Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
87. Terbongkar


__ADS_3

Keiko terkejut saat menemukan dirinya berada di kamar yang tampak sangat asing baginya. Kepalanya masih berputar terasa pening sisa mabuk semalam. Meski sadar tempat itu asing tapi Keiko sangat paham siapa pemilik parfum yang wanginya menyebar di seluruh ruangan. ‘Marvel? Ya, benar! Ini aroma parfum milik Marvel!’ sembari memijat keningnya yang masih terasa berputar-putar, Keiko beranjak duduk di ranjang.


Tetapi ketika selimut yang menutupi tubuhnya bergerak turun memperlihatkan bagian dadanya yang tak tertutup sehelai benang pun. Keiko menunduk menatap sebagian tubuhnya, wajahnya terpaku mulutnya menganga tak percaya. Untuk lebih memastikan lagi Keiko membuka selimut dan melihat sebagian tubuhnya lagi. ‘Tidak! Bagaimana... bagaimana bisa aku tak memakai sehelai pakaianku? Bahkan ke mana pakaian dalamku??’ Keiko membuang pandangannya ke sekitar. Di lantai dia menemukan pakaian miliknya yang semalam dan beberapa pakaian lelaki. ‘Tunggu! Jas? Kemeja ini... bukankah Marvel memakainya semalam?’


“Ngh!” suara lenguhan saat terbangun dari tidurnya mengalihkan perhatian Keiko.


Perempuan itu menoleh cepat ke sumber suara itu berasal. Tepat di sampingnya dia melihat sesuatu berada di balik selimut yang tampak menggunung. Dalam pikirannya sempat Keiko tak percaya kalau Marvel berada di balik selimut itu. Tetapi dari aroma parfum, Keiko sangat yakin kalau yang ada di balik selimut adalah Marvel. ‘Tapi... kenapa bisa aku berada di sini bersama dengannya?’ Keiko perlahan membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


Lelaki itu tengah tidur tengkurap, bertelanjang dada sama seperti Keiko tak mengenakan sehelai pakaian pun. “Mmmhhh!” Marvel bergerak memutar tubuhnya, matanya perlahan terbuka dan semakin lebar saat melihat bayangan wajah Keiko di depan mata. “Kau sudah bangun?”


Sempat Keiko terdiam masih tak percaya menemukan dirinya dan Marvel berada di ranjang yang sama tanpa mengenakan pakaian. “Ma.marvel... apa, apa yang terjadi s.semalam?” ucapnya terbata.


***


Mereka duduk saling berhadap-hadapan dengan meja berada di tengah sebagai pembatas di antara mereka berdua.


Mengenakan pakaian milik Marvel yang serba kebesaran, Keiko duduk sambil menikmati secangkir teh hangat.


Sementara Marvel mengenakan kaos putih dengan rambut sedikit basah sisa mandi juga sedang menikmati secangkir kopi kesukaannya. “Jadi... kau tidak ingat apa yang terjadi semalam?” Marvel memulai pembicaraan.


Sesekali Keiko melirik kearahnya tapi saat Marvel membalas tatapan matanya perempuan itu refleks mengalihkan pandangan. “Hmm!” Keiko menggelengkan kepala. “Ingatanku berhenti sampai kita mengobrol di bar... setelahnya, aku tidak ingat! Tunggu Marvel... apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?”


“Tidak!”


Keiko menghela nafas panjang. “Syukurlah... aku takut mengatakan hal-hal aneh padamu!”


Marvel terdiam mengawasi ekspresi wajah Keiko dan berusaha keras mencerna apa yang sedang dipikirkan oleh perempuan itu. “Aku hanya ingat kau sempat mengatakan kalau aku harus tetap berada di sisimu.”


“He?” Keiko membulatkan mata.


“Iya, kau tidak ingin kehilangan sosok lelaki seperti diriku... dan kau memintaku membatalkan pertunangannya. Ada satu hal lagi kejadian saat di dalam lift–,”


“Tunggu! Tunggu! Tunggu Marvel... kau yakin aku mengatakan hal itu?”


Sesaat terdiam sebelum Marvel mengangguk membenarkan ucapan Keiko. “Aku menggendongmu menuju ke mobil karena kau mabuk dan tidak bisa jalan. Dan lagi... kau juga mencium bibirku saat di dalam–,”


“Haa??? A.aku menciummu?” Keiko merona, membungkam bibirnya dengan kedua tangan. Tampak histeris mengetahui dengan apa yang telah dia kepada Marvel.


“Tapi... ada hal yang jauh lebih dari itu, semalam saat aku membawamu pulang ke apartemenku, kau naik ke atas ranjang lalu... menggodaku.”


“Apa?!! Aku... melakukan semua itu? Jadi, semalam kita... kau dan aku benar-benar ti.tidur bersama?”


“Umm!” Marvel mengangguk ragu. “Tidur bersama... tidak hanya tidur dalam arti yang sesungguhnya, kita juga” Marvel ragu saat ingin melanjutkan ucapannya.


“Kenapa? Kita... kita melakukannya?” Keiko terbata.


“Iya! Kau dan aku, kita berdua semalam melakukannya!”


“Ah, ya ampun! Bagaimana bisa kau... kenapa kau tidak menghentikanku?”


“Aku, maaf Keiko!”

__ADS_1


“Tidak! Itu juga salahku, kau tidak perlu meminta maaf.” Mengingat kalau Marvel akan bertunangan dengan Bunga nanti lusa, Keiko pun mencoba membuat Marvel agar tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi di antara mereka. “Marvel... anggap saja ini sebuah kesalahan. Aku harap kau tidak terlalu memikirkannya dengan serius. Kau cukup fokus dengan pesta pertunanganmu nanti!” setelah menghabiskan minumannya, Keiko pun berpamitan. “Maaf Marvel, tapi sepertinya aku harus segera pergi. Jangan merasa terbebani dengan semua ini... santai saja, anggap tidak terjadi sesuatu di antara kita, oke? Jadi kau tenang saja.” Keiko melempar senyum sebelum keluar dari apartemen milik Marvel.


Lelaki itu bahkan masih duduk di tempat semula. Marvel terkejut mendengar permintaan Keiko yang seketika membuatnya merasa buruk menjadi seorang lelaki. “Kenapa aku harus melupakannya?” Marvel seakan tidak terima mendengar pemintaan Keiko, seakan membuatnya langsung kecewa karena tak sesuai dengan apa yang dia bayangkan.


***


Marvel terlihat turun dari mobil kemudian masuk ke dalam rumah. Tetapi setelah sampai di dalam dia dikejutkan dengan keadaan rumah yang hancur berantakan. “Apa yang terjadi, Bi?” tanyanya kepada seorang pelayan rumah.


“Uhmm, Tuan muda... saat ini sepertinya Tuan sedang marah besar kepada Nyonya di ruang keluarga.”


Tanpa menunggu lama Mervel segera menemui mereka. “Hentikan Ayah!” seru Marvel masih dengan intonasi suara yang terkendali ketika melihat Ayahnya nyaris melayangkan sebuah tamparan ke Laura.


Tangannya terpaku di udara mendengar suara putranya yang baru saja tiba, tak ingin terjadi perselisihan juga dengan Marvel lelaki paruh baya itu memilih pergi meninggalkan Laura yang terlihat sedang menangis tersedu. “Urusi perempuan tidak tahu diri itu! Katakan padanya kalau dia tidak segera pergi meninggalkan rumah ini, aku akan mengusirnya secara paksa menyeretnya ke jalan seperti orang gila!!” ucapnya kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


Marvel berjalan mendekati Laura yang terduduk di lantai dengan rambut yang berantakan. Sama halnya ruangan itu juga berserakan, banyak barang pecah berceceran di lantai dan beberapa kertas yang ada di sekitar Laura. Lelaki itu membungkuk mengambil selembar kertas yang ada di samping kakinya. Setelah membaca sesaat isi yang tertulis di kertas itu, Marvel mengalihkan pandangannya ke Laura. “Aku tahu kalau hal ini pasti akan diketahui oleh Ayah cepat atau lambat!” ucapnya tenang tanpa sedikit pun menahan amarah kepada Laura, memperlihatkan bawasannya dia sudah mengetahui hal itu jauh hati sebelum Ayahnya.


“Marvel? Kau... kau tahu tentang semua ini?” Laura terkejut, matanya yang merah dan basah tertuju kepada Marvel. Ya, Laura ketahuan menggelapkan dana perusahaan. Dengan alibi dia membuat laporan kalau menggunakan uang itu untuk investasi di berbagai usaha. Dan ternyata ketika kecurigaan suaminya terbukti bahwa semua usaha yang itu adalah bodong atau akal-akalan Laura suaminya langsung mengusir dan menceraikan Laura.


“Iya, aku tahu hal ini sejak lama Bu. Tapi aku diam karena aku pikir Ibu akan berubah, maka dari itu aku sengaja memberi kesempatan kepada Ibu berharap kau akan berhenti melakukannya, tapi ternyata kau semakin bertindak jauh sampai Ayah mengetahui hal ini.” Marvel sama sekali tidak marah, tetapi dia sedikit kecewa karena sikap Ibunya. “Ini juga salahku, jika waktu itu aku langsung menghentikanmu... hal ini tidak akan terjadi. Maaf Bu, aku akan coba untuk berbicara kepada ayah agar tidak mengusirmu dari rumah.” Terlepas dari keburukan yang Laura lakukan, Marvel termasuk anak yang berbakti dia sangat menyayangi Laura layaknya Ibu kandung.


“Tidak apa-apa sayang, mungkin memang semuanya sudah harus seperti ini. Maaf telah menjadi Ibu yang buruk selama ini, Ibu juga tahu kalau ayahmu tidak akan pernah merubah keputusannya. Dia juga sudah menandatangani surat cerainya.”


Marvel terkejut, tapi dia tak bisa meminta ayahnya mengubah keputusan karena lelaki paruh baya itu selalu berpikir seribu kali sebelum mengambil keputusan akhir dan finally keputusan apa pun nantinya dia tak akan pernah menyesalinya.


“Lalu... sudahkah kau memikirkan semuanya jika hal ini terjadi, Bu? Kalau kau mau Ibu bisa tinggal di apartemenku!”


Laura beranjak berdiri sembari mengusap pipinya yang basah, dia tersenyum kepada Marvel meskipun tahu itu sangat menyakitkan baginya. “Tidak perlu sayang, Ibu tahu Ibu harus pergi ke mana. Ibu harap kau tidak akan pernah berpikir kalau kasih sayangku untukmu itu palsu. Ibu mohon, jangan pernah membenci Ibu!” tak ada lagi yang bisa Laura ucapkan kepada Marvel. Dia memilih pergi keluar dari ruangan itu.


Laura tersenyum kemudian berucap. “Maaf, mungkin Ibu terlalu membuatmu kecewa, tapi Ibu harap kau akan hidup dengan baik Marvel!” tangannya mengusap lembut pipi putra tirinya dengan penuh kasih sayang. Entah apa yang dipikirkan Laura, benarkah perasaannya kepada Marvel itu tulus atau hanya topeng sama seperti yang dia gunakan untuk mendapatkan suaminya.


Tetapi Marvel yakin kalau Laura tulus menyayangi dirinya hanya saja lelaki itu tidak mengerti dengan satu hal. “Ini bukan tentang diriku, Bu! Ini tentang Bunga.”


Laura terkejut membulatkan mata. “Marvel kau?”


“Aku mendengar percakapan kalian di lobi apartemenku waktu itu! Kenapa kau bisa melakukan ini pada putri kandungmu? Kau bisa menyayangiku tapi... kenapa kau bisa berbuat tidak adil padanya?”


"Apa ayahmu–,"


"Tidak, Bu! Aku tidak memberitahu ayah mengenai Bunga. ini hanya di antara kita."


Tak ada sepatah kata pun yang mampu Laura ucapkan saat itu. Tangannya yang sempat dia gunakan untuk mengusap wajah Marvel pun terpaku di udara, kemudian perlahan bergerak turun merasa tak pantas menyentuh lelaki yang selalu beranggapan bahwa dirinya manusia baik.


“Apakah jika kau bercerai dengan Ayah, hubungan di antara kita juga berakhir sebagai anak dan Ibu?”


“Marvel?” Laura tak pernah membayangkan Marvel akan melemparkan pertanyaan itu padanya.


“Karena aku... berencana ingin melamarnya lusa nanti!”


***


Hari libur saatnya bagi Bunga dan Juliet menghabiskan waktu mereka di rumah Tuan Rodrigo. Kesehatan ayahnya yang berangsur membaik membuat Bunga senang karena dia bisa melihat Juliet bercanda gurau dengan Kakeknya.

__ADS_1


Sementara dirinya duduk di bangku melamun melihat mereka dari kejauhan. Tetapi pikirannya mulai terganggu saat mengingat kembali respons Davien setelah mengetahui kalau dirinya akan bertunangan dengan Marvel. “Mengapa aku kesal saat melihat reaksi Davien baik-baik saja, padahal aku bilang akan bertunangan dengan Marvel. Uhmm... tapi memangnya apa yang aku harapkan darinya? Ah! Sepertinya aku terlalu percaya diri kalau Davien masih menyimpan perasaan untukku... tapi kalau dia masih mencintaiku, seharusnya dia akan mengatakan untuk tidak menerima Kak Marvel. Arrgh! Kenapa aku jadi frustasi seperti ini!!” Bunga bergumam kesal, tak luput dia mengentak-entakkan kakinya seperti anak kecil.


“Nona baik-baik saja?” ucap Antonio yang tiba-tiba datang dari arah belakang.


“Astaga!!! Kau membuatku terkejut!” Bunga nyaris melompat dari kursi.


Ghm! “Maaf Nona, saya tidak bermaksud mengejutkan Anda. Silakan.” Antonio memberikan ponsel kepada Bunga setelah sebelumnya mengangkat panggilan itu.


“Uhm.. dari siapa?”


“Sekretaris Anda bilang ada hal penting yang harus dia sampaikan.”


“Oh, terima kasih!” Bunga mengambil alih ponsel dari tangan Antonio.


“Paman! Kemarilah ikut bermain bersama kami!” seru Juliet dari kejauhan. Tanpa menunggu lama Antonio pun segera menghampiri mereka.


“Benarkah? Uhmm... baiklah aku akan melihatnya nanti.” Ucapnya kepada sang sekretaris di seberang sana. Bunga menjauhkan ponsel dari telinga lalu berseru kepada Juliet. “Juliet? Ibu bisa minta tolong sebentar sayang?”


Anak perempuan itu berlari mendekat. “Iya Ibu, apa yang bisa Juliet bantu?”


Dengan lembut Bunga mengusap pipinya, “Pergilah ke kamar, tolong ambilkan laptop yang ada di ranjang, oke?” tak lupa Bunga menghadiahi putrinya kecupan di kening sebelum anak itu beranjak pergi.


“Siap, Bos!”


Bunga tersenyum kemudian melanjutkan percakapan mereka yang sempat terhenti.


***


Juliet telah sampai di depan kamar Ibunya, setelah membuka pintu kaki mungil itu melangkah masuk ke dalam. Matanya langsung tertuju ke laptop yang ada di atas ranjang sesuai ucapan Ibunya.


Belum sempat jari-jemarinya yang pendek dan mungil menggemaskan itu menyentuh laptop, perhatian Juliet teralihkan ke meja rias setelah mendengar bunyi aneh yang berasal dari sana.


Klatak! Klatak!


Juliet terpaku diam menatap kotak kecil di atas meja.


Klatak! Klatak!


Bunyinya berasal dari dalam kotak, bukannya takut Juliet yang masih serba ingin tahu dibuat penasaran dengan sesuatu yang ada di dalamnya. Perlahan kakinya melangkah sampai akhirnya berhenti tepat di depan meja rias.


Menunggu beberapa saat dan ternyata tak ada lagi bunyi aneh yang terdengar. Namun saat tangannya bergerak mengambil kotak, Juliet sempat dikejutkan dengan suaranya yang tiba-tiba terdengar lagi dan semakin kencang sampang menimbulkan gerakan kecil tapi anehnya suaranya kali ini tidak mau berhenti.


Klatak! Klatak! Klatak! Klatak! Klatak!


Semakin penasaran dengan isi kotak itu, Juliet pun berhasil meraihnya. Tepat saat tangannya menyentuh permukaan kotak kecil berbentuk seperti kotak harta karun berwarna perak, suara itu hilang seketika. “Waaahh!” Juliet malah takjub melihat keanehan itu, pikirannya melayang membayangkan seolah dia berada di dunia fantasi seperti di kebanyakan film.


“Bolehkah aku membukanya?” gumam Juliet. “Kotak apa ini?” Juliet merasa tidak pernah melihat Ibunya memiliki kotak itu. Tentu saja karena Bunga menyimpannya di rumah Rodrigo selama ini.


Juliet membuang pandangan mencurigakan ke sekitar, layaknya anak kecil dengan segala keingintahuannya yang begitu besar pada apa pun yang dia lihat. Sekali lagi memastikan tak akan ada yang melihat dia membuka kotak itu. “Benar, hanya ingin melihatnya saja... Ibu pasti tidak akan marah!” Juliet tersenyum gembira, kemudian berucap seolah dia sedang berseru meminta ijin kepada Ibunya membuka kotak itu.


“Ibu bolehkah Juliet melihat isi kotak ini? Boleh, kan ya?” hihi... ucapnya lirih disertai tawa renyah di akhir kalimat.

__ADS_1


Tak sabar lagi ingin melihat isinya, Juliet pun membuka kotak berwarna perak yang sudah ada di tangannya. “Kita lihat... ada harta karun apa di dalamnya!” ekspresi Juliet begitu semringah, terlalu excited tak sabar melihat isinya.


__ADS_2