Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#41 Kebingungan


__ADS_3

 


Perjalanan ke tempat klara harus terhenti karena di tengah tengah perjalanan perut luna berbunyi, memang sedari tadi dia bangun tidur perutnya hanya baru terisi air putih.


 


"keriiiuukkk,. krruuueeiiiuuuk" cacing cacing kecil di perut luna mulai berbunyi. Wajahnya memerah karena merasa malu kepada barack.


Barack melirik kearah perut luna dengan tatapan sedikit aneh.


"Kamu lapar ya?" tanya barack ke arah luna yang sedang menutupi perut dengan kedua tangannya, lebih tepatnya sedang memijat pelan perutnya yang terasa perih.


"Tidak!" jawab luna pendek dengan nada sedikit ketus.


Barack pun mengajak luna mekan terlebih dulu.


"Kenapa berhenti disini?" Tanya luna karena barack sudah memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran.


"Mau makan" jawab barack sambil turun dari mobilnya.


"Tapi aku tidak lapar" kata luna dengan menaikkan nadanya ke arah barack yang sedang berjalan ke arah luna yang masih di dalam mobil.


Barack membuka pintu mobil dan menarik tangan luna, namun luna menolaknya, barack tetap tidak kehilangan akal.


"Turun atau aku gendong kamu sampai dalam?".


Mendengar kata kata barack luna langsung turun dari mobil dan mengikuti barack masuk ke dalam restoran.


Barack memesankan berbagai macam makanan untuk luna.


Saat pertama melihat makanan yang di pesan sudah datang, wajah luna seolah cuek dengan segala jenis hidangan yang sudah tersaji di atas meja, namun setelah mencium baunya terbang melayang layang melewati hidungnya maka cacing cacing yang ada di perut luna semakin bergejolak, perutnya semakin bertambah perih.


Apa lagi melihat barack yang sudah mulai menyantap makanannya, air liur luna semakin deras menghujani mulutnya.


Masa bodoh dengan rasa malu, luna membuang sikapnya yang dari tadi terus sok jaim di depan barack, dia dengan sangat cekatan melahap semua makanan yang ada di atas meja.


Barack memandang ke arah luna yang terus memasukkan makannanya ke dalam mulut, sehingga terlihat di kedua pipinya mengembang.


Barack mendekatkan segelas air putih ke arah luna, setelah melihat dia seperti kesusahan saat menelan makanan yang ada di mulutnya.


"Pelan pelan" kata barack.


Namun luna tidak menghiraukannya, dia masih terus mengunyah dengan cepat.


Perempuan memang suka begitu, bilangnya tidak lapar, padahal lapar, giliran di ajak makan pura pura jaim, kalau di cuekin malah marah marah. Nanti dibilangnya laki laki yang tidak peka.


Barack masih terus menatap ke arah luna.


"Trimakasih" kata barack sambil melihat ke arah luna tanpa ekspresi di wajanya.


Mulai terlihat kerutan di kening luna saat mendengar kata kata dari barack.


"Buat apa?" tanyanya menghentikan suapan ke mulut.


"Karena sudah menjagaku akhir akhir ini, ketika aku sedang sakit" kata barak sambil menahan rasa malu ketika harus mengatakan hal itu.


"Ya lumayan lah, terlihat sedikit tulus dari wjahmu itu" kata luna melihat wajah barack yang seolah olah, dia sepertinya tidak ingin mengatakan hal itu.


Barack melihat ke jari manis luna yang sudah tidak melihat cincin itu melingkar di sana lagi.


"Kamu melepas cincinmu?" tanya barack sambil mengernyutkan dahinya.


"Tadi pagi sewaktu habis mandi aku mencoba melepasnya lagi dengan bantuan lotion, untungnya bisa di lepas" kata luna sambil memperlihatkan senyum tipis di wajahnya.


"Kenapa di lepas?" tanya barack.

__ADS_1


"Kenapa? kamu sendiri, bagaimana coba, kenapa malah cincinnya bisa ada di jari klara?" kata luna dengan rasa emosi.


"Aku tidak memberikan cincin itu sama dia, dia yang tiba tiba mengambil cincin itu dariku!" kata barack.


"Terus kamu diam saja? itu artinya sama saja membiarkan dia mengambil cincin itu, kamu sengaja kan!" kata luna.


"Terserah kamu mau bilang apa, yang terpenting, aku sudah mengambilnya kembali" kata barack.


"Iyalah ketahuan, kalau tidak, pasti juga akan membiarkan cincin itu masih di tangannya" kata luna terus mengomel.


Barack hanya diam saja tidak mau membalas perkataan luna.


Dari kejauhan terlihat leo sedang makan bersama dengan teman temannya, dilihatnya luna sedang makan bersama dengan barack di meja yang tidak terlalu jauh dari mejanya.


"Aku permisi sebentar" kata leo kepada teman temanya.


Dia berjalan ke arah meja di mana luna dan barack berada.


"Luna??" leo memanggil ke arah luna dan mendekatinya.


"Leo?" kata luna setengah kaget setelah melihat leo sudah berdiri depannya.


Barack menyadari kedatangan leo, makanya dia membuang pandangannya ke arah lain.


Seolah olah kalau kedatangan leo saat itu benar benar menggnggu.


"Kamu sudah dari tadi?" tanya leo kepada luna.


"Mmm, , baru saja kok" luna melirik ke arah barack yang mulai acuh.


"Tunggi sebentar, di bibirmu ada bekas makanan" kata leo sambil meraih tisu yang ada di depan barack, dia mengambil sehelai untuk membersihkan mulut luna yang kotor.


Wajah luna memerah saat itu. karena pelakuan leo kepadanya.


Terlihat dari aura wajahnya bahwa seprtinya Barack sedang di sulut api cemburu.


"Jangan lupa ya, nanti sore kamu berhutang untuk mengajakku kencan loh" ucapnya sambil mengusap lembut rambut kepala luna.


"Iya aku tidak lupa kok" jawab luna dengan penuh senyum di wajahnya.


"Oke, aku gabung sama teman temanku dulu" leo beranjak kembali ke arah mejanya sambil sesekali melirik ke arah barack.


Sedangkan barack mulai menatap ke arah luna dengan tajam.


Luna tahu kalau barack selalu melihat ke arahnya namun luna tidak menghiraukannya.


"Kamu ada janji kencan sama dia?" tanya barack dengan nada galak.


"Mmmm, , itu hanya, , lebih ke rasa terimaksih" kata luna.


Barack hanya diam sambil terus melihat ke arah luna, seharusnya dia sudah paham dengan maksut tatapan barack saat itu tanpa harus mengatakan sesuatu.


Namun luna trus mencoba acuh dengan tatapan barack.


"Jangan pergi" barack masih terus melihat ke arah luna.


Luna hanya diam dan mencoba membalas tatapannya.


"Hm? maksutnya?" luna memastikan ucapan barack.


", , Kamu tidak boleh pergi dengannya!" barack mengulangi perkataannya.


"Loh, kenapa?" luna merasa keheranan.


"Tidak perlu tahu kenapa alasannya" barack membuang pendangannya ke arah yang lain.

__ADS_1


"Ya harus jelas donk? kenapa aku tidak boleh jalan sama dia! , , dia itu kan temanku dari kecil, kita juga baru saja bertemu setelah beberapa tahun berpisah, kenapa tiba tiba kamu bilang aku tidak boleh pergi sama dia coba? aneh!" luna sedikit menaikkan nada bicaranya.


Barack tidak mendengarkan alasan apapun dari luna, dia kemudian mengambil dompet lalu mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan kemudian meletakkannnya di atas meja.


Dia beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah keluar tanpa menghiraukannya.


Luna merasa jengkel dengan sikap barack yang tidak jelas kenapa melarang dia jalan bersama leo. Dia bergegas pergi mengejar barack ke arah luar.


"Barack tunggu!" luna berteriak memanggil namanya.


Barack masih terus berjalan ke arah mobil tanpa menghiraukan luna yang terus memanggilnya.


"Kamu ingin meninggalkan aku lagi? seperti yang sudah sudah kamu lakuka padaku?!!" luna semakin menaikkan nada bicaranya.


Barack menghentikan langkahnya saat akan masuk ke dalam mobil, ketika mendengar ucapan luna.


"Kenapa kamu terus seperti ini, jangan membuat aku bingung dengan sikap kamu!" luna menahan memendam emosinya yang semakin membuat dadanya terasa nyeri


"Kenapa harus bingung?" suara barack terdengar sangat berat waktu itu.


"Ya bagaimana tidak membuatku bingung, tiba tiba kamu melarangku jalan sama leo, tapi waktu aku tanya kenapa alasan kamu melarangku jalan sama dia, kamu malah diam dan pergi meninggalkan aku begitu saja, tanpa penjelasan, sepatah katapun? maksutnya apa coba?" luna terus berucap sambil melangkah mendekat.


"Sikap kamu ini tidak jelas tahu?" luna memaksa barack untuk menjelaskan kenapa dia melarangnya pergi dengan leo.


"Aku tidak ingin kamu jalan sama dia! sudah hanya itu saja tidak perlu ada penjelasan yang lain" jawab barack.


"Aku selama ini tidak pernah melarangmu pergi untuk menemui dia, padahal aku tahu hubungan kalian dengan jelas, dan aku juga tahu kalau kamu menyukainya, sadengkan kamu juga tahu, siapa laki laki yang aku sukai, kalaupun aku pergi dengan laki laki lain, itu hanya untuk sekedar mencari hiburan, karena perasaan yang aku miliki untuk leo, hanya sebatas sebagai teman, tidak lebih. Berbeda dengan kamu dan klara, tapi aku tidak pernah melarangmu. Bahkan saat kamu meninggalkan aku di tengah jalan untuk menemui dia, , , apa aku pernah melarangmu? tidak kan???


Lagi pula bagimu hubungan kita ini sekedar hanya untuk saling menguntungkan bukan?, lalu kenapa harus melarangku?" luna terus berbicara kepada barack yang masih saja diam sambil terus melihat ke arahnya.


Sedangkan barack masih berdiri sambil mengusap wajahnya pelan, dia juga tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada luna.


"Aku tidak suka melihat kamu selalu di samping leo, maupun si playboy itu" kata barack sambil menunjuk nunjuk.


"Lalu apa aku harus mendengarkan kata katamu? untuk memenuhi keinginanmu atau bisa di bilang menjaga perasaanmu?, , apakah kamu juga akan melakukan seperti yang aku lakukan?" kata luna.


"Aku tidak tahu" jawabnya singkat, sambil mengusap wajahnya kasar


"Kamu saja tidak menyukaiku, jadi perasaan mana yang harus aku jaga?" luna semakin mendesaknya.


Dari kejauhan leo melihat luna sedang berbicara dengan barack di depan mobil. Diapun langsung menghampiri mereka.


"kenapa kalian bediri di sini?" tanya leo yang baru saja datang.


Baik luna maupun barack tidak ada yang menjawab pertanyaan leo.


"Kalian bertengkar?"tanya leo lagi.


"Naiklah, aku akan mengantarmu ke tempat klara" kata barack kepada luna tanpa menghiraukan leo yang dari tadi terus berbicara kepada mereka.


Namun luna hanya diam dan tidak mengindahkan kata kata barack. Batin luna makin tersiksa ketika barack tidak menjawab pertanyaannya, dia mencoba meraih tangan leo yang berdiri di dekatnya.


"Aku ingin pulang" kata luna kepada leo.


Leo melihat ke arah luna dengan mengerutkan dahinya.


"Aku akan mengantarmu pulang" kata leo sambil sesekali melirik ke arah barack yang terus menatap ke arah mereka.


Leo menggandeng tangan luna dan menuntunnya berjalan ke arah mobilnya.


Lalu pergi meninggalkan barack yang masih terus berdiri di sana.


Barack terdiam melihat pemandangan di depan matanya. Benar benar menyulut emosi di dalam hatinya, dadanya seperti terbakar api yang membara dan melahap jantungnya dengan habis dan tak tersisa.


Tanpa sadar dia membanting pintu dengan sangat kencang.

__ADS_1


Dia sendiri tidak tahu dan masih merasa bingung dengan perasaannya sendiri, di dalam hatinya perasaan itu bercampur aduk, dia juga masih belum bisa menentukan perasaan mana yang harus dia lepas.


***


__ADS_2