
ย
Suara mesin mobil yang berlalu lalang terdengar sangat berisik mengganggu telinga luna yang seakan akan selalu berbisik dengan kasar di telinganya. Bahkan tak jarang suara klakson pun memekik telinga sampai ke dalam gendang telinganya, lamunannya akan nomor asing yang menelepon ke nomornya membuat dia terus terpaku melihati nomor itu.
ย
Jari jempolnya mengusap tombol warna hijau di layar ponselnya.
"Hallo" luna mencoba mengangkat telepon dari nomor asing itu, berharap dia mengenal suara yang akan dia dengar dari seberang teleponnya.
Terdengar suara lirih seorang laki laki menyaut salam luna dari ujung ponselnya.
"Hallo" suaranya terdengar lembut, saat memasukki rongga telinganya, dan suara itu terasa tidak asing di telinga luna.
Dalam benaknya dia terus berusaha mengumpulkan nama nama seseorang yang cocok dengan suara yang khas itu.
"leo?" terbesit namanya di pikiran luna setelah mendengar suara khas laki laki itu.
Seketika terlihat senyum lebar di wajah luna. Dia seperti laki laki yang dikirimkan Tuhan untuknya, bahkan Seolah olah alam pun tahu bahwa dia sedang membutuhkan bantuannya.
Ponselnya terus melekat di telinga kanan luna.
"Iya, , , ini aku, kok kamu bisa tahu?" suara leo terus menggema di rongga telinga luna.
"Udah kelihatan dari suaramu tau, , ini, kamu dapat nomerku dari mana?" terlihat wajah luna penuh senyum saat itu.
"Tante cokro laaah, , memang siapa lagi? hahaha, , Kamu dimana? kenapa suaranya berisik sekali" leo mendengar suara berisik mobil berasal dari sekitar luna.
"Mmmm, aku sedang di jalan, , , , leo, , aku sebenarnya butuh bantuanmu" Suara luna terdengar melemah di akhir kalimatnya, bawasannya dia merasa malu meminta pertolongan kepada temannya yang baru saja bertemu kembali.
Tanpa rasa segan leo dengan senang hati memperbolehkan luna meminta pertolongan padannya.
"Apa?" lagi, suara leo terdengar dengan tegas di rongga telinga luna.
Luna masih merasa malu dan tidak enak, namun mau bagaimana lagi ini juga sudah kebetulan yang sangat langka kan, di saat dia membutuhkan bantuan, dengan tiba tiba dia yang lansung bisa menolongnya.
Seperti memang sudah di atur.
"Jemput aku" kata luna dengan perasaan yang masih merasa tidak enak dengan leo.
"Dimana?" leo menjawab tanpa ragu.
"Aku berada di sebelah bangunan lama, tidak jauh dari toko perhiasan semar" luna memberikan alamat keberadaannya saat itu.
"Oke, tunggu aku" dengan segera leo mematikan teleponnya.
ย
Luna tidak akan mengira kalau leo masih akan terus bersikap seperti waktu mereka masih kecil, dikiranya dia tidak akan membantu luna karena keadaan dimana mereka sekarang sudah tumbuh dewasa, biasanya orang dewasa akan lebih bersikap jaim namun tidak begitu dengan leo.
ย
Luna terus menunggu kedatangan leo, dia selalu melihat ke arah mobil yang mendekat kearahnya, namun ternyata bukan dia.
Selang beberpa menit kemudian dia melihat mobil sedan berwarna merah gelap berjalan mendekat ke arahnya.
Dan benar mobil itu berhenti tepat di depannya.
Kaca pintu mobil itu mulai terbuka sedikit demi sedikit.
Pintu mobil sedan yang pendek itu memaksa luna untuk membungkukkan badannya agar bisa dengan jelas melihat leo sedang duduk di kursi depan.
"Hei" luna melambai lambaikan tangannya ke arah leo yang selalu melempar senyum ke arahnya sedari tadi dia sampai di situ.
Leo tak membiarkan luna membuka pintu mobilnya sendiri.
"Tunggu sebentar aku akan bukakan pintunya untukmu" leo keluar dari pintu mobil dan berjalan ke arah luna kemudian membukakan pintu untuknya.
Senyum lebar terlihat dari wajah luna.
"Terima kasih" dia segera masuk ke dalam mobil.
leo menutup pintu mobilnya dan berjalan ke arah berlawanan menuju pintu lainnya, kemudian dia masuk lagi ke mobil dan kembali menyetir mobilnya.
__ADS_1
Di mobil leo, auranya terlihat sangat berbeda, dan berlawanan jauh dari mobil barack. Dia tidak tahu apa yang membuatnya berbeda apa karena sikap mereka yang berbeda jauh atau karena leo adalah temannya waktu kecil atau memang karena, entah lah, yang dipikirkan luna saat itu adalah rasa nyaman dan aman karena leo sudah menolongnya, dia merasakan perasaan yang dulu pernah dia rasakan sebelumnya, dimana leo selalu menolongnya saat membutuhkan bantuan.
Dari tadi leo merasa penasaran kenapa luna meminta dia menjemputnya ke tempat itu.
"Jadi, kenapa kamu bisa ada di pinggir jalan seperti tadi?" leo melemparkan pertanyaan yang mangacau pikirannya dari tadi.
Luna merasa bingung mau mulai darimana dia bercerita.
Awalnya dia bercerita tentang cincin yang melingkar di jari manisnya itu, kemudian dia menceritakan siapa laki laki yang tadi pagi datang ke rumahnya, karena luna tahu leo pasti akan menanyakan hal itu.
Sampai sekarang kenapa dia ada di tempat itu juga sudah luna ceritakan.
"Jadi sekarang, kamu ingin bertanya apa lagi denganku?" Luna memberi ruang untuk leo agar dia bisa bartanya yang mungkin menurutnya belum paham.
"I get it, , aku udah paham kok" kata leo memandang wajah luna dengan lembut.
"Aku yakin sama kamu, pasti dengan mudah menangkap perkataanku, karena waktu smp dulu kamu sangat jenius" luna tak pernah bisa menahan senyumnya saat berada di samping leo.
"Itu tidak ada hubungannya kali non, Dan sekarang dia pergi menemui ceweknya?" leo mencoba menanyakan hal yang tidak ingin luna jelaskan.
"Lebih tepat di panggil mantan" saut luna.
"Cieee, ada yang tidak ikhlas sepertinya kalau aku menyebut wanita itu ceweknya?" leo menekankan pada kata terakhirnya.
Luna menghelas nafas seolah olah kalau dia melakukan itu segala keluh kesahnya akan ikut menghilang bersama hembusan angin yang keluar dari mulutnya.
"Aku antar kamu pulang atau, , , kamu ingin kita pergi kemana?" entah kenapa tawaran leo itu membuat perasaan luna membaik.
Belum sempat menjawab pertanyaan leo, pobsel luna kembali berdering, namun kali ini dia mendapatkan email.
tring tring, , tring tring, , entah mengapa mendengar suara nada dering itu luna sudah malas terlebih dulu, karena dia tahu itu pasti email dari klara.
Tangannya seakan akan dibebani berkilo kilo pemberat, sehingga membuat dia merasa berat untuk mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.
"Kenapa tidak diangkat?" perkataan leo mencoba mengingatkan luna bahwa ponselnya telah berbunyi.
"Mmm , , hanya email ko" luna mencoba mengatakan sesuatu kepada leo untuk meyakinkannya bahwa itu tidak penting.
Tangan luna mulai merogoh tas yang ada di pangkuannya itu, dicarinya letak ponsel miliknya yang ada di dalam tas.
Akhirnya dia mendapatkan apa yang dia cari.
Sebelum membuka email luna memandang ke arah leo sembari membuang senyum kecut kearahnya.
Dan seperti dugaannya bahwa email itu berasal dari klara.
'Jangan lupa janji kita, makan malam hari ini ya, aku akan memunggumu di restoran asian food, aku juga mengajak barack bersamaku agar kita bisa mengobrol lebih asyik, aku tunggu kamu jam tujuh malam ya'
Luna membaca isi email itu.
Luna tidak tahu harus menjawab amail itu atau tidak, tapi sekarang yang ada di pikirannya adalah dia tidak mau melihat kemesraan antara klara dan barack malam ini.
Sesekali luna melirik ke arah leo yang terus tersenyum saat memandangi dirinya.
Terbesit dipikiran luna kalau dia ingin mengajak leo untuk datang ke undangan makan malam klara, namun ia mengurungkan niatnya karena dia takut kalau semua itu sudah pasti akan merepotkan temannya itu.
Leo melemparkan pandangannya ke arah luna sambil mengernyutkan dahinya.
"Kalau ada sesuatu, katakan saja, jangan disimpan sendiri" leo termasuk laki laki yang sangat peka, bahkan hanya sekali melihat saja, dia sudah mengetahui apa yang ada dipikiran luna, tidak heran dulu waktu duduk di bangku SMP semua murid perempuan mengidolakannya.
Beruntunglah wanita yang nanti akan mendapatkan cintanya.
"Tidak apa apa kok, hanya saja email itu dari klara, dia mengundangku makan malam hari ini jam tujuh" luna merasa tidak enak harus menceritakan hal itu.
"Terus??" leo melayangkan pertanyaan lagi bawasannya dia mengetahui kalau perkataan luna belum selesai.
Tidak tau harus berkata apa lagi, luna sudah mulai kehilangan akal.
"Dia, , , dia" kata luna terbata bata, entah apa yang membuat luna tidak menyelesaikan perkataannya itu.
Dan lagi lagi hanya dengan sekali menatap ke arah raut wajah luna, leo tahu apa yang sedang dipikirkan luna.
"Dia mengajak calon suamimu?" leo menebak dengan benar kata kata yang ingin luna ucapkan.
__ADS_1
"Kalau begitu, kamu harus merayuku agar aku mau menemanimu datang ke undangan makan malam itu bersamamu" tambahnya.
Terlihat mulut luna sudah membuka sambil menahan senyumnya itu.
"Serius?, , dengan apa aku harus merayumu?" luna meyakinkan leo seolah olah bahwa dia akan benar benar merayunya.
Leo hanya menghela nafas pendek, dia tahu kalau luna tidak akan melakukan hal itu.
"Kamu harus mengajakku kencan" leo mencoba menawarkan tawarna itu kepada luna.
Leo yakin kalau luna akan menolaknya.
"Hanya itu?, , oke deal ya, kamu temani aku ke undangan makan malam klara, besoknya aku akan mengajakmu berkencan, bagai mana?" terlihat aura wajah luna menjadi sangat gembira mendengar ajakan temannya itu.
Leo tidak menyangka kalau luna akan menerima tawarannya itu. Kemudian dia hanya mengangguk pelan sembari terus membuang senyumnya ke arah luna.
"Kita masih ada waktu dua jam untuk bersiap siap, aku akan mengantarmu berganti baju" leo meyakinkan luna kalau dia harus berdandan sangat cantik malam itu.
Luna merasa bingung kenapa leo tidak membawanya pulang untuk berganti pakaian, namun dia malah membawa luna ke sebuah toko baju branded di salah satu kawasan elite di daerah itu.
"Kenapa mengajakku kemari? bukannya aku harus pulang untuk mengganti bajuku?" luna merasa heran.
Leo turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk luna, dia mempersilakan luna turun dan menggandeng tangannya sembari menunjukkan jalan kepada luna untuk masuk ke toko baju itu.
"Kamu harus berdandan cantik mlam ini, untuk bisa mengambil perhatian calon suamimu kembali" kata kata leo membuat hati luna semakin bersemangat lagi.
Dilihatnya wajah luna penuh semangat saat itu, hanya itulah yang bisa leo lakukan untuk teman sewaktu kecilnya itu.
Pegawai toko membawa berbagai macam model gaun untuk di coba oleh luna, dengan wajah yang tersipu malu, dia mencoba semua gaun dari satu persatu dan memperlihatkannya ke pada leo yang setia menunggunya sambil duduk di kursi sofa yang terletak di depan ruang ganti.
Leo tertegun ketika melihat luna keluar dari ruang ganti dengan menggunakan gaun berwarna hijau tosca tapi lebih cenderung ke tosca gelap.
Dengan dandanan yang membuat dia terlihat lebih dewasa, dan yang pasti sexi sehingga membuat leo tidak pernah memalingkan wajahnya dari wajah luna.
"Kamu cantik sekali, , bagaimana kalau kita tidak usah datang ke undangan klara, kita makan makan saja sendiri" leo mulai menggoda luna, entah apa yang di pikirkan dia sampai sampai berkata seperti itu.
Luna memukul pelan ke arah perut leo yang berdiri didepannya sambil menatap lembut ke arah luna.
"Aduh" rintih leo.
Luna hanya melempar senyum malu ke arah leo yang sedang memegangi perutnya.
"Kalau begitu sekarang gantian kamu yang ganti baju, masak kamu mau pakai jaket ini?" luna menunjuk ke arah jaket yang menempel di badan leo.
"Okey, , aku akan berubah, seperti satria baja hitam, , hahahaha" leo mulai menggoda luna kembali. Dan terlihat tawa kecil dari bibir luna.
"Tapi ingat setelah aku ganti baju, kamu dilarang keras terpesona dengan ketampananku ya" entah dari mana leo mendapatkan kepribadian yang barusan dia perlihatkan di depan luna, pada dasarnya sewaktu masih di bangku SMP dia tidak se kocak itu.
Leo mulai masuk ke dalam ruang ganti dan membuat luna bergantian menunggu di kursi tunggu saat itu.
Tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama untuk seorang laki laki berganti kostum serta merapihkan rambutnya sedikit.
Pandangan luna tidak berubah, selalu ke arah leo mulai dia keluar dari ruang ganti sampai saat berjalan menuju ke arah mobil.
"Aku sudah bilang, kamu tidak boleh terpesona padaku" dengan tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi leo membuang senyumnya yang manis itu ke arah luna yang masih terus memandanginya.
Luna mulai tersadar dari lamunanya.
"Siapa yang terpesona? aku hanya menikmati keindahan yang ada di depan mataku saat ini, karena ciptaanNya begitu indah" luna sedang mencoba menggoda leo.
"Dari mana kamu belajar untuk menggoda seorang pria?, , pasti dari aryo, hahahaha, , "mereka berdua pun tertawa terbahak bahak.
***
Jangan lupa yang belum klik 5 bintangnya segera klik ya, gratis kok, nggak bayar.
terus like
lalu subscribe heheheh...
dan comentar yang membangun ya.
kiss kiss jauh dari author๐๐๐
__ADS_1