
Di rumah sakit, leo terus merawat klara dengan baik, dia berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Di ambilnya sebuah cawan untuk menampung air hangat dan sebuah handuk kecil untuk membersihkan tubuh klara.
Leo mulai membersihkan bagian wajahnya, di sapunya seluruh wajah klara dengan pelan, kemudian ke dua tangannya secara bergantian, yang terakhir adalah kedua kakinya.
Selesai membersihkan tubuh klara, leo pun kembali menyelimuti tubuhnya.
Kembali dia duduk di tepian ranjang itu, di lihatnya wajah klara yang masih tetap sama dan tidak berubah posisinya.
Hatinya hancur setiap kali melihat kondisi klara dengan selang yang di paksa masuk ke dalam mulutnya hingga menembus ke dalam dadanya.
Dia selalu menyalahkan dirinya sendiri kenapa waktu itu, dia tidak membanting setirnya ke arah lain, sehingga dia tidak harus menabrak klara.
Seandainya saja itu tidak terjadi mungkin tidak akan ada gangguan di kepala klara seperti sekarang ini.
"Maaf, , , semua ini karena kesalahanku, dan maaf juga, , karena tidak bisa membawa barack untuk menemuimu" kata leo sambil sesekali menyeka air matanya.
Wajah leo tiba tiba memaku, entah dia salah lihat atau memang benar, jari kelingking klara bergerak walaupun sedikit sekali.
Leo terus berfikir, apakah karena dia menyebut nama barack atau karena hal lain, makanya dia mencoba sekali lagi untuk menyebut nama barack ke arah telinga klara.
"Kamu ingin bertemu dengan, , barack??" kata leo.
Terlihat lagi, sedikit gerakan di jari kelingking klara, walau pun hanya sepintas namun klara benar benar menggerakkan jarinya.
"Tapi, , aku tidak bisa membawanya menemuimu" sambungnya.
Tiba tiba terdengar suara mesin pendeteksi jantung berubah bunyinya menjadi semakin cepat.
tit tit tit tit tit tit tit, , ,
Wajah leo berubah seketika, kelihatan sekali di wajahnya kalau dia benar benar panik.
"Klara!" teriaknya.
Di raihnya tombol darurat yang ada di samping tubuh klara, untuk memanggil perawat.
"Klara, , klara!!!" leo terus berusaha memanggil namanya.
Dokter dan beberapa perawat akhirnya datang dan masuk ke dalam ruangan.
Terlihat seorang perawat terus menatap ke arah mesin layar monitor di sampingnya.
"Detak jantung semakin meningkat, tekanan darah juga meningkat, organ vital tidak stabil" kata perawat itu.
"Bawa ke ruang ICU" perintah dokter.
Dengan segera perawat membawa klara keluar dari ruangan itu menuju ruang icu.
"Maaf , , tapi kamu harus menunggu di luar" kata seorang perawat mencoba menahan leo saat akan ikut masuk ke dalam ruang ICU.
Tubuh leo melemas, dia terduduk di kursi ruang tunggu yang ada di depan ruang ICU.
Dia terus menunggu, berharap klara akan baik baik saja.
Sekitar satu setengah jam lebih kemudian akhirnya dokter keluar dari ruang ICU.
Dengan segera leo menghampirinya.
"Bagaimana keadaan klara dok?". Mata leo memerah dan berkaca kaca.
Dokter hanya menghela nafas dengan pelan.
"Kita bicara di ruanganku" kata dokter.
Di dalam ruangan, dokter nampak terus melihat ke arah leo.
"Kondisinya memburuk!, , apa yang sebenarnya terjadi?" tanya dokter kepada leo, bawasannya hampir beberapa hari ini kondisi klara terus stabil.
Leo pun menceritakan secara mendetil sebelum sampai kondisi klara memburuk.
"Saya sudah bilang, , kalau otaknya menolak untuk bekerja sama dengan tubuhnya karena keinginan klara sendiri, namun dia masih bisa menangkap suara di sekitarnya dengan jelas, kamu bilang hanya dengan kamu menyebutkan nama laki laki yang bernama barack, dia menggerakkan jarinya?" dokter bertanya kepada leo.
__ADS_1
"Mungkin karena memang laki laki itu spesial di hidupnya!, , kalau kita ingin melihat perkembangan klara agar semakin membaik, maka jalan satu satunya kamu harus membawa laki laki itu untuk menemui klara. Biarkan dia berinteraksi dengan klara, biarkan klara mendengar suaranya, bisa jadi ini terapi secara alami untuk memulihkan kondisinya" kata dokter.
Leo hanya diam, tidak mengiyakan atau menolak perkataan dokter.
Malam hari suasana di rumah luna mulai ramai, halaman rumahnya di penuhi oleh tamu undangan rekan bisnis dua keluarga yang sedang mengadakan pesta pertunangan itu.
Terlihat barack sedang menemani ayahnya menemui rekan bisnisnya sambil berbincang bincang sedikit.
Barack malam itu di hujani kata selamat, baik dari rekan bisnis ayahnya maupun rekan bisnisnya yang sengaja datang jauh jauh dari paris untuk memenuhi undangan barack.
Senyum manis malam itu selalu menghiasi wajah barack setiap detiknya.
Namun senyumnya menghilang saat melihat luna keluar dari rumahnya yang berjalan menuju ke arahnya, matanya benar benar terpukau melihat luna malam itu begitu cantik, rambut yang biasa menutupi pundaknya itu kini di susun rapi di atas kepalanya sehingga membuat pundak dan lehernya yang panjang itu bisa dilihat dengan bebas olehnya.
Luna terus menatap ke arah barack yang baru saja berhasil dia hampiri karena sepanjang jalannya menuju ke arah barack orang orang selalu menghujaninya dengan ucapan selamat dan mengajaknya untuk sekedar memberi salam dengan pipinya.
Dilihatnya mata barack yang terus berbinar binar saat memandang dirinya berada di hadapannya.
"Kenapa?" tanya luna.
"Bahkan kata cantik dan indah, , tidak cukup menggambarkan betapa menawannya kamu malam ini" kata barack sambil berbisik di telinga luna
"Gombal!" kata luna sambil mencoba menahan senyumnya.
"Terserah kamu mau bilang apa, tapi aku bahagia sekali malam ini" mata barack tidak pernah lepas dan terus melekat ke wajah luna.
Sedangkan luna selalu tersipu malu dibuatnya.
***
Leo keluar dari ruang dokter dengan wajah lesu dan tak berdaya.
Leo merasa bingung karena tidak bisa memenuhi keinginan klara untuk bertemu dengan barack, namun melihat kondisi klara yang semakin memburuk dia tidak tahu harus berbuat apa.
Leo berjalan melewati ruang resepsionis, terdengar suara tv dari ruangan itu yang terpasang di salah satu dinding ruang resepsionis.
Dia melihat ke arah tv, di mana acara tv tersebut sedang menyiarkan kemeriahan pesta pertunangan grub cokro dan grub wibowo.
Leo hanya diam, namun di wajahnya nampak sekali kalau dia sedang memikirkan sesuatu.
Dia melanjutkan langkahnya menuju ke ruang ICU untuk melihat kondisi klara.
Leo sengaja tidak masuk ke ruangan yang di penuhi alat alat yang sudah steril itu.
Dia melihat klara dari balik pintu kaca.
Sambil berfikir, kalau dia tidak ingin melihat orang yang dicintainya itu, semakin memburuk kondisinya.
Leo bergegas pergi keluar dari rumah sakit, dia berjalan ke arah mobilnya dan membuka bagasi bagian belakang.
Di ambilnya sebuah jas berwarna hitam yang selalu tersedia di mobilnya.
Dia memakai jas itu dan masuk ke dalam mobil, dengn segera dia meninggalkan parkiran rumah sakit.
Di pesta, luna tengah asyik sedang bercanda gurau dengan barack, terlihat barack selalu mengganggu luna yang terlihat menggemaskan setiap kali merasa malu.
Cici menghampiri mereka berdua yang sedang asyik sendiri.
"Cie ciiiiieeeee, ,yang sebentar lagi udah mau tukar cincin, , bahagianyaaaaa, , berasa dunia milik berdua pokoknya, , yang satu tu, di sana" Cici menunjuk ke arah aryo.
"berasa dunia mau kiamat, , hahahahah" tambahnya dia pun tertawa terbahak bahak.
Luna hanya melihat ke arah aryo yang sedang duduk sendiri di mejanya.
Dia bermaksut untuk menghampiri aryo namun, dia mengurungkan niatnya, diliriknya wajah barack yang melihatnya dengan tatapan lembut malam itu.
__ADS_1
Barack hanya mengangguk pelan ke arah luna, seperti sebuah isyarat kalau dia di perbolehkan untuk menemui aryo.
Luna pun membuang senyumnya ke arah barack, dan kembali melangkahkan kakinya ke meja di mana aryo sedang duduk sendiri sambil melihat ke arah luna.
"Kenapa menyendiri?" kata luna mencoba menyapa aryo.
"Aku sedang berusaha merelakan seseorang yang aku cintai, untuk orang lain" kata aryo sambil mencoba membuang pandangannya ke arah lain.
"Mmmmm, , sok puitis kamu,, " luna tertawa geli.
"Serius! kenapa kamu harus memilih dia" tanya aryo.
Bukanya menjawab pertanyaan aryo, luna malah bertanya balik kepada aryo.
"Kenapa kamu harus terlambat menyadari perasaku padamu dulu?".
Namun aryo tidak bisa menjawab pertanyaan luna, saat itu dia hanya terus melihat ke arah mata luna yang benar benar terlihat penuh kebahagiaan malam itu.
Mereka berdua hanya saling pandang sambil melempar senyum sma lain.
Barack masih terus melihat luna dari kejauhan, memang dia membiarkan luna menemui aryo hanya untuk menyapanya, bakan untuk saling memandang dan melempar senyum seperti sekarang ini.
Barack tidak suka melihatnya, dia segera menghampiri mereka berdua.
Tangannya menyentuh pundak luna dan dia mendaratkan sebuah ciuman di kepala luna dari arah belakang.
Luna hanya diam meraih tangan barack yang ada di pundaknya.
Sambil membuang senyum ke arah barack yang berpindah duduk di sebelahnya.
Luna melihat tatapan mata barack yang terlihat dingin saat menatap wajah aryo yang sedang duduk di seberang meja.
Barack memamerkan senyumnya seperti sebuah kemenangan di depan aryo.
Ya, kemenangan atas cintanya luna.
Aryo membalasnya, namun dia membuang pandangannya ke arah luna sebentar dan kembali melihat ke arah barack dengan tatapan menantang di sertai sunyum yang sengit di wajahnya.
Tatapan aryo seperti menantang barack, kalau suatu saat dia bisa saja merebut kembali luna darinya.
Barack menyadari hal itu, dia segera mengajak pergi luna untuk berkumpul dengan keluarganya.
"Kita sudah terlalu lama di sini, nanti bisa bisa bernasib sial lagi, kita kembali ke sana ya" ajak barack.
Luna mengerti apa yang sedang dibicarakan barack.
Karena tidak ingin merusak suasana malam itu, dia pun mengikuti perintah barack untuk meninggalkan aryo dengan membuang senyum manisnya ke arah aryo.
Namun tatapan barack dan aryo terlihat sangat sengit satu sama lain.
Terdengar suara pembawa acara memanggil nama luna dan barack, setelah ke dua orang tua mereka selesai memberi sambutan kepada para tamu undangan.
Di arahkannya mereka untuk segera maju kedepan.
Barack menggandeng tangan luna dengan erat, dia menuntun luna dengan perlahan menuju ke arah depan.
Terlihat sebuah kotak berisi cincin berada di tangan mamahnya, cincin yang kemarin sudah di pilih oleh luna.
Barack dan luna berdiri di depan para tamu undangan, nampak wajah mereka terlihat sangat bahagia senyumnya tidak pernah memudar dari wajah luna dan barack.
Sebuah mobil berwarna merah padam terlihat sedang parkir di luar halaman rumah luna.
Leo keluar dari mobilnya, berjalan menuju ke halaman rumah luna dimana orang orang sedang menyaksikan barack dan luna sedang memberi sambutan kepada mereka.
*****
__ADS_1