas panjang, melegakan dadanya yang sempat terasa penuh karena amarahnya, kini tangannya bergerak melepas dua kancing jas kemudian melepaskannya.