Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
54. Rindu


__ADS_3

Bunga tertunduk menatap kearah tangannya ketika menyadari bahwa cengkraman tangan Laura yang tadinya sempat menguat kini mulai melemah hingga akhirnya perempuan itu melepaskan tangannya.


Bunga kembali mengarahkan pandangannya ke Laura, perempuan paruh baya itu nampak terlihat sangat tegang. Dia melihat Laura sedang memandang ke arah belakang. Bunga menoleh ke arah di mana Laura memandang, dia melihat Marvel sudah berada disana.


Perempuan itu terkejut hingga untuk menelan ludahnya pun terasa susah, nafasnya seketika terasa sesak namun dia dengan sangat pandai bisa mengendalikan diri.


Tak jauh beda dengan Bunga, Laura pun bersikap santai. Namun Laura benar-benar merasa ketakutan jika Putra tirinya itu mendengar apa yang baru saja mereka bicarakan.


Wajah Marvel terlihat sangat pucat namun dengan tenang laki-laki itu kemudian berucap. "Kenapa kalian tegang? Sepertinya kalian membicarakan hal serius?"


Bunga dan Laura saling menatap satu sama lain ekspresi wajah mereka terlihat lega saat menyadari bahwa Marvel sepertinya tidak mendengar percakapan mereka.


Laura menghela nafas dengan perlahan mencoba melegakan dada yang sempat hampir saja meledak karena terkejut dengan kedatangan Marvel secara tiba-tiba.


Perempuan itu melangkah mendekati putranya dengan tenang berucap. "Tidak ada sayang, Ibu dan Bunga hanya membicarakan masalah wanita, ya kan Bunga?" Laura mengalihkan pa dangannya, menatap Bunga dengan tajam memberi isyarat kepada perempuan itu untuk bekerja sama.


Bunga sesaat tersenyum tipis dan terlihat licik seakan dia menolak untuk diajak bekerja sama. Dan tentu saja itu membuat Laura semakin tidak tenang. "Tentu saja, kita hanya membicarakan masalah perempuan" ucapnya dengan senyum getir, merasa puas sudah membuat Laura ketakutan.


"Sayang, ibu datang kemari untuk menjemputmu, Ayah ingin kau pulang malam ini. Dia bilang ingin makan malam bersama denganmu" ucapnya diiringi senyuman manis.


"Boleh, sepertinya aku juga merasa sedang tidak enak badan. Tiba-tiba kepalaku terasa sangat berat" Marvel berucap sembari memijat kecil keningnya.


"Oh iya Bunga, kau pasti juga belum makan malam kan? bagaimana kalau kau ikut dengan kami makan malam bersama di rumah kita" Marvel mengalihkan pandangannya ke Bunga yang masih berdiam diri di tempat semula.

__ADS_1


Bunga terkejut seketika memamerkan senyum palsu. "Tapi... aku harus segera pergi" jelas saja Bunga merasa takut jika nanti Davien pulang dan menemukan dirinya tak ada di rumah. "Bagaimana kalau lain waktu?"


"Kau sudah berjanji Bunga, jadi lain waktu tidak boleh ada penolakan lagi" ucap Marvel sembari menoleh ke arah Laura.


Laura menganggukkan kepala dengan senyum getir dia berucap. "Benar, apa yang dikatakan oleh Putraku benar. Kau sudah berjanji Bunga, jadi lain waktu kau harus ikut dengan kami untuk makan malam bersama di rumah" ucapnya tanpa rasa berdosa.


Bunga tersenyum namun kedua tangannya nampak mengepal kuat seolah dia benar-benar melampiaskan kekesalannya di sana.


Marvel sempat menatap ekspresi wajah Bunga yang nampak berbeda, setelahnya ujung matanya beralih ke tangan Bunga yang sedang mengepel. "Kau baik-baik saja Bunga?" tanya Marvel, sepertinya dia merasa kalau Bunga sedang jengkel.


Bunga melepaskan kepalan tangannya ketika dia menyadari Marvel memperhatikan diringa. "Mmm... ya! Tentu aku baik-baik saja! Sepertinya ini juga sudah malam, aku harus kembali ke apartemenku" Bunga menundukkan sedikit kepala, memberi hormat kepada Marvel dan Laura sebelum dia melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


Ujung matanya terus terarah kepada Bunga yang kini menghilang dibalik pintu lift sementara Laura memiringkan sedikit kepalanya menatap mata Marvel. "Nak, bisa kita pulang sekarang?" pintanya.


Marvel mengalihkan pandangannya dari lift. "Baik, ayo" Marvel mempersilahkan ibunya untuk berjalan terlebih dulu menuju ke mobil.


***


Setelah selesai mengepak baju, Bunga mninggalkan apartemennya masuk ke dalam mobil. Mobil dan supir yang sengaja disiapkan oleh Davien sebelumnya.


Sepanjang jalan menuju ke rumah Davien perempuan itu terlihat melamun sambil menatap ke luar, entah apa yang ada dipikirannya, namun setiap kali dia bertemu dengan Laura, Bunga pasti akan terlihat murung dan sedih.


Setelah sampai di depan rumah, Bunga nampak menghela nafas penuh kelegaan karena dia yakin bahwa Davien belum pulang malam itu.

__ADS_1


Dengan cepat Bunga membuka pintu mobil setelahnya meloncat turun dan berlari kecil ke arah pintu masuk.


Selesai membersihkan diri Bunga kemudian membereskan rumah, ya mungkin saat ini hubungan mereka lebih dari sekedar persahabatan bagi Davien tapi Bunga masih merasa bahwa keberadaannya di sana itu karena dia sedang mendapat hukuman dari Davien untuk menjadi asisten pribadi di rumahnya.


Perempuan itu mulai membersihkan setiap ruangan, di mulai dari ruang tv, setelahnya membersihkan pantry.


Saat sibuk mengelap meja, Bunga menoleh melirik ke jam dinding. Dia melakukannya beberapa kali hingga akhirnya merasa kalau jarum jam sepertinya tak pernah berubah tetap di angka yang sama.


"Kenapa lama sekali! Bahkan aku sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyibukkan diri tapi kenapa lelaki itu belum pulang juga!" entah kenapa Bunga merasa khawatir kini dia merasakan adanya sedikit keanehan di dalam hati, ingin sekali rasanya segera bertemu dengan Davien.


Bunga bersandar di meja makan sementara tangannya nampak mengepal meremas kaos bagian dada. Di dalam sana terasa sesak, sakit ingin sekali segera bertemu dengan Davien tetapi lelaki itu sampai saat ini belum terlihat batang hidungnya.


"Ya Tuhan... ada apa denganku!" Bunga mulai kebingungan, berjalan mondar mandir seperti orang kehilangan akal. "Tunggu!" Bunga menghentikan langkahnya. "Apa ini yang dinamakan dengan Rindu?" Bunga berucap tak percaya.


Sebelumnya dia tidak pernah merasakan hal seperti ini, baginya rindu itu seperti sebuah rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata layaknya sebuah cinta. Membuat dada terasa sesak ingin marah, ingin berteriak ingin menangis tapi tak tahu apa yang akan dilakukan nanti ketika Davien pulang dan ada di depan matanya.


"Bunga! Kau jangan gila!" umpatnya kepada diri sendiri. Perempuan itu lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar Davien dan membersihkan tempat itu agar kembali rapi.


Bunga sengaja membereskan kamar Davien dengan perlahan agar terasa lama namun hampir satu setengah jam dia membereskan kamar itu, Davien masih tak kunjung pulang.


Huuft! Bunga mendengus kesal, setelahnya melangkah keluar dari kamar. Saat menuju ke pantry pandangannya tertuju pada sebuah pintu yang tak jauh dari kamar Davien.


Dia merasa penasaran karena beberapa kali datang ke rumah itu sampai detik ini dia tidak tahu itu kamar tamu atau kamar untuk pelayan.

__ADS_1


Rasa penasaran semakin membesar dan tak terbendung lagi, dia melangkah mendekati pintu. Tangannya sudah berhasil meraih gagang pintu namun dia terlihat ragu ketika ingin membukanya.


Bunga nampak menghela nafas panjang sebelum membukanya. Dan kini dia perlahan menekan gagang pintu hingga akhirnya berhasil membuka pintunya sedikit, belum sempat dia melihat ke arah dalam kamar, suara mobil milik Davien mengalihkan perhatiannya.


__ADS_2