
Barack membiarkan jas menggantung di lengannya, dia memaku tangannya di udara seolah menunggu Luna untuk menggenggamnya.
"Ayo" ucapnya mengajak perempuan yang dicintainya untuk pergi dari ruang itu.
Luna tersenyum dia meraih tangan Barack, mereka melangkah keluar meninggalkan ruang yang telah menjadi saksi biksu atas apa yang baru saja mereka lakukan, mereka berdua berjalan beriringan bersama menuju lift.
Ruangan yang berukuran sempit itu bergerak menuju ke lobi.
Di dalam lift terasa sangat hening, hanya ada mereka berdua. Barack memalingkan wajahnya menatap Luna.
Mata mereka bertmu, Mereka saling menatap dan memlempar senyun termanis mereka.
Barack menganggkat tangannya yang sedang menggenggam jari Luna, mengarahkan ke arah mulutnya dan mengecup punggung tangan perempuan itu.
Barack melepaskan tangan Luna kemudian, dia menarik pinggang Luna kedalam depannya, hingga tubuh mereka saling menempel.
Kening Luna berkerut solah dia sedang berfikir apa yang akan di lakukan oleh Barack selanjutnya. Tidak mungkin dia akan memaksa Luna untuk melakukannya di lift bukan? toh mereka baru saja melakukannya di ruang kerja.
Laki laki itu membungkuk, mencium bibir Luna hingga pintu Lift terbuka.
Beberapa staf nampak terkejut, melihat adegan Atasannya yang sedang mencumbu seorang perempuan di dalam lift.
Barack melepas ciumannya, dia mengusap lembut bibir Luna yang basah dengan ibu jarinya. Kemudian menggenggam tangan Luna dan kembali melangkah keluar dari lift.
Pipi Luna bersemu ketika dia melihat beberapa orang berdiri di depan lift.
"Ya ampuunnn!! mereka pasti melihatnya"
Luna menunduk menyembunyikan wajahnya, dia benar benar sangat malu.
"Angkat wajahamu!!, , ini wilayah kita. Jadi kamu dan aku bwrhak melakukan apa saja di sini!" Barack kembali mengecup tangan Luna.
Sementara Luna terkekeh sambil memukul pelan dada laki laki itu.
Di sisi lain, staf yang sempat menyaksikan Adegan itu masih berbisik bisik di sana.
"Yaaaah, , mereka yang berciuman kenapa aku yang jantungan!!" gumam salah satu staf perempuan.
"Aku juga! ya Ampuunnn. Dadaku sesak.. Aku butuh nafas bantuan!!" ucap staf lainnya.
"Aku pikir aku sedang bermimpi. Ternyata kalian juga melihatnya?? mereka benar benar telihat serasi" sambung lainnya. Mereka pun akhirnya masuk ke dalam lift.
♡♡♡
Barack menghentikan mobilnya di depan rumah Luna. Dia mengantar perempuan itu pulang.
__ADS_1
"Ayah??" David yang sedang berada di taman samping rumah pun berlari ke arahnya.
Anak itu kini berada di gendongan Ayahnya. Pandangan matanya menyelidik ke arah Barack dan Luna secara bergantian.
"Apa kalian memutuskan untuk bersama lagi??"
Luna tersenyum, dia menganggukkan kepala ke arah David.
"Iya"
"Aku senang mendengarnya!!, , jadi. Kita akan pergi kemana untuk merayakannya?" ucapan David terdengar lebih ke arah sebuah permintaan.
Luna dan Barack pun terkekeh kemudian.
"Lilis juga senang mendengar kalian baikkan lagi mbak" Lilis berjalan ke arah Luna dan meraih tas dari tangan perempuan itu.
"Terima kasih" Luna menyerahkan tas kerjanya kepada Lilis.
♡♡♡
Barack, helena dan Setya nampak berjalan menuju ruang pertemuan. Mereka berada di perusahaan Grub Dirga. Di sana semua staf telah berkumpul tak terkecuali Luna dan Adrian, namun laki laki itu nampak terlihat murung, dia tahu kini posisinya sudah tak menjadi sebagai Direktur lagi.
Karena hari itu akan menjadi hari penyerahan jabatan yang semulula menjadi miliknya kini akan di ambil alih oleh Barack sesuai dengan besarnya saham mereka.
Pandangan mata Adrian terlihat kosong, dia berusaha keras mengendalikan emosi yang melahap habis dadanya hingga tak tersisa. Dia tidak mengira Barack akan melakukan hal itu.
Luna yang duduk di sampingnya pun meraih lengan Adrian dia seolah sedang menenangkan laki laki itu. Luna juga tidak tahu kalau Barack akan menguasai saham tertinghi di Grub Dirga.
Bagi Luna kembali rujuk dengan Barack itu adalah hal lain, dan dia juga masih berhubungan baik dengan Adrian sampai kebenaran terungkap. Jika Adrian memang terbukti bersalah mungkin Luna akan membencinya. Namun untuk saat ini mereka masih berhubungan baik layaknya rekan kerja.
Setelah selesai memberikan sambutan, Barack kembali ke tempat duduknya.
Dia duduk di kursi paling ujung, kursi dimana yang biasa diduduki oleh Adrian.
"Terima kasih atas keprcayaan kalain. Aku akan berlaku adil dan bijaksana dalam mengambil keputusan, aku pastikan aku akan lebih baik dari Direktur sebelumnya" Barack berucap dengan nada tenang, namun ketika di akhir kalimat ujung matanya terarah kepada Adrian yang duduk di deretan kursi yang tak jauh darinya. Ucapnnya benar benar menyakitkan bagi Adrian.
Adrian mngerti maksud ucapan Barack, dia memang tersinggung namun laki laki itu menyembunyikan rasan jengkelnya dengan baik. Kini Adrian tersenyum manis ke arah Barack sambil mengulurkan tangannya.
"Selamat, aku harap kamu menepati janjimu untuk menjadi lebih baik dari Direktur sebelumnya!" tatapan mata mereka bertemu, mereka saling melempar senyum palsu namun tubuh mereka seakan mengibarkan bendera perang ke satu sama lain.
"Akan aku pastikan!!" Barack berucap dengan penuh keyakinan.
Ujung matanya kini beralih ke arah Luna yang berada di samping adrian.
"Begitu lebih baik, jangan bersikap berlebihan denganku saat di depan adrian"
__ADS_1
Barack hanya memerkan ekspresi wajah datarnya ketika Luna berusaha tersenyum kepadanya. Laki laki itu tak membalas senyuman Luna. Dia lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah Satya dan Helena yang sedang berbincang.
Ekspresi wajah Luna sedikit terlihat kecewa ketika Barack mengacuhkannya.
"Ada apa dengannya!!, , kenapa dia mengacuhkanku??, , tidak mungkin dia tidak melihatku tersenyum. Jarak kita tidak ada satu meter! barsan aku juga melihat matanya sedang menatapku!!"
Luna menghela nafas panjang, menetralkan rasa jengkel yang ada di dalam hatinya.
Setelah serah terima jabatan selesai semua orang mendekati Barack untuk memberi ucapan selamat. Mereka yang ada di dalam berbincang bincang sembari menikmati hidangan yang sudah tersedia.
Luna selalu berusaha untuk menatap ke arah Barack, beberapa kali dia berusaha mencari perhatian laki laki itu. Namun Barack seolah tak meresponnya.
Dan ketika Adrian sedang berbincang dengan orang lain, Barack mengarahkan pandangannya ke arah Luna, dia pun melempar senyum manis ke arah perempuan itu.
Tetapi ketika Adrian melirik ke arah Luna,di mana perempuan itu sedang tersenyum ke arah lain, Barack langsung menghindarinya lagi.
Adrian tahu di tujukan kepada siapa sebenarnya pandangan dan senyuman Luna saat itu.
"Setelah ini kita harus survey tempat untuk acra pesta ulang tahun perusahaan nanti malam. Aku yakin seleramu pasti bisa membuat tempat itu semakin menarik" Adrian berucap sambil menatap lembut ke arah Luna.
"Aku pasti akan melihat tempat itu, dan aku pastikan acara nanti malam akan sangat meriah"
"Ooya, , aku ada sesuatu untukmu!" Adrian mengeluarkan sebuah CD dari balik saku jasnya.
"Ini, , " Adrian meraih tangan Luna dan meletakkan CD itu di telapak tangannya. "untukmu!"
Luna terpaku ketika Adrian memberikan kaset itu padanya.
"Ini??" Luna menyelidik ke arah kaset di tangannya.
"Sebenarnya aku ingin memindahkan rekaman itu ke flash disck, , tetapi aku tidak punya banyak waktu untuk melakukannya. Bukalah nanti ketika kamu sudah sampai di rumah. Kamu akan tahu isinya" Adrian pun tersenyum ke arah Luna.
Dari kejauhan Barack nampak menyelidik ke arah kaset yang ada di tangan Luna. Keningnya berkerut halus seolah dia merasa khawatir dengan Luna.
♡♡♡
Adrian membuang semua benda yang ada di atas meja kerja dengan satu sapuan tangannya.
Laki laki itu melampiaskan amarahnya karena Barack telah berhasil merebut kedudukan yang selama ini dijaganya dengan sangat baik.
"Bagaimana mungkin perusahaan Dirga jatuh ketangannya!!! aku tidak bisa membiarkan perusahaan keluargaku jatuh ketangan orang lain!"
Adrian menendang kursi yang ada di depannya hingga terpental jauh.
Kedua tangannya nampak mengepal dengan kuat hingga terlihat memutih di ruas jarinya.
__ADS_1
"Sial!!!" Adrian memukul kuat meja dengan kepalan tangannya.