
Tok tok tok!
Pandangan mereka berdua tertuju kepada pintu yang yang di dorong dari arah luar.
Perempuan berparas cantik mengenakan setelan kemeja dan celana hitam serta rambut yang di sisir rapit dan diikat kebelakang membuatnya terlihat semakin elegan.
Keiko membuang senyumnya ke arah Davien, melangkah masuk kemudian duduk di seberang meja.
"Nona keiko" James menyapa sembari menganggukkan kepalanya.
Keiko tersenyum lalu membalasnya, sama seperti yang dilakukan james dia juga menganggukkan sedikit kepalanya.
"Pres Dir saya permisi terlebih dulu" Setelah menundukkan kepala ke arah Davien, James berjalan menuju pintu kemudian keluar dari ruangan itu.
Keiko menggunakan kedua tangannya untuk menyangga dagu dan menghadapkan wajahnya ke arah Davien, sengaja memamerkan wajah imut kepadanya.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Davien berucap malas sembari mengambil salah satu map yang ada di atas meja kemudian meletakkan dan membuka lalu membacanya perlahan.
"Jahat!, , baru juga bertemu setelah 2 bulan. Tidak ada pertanyaan yang lebih menyakitkan lagi ya?" Keiko beranjak dari kursi, kemudian berjalan mendekatinya. Menyandarkan pinggangnya ke meja, menggunakan kedua tangannya untuk menyangga tubuh dari belakang dan menghadap ke Davien.
"Aku baru saja pulang dari Amerika dan dari Bandara langsung menuju kemari untuk menemuimu. Tidak ada penyambutan yang hangat untukku nih?"
Davien menutup map yang sempat di bukanya, kemudian menengadah melihat Keiko yang posisinya jauh lebih tinggi darinya.
"Penyambutan seperti apa yang kamu inginkan?" ucapnya dengan nada tenang. Tetapi ekspresi wajahnya tetap datar.
Keiko tersenyum lebar mendengar Davien akan memenuhi keinginannya.
"Kamu sedang tidak bercanda kan?"
"Apa aku pernah bercanda sebelumnya?" keningnya berkerut ketika mendengar ejekan dar Keiko.
"Iya iya maaf" Keiko menggerakkan kedua tangannya merangkup pipi Davien, kemudian menggoyang goyangkan kepalanya perlahan seperti sedang menggoda anak kecil.
Tok tok tok!
Pandangan mereka teralihkan seketika ke pintu, Davien terpaku saat melihat Bunga masuk membawa nampan dengan secangkir teh di atasnya.
Bunga sempat terkejut ketika melihat perempuan itu berdekatan dengan Davien. Terlebih tangannya yang sedang menyentu pipinya. Mereka terlihat sangat dekat dan mesra.
Bunga sangat pandai dalam mengendelikan perasaannya. Dengan cepat dia menunduk dan terus berjalan mendekat.
"Maaf, saya hanya ingin mengantar teh untuk Nona" Bunga terus menunduk menghindari tatapan mata Davien.
Keiko menarik kembali tangannya setelah beberapa saat merangkupi pipi Davien.
"Kamu bisa meletakkannya di atas meja" perempuan itu terenyum ke arah Bunga.
Laki laki itu masih terdiam, bola matanya bergerak mengikuti gerakan Bunga.
Bunga sedikit menganggukkan kepalanya, kemudian melangkah mendekati sofa dan meletakkan tehnya di atas meja.
Setelah itu Bunga kembali menghadap.
"Saya permisi dulu" Bunga memutar tubuhnya kemudian melangkah keluar.
"Terima kasih" Keiko mengalihkan pandangannya ke Davien. Laki laki itu tengah menatap ke arah depan melihat Bunga yang telah keluar dari ruangan.
Keiko berdehem, mencoba membuyarkan lamunannya.
Dengan cepat Davien mengalihkan pandangannya kembali ke map yang ada di atas meja.
"Apa ada sesuatu dengan perempuan itu?" Keiko menahan senyumnya, sementara matanya menyipit ke arah Davien.
__ADS_1
Sempat terdiam sebelum akhirnya Davien berucap, namun dia tak menjawab pertanyaan Keiko.
"Penyambutan seperti apa yang kamu inginkan dariku??" Davien mengalihkan pembicaraan.
Membuat Keiko semakin penasaran, tetapi tahu sikap davien yang sangat tidak suka jika di campuri masalah pribadinya maka Keiko lebih memilih untuk tak menbahasnya.
"Makan malam"
"Hanya itu?"
"Memang boleh aku meminta yang lain?" Keiko semakin bersemangat ketika Davien memberinya kesempatan untuk meminta sesuatu hal darinya.
"Aku selalu memberikan apa pun yang kamu inginkan, kenapa kamu bertingkah seolah baru mengenalku?" Davien sudah menganggap Keiko seperti saudara kandungnya sendiri. Maka dari itu dia selalu memberikan apa pun yang Keiko inginkan.
"Iya aku bisa meminta semuanya, tapi tidak dengan hatimu!".
Ujung matanya langsung melirik ke Keiko yang masih setia berdiri di sampingnya.
"Oke oke aku tidak akan membahas masalah itu lagi" Keiko sempat beberapa kali mengutarakan isi hatinya kepada Davien, entah hanya gurauan atau memang benar kenyataannya.
Tetapi Davien selalu menganggap bahwa Keiko tak lebih dari saudara perempuan dan tak akan pernah lebih dari itu.
Selama kepergian Essie Keiko menjadi orang yang selalu berada di sampingnya.
"Aku banyak pekerjaan hari ini, jika kamu masih di sini sepertinya makan malam kita nanti akan batal" ucapnya dengan nada menuntut agar Keiko segera pergi dari ruangannya.
"Oke oke, , aku akan segera pulang. Jangan lupa jemput aku nanti malam ya?" Keiko tersenyum manis kepada Dabien sebelum melanglah keluar.
♡♡♡
Bunga meletakkan nampan ke atas meja dengan sedikit tekanan hingga menimbulkan bunyi, membuat Loria yang sedang istirahat sembari duduk manis di kursi pun terkejut.
Brak!!
"Kamu sengaja ingin membunuku dengan membuatku jantungan ha!!" Loria menyelidik ke Bunga yang kini terlihat sedang melamun.
Permpuan itu tak bergeming, hanya diam melamum mengingat wajah perempuan yang ada di dalam ruang kerja Davien.
"Hei" Loria melempar sebutir kacang ke arah kepalanya. Sengaja agar perempuan itu tersadar.
"Apaan sih kak!" Bunga menggunakan tangannya untuk menyentuh di bagian kepala di mana Loria melemparinya.
"Aku sedang berbicara denganmu!" Loria beranjak dari kursi dan mendekati Bunga yang kembali melamun lagi.
"Apa dia pacarnya?" ucapnya sembari menggigit kecil kukunya.
"Itu bisa jadi! karena mereka terlihat sangat dekat. Pasti itu tidak salah lagi!" gumamnya.
"Pacar siapa?" Loria yang dari tadi sengaja mencuri dengar pun berucap dengan nada tinggi, sengaja agar Bunga mendengarnya.
Bunga melirik malas ke arah Loria, perempuan itu terlihat sangat ingin mengetahui hal sekecil apa pun yang terjadi pada Bunga. Terlebih lagi semenjak tahu Bunga mendapat parfum dari Davien.
"Mmmn, , ka Loria pernah melihat kekasih Pres Dir?" Bunga berucap untuk memastikan siapa sebenarnya perempuan yang dilihatnya tadi.
"Setauku kekasihnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu" Loria menggerakkan bola matanya, mencoba berfikir keras mengingat ingat masa lalu. karena dia terbilang cukup lama bekerja di perusahaan itu.
"Meninggal??" ucapnya mengulangi untuk meyakinkan diri sendiri bahwa Bunga tak salah dengar.
"Iya, kerana sakit. Yang aku tahu Pres Dir sangat mencintainya. Cinta mati! sampai sekarang bahkan dia belum bisa melupakannya"
Bunga terdiam, pikirannya melayang mengingat kejadian di mana Davien malam itu menciumnya.
"Apa , , dia mengigau malam itu?? dan mengira bahwa aku adalah kekasihnya. Itulah sebabnya kenapa dia meminta maaf setelah menciumku??"
__ADS_1
Bunga meremas bibirnnya ketika mengingat kembali ciuman pertamanya malam itu.
"Memangnya kenapa kamu tiba tiba menanyakan hal itu!, , kamu jangan bermimpi ya bisa mendapatkan Pres Dir. Dia memang memberimu parfum waktu itu tetapi tak ada seorang perempuan mana oun yang bisa menggantikan kekasihnya yang telah meninggal"
"Aku tidak pernah berfikir untuk mendapatkannya!, aku juga tidak mau dekat dengan laki laki dingin seperti dia! tadi aku hanya melihat seorang perempuan cantik yang"
"Dia Keiko!!" Olive tiba tiba masuk ke pantri dan memotong pembicaraan. Dia berjalan mendekati Bunga dan berhenti tepat di depan matanya.
Loria menunduk ketakutan, menyembunyikan wajahnya dari Olive.
Sementara Bunga maenatapnya dengan berani, seolah menantang dan tak merasa takut dengan perempuan itu.
"Sahabat kecil Pres Dir, dia yang akan menggantikan posisi Essie. Kekasih Pres Dir yang sampai sekarang belum juga dia lupakan" Olive sejenak berhenti berucap, sengaja memberi waktu kepada Bunga untuk mencerna ucapannya.
"Jadi jangan pernah berharap kamu bisa mendapatkannya!" tambahnya.
Bunga menegakkan tubuhnya, mengangkat wajahnya dan menatap Olive yang jauh lebih tinggi darinya dengan lekat.
"Aku tidak pernah bermimpi untuk mendapatkannya!, , aku cukup tahu diri. Aku pegawai rendahan yang bisa menempatkan diriku di tempat yang benar. Bukan seperti orang yang tak tahu malu dan menjadi seorang penjilat untuk mendapatkan apa pun yang dia inginkan!!" Bunga berucap kemudian pergi meninggalkan pantri.
Bunga benar benar membuat Olive malu di depan Loria, kepala OB itu kini sedang tertawa lirih untuk kekalahan Olive.
"Kamu sedang menertawakanku!" geramnya dengan nada serengah berteriak.
Tawanya menghilang seketika.
"Maaf Nona"
"Cepat buatkan aku kopi dan bawa keruanganku segera!!" Olive berucap sembari melangkah keluar.
Loria kembali terawa lirih setelah Olive berhasil keluar, dia sebenarnya juga tak merasa senang dengan sikap Olive yang kadang suka seenaknya saja.
♡♡♡
"Jadi benar, malam itu pasti dia telah salah menciumku karena menganggap aku adalah Essie??"
Bunga menghela nafas panjang, berharap bisa melegakan dadanya yang terasa sesak.
"Bodoh!, tapi di sini kenapa terasa sakit?" ucapnya dengan lirih, tangannya bergerak memukul pelan berkali kali bagian dadanya.
Brugh!!!
Bunga menoleh melihat Roland yang sedang memunguti lembaran kertas dan memasukkannya ke dalam kardus. Dia segera menghampirinya dan membantu Roland menata kertas itu.
"Terima kasih" Roland tersenyum, melihat ke arah bunga. Perempuan itu sangat manis dan sangat menawan. Roland tak pandai dalam menyembunyikan perasaannya. Dia terbilang laki laki yang apa adanya.
"Apa kamu sibuk malam ini?" ucapnya kepada Bunga.
"He?" Bunga tak mengerti dengan maksud pertanyaannya.
"Aku ingin mengajakmu jalan"
Bunga menelan ludahnya dengan susah payah.
"Jalan?"
Roland berdiri dengan membawa Kardus penuh dengan tumpukan kertas itu di tangannya.
Bunga pun mengikuti jejaknya, beranjak berdiri.
"Kemana? mau apa?"
"Kita lihat nanti malam, aku ingin mengajakmu kencan. Berdandanlah yang cantik. Aku akan menjemputmu" Roland tersenyum, kemudian meninggalkan Bunga melangkah pergi menuju ke tempat penyinpanan.
__ADS_1
Bunga hampir tak bisa bernafas mendengar tawaran dari Roland. Ini pertama kali seorang pria dengan lantang mengajaknya berkencan. Selama ini kadang dia juga menghabiskan waktunya bersama Marvel, tetapi tak seperti Roland yang langsung berucap dengan pasti tanpa ragu.