Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
38 S3: Love's Romance Pemilik boneka


__ADS_3

Ruangan rapat itu terlihat gelap, hanya cahaya yang keluar dari proyektor yang menyinari tempat itu. Davien duduk di sebelah James, laki laki itu menyendarkan punggungnya kebelakang dengan kaki disilangkan di atas kaki satunya sementara tangannya bersedekap. Menatap lurus kedepan melihat seorang staf sedang sibuk mempresentasikan materinya.


Drer dret!!!


James mengarahkan bola matanya ke ponsel milik Davien yang menyala. Dia melihat bahwa Bunga sedang mencoba menghubungi laki laki itu.


Sementara Davien tak menghiraukannya, dia lebih memilih fokus dengan materi yang sedang disampaikan.


James berdehem, dia berharap Davien akan mengangkat panggilannya. tetapi yang ada dia malah mendapat respon negatif dari Davien. Laki laki itu sedikit menoleh dengan raut wajah sinis dia memperingatkan kepada James untuk tak ikut campur. James pun menundukkan kepala menyanggupi keinginannya. Seolah dia tahu dengan tatapan sinis itu, memperlihatkan bahwa Davien tak suka James mengaturnya.


Davien menghela nafas panjang, menggerakkan tangannya meraih ponsel yang terletak di atas meja. Amarahnya masih menggebu gebu di dalam dadanya, seakan tak bisa mereda.


Sekeras apa pun Davien mencoba mengalihkan perhatiannya namun pikirannya tetap tertuju kepada Bunga.


Davien menekan salah satu tombol yang terletak di bagian tepi ponsel, sengaja mematikannya.


James yang melihatnya pun hanya menghela nafas panjang, berharap atasannya tak akan menyesali karena telah mengabaikan Bunga.


♡♡♡


Di sisi lain Bunga masih menatap layar ponselnya dengan raut wajah musam. Entah keberapa kali dia mencoba mengubungi Davien, mungkin itu yang ke seratusnya.


Setelah tak mendapatkan respon dari Davien, Bunga menghela nafas panjang sembari menyimpan ponselnya ke dalam saku.


Kini Bunga lebih memilih untuk sibuk membersihkan ruangan kerja milik Davien. Perempuan itu terlihat sedang menyalakan mesin kecil pembersih lantai, yang nantinya mesin itu akan bergerak sendiri untuk menyedot debu yang melekat di lantai. Sementara Bunga mulai sibuk dengan menata berkas berkas milik Davien yang sebagian berserakan di atas meja.


Setelah menatanya menjadi satu rapih dan mengembalikannya ke tempat semula, Bunga mengelap mejanya hingga bersih di setiap sisi. Meraih plat nama yang terletak di meja meniup debu yang terlihat menempel lalu mengusapnya hingga bersih.


Setelah terlihat bersih ujung bibirnya terangkat tipis kemudian mengembalikan plat nama itu ke atas meja dengan rapih. Bunga menarik kursi milik Davien, duduk di sana sejenak untuk mengobati rasa gelisah yang bergelayut di dalam hatinya. Bunga menyandarkan punggungnya kebelakang, menengadahkan kepala ke sandaran kursi.


Bunga memejamkan matanya sesaat, mencoba mengingat kembali apa yang Davien katakan sehari sebelum kepergiannya ke Indonesia.


"Aku menyukaimu"


Bunga terus mengingat kata itu, merasa senang ketika suara Davien seolah kembali terngiang di telinganga.


"Ya ampuuuuuun!!, , sepertinya aku mulai tergila gila dengan laki laki itu!"

__ADS_1


Bunga menarik kepala mengusap wajahnya yang memerah karena merasa malu dengan diri sendiri. Perlahan Bunga membuka matanya, kini pandangannya tertuju kepada laci meja. Entah kenapa Bunga merasa ingin sekali membuka dan mengetahui apa tersimpan di dalamnya.


"Astaga Bunga!! kamu tidak boleh melakukannya! jauhkan pikiran nakalmu!! jangan ngelunjak!!"


Bunga mengutuk dirinya sendiri, pikiran nakalnya berusaha memaksa Bunga untuk membuka laci meja itu. Bunga bergidik menyadarkan diri, segera beranjak berdiri untuk menyesaikan tugasnya.


Tetapi belum sempat berjalan menjauh, Bunga seketika menghentikan langkahnya. Perempuan itu menoleh masih merasa penasaran dengan isi di dalam laci.


"Seharusnya tidak masalah Bunga, Bukankah Davien tidak ada di sini?" gumamnya, mencoba memprovikasi diri sendiri untuk membuka laci itu.


Bunga memutar tubuhnya dan kembali duduk di kursi. Menipiskan dan nggigit bibir bagian bawah saat tangannya bergerak meraih laci.


Perlahan Bunga membukanya, belum sepenuhnya terbuka tetapi ekspresi wajahnya sudah mulai tak terbaca.


Matanya mendapati dua buah coklat yang tertata rapih di dalam sana. Senyum tipis mulai mewarnai bibirnya ketika mengingat bahwa dua coklat itu adalah coklat pemberiannya. Satu coklat dia berikan saat bertemu Davien di sebuah mini market, ketika laki laki itu lupa membawa dompet dan dialah yang membayar tagihan coklat itu. Sementara satunya lagi, Bunga sengaja memberikannya sebagai ucapan rasa bersalah.


Bunga merasa sangat senang seakan dia mendapat tempat spesial di hati Davien. Laki laki itu seolah tak tega membuka coklat atau nerusak bungkusnya hanya untuk menikmati bagian dalamnya.


Bagi Davien bagaimana pun juga pemberian Bunga selalu di jaganya dengan baik.


Bunga menarik lacinya semakin lebar, wajahnya terpku ketika kedua bola matanya mendapati boneka kecil berbentuk bunga matahari. Sesaat dia terdiam setelahnya kembali menggerakkan tangannya meraih boneka itu.


"Ini?"


Diraihnya boneka itu perlahan, Bunga menyelidik ke setiap sisi dari bonekanya. Memastikan bahwa benar itu adalah miliknya yang dulu pernah di berikan kepada sahabat kecilnya.


"Davien???" gumamnya, pikirannya masih melayang jauh memikirkan sahabat kecilnya.


"Dia??, " Bunga ternganga, menggunakan tangan untuk membungkam mulutnya sendiri. Merasa tak percaya dengan apa yang dia temukan saat itu.


Namun tak lama kemudian senyum manis mewarnai bibirnya, merasa bahagia ketika akhirnya dipertemukan denagn sahabat kecilnya dulu.


"Aku tidak percaya ini!!, , benarkah anak kecil itu Davien?? dia masih menyimpan boneka ini??"


Bunga segera meraih ponsel dari sakunya, berusaha menghubungi Davien kembali untuk menberitahukan bahwa dirinya adalah pemilik boneka itu.


Tapi ketika dia teringat bahwa Davien sedang menjauhinya, Bunga akhirnya mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Aku tidak yakin kalau dia mau mengangkatnya. Terlebih lagi nomornya juga tidak aktif" Bunga terus menggerutu kesal.


Tapi tak ada salahnya untuk di coba, Bunga akhirnya kembali menghubungi Davien. Jantungnya berdebar kencang ketika hanya mendengar bahwa panggilannya telah tersambung, yang artinya adalah nomor Davien saat itu sudah aktif kembali.


Lumayan lama Bunga menahan ponselnya agar tetap melekat di telinga. Menunggu Davien agar mau mengangkat ponselnya.


Tubuhnya terhentak kaget hingga beranjak berdiri ketika seberang dari sana seseorang mengangkat panggialnnya.


"Hallo??" ucapnya dengan cepat, Bunga ingin segera mendengar suara Davien.


"Iya Nona?" James menyahutnya dengan nada tenang. Davien sengaja memberikan ponselnya kepada James, dan meminta asistennya itu untuk menjawab panggilan dari Bunga jika dia kembali menghubunginya.


Ekspresi wajah yang semula nampak berseri seri karena tahu bahwa bukan Davien yang menjawab panggilannya itu kini berubah menjadi muram seketika. Kerutan halus terlihat di sekitar area matanya.


"Mm, , James" Bunga menipiskan bibirnya ragu. Dengan membiarakan James mengangkat panggilannya itu menandakan bahwa Davien masih belum bisa memaafkan Bunga.


"James, ,bisakah aku berbicara dengan Pres Dir?"


Sejenak James terdiam, tak terdengar suara apa pun dari ujung ponselnya. Seakan James sedang memastika kepada Davien bahwa laki laki itu memang tak mau berbicara dengan Bunga.


"Maaf Nona, Pres Dir sedang beristirahat. Karena sebentar lagi beliau harus mengikuti jadwa selanjutnya" sekali kagi James berucap dengan tenang, mencoba agar Bunga tak perlu mengkhawatirkannya


"James?? apa Pres Dir masih marah?" Bunga sudah berani untuk menanyakan hal yang menjurus ke arah sensitif kepada James. Baginya laki laki itu adalah teman terdekat Davien yang bisa mengerti keadaannya.


"Nona. berikan waktu kepada Pres Dir untuk menenangkan diri. Beliau juga banhak sekalai pekerjaan yang harus di selesaikan hari ini"


"Tapj James,. bisakah kamu memberikan ponselnya kepada Davien?? aku ingin mendengar suaranya?. Maksudku ada sesuatu yang harus aku katakan kepadanya" Bunga merasa bersalah, dia tak ingin James mematikan ponselnya sebelum Bunga mendengar suara Davien. Bunga menggenggam erat boneka kecil berbentuk matahari itu dengan kuat ketika menahan rasa jengkel karena Davien tak membiarkan kesempatan kepadanya untuk berbicara.


"James aku mohon!"


Suaranya kembali hening, James terdiam masih menimbang apakah harus dia memberikan ponselnya kepada Davien atau tidak. Tetapi jika diingat ingat Davien sempat memberikan perintah kepada James, bahwa jika Bunga menguhubungnya maka jangan pernah memberitahu bahwa Davien menolak untuk berbicara denganya.


"Maaf Nona, sepertinya saya harus menutup panggilannya. Sekarang Pres Dir harus segera pergi"


James mematikan ponselnya, menoleh ke arah Davien yang sedang berdiri di balik kaca jendela, pandangannya menatap keluar melihat pemandangan perkotaan.


"Pres Dir??" James melangkah mendekatinya.

__ADS_1


"Biarkan dia" Davien menoleh, mengalihkan pandangannya ke James yang senantiasa berdiri di sampingnya.


"Jika aku tidak melakukan ini. Dia tidak akan sadar dengan apa yang dia rasakan. Jika aku menjauhinya dia akan tahu dan paham apa yang sebenarnya dia rasakan untukku!!"


__ADS_2