Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
73 CEO: Love's Romance Bertatap muka


__ADS_3

Menikmati pamandangan indah dari atas awan ketika pesawat akan mendarat merupakan salah satu kebiasan yang di lakukan oleh semua orang.


Hal itu juga yang di lakukan David, beberapa menit lagi pesawat yang dia tumpangi bersama dengan keluarganya akan mendarat di Tokyo.


Iris yang duduk di sebelah kakaknya hanya menghela nafas ketika memperhatikan laki laki itu tengah sibuk menatap dua buah kotak di tangannya.


"Ka, ,kamu masih belum bisa melupakan Kak Aileen?, , sebentar lagi kamu akan bertemu dengan calon Istrimu. Itu tidak akan adil untuknya kalau kamu masih memikirkan perempuan lain"


Dua kotak di tangan David berisi cincin yang seharusnya saat ini melingkar di jari Aileen. Tetapi semua tak sesuai rencana. Baginya kemana pun dia pergi cincin itu akan selalu berada bersamanya. Karena dia merasa jiwa Aileen ada di dalam cincin itu.


"Bukan aku yang menginginkan perjodohan ini. Kenapa aku harus memikirkan perasaannya" ucapannya merujuk kepada calon Istrinya.


"Maaf Ai, , kalau pun kita tidak berjodoh. Bisakah kita bertemu??. Aku ingin cincin ini ada bersamamu"


David menyimpan kembali kedua cincin itu ke dalam saku hoodie yang dia kenakan.


Tak lama pesawat mereka mendarat di bandara Internasional Tokyo. Setelahnya mereka harus reservasi di hotel yang telah mereka booking jauh hari sebelum mereka pergi ke sana.


"Kak, , kamu jangan kabur ya!, , aku mengawasimu" Iris berucap sembari menunjuk kedua matanya dan mata David secara bergantian.


"Aku ada di sebelah kamarmu loh!" perempuan itu kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Sementara David masih berdiri di depan pintu kamar menggelangkan kepala perlahan.


Di sisi lain Barack dan Luna juga sudah berada di dalam kamar mereka.


♡♡♡


Iris terlihat sedang berlari di lantai bawah, dia mengejar Kakaknya yang pergi keluar dari kamar.


"Kak!" teriaknya, perempuan itu berlari kencang mengejar David yang sudah terlebih dulu berada jauh di depan.


David menghentikan langkahnya di lampu merah, dia menunggu lampu rambu rambu berganti untuk pejalan kaki.


Saat itu Iris yang baru sampai mencoba berusaha mengendalikan nafasnya yang terengah engah, agar kembali normal seperti semula.


"Kak, , jalan, , pelan pelan dong!" baru selesai berucap David kembali melanjutkan langkah kakinya, dia menyebrang untuk pergi ke tempat yang dia tuju.


"Ya ampuuunnn!!" Iris mempercepat langkahnya ketika tertinggal tak jauh dari David.


"Kak!, , kamu mau pergi kemana?"


David menghentikan langkahnya kemudian menghadap ke Iris.


"Kalau kamu mau ikut, yang pertama jangan sampai tertinggal!!, , dan kedua, jangan berisik!" David kembali melanjutkan langkahnya.


Laki laki itu sengaja duduk di bangku taman sembari menikmati orang orang uang berlalu lalang di sana. Sore hari akan semakin ramai karena semua orang setelah selesai beraktifitas akan pergi keluar untuk sekedar berjalan jalan mencari udara segar karena seharian sudah menghabiskan waktunya untuk bekerja.


"Kak, sedang apa kita di"


"Yang ke tiga!, , jangan banyak bertanya!" sahut David, membuat Iris terdiam seketika.


David sejenak memjamkan matanya, menikmati udara kota Tokyo di sore hari. Tak lama dia membuka matanya dan detik di mana matanya terbuka penuh. Jauh di depan sana dia melihat bayangan Aileen.


"Ai???" Jantung David berdebar sangat kencang. Dia segera bangkit dari bangku untuk mengejar Aileen.


David berlari menyusuri jalanan yang penuh dengan orang di sana.


Sementara Iris lumayan tertinggal jauh, tetapi dia tak kehilangan jejak Kakaknya.


"Kak tunggu aku!!" Iris kuwalahan ketika harus mengejar Kakaknya.


Di sisi lain, David telah memaku langkahnya. Matanya menatap ke depan. Di sana dia melihat perempuan yang sudah sangat lama ingin dia temui. Perasaannya tidak karuan ada rasa senang yang tak bisa di ungkapkan dengan kata kata, David berdiri di balik orang orang ketika menyelidik kearah Aileen yang sedang berdiri sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


Laki laki itu tersenyum, ingin berlari kemudian memeluk perempuan itu ke dalam dekapannya. Tetapi dia sadar, sekarang tak ada kesempatan untuk dirinya melakukan itu.


Senyum di wajah David menghilang perlahan ketika melihat Aileen mendorong sebuah troly dengan seorang bayi di dalamnya.


Matanya memerah kemudian berkaca kaca, rasa sakit yang teramat itu seharusnya tak menghinggap di dalam hatinya. Semakin berusaha ingin melupakan Aileen, semakin besar rasa cinta yang tumbuh di hatinya.


"Dia sudah menikah??"


Tubuh David bergerak mengikuti gerakan tubuh Aileen yang sedang berjalan dengan mendorong troly bayi itu. Dadanya serasa memanas, tetapi mungkin itulah yang terbaik untuk Aileen. Air itu menetes begitu saja dari matanya.


"Kak!!" teriak Iris yang baru saja sampai.


"Kalau kamu berniat mengerjaiku, kamu sudah berhasil!!" nafasnya terengah engah. Dia terdiam ketika melihat air jatuh dari ujung mata Kakaknya.


"Kak??" kali ini suara Iris terdengar melembut.


"Kamu baik baik saja!"


Perubahan pada suara Iris membuat David menarik penutup kepala hoodie lebih ke depan agar menutupi sebagian matanya. Laki laki itu tertunduk sebentar untuk menyembunyikan wajahnya. kemudian dia mengangguk menjawab pertanyaan Dari Iris.


Dia mencoba membuat air yang ada di matanya menghilang dengan memejamkan matanya dalam dalam, setelahnya dia kembali mengangkat kepalanya.


Dan saat itu David sudah kehilangan Aileen. Dia kembali menyelidik kearah depan. Mencari keberadaan Perempuan itu di sekitar sana.


Tetapi David sudah kehilangan jejaknya.


♡♡♡


"Kalian dari mana?, ," sapa Luna kepada David dan Iris yang baru saja beragabung di meja makan di sebuah restoran di hotel itu.


Di sana ternyata sudah ada Aryo dan Cici.


"Ini Putramu Lun?" ucap Cici setelah melihat David.


"Berantakan seperti ini saja dia masih bisa bisanya terlihat sangat tampan, , apa lagi ketika dia rapih ya?" Cici menggelengkan kepalanya. Kemudian melirik kearah Luna sambil tersenyum. Yang kemudian mendapat sebuah pukulan lecil dari sahabatnya.


"Kalian dari mana sayang? hmmm?, , jalan jalan kamana sampai lupa waktu?"


"Kak David, , pergi ke taman. Yaaa, , Iris hanya mengikutinya!"


"David, ini Tante Cici, , calon mertua kamu. Dan besok kita akan kerumahnya" Luna twraenyum lebar, seakan dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan calon menantunya.


Cici terlihat menyelidik kearah David yang tertunduk.


"David??, , kamu sedang tidak enak badan??"


"Ee, ,tidak Tante. Maaf mungkin saya hanya kelelahan" David kembali terdiam. Di benaknamya, dia masih dan terus memikirkan Aileen, perempuan yang sempat dilihatnya tadi.


"Ooh ya Ci!, ,kenapa coba kamu tidak pernah kirim foto Putrimu kepadaku??"


"Sengaja!, , kejutan buat kamu. Dia perempuan yang snagat cantik. kedua putriku sangat cantik dan manis. Aku yakin David akan menyukainya!, , ya kan sayang??"ucap Cici kepada Laki laki itu.


Luna merasa bahwa David sedang murung, entah apa yang terjadi dengan laki laki itu sebelumnya, Luna terus berfikir bahwa Putranya itu masih terus memikirkan Aileen.


"Barack?, , bagaimana bisnismu?" Aryo memulai pembicaraan di antara laki laki dewasa, bahkan bisa dibilang lebih dari dewasa.


"Berjalan dengan lancar. Bukankah kamu menikmati hasilnya setiap bulan??" Mereka berdua pun tertawa.


Semenjak Aryo menolong prusahannya, sampai sekarang Barack dan Aryo semakin memperluas bisnis mereka. Tak hanya di bidang fashion yang selama ini di geluti oleh Barack tetapi mereka juga merambah ke furniture yang kini sedang berada di masa puncaknya.


"David, ,Om Aryo dulu yang telah menolong Ayahmu ini. Kalau tidak ada dia,mungkin perusahan Ayah tidak akan berjalan sampai sebesar saat ini" Barack melirik kearah David yang sejak tadi hanya terdiam.


David kemudian mengalihkan pandnagannya kearah Aryo. Dia menunduk sambil membuang senyumnya.

__ADS_1


Setelah itu entah apa yang mereka bicarakan, David tak mendengarnya dengan baik. Pikirannya masih tertuju kepada Aileen. Jalan pikirannya semakin kacau ketika mengetahui Aileen berada di negara yang sama dengannya. Apa lagi setelah melihatnya berada di taman tadi, dia merasa sangat yakin bahwa Aileen tak berada jauh dari tempat itu.


Ketika David ingin bernjak pergi, Iris mencoba meraih tangannya untuk menghentikan David.


Laki laki itu menoleh kearah Iris.


"Kamu yakin akan pergi?, ,pikirkan sekali lagi bagaimana perasaan Mamah nanti?" bisik Iris kemudian.


David mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkan tempat itu. Hanya dengan melihat dari raut wajahnya saja, dia tahu siapa yang tadi sempat dilihat oleh Kakaknya.


Bukan karena menentang David dengan Aileen, tetapi sekarang posisinya sudha tak memungkinkan untuk memikirkan perempuan itu.


♡♡♡


Dengan mengenakan setelan jas berwarna navy yang melekat epik di tubuhnya, David melangkah keluar dari mobil. Tatanan rambut yang elegan membuat dia terlihat lebih segar apa lagi dengan bantuan pomade di rambutnya.


Wajahnya yang muram dan tak bergairah, sedikit tersamarkan oleh perbaduan jas dan gaya rambutnya.


"David,? jangan kecewakan Mamah" Luna berucap seolah dia tahu bahwa David akan menolak perjodohan ini. Itulah yang sudah direncakan oleh David semenjak dia menerima untuk bertemu dengan perempuan pilihan Orang tuanya.


♡♡♡


Lena dan Cici berdiri di depan pintu menyambut kedatangan keluarga Barack.


Cici mempersilakan mereka duduk di ruang keluarga.


Arah pandangan mata Luna tertuju kepada Lena yang duduk di samping Aryo.


"Dia?"


"Dia putri keduaku, Lena" Cici menyuruh Putrinya itu untuk berjabat tangan dengan sagahatnya.


"Apa Lena yang mau di nikahkan sama"


"Nggaklah tante, ,masak adik melangkahi Kakaknya, , kasihan nanti dikira Kak Aileen nggak laku!" sahut Lena dengan gaya bicara serta suaranya yang sedikit cempreng.


Suasana hening, seketika menyelingkupi keluarga Barack. Terlebih lagi David ketika mendengar nama Aileen di sebut oleh perempuan itu.


Luna dan Barack saling lempar pandang satu sama lain. memastikan bahwa diri mereka tak salah dengar ketika Lena menyebut nama Aileen.


"Aileen??" ucap Luna kepada Cici untuk memastikan.


"Iya, ,dia pernah kok kuliah di Paris. Tapi belum ada satu tahun ini memilih untuk melanjutkan kuliahnya secara Online. Aku juga tidak tahu kenapa dia melakukan itu"


Ekspresi wajah David seketika langsung berubah. Dia tidak yakin dengan Aileen yang sedanh di ceritakan oleh Cici adalah Aileen yang sempat mengisi hari hari bersama dengannya.


David beranjak dari sofa, dia menyelidik ke setiap sudut ruangan itu. Mencari sesuatu yang akan menbuatnya semakin yakin dengan apa yang ada di pikirannya. Langakah David terhenti di depan sebuah foto yang terpasang di belakang sofa.


Betapa terkejutnya dia ketika melihat Aileen, perempuan yang di cintainya ada di dalam foto itu.


Di sisi lain, saat itu juga Aileen bersama dengan Koyoko yang sedang menggendong seorang bayi tengah berjalan menuruni anak tangga.


Luna, Barack dan Iris memandang tak percaya kearah lerempuan yang sedang melangkah turun di anak tangga terakhir.


"Aileen??" mendengar suara yang tak asing di telinganya, Aileen yang semula tertunduk mulai mengangkat wajahnya kearah depan.


Tubuh Perempuan itu terhuyung hampir terjatuh karena terkejut melihat Orang tua David di sana. Beruntung ada Koyoko di sampingnya, sehingga bisa membantu Aileen menopang tubuhnya agar kembali berdiri seperti semula


Aileen kemudian mengubah pandangannya kearah laki laki yang berdiri memunggunginya, laki laki itu sedang menatap foto dirinya di sana.


"David?" gumam Aileen, suaranya sangat lirih. Bahkan Koyoko yang berdiri di samping Aileen saja hampir tak mendengarnya.


Tetapi David bisa mendengarnya dengan sangat jelas, suara itu menyeruak ke dalam rongga telinganya.

__ADS_1


David memutar tubuhnya menghadap kearah belakang. Matanya menatap wajah perempuan yang sedang berdiri tak jauh dari dirinya. Dada Aileen terasa sesak, jantungnya berdebar dengan sangat kencang ketika melihat laki laki yang sudah sekian lama tak dilihatnya itu berdiri tepat di depan kedua matanya.


Cukup lama mereka saling terdiam bertatap muka, kemudian pendangan mereka saling menatap dengan lekat dan semakin dalam.


__ADS_2