
David semakin tertunduk menyembunyikan wajahnya ketika menahan rasa sakit yang mendera bagian perutnya dengan hebat. Hingga mati, mungkin lebih baik ketimbang harus merasakan sakit yang teramat di bagian perutnya itu.
Aileen sebenarnya ingin bersikap acuh, dia berfikir David pasti sedang berakting untuk mendapat perhatiannya.
Namun ketika melihat keringat dingin di kening laki laki itu, Aileen mulai terlihat sedikit khawatir.
"E, , kamu baik baik saja?" Aileen memang menanyakan keadaan David, tetapi dia masih terlihat acuh saat itu.
Hingga akhirnya rasa perih bercampur panas sampai seperti di tusuk tusuk menghujam perut David. Wajahnya seketika terlihat pucat hingga untuk membuka matanya pun dia sudah merasa tak sanggup.
David roboh, dia pingsan di atas tubuh Aileen.
"David!!, , tubuhmu berat sekali!!" perempuan itu menghela nafas panjang untuk mengumpulkan tenaga.
"Pasti dia pura pura, agar aku mau memaafkannya!!" gumam Aileen.
Namun seketika nafas dan suhu tubuh David yang memanas terasa menjalar ke bagian leher Aileen. Membuat perempuan itu akhirnya mendorong dengan kuat tubuh David kearah samping.
Dan setelah berhasil, Aileen melepaskan selimut yang membalut tubuhnya.
Aileen menyelidik kearah mata David yang sudah terpejam. Laki laki itu nampak tak berdaya. Tangannya bergerak meraih leher David kemudian menggunakan punggung tangannya untuk memastika suhu tubuh laki laki itu.
Aileen terkejut ketika mendapati suhu tubuh David yang naik dengan sangat cepat. Dia beranjak dari ranjang dan berlari menuju pintu.
Ketika berhasil membukanya, Kepala pelayan dan anak buahnya jatuh tersungkur di lantai Karena mereka sempat menguping sebelumnya dari arah luar.
Dengan lembut Aileen berucap.
"Bibi apa yang sedang kalian lakukan??" Aileen membantu pelayan itu untuk bangkit dari lantai.
Tetapi Kepala pelayan terlihat salah tingkah ketika melihat kancing kemeja Aileen masih terbuka hingga memperlihatkan sedikit bagian dalam tubuhnya.
"E, , Nona. Itu" Kepala pelayan merasa tidak enak hati ketika ingin memberi tahukan hal itu kepada Aileen. Karena pastinya perempuan itu akan merasa sangat malu nantinya.
"Nona, kancing bajumu!" ucap pelayan lain kemudian. Hingga mendapat pukulan di lengannya oleh Kepala pelayan.
"Kamu ini dasar!!" ucap Kelapa pelayan.
Pipi Aileen bersemu karena malu, dengan cepat dia membalikkan tubuh dan berusaha mengancingkan kembali bajunya. Namun ketika dia mengingat keadaan David Aileen segera memutar tubuhnya.
"Bi David pingsan!"
"Haa!!!, , Tuan Muda pingsan??" Kepala pelayan nampak histeris. Dia berlari masuk ke dalam diikuti pelayan lain dan Aileen dari arah belakang.
Wajahnya semakin panik ketika mendapati Tuan mudanya tergeletak di atas ranjang.
Dia kemudian berjalan kearah nakas,
meraih gagang telephone kabel kemudian menghubungi Dokter keluarga.
"Nona, aku akan menyiapkan air hangat untuk membersihkan badan Tuan David" ucap pelayan lain sembari berlari kearah luar.
Setelah menghubungi Dokter, Kepala pelayan kembali mendekat kearah David. Dia dan Aileen memindahkan tubuh David ke tempat yang semestinya. Karena sebelumnya tubuh David berasa di bibir ranjang.
__ADS_1
Setelahnya kepala pelayan berjalan kearah almari dan mengambil baju ganti untuk David.
"Nona, nanti tolong bantu Tuan David mengganti bajunya sebelum Dokter datang kemari" ucap Kepala pelayan sembari meletakkan pakaian milik David di atas ranjang.
"He??, , aku?? tapi bi"
"Nona aku akan keluar sebentar untuk memberitahu supir. Agar memberi tahu keadaan Tuan muda kepada Nyonya" Kepala pelayan kemudian pergi meninggalkan Aileen di sana.
Aileen dengan ragu berjalan ke sisi lain mendekati David. Dia meraih minyak yang sebelumnya di letakkan di atas nakas oleh Kepala pelayan.
Aileen sedikit menuangkan minyak itu ke ujung jarinya, kemudia mengusap lembut di hidung David kemudian tak lupa di bagian belakang telinganya dengan minyak yang ada di jarinya.
"Kenapa kamu pingsan hanya karena sakit perut?? kamu pasti akan malu ketika mengetahui hal ini!!" gumamnya dengan jengkel.
Ujung matanya bergerak melirik kearah pintu ketika pelayan membawa sebuah wadah berukuran besar dengan air hangat memenuhi sebagian wadah itu.
Dia meletakkan air itu di atas nakas, kemudian memberikan handuk kecil kepada Aileen.
"Nona" ucapnya sambil mengulurkan handuk itu kearah Aileen.
Dengan ragu perempuan itu meraih handuknya. Dia membasahi handuk itu dengan air. Setelahnya memeras dan mulai membersihkan tubuh david mulai dari bagian wajahnya.
Kelopak mata Aileen masih terlihat sedikit bengkak, bulu matanya juga masih terlihat basah karena sisa tangisnya.
Dia mau merawat David karena mengingat kabaikkan laki laki itu saat merawat dirinya sedang sakit kamarin. Bagi Aileen ini seperti balas budi. Namun jika membahas kejadian yang sebelumnya, Aileen masih belum bisa memaafkan sikap laki laki itu.
Dia masih memendam raja benci yang teramat di dalam hatinya.
Setelah membersihkan bagian wajah dan leher, Aileen meletakkan kembali handuk itu ke dalam wadah. Dia nampak ragu ketika ingin melepas kancing kemeja.
Aileen terlihat memantapkan diri sebelum mengambil handuk itu dan membersihkan bagian dada David yang terekspose di depan matanya.
Beberapa saat kemudian setelah selesai membersihkan tubuh David Aileen kini membantu laki laki itu memakai piyamanya.
Dengan telaten dan penuh perhatian Aileen akhirnya menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Tak lama kemudian Kepala pelayan datang dengan seorang Dokter.
Aileen beranjak dari bibir ranjang untuk mempersilakan Dokter memeriksa keadaan David.
Lumayan lama untuk memastikan keadaan tubuh David. Terlebih lagi setelah Aileen mengatakan bahwa David sempat memegangi perutnya sebelum akhirnya laki laki itu pingsan.
"GASTRISTISnya kambuh, dia mungkin terlalu banyak memikirkan pekerjaannya hingga sedikit stres dan melupakan jam makannya, David juga terlalu sering mengkonsumsi minuman berkafein" Brian berucap dengan pasti, dia seolah sudah tahu kebiasaan buruk David sejak dulu.
Karena beberapa bulan terakhir David sudah pernah datang menemui Brian untuk meriksa keadaan perutnya.
David sudah lumayan lama mengeluh sakit di bagian lambungnya.
"Apa itu bahaya Dok?" Kepala pelayan berucap dengan khawatir.
"Semua jenis penyakit akan berbahaya jika kita tidak menanganinya dengan baik terlebih lagi jika terlambat. Aku sudah menyiapkan obat untuk David sebelumnya. Aku juga sudah tahu kalau lama kelamaan David tidak mengubah pola hidupnya, hal ini pasti akan menimpa David. Tanang saja mungkin satu atau setengah jam kemudian dia akan sadar kembali" Brian meletakkan beberapa obat itu di atas nakas kemudian.
"Tolong segera hubungi aku kembali jika David tak menampakkan perubahan yang signifikan. Jika hal itu terjadi aku akan segera mengambil tindakan untuknya" Dokter itu menunduk memberi hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Kepala pelayan terlihat berjalan di belakang Brian untuk mengantar laki laki itu keluar.
Sementara Aileen kembali duduk di samping David. Dia menatap wajah laki laki yang nampak tak berdaya itu. Kalau melihatnya dalam keadaan seperti ini, Aileen merasa tak percaya bahwa laki laki itu memiliki sifat keras di balik wajah polosnya itu.
Sebenarnya inilah kesempatan bagi Aileen untuk melarikan diri dari David. Tetapi dia akan menjadi perempuan paling buruk yang tak tahu berterima kasih karena david sempat merawatnya ketika kakinya terluka beberapa hari lalu. Sebagai rasa terima kasih, Aileen memutuskan untuk merawat David hingga keadaan laki laki itu membaik.
Aileen beranjak dari ranjang menuju pintu, dia melangkah keluar dan berjalan kearah dapur.
"Nona??" Kepala pelayan terkejut melihat Aileen berjalan menuju ruang dapur. Dia langsung beranjak dari kursi dan berdiri mematung.
"Tidak apa apa tenang saja, kamu boleh duduk kembali. Jangan perlakukan aku dengan spesial. Anggap aku layaknya seperti sahabat bagi kalian, aku lebih nyaman seperti itu" Aileen melangkah mendekati wastafel. Dia mencuci tangannya sebelum memasak untuk David.
"E, ,tunggu tunggu. Apa yang sedang Nona lakukan?" Kepala pelayan tengah menghentikan tangam Aileen yang sedang memegang panci kecil.
"Katakan, apa yang Nona butuhkan akan saya siapkan. Nona tidak perlu melakukan ini sendiri!" Kepala pelayan mangambil alih panci dari tangan Aileen.
Namun dengan cepat Aileen kembali merebut panci itu.
"Tenang bi, , aku hanya ingin membuat bubur untuk David"
Kepala pelayan dan anak buahnya menganga di buatnya.
"Nona bisa memasak?" bisiknya sambil mendekat kearah Aileen.
"Kamu sedang meremehkanku?" mereka pun tertawa.
Kepala pelayan dan anak buahnya di buat heran ketika dengan cekatan Aileen memasak bubur untuk David. Perempuan itu seperti sudah sangat terlatih ketika memasak, takaran beras, takaran air dan bumbu bahkan seolah dia sudah terbiasa memasak itu. tanpa menggunakan takaran, Aileen hanya menggunakna feelingnya untuk memasak bubur.
♡♡♡
Ting tong!!!
Setelah mendengar bunyi bel pelayan berjalan keluar dari dapur untuk membukakan pintu.
"Nyonya??" sapanya setelah melihat Luna berdiri di depan sana.
"Bagaimana keadaan David??" luna yang terlihat khawatir langsung berjalan masuk menuju ke kamar Putranya.
Sementara pelayan mengikuti dari arah belakang.
"Tuan Muda masih belum sadar Nyonya"
"Dokter Brian sudah memeriksanya?" Luna melatakkan tas di atas meja kemudian berjalan mendekati David lalu duduk di bibir ranjang.
"Sudah Nyonya, beliau bilang Tuan david telat makan dan bagian lambungnya mengalami gangguan"
"Anak ini benar benar membuatku khawatir!!" Luna menghela nafas panjang untuk melegakan perasaannya yang sempat kalang kabut ketika mendengar kondisi Putranya.
Tak lama Luna mendengus, mencium bau harum dari arah luar.
"Apa kepala pelayan sedang memasak ini?, , baunya sangat harum"
"Bukan Nyonya, , itu . Yang sedang memasak, , Nona cantik" ucap pelayan dengan terbata.
__ADS_1
Kening Luna berkerut, kemudian berucap penuh penasaran.
"Nona cantik??" ucapnya dengan nada bertanya kearah pelayan.