Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
91 CEO: Love's Romance Khawatir


__ADS_3

Ius sudah tidak tahu bagaimana caranya menghadapi sikap Enrica yang semakin aneh, kekasihnya itu berniat untuk menjaga Essie selama beberapa hari sebelum membawanya ke panti asuhan.


"Kenapa kamu mengambil kelutusan sendiri?, , seharusnya kamu juga memikirkan aku, kalau pendapatku sudah tidak berguna, , lalu untuk apa kita" Ius terdiam, bibirnya terpaku. Dia tak sampai hati melanjutkan ucapannya.


Enrica terdiam, dia duduk di kursi depan ruang inap.


"Aku hanya ingin menolongnya, dia baru saja kehilangan satu satunya orang yang dia miliki dalam hidupnya. Dia masih kecil Ius" Enrica bangkit berdiri. Berjalan mendekati Ius.


"Aku akan menjaganya selama beberapa hari, , biarkan dia menenangkan dirinya" Raut wajahnya terlihat sedih ketika menatap Ius.


"Setelah itu silahkan kalau kamu tetap ingin membawanya ke panti asuhan!" Enrica berucap dengan nada kesal mengerahkan seluruh emosi di setiap ucapannya.


Ius terdiam membiarkan Enrica masuk ke dalam menemui Essie.


Kebingungan melanda hatinya, ketika ingin mengijinkan Essie tinggal bersamanya atau tetap pada keputusan yang di berikan oleh David dengan membawa gadis kecil itu ke panti besok pagi.


♡♡♡


Ius berdiri di tengah pintu dengan satu tangan telah meraih gagang pintu bermaksud ingin menutupnya. Tetapi laki laki itu sempat memaku kakinya sejenak di sana, pandangan matanya melihat kearah Enrica yang sedang tertidur sambil memeluk Essie.


Ius menghela nafas panjang, berfikir, sepertinya Enrica menyukai gadis itu, dia berencana untuk memenuhi keinginan Enrica.


♡♡♡


Barack terlihat sibuk memasukkan koper ke dala bagasi.


Iris sibuk dengan ponselnya, dia sedang mengubungi Kenzi untuk memberitahu kalau dia akan pulang ke Indonesia.


Tok tok tok!!!


"David, jangan lama lama supir sudah menunggu di luar" Luna berucap, mengeraskan suaranya sambil melangkah keluar.


"David kamu belum selesai??, , kenapa kamu berdandan lama sekali? melebihi adikmu yang perempuan" Aileen menggerutu, dia berdiri di pintu. Hampir satu jam David menghabiskan untuk mandi dan berganti pakaian. Itu benar benar sangat terlalu lama bagi seorang laki laki.


"Bentar sayang" David sibuk memakai celananya, laki laki itu sedang bertelanjang dada sambil memunggungi Aileen.


"Tolong ambilkan kaos di almari"


"Ya ampuun!!, , dari tadi kamu belum menyiapkannya?" Aileen berjalan menuju almari, mengeluarkan kaos lalu memberikannya kepada David.


"Maka dari itu aku ingin segera menikah, agar nantinya kamu yang menyiapkan semua pakaian untukku"


"Iiihh!!, ,dasar bukannya dulu tidak mau menikah denganku??"


"Ai, , jangan mulai ya!!"


Aileen teesenyum, dia kemudian melirik hoodie milik David yang berada di kursi.


"Pakai hoodie ya" pinta Aileen sambil mengulurkan hoodie itu.


David yang baru saja memakai kaos terlihat melirik hoodie yang ada di tangan Aileen. Rambutnya yang berantakan karena belum di sisir itu pun terlihat menutupi sebagian matanya.


"Kenapa aku harus memakai itu? David menaikkan kedua alisnya.


"Aku suka melihat kamu memaki hoodie ini!" Aileen tersenyum, memeluk hoodie itu sambil menghirup aromanya dalam dalam.


"Lebih suka mana? melihat aku memakai itu atau aku yang telanjang" David kembali menggerakkan alisnya secara cepat dan berulang.


"Ih!!, , mesum" Aileen melempar hoodienya dan mendarat tepat di kepala.


"Mau kemana??" David menarik tangan Aileen ketika perempuan itu melangkah keluar.


"Keluar, Mamah sudah menunggu di dalam mobil dari tadi!!, , ayo David cepat dong"

__ADS_1


"Cium dulu" David masih menahan tangan Aileen, dia menggerakkan kepalanya maju untuk memudahkan Aileen menciumnya.


"David!!"


"Ini akan lebih cepat selesai kalau kamu memenuhi keinginannku!" ucapnya dengan nada menuntut.


Aileen kemudian mengecup bibir David, tetapi laku laki itu masih menahan tangannya.


"Lepas, ,aku akan menunggumu di luar"


"Aku kan minta ciuman bukan kecupan Ai" David terkekeh.


"Sama saja!" Aileen kemudian menepis perlahan tangan David.


"Kak David!! kakak Ipaaaar.. Mamah sudah menunggu kalian, , kenapa kalian lama sekali" Iris berteriak dari arah pintu depan.


"Bentar sayang, , Kaka Aileen minta di cium terus nih" David mengeraskan suaranya.


Aileen membulatkan mata kemudian mencubit lengan David.


"Dasar iiiihh!!" Aileen memukuli dadanya, kemudian berucap untuk mencari pembelaan.


"Kamu juga yang minta. Kenapa jadi aku yang di jadikan kambing hitam" Aileen cemberut menekuk wajahnya.


David tertawa karena telah berhasil menggoda Aileen, dia menggandeng tangannya, kemudian berjalan keluar menuju mobil bersama.


♡♡♡


"PresDir maaf, , tetapi bolehkah saya merawat Essie selama beberapa hari sebelum membawanya ke panti?" suara Ius teedengar bergetar dari seberang sana, rasa ketakutan kental di nada bicaranya ketika ingin meminta ijin kepada David untuk merawat gadis kecil itu.


"Rawat dia dengan baik!, , aku akan mengajak Aileen untuk menemuinya setelah pulang dari Indonesia!" Secara tidak langsung David mengijinkan Ius untuk merawat Essie selama beberapa hari. Laki laki itu kemudian mematikn ponselnya.


"Siapa?" Ailene dari arah belakang merasa penasaran ketika David harus mengangkat panggilan dan menjauh darinya.


"Kenapa??"


"Mm, , kamu tidak menanyakan kabar Essie hari ini??, , apa dia sudah membaik?" Aileen menyatukan alisnya hingga terlihat kerutan halus di sana.


David bisa merasakan ada rasa kehehawatiran Aileen kepada gadis kecil itu.


"Apa Ius sudah membawanya ke panti?" Aileen mulai tak bisa tenang ketika David hanya diam saja.


"Bagaimana dengan pantinya?, , apa Ius memilih tempat dengan kualitas terbaik? air, makanan, Ibu pengasuh, apa mereka mau menerima Essie dengan baik"


"Ai, , kamu terlalu mengkhawatirkan anak itu. Dan kamu sekarang membuatku khawatir denganmu" David merangkup pipi Aileen dengan kedua tangannya.


"Dengarkan aku, Essie sudah berada di tangan yang tepat!, , kamu tidak perlu mengkhawatirkannya" David tahu, hanya dengan memberitahunya seperti itu, tak bisa memuaskan Aileen.


"Ee, , bagaimana kalau ajak dia bersama dengan kita?"


"Ke Indonesia??" David menarik tangannya kembali, dia sempat menaikkan nada bicaranya. Membuat Orang tuannya langsung menoleh.


David berdehem mencoba menetralkan suasana.


"Dia sedang istitarahat Ai, kalau pun harus mengajak Essie sekarang kita harus mengurus pastpornya"


"Bukannya kamu sering menggunakan uang untik memuluskan semua masalahmu, saat inilah uangmu sangat berguna"


"Ai" David menghela nafas panjang sebelum kembali berucap.


"Aku tahu kamu sangat khawatir" tangannya bergerak membelai pipi Aileen.


"Tapi kamu tidak tahu bagaimana nanti Mamah dan Papah akan bereaksi melihat Essie?"

__ADS_1


Aileen terpaku, benar kata David Aileen tidak bisa memikirkan perasaannya sendiri karena merasa khawatir dengan Essie. Di sini dia juga harus nemikirkan perasaan keluarga mereka.


♡♡♡


David terlihat sedang membantu Ailen memakai seat belt, kemudian laki laki itu duduk di sampingnya.


"Coba lihat senyumnya" David berucap ketika Ailene masih terlihat murung.


Aileen menoleh lalu tersenyum kecut kearah Davit.


"Kamu yakin akan membawa Iris ke panti" ucapnya dengan nada manja.


David mendengus kesal. Kemudian berucap dengan tenang.


"Kenapa masih membahas anak kecil itu lagi?"


"Dia lucu, , matanya juga warnanya sangat indah, rambut ikalnya ahhh, , dia benar benar seperti boneka." Aileen berucap seperti anak kecil yang sedang mengagumi sesuatu.


David mendekatkan kepalanya kemudian berbisik.


"Bagiku tidak ada yang seindah itu, kecuali kamu" David mengecup kepala Aileen kemudian.


Aileen menarik kepalanya menjauh.


"Lalu, , jika nanti aku melahirkan dan punya anak" Aileen mengerutkan dahinya.


"Apa kamu juga akan bersikap seperti ini dengan anak kita??"


David menyeringai senang.


"Kamu sudah berfikir kita punya anak?" Dia semakin mendekatkan bibirnya di telinga Aileen.


"Bagaimana kalau kita memikirkan cara membuatnya??" Bisiknya dengan nada menggoda, yang kemudian mendapat pukulan bertubi tubi di lengannya.


Aileen memaku tangannya ketika menyadari rambut David disisir rapih ke belakang.


"Kapan rambutmu menjadi serapih ini?, ? perasaan tadi waktu keluar dari rumah masih berantakan?"


"Di mobil, waktu di Bandara juga sudah rapi, hanya kamunya saja yang lebih fokus memikirkan Essie, jadi melupakam aku!" David menaikkan kedua alisnya.


"Kemarilah, , aku akan mengacak acak rambutmu" Aileen telah mengulurkan tangannya.


"Kenapa diacak acak??" David menarik kepalanya menjauh.


"Aku suka melihat rambutmu yang berantakan, , ayolaaahhhhh, ,Daviiidd" Aileen berucap dengan nada yang mendayu dayu nan manja. Memohon kepada David untuk memenuhi keinginannya.


"Cium aku dulu" David seketika mendorong bibirny maju.


Aileen nampak menyelidik kearah sekitar takut akan ada yang melihatnya nanti. Dia pun mengecup binir David.


"Mmmm" David menggelengkan kepala.


"Aku bilang cium!" dia berucap dengan lambat, agar Aileen mendengarnya dengan jelas.


Aileen memenuhi keinginan David, dia kemudian meluma** bibir David sejenak.


David tersenyum setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Dengan senang hati dia menunduk mendekatkan kepalanya. Membiarkan Aileen mengacak acak rambutnya yang sudah terlihat rapih.


Aileen tersenyum setelah berhasil membuat rambutnya berantakan seperti yang dia inginkan.


"Sudah" Aileen terpaku ketika menyadari bahwa wajah mereka sangat berdekatan. Dia menelan ludahnya dengan susah payah, takut David akan berbuat nekat


David tersenyum, dia menarik kepalanya kembali dan bersandar di kursi.

__ADS_1


Aileen terkejut ketika David memilih untuk tidak menciumnya. Biasanya laki laki itu akan lebih agreaif ketika mereka sedang berdekatan seperti tadi.


__ADS_2