Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#115 Cemburu 2


__ADS_3

Braaaakk!!!


Cici membuka pintu ruangan dengan sangat keras. Tatapan matanya menajam dan menyelidik ke arah Aryo yang sedang berlutut di depan sekretarisnya.


Ada sedikit kelegaan di raut wajahnya namun juga ada guratan kemarahan di sana.


"Sedang apa kalian?!!" Cici nampak memerah wajahnya, nafasnya memburu karena otaknya sudah berfikir yang bukan bukan.


"Cici?, , kamu balik lagi?" sekretaris itu menatap ke arah Cici yang sedang melihat Bosnya dengan jengkel. Dia pun merasa tidak enak hati dan menarik kakinya yang sedang di pegangi oleh Aryo.


"Maaf Pak, aku bisa melakukannya sendiri" perempuan itu meraih plester yang ada di tangan Aryo.


Sementara Cici masih memaku tubuhnya di tengah tengah pintu, dia belum beranjak sedikit pun dari sana. Berharap setelah dia masuk Aryo akan merasa canggung setelah melihat dirinya, namun yang ada Aryo malah tak menganggab Cici sedikit pun.


"Biarkan aku membantumu" Aryo merebut kembali plesternya, sambil masih berusaha membantu melepaskan sepatu sekretarisnya yang kekecilan itu.


Cici melangkah ke arah meja kerjanya, membuka paksa laci setelahnya mencari ponsel miliknya yang tertinggal.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, dengan kencang Cici menutup kembali laci itu.


Hingga membuat sekretaris yang sedang duduk di sofa itu terkejut.


Aryo tak bergeming dia masih tidak menghiraukan Cici. Namun matanya nampak bergerak seolah dia sedang menyelidiki wajah Cici yang ada di belakangnya.


"Maaf sudah mengganggu waktu kalian saat sedang berduaan!!" Cici berucap seakan dia sedang memperlihatkan betapa dia sangat terganggu dengan pemandangan di depan matanya.


"Mm bukan begitu Ci, Pak Aryo hanya sedang membantuku" sekretaris itu berucap untuk mencari pembelaan sendiri.


Sementara Aryo masih diam, kepalanya sedikit menoleh ke arah samping.


"Kalau sudah tahu mengganggu kenapa masih berdiri di situ??, , kenapa tidak segera pergi dari sini?" Aryo berucap dengan santai, namun ucapannya terasa menusuk ke dada Cici.


Cici langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu dan menutup kembali pintunya dengan keras.


Braakkkk!!!


Bahkan suara pintu itu sampai menggema di telinga Aryo. Dia berdecak jengkel, sengaja ingin membuat Cici cemburu malah kini dirinya juga merasa sakit hati setelah berhasil membuat Cici semakin marah.


Cici berlari kecil ke arah keluar dan menghentikan langkahnya di halaman lobi. Memaku tubuhnya di sana, sementara dadanya masih terasa sesak dan panas.


Nafasnya pun juga memburu.


"Kenapa kamu marah ci??, , aku sudah terbiasa melihat perempuan di sekitar Aryo, lagi pula aku juga tidak menyukainya. Tapi kenapa dadaku terasa sakit?? bahkan tidak suka melihat dia dekat dengan perempuan lain semenjak kejadian malam itu"


Cici menatap jauh ke arah hujan. Ingin berteriak hingga suaranya memecah hujan yang terus beriringan.


"Apa ini bisa di sebut cinta?, , hanya karena pernah tidur semalam dengannya?? ayolah Ci!! sadarkan dirimu"


"Kenapa tidak menerobos hujan? biasanya kamu melakukan hal itu!" suara Aryo dari arah belakang seketika menarik perhatian Cici.


Namun perempuan yang sedang berdiri dan menatap hujan itu nampak tidak bergeming mulutnya.


Aryo berjalan mendekat, dan kini telah berhasil berdiri di samping Cici.


Matanya bergerak mengawasi raut wajah Cici yang sedang di sembunyikan di balik tangan. saat Cici berpura pura memijat kecil keningnya.


"Apa kamu merasa senang karena aku mengejarmu ke sini?" Aryo berhenti berucap untuk melihat reaksi wajah Cici.


"Kamu marah kan melihatku bersama dengan sekretarisku di ruangan itu?"


Cici masih mengunci mulutnya, bahkan matanya masih terus melihat ke arah hujan yang semakin deras.


"Apa kamu merasa jengkel?, sesak hingga kesulitan hanya untuk sekedar bernafas?" tambahnya.


"Ya ampuuunnn!!!, , kenapa bisa dia menebak semuanya dengan benar!, , aku sampai lupa. Dia sudah sering melanglang buana ke hati para wanita. Jadi sepertinya dia dengan sangat mudah menilai ekspresiku ini"


Cici mendengus kesal.


"Salah!!, , aku sama sekali tidak merasakan apa pun!!" Cici beranjak dari tempat itu dan melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Namun Aryo berhasil menahan tangan Cici.


"Lepas!!" Cici berusaha melepas tangannya dari genggaman Aryo.


"Kenapa kamu keras kepala sekali. Mengakui perasaanmu saja kamu tidak mau" Aryo semakin mengencangkan genggaman tangannya.


"Lepas!!" Cici berteriak ke arah Aryo. Tatapan matanya pun semakin menajam.


Senyum tipis Aryo tiba tiba menghilang. Kini dia memperlihatkan raut wajah yang mulai serius.


"Sekali lagi kamu meminta aku untuk melepas tanganmu, maka aku tidak akan pernah menggenggam tanganmu lagi" aura wajah Aryo semakin menggelap seketika. Dia berharap perempuan di depannya ini mau mengakui perasaannya namun yang ada Cici malah semakin emosi.


"Lepas!" Cici menggeram seketika.


Membuat Aryo sedikit membulat matanya karena terkejut. Tanpa berfikir panjang dia langsung melepaskan tangan Cici.


Ada sedikit guratan penyesalan bahkan membuat dadanya memanas lagi ketika Aryo benar benar melepaskan tangannya.


Cici membalikkan tububnya dan langsung berlari ke arah hujan menjauh dari laki laki yang kini masih terus melihat ke arahnya.


Aryo masih memaku tubuhnya, menatap Cici hingga menghilang di telan hujan.


♡♡♡


Menjelang malam, Luna kembali pulang ke apartement dia membawa kantong kresek di kedua tangannya yang penuh dengan barang belanjaan.


Setelah berhasil menekan tombol pasword, dia segera masuk dan menutup kembali pintu dengan menggunakan kakinya.


Barack meraih mendekap tubuh Istrinya itu dari arah belakang, dia sengaja bersembunyi di balik pintu setelah mendengar Luna menekan pasword dari arah luar.


"Aaaaaa!!" Luna berteriak seketika, setelah tangan Barack berhasil merangkup tubuhnya. Dia melepas barang belanjaannya begitu saja di lantai dan langsung membalikkan tubuhnya.


"Barack!" Luna memukul pelan dada Suaminya.


Sementara Barack mengencangkan pelukannya ke pada Luna.


"Apa yang sedang kamu lakukan di belakang pintu?" tanya Luna dengan ekapresi wajah penuh rasa penasaran.


"Kenapa tidak menelponku?"


"Rencananya mau telepon kamu, cuma aku ingat kalau bahan bahan di dapur sudah habis jadi sekalian mampir ke swalayan saja tadi" Luna mengawasi wajah Barack dengan lekat.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


"Mm" Luna menggeleng pelan.


"Baru beberapa jam tidak ketemu, tapi sudah berasa sangaaaaaaaat lama"


Barack di buat terkekeh mendengar ucapan Istrinya.


"Kangen?" tanyanya dengan nada lembut.


"Tidak!"


"Ha?" Barack terkejut mendengar jawaban dari Luna.


"Tidak salah lagi!" Luna tartawa melihat ekspresi wajah Suaminya yang sempat tak terbaca selama beberapa detik sebelumnya.


Barack menghela nafas panjang, dia langsung mengangkat tubuh Luna dan melumat bibirnya dengan Lembut.


Luna merangkup kepala Barack dengan ke dua tangannya. Sementara kakinya melingkar di pinggang Barack dengan erat.


Barack membawa Luna ke arah ruang Tv dengan bibir yang masih bertautan, setelahnya dia duduk di atas sofa.


Luna melepaskan ciumannya setelah dia teringat kejadian di telepon saat Barack menelponnya.


"Tadi siang kamu keluar menemani klien kemana?" tanyanya.


"Belanja?" jawabnya seketika tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Ha?"Luna nampak sangat terkejut.


"Kok, nemenin belanja?" tambahnya.


Barack menghela nafas dengan pelan.


"Kan aku sudah bilang, kalau dia sebenarnya datang kemari bukan untuk mengurusi masalah bisnianya. Dia datang karena terpaksa mewakili Ayahnya. Namanya Helena, dia tidak mau menandatangani kontrak sebelum aku menemaninya belanja" Barack berusaha menjelaskan.


Kening Luna semakin berkerut. Seolah dia sedang menunggu Barack segera menyelesaikan ucapannya.


"Kami bertiga, jadi di sana ada aku, sekretarisku dan Helena" ucapnya menenangkan seolah bisa membaca isi pikiran Luna.


Sementara ekspresi wajah Luna terlihat tidak mengenakkan seolah dia tidak percaya dengan Barack.


Luna menarik ke dua ujung bibirnya ke arah bawah.


"Ih, ko gitu? nggak percaya?" Barack tersenyum saat melihat eksprasi wajah Luna yang terlihat Lucu saat sedang cemburu.


"Ya kaliiiii kucing di kasih ikan asin mana ada yang nolak!" ucap Luna mencibir Suaminya.


"Maksudmu aku kucing itu?, , " ke dua alis Barack terangkat tak percaya.


Luna hanya mengangkat ke dua pundaknya.


"Cemburu?" Barack mulai menggelitikki pinggang Istrinya.


"Apaan sih" Luna menipis tangan Barack yang menggerayangi pinggangnya sambil menahan senyum.


"Terus gimana tadi?, , ketemu sama Adrian?"


"Uuuwhh gila!!, , Pak Adrian ganteeeeeng banget" ucap Luna dengan penuh semangat.


Seketika wajah Barack langsung terlihat muram. Tangannya bergerak meraih pinggang Luna dan mengangkat tubuh Isytrinya agar menjauh dari pangkuannya.


Luna menyelidik ke arah wajah Barack yang terlihat cemberut sekerang.


Laki laki itu berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas kemudian mengeluarkan sebuah minuman kaleng.


Luna berjalan mengikuti langkah suaminya dari arah belakang.


"Kenapa kamu marah?"


"Aku tidak suka mendengar kamu menyanjung laki laki lain di depanku!"


Luna mengangkat ke dua alisnya. Seakan dia tak percaya mendengar ucapan Barack.


"Aku tadi hanya berusaha untuk jujur, bahkan aku juga tidak menyanjung perempuan itu di depanmu" Barack membuang pandangannya ke arah lain.


"Iya aku minta maaf" Luna maraih pinggang Barack dan membenamkan wahnya di dada Barack.


"Mm" Barack hanya bergumam.


Luna menarik kembali kepalanya dan mendongakkan wajahnya agar lebih mudah menatap wajah Suaminya.


"Mau maaf dariku?" Barack seakan sedang bernegosiasi dengan Luna.


"Apa ada syaratnya?" Luna bertanya.


Barack menunjuk pipi sendiri dengan jari telunjuknya, seakan dia sedang meminta Luna untuk menciumnya di sana.


Luna mendaratkan kecupan di pipi Barack namun dengan cepat Barack memalingkan wajahnya hingga membuat Luna mencium bibirnya.


Perempuan itu tersenyum manis ke arah Barack.


"Aku akan mandi sekarang, setelahnya aku akan memakan makan malam bagianku!" Luna melepas tangannya yang melingkar di pinggang Barack, dia berjalan mundur sambil mengerjapkan salah atu matanya ke arah Barack.


Barack terkekeh riang mendengar ucapan Istrinya.


"Dia masih memgingatnya??"

__ADS_1


Laki laki itu nampak tak percaya mengetahui kalau Isytrinya mempunyai ingatan yang baik.


__ADS_2